Muslimah Progresif, Pemangku Peradaban*)
Wadah salah satu kosmetik yang memilih muslimah sebagai brand ambassador-nya. Dalam iklan-iklannya, Wardah kerap menampilkan sosok-sosok muslimah seperti Inneke Koesherawati, Zaskia Sungkar, Dewi Sandra, Natasha Putri, Dinda Hauw, serta beberapa artis lainnya. Tokoh-tokoh publik tersebut ditampilkan Wardah, seakan berbicara muslimah mampu berekspresi menjadi wanita yang inspirasional di berbagai sektor serta memiliki kreativitasnya masing-masing. Melalui iklan tersebut, Wardah ingin menunjukkan produk yang halal sebagai penunjang aktivitas keseharian muslimah.
Wanita dalam iklan-iklan Wardah merepresentasikan, bahwa muslimah bukan lagi sosok yang hanya berada di belakang layar. Narasi lama mengenai wanita yang identik dengan masak, mancak (berhias), manak (memiliki anak) seakan tidak terdengar lagi. Hal tersebut jika diperdengarkan kepada wanita-wanita kota tidak bisa diterima mereka. Bahkan dulu ada ungkapan seorang wanita yang salihah adalah beragama lurus, menuruti suami, dan siap dipoligami. Menukil pendapat Cholisoh (2020) dalam esai Perempuan dan Konstruksi Nalar: Dari Kartini Hingga Kiai, bahwa para Nyai (panggilan istri Kiai) dan Ning (panggilan putri Kiai) digambarkan sebagai wanita yang salihah jika jarang keluar rumah, ikhlas dipoligami, dan mendukung suami dalam mempimpin pesantren. Tentu representatif Wardah dengan wanita yang penuh energi, berbeda dengan masa patriaki dulu. Namun, perlu diingat hal yang tampak pada iklan tersebut tidak bisa berlaku untuk semua wanita ataupun muslimah.
Wanita dan Bias Budaya
Wanita tidak hanya bertempat tinggal di kota-kota besar. Wanita yang lain, bertempat tinggal di desa yang masih kuat tradisi dan budaya. Mereka tidak mengerti bagaimana bersolek layaknya brand ambassador Wardah. Hal yang mereka pahami adalah mencari mata pencarian untuk menyambung hidup. Budaya di desa, menganggap asing wanita yang berpendidikan tinggi. Jangankan berpendidikan, muslimah yang berjilbab besar dan bercadar masih dipandang aneh. Tidak lumrah. Selain itu, wanita yang tidak segera menikah ketika usainya sudah matang. Dianggap sebagai wanita yang tidak ‘laku-laku’.
Banyak faktor yang menyebabkan wanita memutuskan untuk menikah. Pendidikan, misalnya. Pendidikan seorang wanita bukan hanya menentukan masa depannya. Lebih dari itu, pendidikan bagi wanita menentukan kapan ia siap untuk menikah. Tengok saja pernikahan di desa, banyak yang memutusakan untuk menikah lebih dini. Entah faktor ekonomi maupun faktor adat yang berlaku. Lain lagi kisah seorang wanita yang penulis temui. Ia tinggal di salah satu desa yang rimbun hasil ladangnya. Tempat tinggalnya di kelilingi oleh pengunungan. Ia memutuskan menikah karena tidak ingin memberatkan beban keluarga. Pendidikan yang ia tempuh terakhir yakni, SMK. Ia tidak ingin melanjutkan pendidikan lantaran biaya kuliah atau kursus terlalu tinggi baginya. Menikah salah satu cara yang ia pilih untuk melanjutkan hidup. Hal ini serupa dengan pendapat Setyaningsih (2016:42), dalam buku Bermula Buku Berakhir Telepon pendidikan bagi wanita memiliki pengaruh yang cukup dominan untuk memutuskan kehidupan berumah tangga. Sebagian wanita beranggapan karier dan masa depan dapat ditempuh melalui pendidikan. Belum lagi kegelisahan wanita jika tidak dapat mengurus anak dan suami.
Wanita Berpendidikan
M.Nuh (2013:23) berpandangan bahwa, pendidikan memiliki prinsip education for all, maknanya adalah pendidikan untuk semua, tidak boleh ada diskriminasi atas gender, status sosial ekonomi, atau primordialisme. Dalam arti lain pendidikan tidak mengenal gender maupun ras. Hak setiap orang untuk mendapat pendidikan yang layak. Hal ini berlaku juga terhadap wanita. Sosok wanita yang berpendidikan bukan hanya berdampak terhadap dirinya semata.Wanita-wanita yang memiliki daya intelektualitas, tentu lebih bermartabat bagi keluarga dan masyarakat. Meminjam pendapat dari Zuhriyah (2018:262) wanita sebagai penerus generasi dan pengelola rumah tangga memerlukan pendidikan yang mewadahi bagi wanita. Sehingga pengajaraan yang layak patut diberikan kepada wanita.
Tentu kita sangat lekat dengan sosok Kartini yang memperjuangkan hak kaum wanita agar mendapat pengajaran yang sama dengan laki-laki. Namun, kita patut menelusuri sosok Rahma El Yunusiyah dan perannya. Ia telah menjadi influencer pada zamannya. Ia lahir dari keluarga dari kalangan ulama. Rahma El Yunusiyah berasal dari Padang Panjang, Sumatera Barat. Ketika usianya 23 tahun, ia telah mampu mendirikan Diniyah Putri, Sekolah Agama Islam pertama di Indonesia. Ia berinisiatif membentuk Sekolah Diniyah Putri. Dilatarbelakangi ketika itu sekolah yang kakaknya dirikan, Diniyah School. Kaum laki-laki lebih mendominasi daripada wanita.
Kaum wanita tidak diberi ruang untuk bertanya maupun berekspresi. Baginya persoalan wanita hanya mampu dijelaskan oleh guru wanita dan tidak dapat dijelaskan secara gamblang oleh guru laki-laki. Adapun murid-murid wanita malu jika akan bertanya kepada guru laki-laki. Hal inilah yang membuat dilema Rahma. Dalam esai Rahma El Yunusiyah Memperjuangkan Kesetaraan Muslimah (2018) Raditya menuturkan, bahwa Rahma El Yunusiyah tidak kalah berperan dari R.A. Kartini, bahkan lebih karena sepak terjangnya juga lebih mencekam. Ia pernah diadili dan ditanggap oleh pemerintah kolonial dan sempat ditahan Belanda saat revolusi. Meski demikian tidak menyurutkan asa dalam dirinya untuk terus memajukan kaumnya. Hasil perjuanganya membuahkan hasil, pada 1957 ia diakui secara internasional.
Wanita yang hidup sezaman dengan Buya Hamka ini, mendapat gelar “syekhah” dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Gelar yang sangat jarang dijumpai oleh siapapun. Gelar yang bermula dari niat sederhana dan mulia. Dalam esai Rahmah El Yunusiyah: Pendiri Diniyah Putri, Menginspirasi Al-Azhar yang ditulis oleh Zuhra (2019) bahwa, Universitas Al-Azhar mengundang Rahma untuk menghadiri Kulliyatul Lil Banat, fakultas khusus untuk wanita. Kedatangan Rahmah dan cerita Sekolah Diniyyah yang menginspirasi Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Lil Banat, fakultas khusus untuk wanita yang direalisasikan pada 1962. Selain mendirikan Sekolah Diniyah Putri, ia pernah mendirikan Menjesal School yang berdiri sejak 1926 dan bertahan tujuh tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mengajarkan literasi bagi kaum ibu rumah tangga. Ia berharap kaum ibu minimal dapat memahami baca-tulis, dengan demikian buta aksara dapat diberantas.
Pemangku Peradaban
Rahma El Yunusiyah satu dari sekian contoh nyata seorang muslimah yang mampu membuat perubahan bagi kaumnya. Sebagai wanita muslimah, ia sadar bahwa wanita juga memiliki peran penting untuk menebarkan kebaikan. Bagi Rahma melalui Sekolah Diniyah Putri, salah satu cara untuk menyebarkan kesempurnaan Islam (syumuliyatul Islam). Wanita berintelektualitas bukan untuk menandingi laki-laki atau mengambil perannya. Dari wanitalah akan lahir generasi-generasi peradaban. Meskipun Rahma tidak sempat menjadi ibu semasa hidupnya, tetapi sekolah yang ia dirikan sudah dianggap ‘anak’. Ia mendirikan dengan penuh asuh dan asih. Ibu-ibu peradaban haruslah cerdas, sebab makhluk mungil bernama anaklah yang banyak menyesap muara kehidupan.
Menjadi wanita perannya sangat kompleks, bukan hanya menjadi bagian dari masyarakat. Namun, juga menjadi “madrasah pertama” bagi anak-anaknya kelak. Wanita sebagai ibu bukan hanya sebagai ibu biologis. Menelisik pendapat Setyaningisih (2016:47), ibu merupakan ibu intelektualitas yang nanti bakal mengantarkan anak pada pengetahuan yang luas. Tidak peduli di luar rumah ibu berprofesi sebagai apa, tetapi hal yang pasti ibu tetaplah tempat belajar yang pertama. Mengasuh, mengasih, dan mendidik dengan penuh kasih.
Barangkali ibu jugalah yang mengenalkan anak pada Rabb. Kita patut menyimak puisi dari Wiji Thukul (2015:30) “Sajak Ibu”:…..ibu menangis ketika aku mendapat susah/ ibu menagis ketika aku bahagia/ ibu menagis ketika adikku mencuri sepeda/ ibu menangis ketika adikku keluar penjara/ibu adalah hati yang rela menerima/ selalu disakiti oleh anak-anaknya/penuh maaf dan ampun/ kasih sayang ibu adalah kilau kegaiban tuhan/membangkitkan haru insan/ dengan kebajikan/ ibu mengenalkan aku kepada tuhan/. Semesta telah berbicara mengenai muslimah dengan segala kelebihan yang Rabb anugerahkan kepadanya. Kelak akan ada muslimah cerdas yang memahami peranya, bukan untuk menandingi laki-laki. Namun, pengajaran yang ia terima selama ini untuk malaikat kecilnya. Maka, sebagai muslimah patut selalu meningkatkan dan mengaktualisasi kapasitas diri. *)tulisan pernah diikutikan lomba esai beberapa waktu lalu


















