Hari pertama
Aku berlindung di balik topeng yang menampakkan
Aku yang baik-baik saja
Dan berusaha lupa atas segala ucapmu kemarin malam
Aku terduduk di teras rumahku
Terdiam seperti orang linglung
Ku hisap sebatang kretek tembakau hitam
Yang lebih sering mematikan dirinya
Dari pada terbakar api
Aku hanya diam
Dan sesekali tertawa kecil
Tertawa
Menertawakan betapa satu hari kau tinggalkan ternyata lebih pedih
Dari menahan segala hidup yang biru
Berjam-jam aku duduk termangu
Terkadang tertawa
Dalam tawa kecil yang menutupi hati patah
Tanpa kusadari air mataku menetes
Satu demi satu tetes
Membawa harapan demi harapan
Yang kita rancang untuk ada
Namun aku tetap tertawa menyadari ada hati rapuh dari seorang yang dingin
Apa harapan harus di makamkan, sayang?
Samarinda
11 Februari 2021
22.13 WITA














