The Human Library: Everyone Have Their Own Story
“How are we understand each other, if we do not have the opportunity to talk to each other?” - Ronni Abergel
14 Januari 2023, Perpustakaan Jakarta Cikini - Aula HB Jassin Lt.4
Saya mengetahui kegiatan ini dari media sosial Instagram @humanlibrary_id . Awalnya saya mengetahui adanya komunitas Human Library di luar negeri sekitar dua tahun yang lalu karena sempat diberitakan di televisi. Sekilas tentang Human Library, pertama kali diadakan di Copenhagen, Denmark digagas oleh Ronny Abergel yang adalah seorang jurnalis dan aktivis hak asasi manusia.
Acara yang diselenggarakan di Jakarta kala itu merupakan event ke dua. Sebelumnya pada tahun 2019 pernah di adakan di Universitas Indonesia, Depok. Tetapi karena pandemi yang melanda di tahun 2020, event Human Library Indonesia tidak dapat diselenggarakan sampai adanya pelonggaran aktivitas.
Menurut saya, event yang diselenggarakan di awal tahun 2023 ini menjadi suatu kegiatan positif dimana tadinya orang-orang terisolasi di dalam rumah akhirnya bisa saling terkoneksi satu sama lain secara tatap muka. Dampak pandemi dalam kehidupan sosial menurut beberapa peserta yang saya temui di kegiatan Human Library Indonesia, membuat mereka canggung ketika harus berbicara atau bersosialisasi secara tatap muka karena terbiasa melakukan kegiatan secara daring. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa jadi tidak kuat bertemu dengan banyak orang dengan durasi yang lama. Ada juga yang bersyukur akhirnya bisa bertemu secara tatap muka dan jadi lebih menghargai setiap pertemuan tatap muka entah dengan keluarga, sahabat, kekasih, dan orang-orang yang ditemui. Kalau dari kalian sendiri, apa yang kalian rasakan dalam kehidupan sosial kalian baik selama pandemi ataupun pasca pandemi ini? Silahkan sharing, di kolom komentar :) Monggo. Mungkin ada kondisi lain yang dialami.
Human Library Indonesia saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (Autism dan Down Syndrome), sahabat bipolar, komunitas Niqabi (wanita bercadar), jurnalis, orang dengan HIV positif, dan victim of abuse (Ada narasumber dari divorcee tetapi karena keterbatasan waktu saya tidak sempat menghampiri ruang diskusi dengan divorcee). Selain berdiskusi dengan narasumber saya juga berkesempatan berdiskusi dengan peserta lain yang mengikuti kegiatan tersebut di mana kondisinya kami sama-sama tidak mengenal satu sama lain. Hadirnya Human Library jadi sama-sama saling mengenal satu sama lain tanpa menghakimi.
Saya sangat mengapresiasi narasumber yang mau meluangkan waktunya dan memberi diri membagikan pengalaman pribadi mereka dalam menghadapi struggle nya masing-masing yang di dapat dari stigma buruk masyarakat.
Saya salut dengan perjuangan orang tua yang mau sama-sama berjuang mengasuh anaknya dengan kondisi tersebut, dari fase menerima kondisi anak, kesabaran menghadapi perlakuan keluarga ataupun masyarakat yang menganggap anak berkebutuhan khusus adalah sebuah kutukan, pergumulan ekonomi ditengah keluarga, juga kasih dalam mengasuh anak- memperjuangkan hak anak untuk mendapat pendidikan yang sama hingga pada akhirnya sang anak bisa dibesarkan dengan penuh prestasi. Sang orang tua mensharingkan bahwa ketika menjadi orang tua baik suami ataupun istri harus sama-sama berjuang dan hanya Sang Mahakuasalah yang memampukan mereka melalui pergumulan tersebut. Juga sebuah nasehat dari mereka lagi-lagi diingatkan tentang kasih yang rela berkorban dan sama-sama berjuang dalam suatu hubungan. Melalui kisah mereka jadi teringat lagunya RAN ft Yura Yunita - Melawan Dunia (dan kisah dibalik pembuatan lagu tersebut):
‘Mungkin berat tapi ku tahu Apa yang kita jalani Sulit mereka pahami Namun ku yakin Ada jalan untuk kita Bersama Asalkan kita berani Mencinta sepenuh hati Meski seakan aku dan kamu Melawan dunia’
Sharing mereka menjadi berkat bagi saya dan kembali diingatkan akan kasih sejati dan dalam menggumulkan pasangan hidup (hahaha). Refleksi pribadi saya “Ya dikala menjalani masa single ditengah banyaknya teman segenerasi saya ada yang sudah memiliki pasangan, bertunangan, melangkah ke jenjang pernikahan, dan punya anak terkadang suka ada pikiran insecure ‘kapan ya Tuhan? Siapa ya Tuhan?’. Disyukuri dan nikmati aja masa single ini lewat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, jadi masa-masa lebih mengenal diri, lebih dekat dengan keluarga, dan banyak hal lainnya. Lagian tidak perlu terburu-buru karena insecure kondisi sekeliling. Bukankah sesuatu yang terburu-buru tanpa pertimbagan matang itu tidak baik? Nikmati aja prosesnya :) “
Saya juga menikmati diskusi dengan orang dengan HIV positif, sahabat bipolar, dan victim of abuse.
Tidak mudah menerima kenyataan ketika di diagnosa HIV positif padahal selalu menjaga kesehatan, tidak menggunakan narkoba, dan tidak menjalin relasi. Pertama kali mengetahui diagnosa HIV positif lalu mencari di google tentang pengobatannya, yang muncul adalah artikel-artikel yang membuat si penderita HIV positif semakin ngedown (artikel HIV positif tidak bisa diobati, pengobatan herbal atau alternatif yang ternyata penipuan). Sangat minim sekali tentang pengetahuan ‘Hal apa yang harus dilakukan jika saya HIV positif’. Belum lagi mendapat penolakan dari keluarga maupun teman sekantor. Hal yang disyukuri adalah ketika ia bergabung dengan komunitas penderita HIV/AIDS. Ia menemukan harapan bahwa HIV bisa disembuhkan dan bisa diobati. Era pengobatan yang semakin maju membuat penderita HIV tidak perlu mengonsumsi obat dengan jumlah yang banyak lagi. Juga bila penderita HIV nilai virusnya sudah masuk ke dalam angka yang tidak terdeteksi lagi artinya sistem kekebalan tubuh memulih dan berhasil memperkuat diri. Selain itu, hal tersebut mengurangi risiko penularan beberapa penyakit menular seksual lainnya, seperti klamidia, sipilis, dan HPV.Juga menandakan pengobatan yang dijalani berhasil melawan virus HIV di dalam tubuh. Dengan demikian, sangat minim risiko (atau bahkan tidak mungkin) untuk menularkan infeksi HIV kepada orang lain. Menurut narasumber, selain kampanye pencegahan HIV dibutuhkan juga kampanye yang mengedukasi bahwa HIV bisa diobati.
Ketika sharing dengan sahabat Bipolar, saya salut atas keberaniannya untuk sharing kondisi kesehatan mental yang dialaminya dan pengalamannya bergumul dengan kondisi kesehatan mentalnya yang berawal dari trauma masa lalu. Juga bagaimana ia merangkul anggota keluarga yang lain untuk sama-sama menjalani terapi di psikiater dan psikolog untuk sama-sama berjuang sembuh dalam melalui kondisi kesehatan mental yang dialami. Pengalaman jatuh bangun berdamai dengan diri sendiri dan hal yang ia syukuri lagi-lagi tentang ada komunitas yang merangkulnya. Pernah juga ia trauma pergi ke psikolog dan psikiater karena bukannya ditolong tapi ia menerima penghakiman dari psikolog dan psikiater yang pertama kali ditemui. Sampai akhirnya ia berada di tangan psikolog dan psikiater yang tepat menolongnya.
Sharing dengan victim of abuse, membuat saya menahan tangis saya karena pengalaman yang narasumber bagikan. Berawal dari pengasuhan keluarga yang abai yang ia dapat dari orang tua maupun saudaranya sehingga membuat ia mencari pelarian lain yang memberikan kasih dan sayang baginya. Nyatanya ketika mencari kasih yang memenuhi kesepian hatinya lewat manusia, hanya membuatnya makin terluka. Dimanfaatkan orang hingga dilecehkan. Sehingga menimbulkan trauma baginya. Tidak ada yang mau menerimanya dan dihantui perasaan tidak layak. Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya ia dipertemukan dengan komunitas yang menerima dan memberikan perlindungan baginya karena mendapat perlakuan kekerasan. Hal yang ia syukuri adalah lepas dari rantai-rantai masa lalu yang membelenggui dirinya. Hingga diberikan pelatihan untuk mengasah kemampuan dirinya. Ia pun akhirnya turut berjuang memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak yang mendapat kekerasan ataupun pelecehan seksual.
Dari ketiga kisah narasumber tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa setiap manusia pernah ada dalam masa tergelap dalam kehidupannya hingga pada akhirnya di bawa kepada terang cahaya yang memberikan mereka pengharapan untuk melanjutkan hidup serta membagikan kembali terang pengharapan itu ruang-ruang gelap sesamanya agar sesamanya turut bangkit berdiri berjalan pada terang pengharapan itu. Juga hadirnya komunitas yang merangkul untuk bertumbuh menyadarkan saya bahwa manusia tidak dapat bertahan hidup seorang diri.
Saya juga senang mendengar cerita dari komunitas Niqabi dan jurnalis.
Komunitas Niqabi seringkali dianggap aneh atau dianggap teroris karena berita di TV yang beredar mengenai kasus teroris dari perempuan dengan cadar. Padahal komunitas Niqabi sendiri merupakan komunitas wanita muslimah dengan cadar yang tidak pernah membagikan ajaran yang menyesatkan untuk melakukan tindakan terorisme itu. Malah komunitas mereka seperti saudara-saudara muslim yang kita temui, mengajarkan kebaikan dan kasih, dan menanamkan nilai-nilai toleransi. Memang benar kata pepatah, ‘Tak kenal maka tak sayang’. Jika kita hanya berasumsi saja tanpa berusaha mengenal siapa mereka ya hanya ketakutan saja yang muncul atau perasaan negatif yang muncul dipikiran kita. Saya yakin dan percaya bahwa semua agama selalu mengajarkan kasih, kebaikan, dan toleransi di dalamnya :)
Kalau dari jurnalis, saya jadi lebih tau secara detail apasih profesi jurnalis itu, apa yang mereka lakukan, tantangan apa yang dihadapi, isu apa yang sedang dihadapi oleh profesi jurnalis, suka-duka menjadi profesi jurnalis.
Saya sangat bersyukur dapat mengikuti rangkaian kegiatan Human Library Indonesia ini. Bisa mengenal sesama dengan berbagai sudut pandang kisah yang dialami. Bagi saya, seseorang yang terkadang suka overthinking ketika berelasi dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, maupun orang-orang yang saya temui kembali mengajarkan saya untuk tidak mudah berasumsi terlebih dahulu. Contohnya adalah ‘Kayanya si A marah deh sama saya’ ‘Kayanya si B orangnya galak, jadi takut dekat dengan si B’ ‘Saya salah ngomong gak ya sama C’ ‘Kalau saya mencoba membuka percakapan dengan D, aneh gak ya atau bakal nyambung gak ya’ dan asumsi-asumsi lainnya yang jadinya membuat saya tidak jadi berbincang atau deeptalk dengan orang yang sebenarnya saya ingin ajak diskusi secara mendalam. Asumsi mematikan relasi. Ya, itu benar adanya. Walaupun saya orangnya terkesan kaku, perlahan mencoba beradaptasi dengan orang lain dan membuka percakapan walaupun percakapan singkat tapi setidaknya mencoba, melatih untuk sering-sering ngobrol dengan orang lain (hahaha). Selain itu, saya jadi lebih menghargai pertemuan dan percakapan bersama orang yang saya temui. Melalui pertemuan dan percakapan itu dapat menjadi wadah untuk saling menguatkan satu sama lain. Jika ada yang mengajak mu bertemu dan bertukar pikiran, Yuk ucapkan terima kasih :D sesederhana itu mengapresiasi sesama.








