Sekelumit A dan B
Sudah berhari-hari perdebatan ini terus ada didalam kepala, daripada kepala terus berisik lebih baik aku utarakan di ruang ini yang belum tentu ada yang membacanya hahaha.
Dulu setiap kali mendengar teman-teman yang bercerita tentang kebingungan mereka bahwa ada yang orang yang mengaguminya, menyukainya dan dalam waktu yang lama perasaannya masih sama. Aku spontan berpikir ‘Ya tinggal terima ajalah, atau coba kenalan dulu kali aja cocok.’
Tapi saat aku yang mengalami, ternyata rasanya tidak sesederhana itu ya hahaha. Bagaimana ya menjelaskannya. Mungkin pada awalnya akan terbawa perasaan antara senang dan terharu *uhuk. Tapi entah kenapa seiring berjalannya waktu rasanya jadi biasa saja. Karena semakin dewasa orientasi dalam mengagumi lawan jenis sudah tidak semenggebu saat remaja. Mungkin rasanya sudah bukan lagi masanya untuk mabuk asmara. Mmmm, ini salah satu sudut pandangku ya, aku yakin orang lain akan ada yang tidak setuju dengan pemikiranku ini. Bahkan belahan pikiranku yang lain pun ada yang mendebatkan ini.
Atau sebetulnya...
Aku yang masih menutup diri haha. Aku masih terbelenggu dengan perdebatan yang ada di dalam diri. Rasanya kepalaku terlalu berisik dengan pikiran-pikiran yang berpendapat A dan B. Pikiran A yang begitu naif namun sangat mengakar dalam diri. Pikiran B yang mau mendobrak diri dan memaksa keluar mengeksplor kehidupan yang liar.
2 sisi yang terus mencoba menyeimbangkan diri dalam tubuh yang sama. Kapan ya mereka bisa berdamai dan bisa saling bekerja sama?
Perihal urusan hati, berat sih. Mungkin satu sisi merasa sudah melewati fase yang menggebu-gebu. Pernah merasakan hati yang berbunga-bunga, tapi ketika patah, sakitnya sampai hilang arah. Galaunya lama, move on nya susah. Tapi dari situ mungkin akhirnya sadar, kalau jatuh hati sebelum waktunya memang bukan perkara mudah. Lalu, sisi yang lain merasa kalau perasaannya belum berbalas masih harus diperjuangkan, ini masa muda gais harus dipuaskan dulu dahaga akan sekelumit jalinan rasa. Kalau mau dijadikan teman hidup harus meyakinkan dulu, harus mengenal dulu cocok atau tidak, kalau tidak sudahi kalau cocok lanjutkan. hhh.
Inilah yang sebetulnya sedang aku debatkan dengan diriku sendiri. Pikiran A yang sadar bahwa menjatuhkan hati pada yang belum pasti adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan membuat diri lebur dibakar rasa. Tapi sipikiran B ini ingin memuaskan rasa ingin tahunya, kenapa harus terbelenggu dengan aturan, dengan stigma orang lain. Kalau resiko nantinya adalah rasa sakit, tapi akan ada sensasi yang berbeda dan inilah yang membuatnya penasaran.
Jadi kesimpulannya, mungkin sebelum aku mengalami apa yang teman-teman aku ceritakan aku bisa berasumsi dan berpikir “terima aja, yaudah kenal aja,” tanpa menanyakan apa sih yang menjadi pertimbangan mereka sampe mereka merasa bingung. Dan sekarang aku paham. Kalau dulu mereka mengalaminya mungkin belum berpikiran kedepan (next life dari hubungan yang belum tahu ujungnya seperti apa). Yang aku pahami adalah pada masa sekarang disaat pikiran aku sudah lebih maju dari diriku yang sebelumnya. Menerima orang lain, sekalipun dia adalah orang yang mencintai kita, ternyata tidak sederhana. Mungkin bagi yang sudah bisa menentukan bagaimana dirinya bisa saja memutuskan menerima atau menolak. Tapi bagiku yang masih banyak berdebat dengan diri sendiri, memutuskan menerima atau menolak bukan perkara mudah. Waktu untuk memikirkannya saja tidak cukup dengan camping dua hari semalam. Lebay memang wkkw. Kenyatannya memang begitu, pertimbangan supaya pikiran A dan B ini bisa harmoni perlu extra waktu. Bahkan sekadar meminta kepada Allah saja bingung. Mau minta “bisa mencintai orang yang mencintaiku” atau “bisa dicintai oleh orang yang aku cintai” ?
Eh tapi kalau bisa dicintai oleh orang yang aku cintai, memangnya saat ini siaapa yang sedang aku cintai? Wkwkkw tidak ada..
Baiklah, sekian dari aku yang begitu nulis bau baunya kebucinan. Mohon dimaafkan.
Waterenough, 29 April 2021
15.52 WIB
Wadot Me













