Tentang tanya, dimana & strategi apa ?
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama Ia tak menulis, Ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah" (Pramoedya Ananta Toer).
Seperti kata Pramoedya, menulis menjadi bagian dalam mengukir nama di sejarah kehidupan. Menulis bukan hanya untuk saat ini, namun untuk sepanjang jalan maka perlu diabadikan.
Dimanakah tulisan akan diabadikan penulis (dibaca : saya) ?
Seiring perkembangan jaman, tak ada lagi pelepah kurma yang menjadi alas, tak juga bebatuan yang menjadi tumpuan, apalagi alasan lain yang menjadi jawaban tak ada kesempatan.
Dunia telah dipenuhi berbagai kemudahan, kemudahan yang sejatinya berasal dari tulisan. Pepohonan dengan hebat telah mampu menjadi alas, dan "kegilaan" modern dengan hebat memberi ruang dalam genggaman.
Menulis dalam genggaman untuk strategi yang menyeimbangkan "kegemaran" para penjemputnya. Mudah dan cepat, namun tak mengurangi kualiatas. Dengan ejaan "Sosial Media", menyapa dengan tanpa memaksa.
Menulis untuk dikenang sejarah, maka menulis sesuai dengan perkembangan sejarah, menulislah walau hanya sekedar menyapa, namun biarkan menjadi sebuah rutinitas yang tak biasa.
Penulis (dibaca : saya), berharap dimampukan Allah untuk menyapa dalam beranda atau wall facebook, timeline line, ataupun home Instagram dengan storynya ataupun story pada ruang yang lain.
Adapun strategi yang strategis di era ini, membawa tulisan menjadi "kekinian" tanpa mengurangi esensi isi dan gagasan penulis (dibaca : saya) untuk tersampaikan pada penjemputnya.
@nabilaghaida @ruangdalamrasa @imeespramesti @deaaprilaga @nurveni