Aku masih berada dalam satu ruangan dengan Udin. Sampai Udin akhirnya berdiri mengambil kunci mobilnya.
"Din, mau pergi sekarang?"
"Mau bareng dong, nebeng. Hehe."
Akhirnya kami meninggalkan ruangan tersebut. Kemudian berjalan di lorong gedung sampai ujung terdekat dengan lapangan parkir. Langkahku terhenti.
"Masih hujan ya ternyata, Din."
"Justru itu! Kita harus ke lapangan sekarang buat menghindari hujan, Fir!!"
Udin tampak sangat bersemangat. Juga tampak serius dengan ucapannya. Ia beranjak dari ujung lorong itu. kulihat langkah kakinya yang tidak biasa. Ia melangkah ke kanan ke kiri sambil menatap langit.
"Ayo, Fir! Begini cara menghindari hujan. Jangan sampai kena tetesannya. Bisa gak lu, Fir?"
Aku menahan tawa mendengarnya. Tapi akhirnya pecah karena melihatnya begitu serius 'menghindari hujan'. Udin sudah setengah perjalanan menuju lapangan parkir dengan masih bergerak ke kanan dan kiri sesuai rintikan yang harus dihindari. Aku akhirnya ikut melangkah ke luar lorong, mendongakkan kepalaku ke langit, dan mengikuti apa yang Udin lakukan.
Tidak terasa. Sisa hujan tadi sudah benar-benar reda.
"Udah ya Fir gausah sedih-sedih lagi kalau lihat hujan. Bisa dihindari kan?"
Sore itu, Udin mengajarkanku; cara menghindari hujan.