“Sometimes it feels better not to talk. At all. About anything. To anyone.”
— @MINDSETOFGREATNESS
Claire Keane
Cosmic Funnies

ellievsbear
tumblr dot com
Sade Olutola
Xuebing Du
i don't do bad sauce passes
Sweet Seals For You, Always
styofa doing anything
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
wallacepolsom
Mike Driver
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

roma★

titsay

oozey mess
NASA
Misplaced Lens Cap
Jules of Nature
seen from Spain

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Canada

seen from France
seen from Vietnam
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Ireland
seen from Australia
seen from United States

seen from T1
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from France

seen from United States
@tulisanratu
“Sometimes it feels better not to talk. At all. About anything. To anyone.”
— @MINDSETOFGREATNESS
Cerita Ramadhan #4
Jangan asal bercerita di sembarang tempat dan sembarang orang.
Nasehat itu mungkin cocok buatku, atau bahkan buat semua orang. Setiap perasaan, keluh kesah, hingga sebatas informasi pun kita harus mampu memilih kepada siapa akan bercerita. Tak semua orang bisa dipercaya dan tak semua tempat layak dijadikan sarana untuk menyampaikan keluh kesah.
Sebab kini tembok pun mampu berbicara.
Kekecewaan akan hadir ketika cerita yang disampaikan disebarkan dengan mudahnya kepada orang lain, dan juga ketika seseorang yang kita percaya dan kita harapkan ternyata tidak mampu memberikan waktu dan telinganya untuk menampung cerita yang menumpuk. Kadang, mereka mampu memberikan waktu tapi tidak fokus dalam mendengarkan. Atau mereka telah siap dan fokus menyimak, namun tak memberikan respon baik seperti yang kita harapkan. Pada akhirnya, harapan untuk merasa lega tidak terwujud dan justru ditambah perasaan kecewa serta menyesal karena telah bercerita kepadanya.
Sebab itulah, kebanyakan memilih diam memendam segala rasa dalam hati. Hingga membiarkannya sembuh dengan sendirinya, atau menumpuk bagai gunung es di tengah lautan.
Kepada siapapun kamu yang telah dijadikan tempat berkeluh kesah, dengarkanlah dan berilah respon yang baik serta menenangkan. Sebab tak semua orang mampu mengungkapkan, pun tak semua orang dipercaya untuk mendengarkan.
.
Kamis, 9 May 2019 (4 Ramadhan 1440 H)
Cerita Ramadhan #3
Banyak yang berpikir bahwa memiliki jabatan dan uang berlimpah adalah kebahagiaan yang sempurna. Apa yang diinginkan bisa dibeli dengan uang dan apa yang direndahkan dalam diri bisa dibungkam dengan jabatan yang telah melekat. Kadang, semudah itu kita menilai dan memberi tolak ukur kebahagiaan hidup orang lain. Padahal, kita tak pernah tau bagaimana jatuh-bangunnya mereka meraih itu semua. Kita tak pernah tau berapa kali mereka mengatur strategi untuk bangkit dari keterpurukan. Kita tak pernah tau sebanyak apa peluh dan air mata yang telah jatuh, mengemis dalam doa agar diberi kekuatan dan pertolongan dari Allah yang memiliki kehidupan. Pun kita tak pernah tau bagaimana mereka membangun kepercayaan pada diri sendiri bahwa mereka bisa dan pantas untuk semua pencapaian itu.
Semua yang kita lihat adalah hasil dari segudang usaha yang ditempuh serta doa yang dipanjatkan. Pernahkah kita ada di saat mereka terpuruk? Pernahkah keterpurukan mereka diliput dan disebarkan?
Tidak.
Mereka yang telah sukses, selain kepada orang terdekatnya, tentu tidak pernah membagikan kisah pilunya selama masih dalam tahap merangkak. Media pun jarang sekali meliput. Rata-rata memang ketika telah sukses, barulah diceritakan kepada khalayak ramai beserta kisah dibalik kesuksesannya.
Setiap dari kita sedang dan terus berproses menjadi diri yang lebih baik dari segi apapun. Kesuksesan yang dicapai pun beragam, tak hanya sekadar uang dan jabatan. Bisa bangun pagi dan sholat subuh tepat waktu, membantu ibu menyiapkan sahur dan berbuka, atau mampu membagikan THR kepada saudara pun dapat dikatakan sukses. Tergantung tolak ukur sukses yang kita buat sendiri.
Buat aku, sukses itu dimulai dari mendapatkan lingkungan yang nyaman dan memberikan energi positif buat kita. Jika kita sudah nyaman dengan suatu hal, akan mudah bagi kita dalam melaksanakan target-target yang diinginkan. Nyaman di lingkungan kerja misalnya, poin penting untuk meraih kesuksesan (dalam bidang pekerjaan). Seberat apapun pekerjaannya, pasti akan tetap bahagia menjalankannya jika kita telah menemukan kenyamanan di dalamnya. Itulah makna bahagia yang sesungguhnya.
Dan bukankah dalam sebuah hubungan juga diperlukan kenyamanan untuk mencapai kebahagiaan?
.
Rabu, 8 May 2019 (telat posting)
dulu ketemu dia paling cepet setelah 3 bulan, paling lama setelah 4 bulan. dan itu dibayar dengan jalan jalan 12 jam, dari pagi sampai malam. seharian aja. masih inget gimana rasanya pas udah waktunya pulang. dianterin sampe stasiun terus berharap keretanya datengnya lama, biar masih ada alasan buat ngobrol atau sekadar saling menatap. rasanya tuh sedih, mau bilang sedih di depan dia, malu. terus pura-pura gak sedih dengan berhaha hihi. mau peluk juga gak bisa. ketika duduk di kereta rasanya masih ada yang tertinggal. mungkin kenangan kita, waktu yang kita habiskan hari itu.
rasanya baru tadi kita ketemu, tau-tau udah di rumah lalu besok cuma bisa ketemu lewat suara lagi.
Ternyata, bukan seberapa seringnya pertemuan, yang membuat kita yakin pada seseorang.
komunikasi yang tak putus, rasa saling yang hinggap, perhatian dan peduli yang tetap ada walau jauh, lalu percaya datang begitu saja hingga rasanya tak kuasa untuk saling menyakiti apalagi diam - diam bermain dengan hati lain.
mungkin itu yang membuat kita bisa, rasa percaya dan keinginan saling bersama.
I feel too 🌺
Cerita Ramadhan #2
Entah kenapa, hari ini sangat tidak produktif. Banyak to do list yang tidak tercentang. Mulai dari (ikut bangun) sahur, kemudian mandi dan merapikan kamar. Iya, hanya kamarku saja, lalu tidur kembali. Sempat aku membaca buku terlebih dahulu selama 10 menit, hingga kemudian tertidur. Mengingat hari ini masih libur kerja (juga puasa), jadi sesantai itu aktivitasku.
Jangan ditiru ya, perempuan.
Menjelang siang, aku ikut membantu ibu menyiapkan menu dagangannya untuk pelanggan yang akan berbuka puasa. Namun belum lama ku membantu, lambungku terasa sangat pedih. Maag ku kambuh.
Aneh memang, tidak puasa saja maag ku bisa kambuh. Tetapi ibuku tidak protes, justru beliau langsung sigap mengambil kunyit di dapur lalu dihaluskan untuk diambil sarinya. Selalu seperti itu, setiap maag ku kambuh selalu meminum air kunyit asli olahan ibuku. Rasanya getir ditambah aroma kunyit yang sangat sulit dijelaskan. Namun, itulah obat andalanku. Sesaat setelah meminumnya, lambungku membaik dan tak lagi terasa pedih.
Kekuatan dan kesabaran seorang ibu, memang tak ada tandingannya. Sesibuk apapun ibu, beliau tak pernah beralasan untuk tidak menolong anaknya. Bahkan tanpa diminta sekalipun, ibu selalu tau apa yang harus dilakukan dan diberikan untuk kebaikan anaknya.
Sejauh ini, sudahkah kita berterima kasih atas seluruh jasa ibu?
.
Selasa, 7 May 2019 (2 Ramadhan 1440 H)
Cerita Ramadhan #1
Hari pertama di bulan Ramadhan tahun ini, aku belum beruntung. Kenapa? Karena aku wanita. Dan wanita itu special. Haha.
Paham maksudnya?
Ya. Begitulah. Selayaknya seorang wanita, selalu ada masa "libur beribadah" tiap bulannya. Tapi ya sudahlah. Terima saja, meskipun ada rasa cukup sedih karena tidak bisa andil dari pertama, di bulan penuh berkah ini. Semoga segera berlalu, kemudian bisa mengejar ketertinggalan ibadah yang telah terlewat.
.
Semoga juga istiqomah menjalankan niat untuk tetap dan selalu menulis (lagi), dimulai dari bulan ramadhan ini. Setiap harinya, selama ramadhan, apapun harus ditulis. Apapun. Entah kisah nyata yang dialami hari itu, atau sekadar ungkapan rasa. Intinya, akan ada cerita ramadhan kedua, tiga, empat, dan seterusnya hingga tiba hari Raya Idul Fitri. Aamiin.
Kadang, untuk mewujudkan sebuah tujuan memang butuh paksaan, kan? Jadi, mari paksakan diri ini untuk kembali aktif menuangkan rasa dalam kata.
Senin, 6 May 2019 (1 Ramadhan 1440 H)
bisa kah saat kita telah memberi, jangan ada setitik rasa di hati ingin dibalas diberi?
terkadang kita lupa, tidak semua kebaikan dibalas di dunia atau dengan orang yang kita beri. hati-hati dengan harapan yang menginginkan balasan, karena setitik bisa melunturkan nilai kebaikan.
“Jika kamu benar-benar tulus mencintanya, ingat jangan pernah hiasi matanya dengan air mata, telinganya dengan dusta, dan hatinya dengan luka.”
🎥 Filem: #5cm
Tidak ada yang baik-baik saja dari seseorang yang gemar memendam.
Aku, contohnya.
Kadang, kita tidak perlu melampiaskan emosi hingga meletup-letup ketika merasa kesal atau marah.
Cukup menghela nafas,
dan istighfar
:)
Prinsip
Kadang aku benci dengan sifatku yang pencemburu. Bahkan, bisa dikatakan aku juga overthinking. Rasa cemburu selalu hadir ketika aku mengetahui ada perempuan yang bisa leluasa bercengkrama, bahkan berfoto bersama kamu lalu membagikannya di media sosial.
Berat bagiku untuk mengetahui hal itu. Berat bagiku untuk melihat kebebasan itu. Iya, kebebasan. Terlalu bebas, bahkan.
Aku selalu berusaha tidak melakukan hal-hal yang tidak ingin aku dapatkan dari perlakuan orang lain kepadaku. Begitulah misalnya, aku sangat tidak ingin pasanganku diganggu oleh oranglain, terutama oleh perempuan. Maka, aku sangat berusaha untuk tidak pernah mengganggu laki-laki yang aku ketahui sudah memiliki pasangan. Jangankan untuk berfoto bersama hingga mempostingnya di media sosial, untuk menanggapi chat dan bertemu saja aku segan. Aku menjaga perasaan pasangannya dan aku berusaha tau diri, meskipun mungkin pasangannya tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Aku bisa saja memiliki dan mengumpulkan banyak teman laki-laki dan curhat hingga menghabiskan waktu senang-senang bersama mereka. Tapi aku tidak mau. Alasannya kembali lagi, karena aku sangat tidak ingin orang lain memperlakukan hal yang sangat aku tidak harapkan (bahkan aku hindari) mereka lakukan kepadaku.
Bisa dipahami, tidak?
Entahlah, sampai saat ini aku merasa aku sudah sangat menjaga adab dalam bergaul dengan lawan jenis. Namun sepertinya, masih banyak yang belum memahami hal ini. Atau mungkin sudah tau, namun menganggap sepele sehingga tidak dijalankan.
Satu hal yang ingin aku sampaikan, jangan pernah membahagiakan diri sendiri dengan menggadaikan kebahagiaan dari prinsip orang lain. If you're a woman, you should know this rules.
.
Jakarta, 1 April 2019
Berbuat baik adalah keharusan. Maka, teruslah menjadi baik tanpa merasa kamulah yang paling baik, karena sejatinya yang benar-benar baik tidak akan pernah menyebutkan bahwa dirinya baik.
tulisanratu
Pedulimu itu Menghakimi
Kamu boleh peduli dengan masalah orang, bahkan jika itu sahabatmu. Tapi jangan malah jadi mencampuri dan menggurui. Dia juga punya keputusan di hidupnya. Yang di matamu terlihat tidak baik itu siapa tau itu adalah cara ia menyelamatkan hidupnya sendiri.
Berhenti menghakimi dan merasa semua yang ada di pikiranmu adalah sesuatu yang paling benar buat kehidupan orang lain yang kau sendiri tak mengalaminya.
Berhenti berdalih kau sebenarnya peduli tapi tiap cara yang kau lakukan kepadanya tak lebih dari menyalahkah semua keputusan yang ia ambil dalam hidupnya.
Yassss true! Intinya, jangan sok paling bener dan paling tau jalan hidup orang. Jangan karena alasan "gue udah lama bgt kenal lo, gue tau bangetlah lo gimana, butuh apa dan harus apa." atau "kok lo gitu sih? kaya bukan lo yg gue kenal. lo harusnya tuh gini... "
Setiap orang berhak mengambil keputusan buat apa yang mereka jalanin. Ketika mereka curhat, cukup dengarkan saja TANPA menasehati ataupun memberi saran SEBELUM diminta. Juga, jangan serta merta menyerang menyalahkannya jika kamu tak suka dengan keputusannya. Please be wise! :)
Maha Besar Allah, yang memberikan karunia air berlimpah di mata ini. Sehingga dalam situasi apapun, ia bisa tumpah dengan mudahnya.
-- entah itu sedih, kecewa, hingga terharu bahagia.
Punya hati lembek banget. Jangankan dikecewain, dibahagiain aja nangis.
tulisanratu
How to Care Less about What Other People Think
1. Know what matters to you, personally – what you stand for, and what your values are .
2. Don’t be anxious about breaking social norms. The more often you do this, the less it bothers you.
3. Decide not to live as a people pleaser, or to get upset and take rejection personally.
4. Hang out with people who are self confident, who know what they believe in, and what they want from life. You’ll find that their self-confidence will rub off on you, too.
5. Try and work on becoming more competent in the skills and areas that matter to you. That will naturally enhance your self confidence, and develop a self image that is strong and positive.
6. Travel, and spend time with different kinds of people. That will show you how diverse attitudes and outlooks are. That is, there’s no one way of being – so find, and be, yourself.
Indeed!
Orang bikin salah, maunya menghakimi. Giliran kita yang bikin salah, maunya dimaklumi.
— Taufik Aulia