Hallo December, terimakasih sudah berjumpa lagi ..
Rasa mu tak pernah beda, selalu ada hangat , teduh dan bahagia di dalamnya . Bahagianya masih sama, hangatnya tambah erat, teduhnya makin sendu.
Tapi, dalam sebelas bulan belakang pasti banyak hal yang dilalui.
Tahun lalu aku belajar ikhlas ..
Dengan harap yang tak akan pernah lagi jadi nyata, dipaksa melepas rasa ingin memiliki olah kenyataan, sedih yang mungkin akan selalu terselip di hati.
Tidak lengkap rasanya bila waktu panjang di setiap tahun nya hanya ter-isi oleh rasa bagaian tanpa pelajaran .
Lagi, tahun ini Tuhan masih memberikan pelajaran yang sama, dengan perjalanan yang berbeda.
Ini tentang mimpi yang lama diharap ..
Masa depan yang diusahakan dari lama ..
Untuk tahun ini, ikhlas harus berperan paling besar sebagai penutup .
Pada perjalanannya, di saat merayu Nya ..
Tidak pernah lepas kuucap hajat itu sepanjang waktu dalam bulan baik Nya, dalam wajib dan sunnah Nya, pada waktu-waktu mustajab Nya, dan saat bumi serta langit mendengar bisikan umat Nya .
Aku relakan semua harap yang lain menunggu dibelakang ..
Dengan lantang dan berani kuucap pada urut pertama dalam doa dan sujud kepada Nya.
Dengan ingin yang lebih besar dan yakin yang lebih dalam untuk ingin kali ini .
Karena, “kali ini bukan hanyak untuk ku wahai Tuhan’’ ucap si peminta ini ..
Mimpi yang sudah lama terjaga dan ingin yang selalu diusahakan ..
Pada akhirnya diberi kesempatan untuk coba menjalankannya. Meski bertemu pada akhir yang entah bagaimana .
Tak selalu mulus memang ..
Dan sialnya, lagi-lagi aku lupa untuk menyiapkan ruang kecewa dalam diri .
Ternyata kecewanya mendalam, sesalnya lebih tebal .
Menyalahkan diri sendiri dan marah kepada Nya menjadi pelampiasan kekecewaan terbodoh sepanjang tahun ini.
“Kenapa di kesempatan terakhir ini bukan aku, Tuhan?”
“Izinkan aku kali ini mencoba tanpa ada gagal di dalamnya, kumohon”
Sedih nya masih mendalam, sesalnya masih terasa, kecewanya masih datang ..
Tapi, harapannya tak pernah hilang ..
Kamu tau Dec apa yang aku takutkan dari kegagalan kali ini?
Aku takut mimpiku terus hidup untuk waktu yang lama dalam diri dan aku tak mampu menggapainya.
Karena, mereka bilang ‘’mimpi kita tidak akan pernah hilang, dia hanya tidur dan bangun dalam bentuk penyesalan’’
Sial, jatuh lagi air mata ku. Bahkan hanya dengan mengingat nya dalam tulisan, sedihnya muncul ke permukaan .
Inginku masih berteriak untuk mencoba,
Bahkan, untuk gagal kali ini, besar takutku untuk ikhlas .
Untukmu, wanitaku, pintuku menuju kebahagiaan panjang di ruang baru ..
Maafku besar untuk kegagalan kali ini, sama dengan besarnya kecewaku pada diri sendiri ..
Maafku belum mampu memberimu alasan akan bangga dan senyum haru yang harusnya ada pada masamu saat ini ..
Mah, mimpi terbesarku gagal, ingin terbesarku lepas dari genggam ..
Mah, sedihnya masih mendalam, kecewanya masih ada, lelah atas usaha untuk menggapainya masih terasa ..
Terimakasih atas segala perihal yang terjadi di tahunmu,
Terimakasih atas segala bahagia yang diizinkan ada di tahunmu dan atas segala kecewa serta gagal sebagai pelengkapnya.
Segala perihal yang terjadi pada tahunmu dari pembuka sampai akhir akan ku simpan dengan tenang dalam pikiran dan ikhlas yang dalam .
Mari bertemu hal lebih membahagiakan lagi di tahun-tahun selanjutnya,
Mari bersiap akan segala rasa yang harus diterima dengan lapang,