besok kau kan kembali?
seen from Russia
seen from China

seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Austria

seen from Malaysia
seen from China
seen from China
seen from China
seen from Australia
seen from Singapore

seen from Australia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Philippines
seen from Germany
besok kau kan kembali?
Jangan Patah, Meski Tak Ada yang Menyaksikan
Ada jarak yang tak dapat diukur oleh angka, dan rindu yang tak bisa disampaikan oleh kata. Ia tinggal di sela-sela waktu, mengendap di dasar dada, tempat tak seorang pun mampu menjangkaunya— kecuali Dia yang menciptakan hati.
Engkau jauh. Bukan hanya dari rumah yang kau kenal, tetapi dari lengan yang dulu menyeka air matamu dengan diam. Dari dapur yang mengepul setiap pagi, dari suara yang menyebut namamu bukan untuk menuntut, melainkan untuk mencintai.
Kini, engkau sendirian. Berteman dengan ambisi yang tak selalu ramah, dan mimpi yang kadang melukai.
Engkau tidak sedang sekadar belajar. Engkau sedang bertarung dengan dirimu sendiri, dengan rindu yang tak kau akui, dengan sabar yang kau latih tanpa guru, dengan perih yang kau telan tanpa tangis.
Dan untuk semua itu, engkau layak disebut kuat. Meski dunia tak memberimu medali, dan tak seorang pun tahu betapa sering engkau ingin menyerah.
Perjuanganmu tak bersuara, seperti akar yang menembus bumi, menjadi fondasi bagi harapan yang kelak akan tumbuh.
Tak ada yang melihat. Tapi langit mencatat.
Rindu adalah sunyi yang paling jujur. Ia tidak pernah berteriak, tapi hadirnya selalu terdengar jelas— pada sepertiga malam, ketika engkau terjaga dalam lelah, lalu menyebut satu nama: Allah.
Tak perlu malu menangis. Air mata adalah bahasa hati yang paling fasih. Dan sujud yang basah adalah bukti bahwa hatimu belum mati.
Teruskan langkahmu, meski tertatih. Teruskan niatmu, meski dibanting realita.
Karena yang engkau perjuangkan hari ini, akan menjadi kebanggaan esok, bagi orang-orang yang kini engkau rindukan.
Ketahuilah— Allah tidak pernah lalai mengawasi langkahmu. Tidak ada detik pun dari perjuanganmu yang luput dari penjagaan-Nya.
Dan jika seluruh dunia membisu terhadap usahamu, cukuplah Allah yang menjadi saksi— bahwa engkau sedang melangkah, dalam letih, dalam diam, dalam taat.
Maka jangan patah. Jangan mundur. Jangan biarkan rindu menjadi alasan menyerah, tapi jadikan ia alasan untuk terus hidup dengan makna.
Sebab yang bertahan bukan berarti tidak terluka. Ia hanya memilih menunduk, dan berkata dalam hati:
“Tuhan, aku rindu… tapi aku tahu, Engkau tidak akan sia-siakan air mataku yang jatuh demi-Mu.”
"Sungguh kalian berada dalam perjalanan (perputaran) malam dan siang, umur yang semakin berkurang, amalan yang selalu tercatat, dan kematian yang akan datang secara tiba-tiba. Siapa yang menabur benih kebaikan, dia akan memanen kebahagiaan. Siapa yang menanam kejelekan, dia akan menuai penyesalan. Setiap yang menanam akan mendapatkan semisal yang dia tanam."
Dunia itu Tempat Menanam.
Menanam benih untuk dipetik diakhirat kelak. Sebagai bekal untuk perjalanan kita menuju kampung halaman yang abadi.
Apa yg akan dipetik? Yakni amal yg kita tanam selama didunia. Amal itulah yg akan mengikuti kita dari jasad berada di liang lahat hingga dia dituntut untuk diperhitungkan.
Sedangkan dunia adalah tempat kita menumbuhkembangkan segala amal perbuatan, baik ataupun buruk. Dan disinilah ranah kuasa kita.
Kita diberi kuasa untuk berbuat semaunya. Mau jadi perusak, penghancur atau orang baik yg tau arah jalan pulang. Allah kasih kita kitab pegangan. Dan disanalah kita akan mencari tips² sukses menuju akhirat.
Karena kelak, kita sendiri yg akan mempertanggung jawabkan apa² yg diperbuat selama didunia. Tergantung pupuk apa yg kita berikan untuk pohon amal agar berbuah ranum. Jika pupuk terbaik, maka kau akan selamat.
"Karena Setiap yang menanam akan mendapatkan semisal yang dia tanam."
@putrhanna
Pulanglah!
Pilihan menjadi baik atau tidak adalah hakmu. Namun tidak diusik dan diganggu kehidupan adalah juga hak setiap orang. Namun semua itu kau salahi dengan pilihan jalur yang imbasnya berdampak pada orang lain.
Kamu, yang memilih jalan tak benar. Tahukah bahwa yang kamu lakukan akan berdampak pada orang lain?
Kamu, yang tetap eksis bertahan pada hal-hal yang salah. Tahukah bahwa kau sedang membangun pondasi ketakjujuran dan sudahkan kau perhitungkan apa akibat panjangnya? Sudah?
Pesan saya, jika jalanmu tak lurus, kembalilah pada jalan yang baik itu. Pulanglah kamu wahai diri yang telanjur salah jalan. Tak apa, jangan takut, saya yakin akan ada orang2 baik yang setia menunggu dan dia tak sejahat pikirmu. Mereka tak akan menghakimimu. Saya yakin setiap orang adalah baik termasuk kamu. Pulanglah!
Kembali Pulang pada jalan yang benar
Jangan sampai usiamu habis termakan karena terlalu lama memilih. Bagaimana tidak, selera tinggi yang nyaris sempurna menjadi patokanmu.
Semoga saja kamu beruntung ! Aku lelah diabaikan, aku tak kuat membonceng bayangan mu lagi, sampai jumpa di persimpangan jalan, aku berharap kamu dibonceng dengan orang pilihanmu itu.
Mks, 4820 | pkl 00.27
Terkadang memang mengalir seperti air, mengikuti alur cerita dan membiarkannya berakhir sesuai kehendak-Nya adalah pilihan untuk seseorang yang tak tau harus melakukan apa selanjutnya.
Benar begitu?
Lelli Agustina||Bandung 2020
Sengaja mau ikutan sesinya Kang @rubahlicik sama Mbak @sendingfailed. dan eng-ing-eng pertanyaannya.
Sebagai mantan anak rantau, kata - kata pulang itu seperti air segar di gurun sahara, menyegarkan sekali boi! Nyatanya meskipun sudah mantan tapi kata Pulang sering banget jadi sentilan tajam di tengah huru hara pencapaian dunia fana. Pulang ialah sebuah perjalanan yang idealnya ada bekal, entah ittu sedikit atau banyak tergantung memilih yang mana. Tapi hal yang pasti, ketika ditanya kemana aku ingin pulang jawabnya ada di ujung langit, eh gak gitu. Jawabannya aku ingin pulang ke rumah. Rumah dalam definisi ideal, rumah yang selain ada jiwa ditambah ada suasana. Ketenangan. Kebetulan aku sekarang pas nulis ini sedang dalam perjalanan, tapi bukan pulang. Beda rasanya, kalau pulang itu pasti ingin menemukan ketenangan, kalau perjalanan ke tempat lain ketemunya tantangan.
Selain itu kalau ketemu kata Pulang, aku selalu membayangkan kalau hidup itu sebagai sebuah perjalanan, yang ujungnya pun akan Pulang kan. Pertanyaan khusus untukku, apakah kamu sudah mempersiapkan jiwa yang tenang?
jingga