Kok kamu pura-pura tidak tahu saja. Sekarang apalah yang tidak harus dibayar.
Umar Kayam - Jalan Menikung (Para Priyayi 2)

#batman#superman#bruce wayne#clark kent#dc fanart#superbat#superman 2025


#ao3#writeblr#ao3 fanfic#archive of our own#writing community


seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Norway
seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from United States
seen from India
seen from United States

seen from Canada

seen from Australia

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Mexico
seen from United States
seen from Ukraine

seen from United States

seen from Malaysia
Kok kamu pura-pura tidak tahu saja. Sekarang apalah yang tidak harus dibayar.
Umar Kayam - Jalan Menikung (Para Priyayi 2)
Wah, Halimah-mu itu perempuan hebat. Bersyukurlah kamu punya tunangan seperti dia. Meskipun tetap kasihan juga saya. Perempuan itu, kata orang, cepat menjadi tua, lebih cepat dari laki-laki. Pikirkan itu, Tip.
Umar Kayam - Jalan Menikung (Para Priyayi 2)
... Membaca Realita dalam Sketsa Judul : Sketsa-Sketsa Umar Kayam Mangan Ora Mangan Kumpul Penulis : Umar Kayam Penerbit : Grafiti Tahun terbit : 2001 Halaman : xiv, 458 halaman Pengulas : Muhammad Amin Membaca kumpulan sketsa Umar Kayam layaknya menonton sebuah sketsa masa kini. Bedanya sketsa kala itu menampilkan tokoh-tokoh yang begitu solid bercerita. Bukan bercerita, lebih tepatnya diletakkan sebagai subjek untuk diajak bertukar pandangan, utamanya soal ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kelihaian penulis dalam mengeksplorasi tokoh begitu terasa. Mulai dari pemilihan nama seperti Rigen, Nansiyem, Beni Prakosa, Lemahamba, Prasodjo, dan lain-lain. Kultur Jawa, terutama Yogyakarta begitu kental. Dibumbui dengan istilah-istilah dari bahasa selain bahasa Indonesia yang membuat sketsa ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Pergulatan penulis dengan dunia politik, sosial, budaya salah satunya dilatarbelakangi oleh penulis yang banyak melakukan kritik terhadap bidang tersebut. Pengalaman melalang buana membuat pembahasan selalu asyik dan tak pernah ada habisnya. Pembaca diajak terus membaca halaman demi halaman. Nilai-nilai yang didapat dari sketsa ini tidak terletak pada tokoh, tetapi pada alur cerita yang sambung menyambung layaknya membaca novel atau menonton serial film. Hikmah, kutipan, petuah, istilah dari berbagai bahasa menambah kepekaan pembaca dalam menelusuri berbagai permasalahan di negeri ini. Bila tak menemukan solusi, paling tidak selingan komedi membuat segala halnya tak harus selesai saat itu. Ada kalanya hanya perlu diberi candaan dan penulis begitu pandai dalam meramu hal semacam ini. Bagi yang mengaku cinta politik, sosial, dan budaya negeri, rasanya kurang afdal kalau belum membaca buku ini. #resensi #ulasanbukuAmin #umarkayam #MOMK #28062020 (di Kanor, Jawa Timur, Indonesia) https://www.instagram.com/p/CB9SwLNpA0I/?igshid=1egno5b1l78y1
@Regrann from @sabdaperubahan - ____ Emha adalah satu fenomena menarik. Dia menulis sajak, menulis esai, menulis kolom, menulis kertas seminar, dan dia ada di mana-mana di depan khalayak seminar dan berbicara juga di depan khalayak terbuka. Kadang-kadang dia menulis juga lakon-lakon drama dan sesekali ikut terlibat langsung dalam pementasan. Topik dan tema yang ditulisnya bermacam-macam, bergerak dari kesenian hingga penghayatan kehidupan beragama maupun kejadian sosial aktuil. Semua yang dikerjakannya itu nyaris dikerjakannya dalam satu tarikan nafas panjang. - Umar Kayam, Caknun.com . . . . . #SabdaPerubahan#EmhaAinunNadjib#CakNun#UmarKayam#Maiyah#KiaiKanjeng
Seribu Kunang-kunang di Manhattan oleh Umar Kayam
Rasa oleh nikeprima (@nikeprima)
Tahun 1996, cerita ini adalah karya sastrawan Indonesia yang pertama kali saya baca. Buku ini sendiri adalah kumpulan cerpen. Umar Kayam selalu dengan gayanya yang sederhana namun penuh makna. Kata-katanya mengalir tanpa dipaksa indah, tapi tidak pernah gagal meninggalkan rasa.”
Terima kasih atas rasa yang telah dibagi nikeprima
"Coba Tip, Uni, surat apa itu! Kenes, tidak serius, tidak ernstig. Wong melaporkan percintaan, kehamilan, dan perkawinan kok enteng begitu. Tidak sarinya dia melaporkan begitu ya, Pak? Begitu kok tulisan B.A. summa cum laude, assistant to the Director sebuah penerbitan besar. Apa itu..."
--Sulistianingsih, ibu Eko Harimurti