Terimakasih yaa, atas Januari yang semangat, Februari yang menggemparkan, Maret yang mencekam, April hingga akhir yang menakutkan. Awal tahun yang seharusnya menjadi awal lebih baik tergantikan dengan ketakutan yang harus memisahkan. Katanya dan faktanya, Tahun mu banyak sekali meninggalkan kesedihan bagi banyak orang, hancurnya rencana bagi para pejuang dan kegagalan bagi si ambisius. Banyak di luar sana yang melemparkan sumpah serapahnya kepada mu, tetapi segera ingat ini bukan kehendak mu, melainkan kehendak-Nya. Teguran yang disampaikan untuk menuntut para penghuni bumi agar menjadi bagaimana sepantasnya.
Terimakasih untuk semua kesedihan, untuk air mata atas ketidakpercayaan pada diri ini, untuk rasa takut akan kegagalan, untuk rasa bosan yang tak terbendung dan rindu yang menebal. Walaupun pada akhirnya semua bersuka ria saat kau pergi. Mengucap syukur seraya mengokohkan diri untuk bangkit. Padahal, apa yang membuat tahun mu buruk sebenarnya belum sepenuhnya beres. Menurut ku, tahun mu memberikan mereka bahagia juga. Kau tau apa? Tahun mu telah membuat yang jauh menjadi dekat, yang lupa menjadi ingat, yang acuh menjadi peduli.
Tetapi jangan khawatir, seburuk apapun kamu, tetap saja, salah satu anggota mu selalu dan akan terus menjadi kesukaanku. Iya, anggota mu, Desember ku. Terimakasih sudah memberikan penutup yang sangat berkesan di desember ku tahun ini, di hari dimana Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada ku untuk hidup menjadi manusia yang semestinya. Dan terimakasih untuk tidak melanjutkan kesedihan sampai akhir, setidaknya, untuk ku.
2020, Terimakasih atas bahagianya.
Akan ku ceritakan Desember ku, untuk ku, untuk mu, dan aku tidak tau pastinya tetapi ku harap, bisa untuk kita.