Belajar Menerima Ketetapan dan Memaksimalkan Peran
"Pahala seorang perempuan yang iklas melakukan kewajibannya di rumah dengan keinginan besar untuk beribadah; pergi ke masjid, itu boleh jadi setara bahkan lebih besar dari pahala kaum laki-laki yang pergi ke masjid dan mengoptimalkan ibadahnya, karena keridhaan atas kewajiban mereka."
Gagasannya kudapatkan ketika memoderatori kajian Muppi tahun lalu, ketika sang pemateri menjawab pertanyaan bagaimana perempuan bisa mendapatkan pahala yang banyak, sedangkan dia tidak bisa beribadah optimal karena kewajibannya di rumah.
Bukan hanya pada saat itu, pertanyaan atau gagasan semacam ini juga seringkali kutemukan di kajian-kajian khusus perempuan yang pernah kuikuti. Mempertanyakan status atau posisi perempuan karena bimbang atas ibadahnya.
Ketika dulu hanya mendengarkan, menyimak, tanpa merasakan; tahun ini alhamdulillah diberi kesempatan merasakan posisi tersebut (meski konteksnya di sini ke saudara). Posisi kebimbangan karena sangat ingin mengoptimalkan ibadah, tapi juga tahu bahwa ada kewajiban yang perlu dijalani.
Tahun ini, alhamdulillah diberi kesempatan untuk merealisasikan teori yang dipelajari; belajar menerima ketetapan—bahwa perempuan memiliki peran penting tersediri—dan memaksimalkan kewajiban. Menurunkan ego; menyampingkan rasa iri; dan berusaha memahami bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi, dan bahwa ada banyak jalan agar ridho Allah didapati.
Menyiapkan makanan, melayani, menyiapkan segala kebutuhan untuk mereka beribadah nyatanya bisa mendapatkan pahala yang setimpal. Meski tanpa melakukan ibadah yang biasa orang-orang lain jalani.
Ngga, "menyiapkan makanan" itu ga berarti setiap hari seorang perempuan harus memasak, kok. Karena sejatinya kewajiban perempuan bukan "memasak" itu sendiri, melainkan "memastikan" bahwa asupan anggota keluarganya terpenuhi.
Mengumpulkan teori, berusaha merealisasi—meski kukira awalnya mudah, ternyata ada tumbang juga saat di Madinah. Tapi saat dijalani lagi, semakin mengerti bahwa semua akan indah kalau dinikmati.
Semakin kesini juga semakin paham, bahwa penting untuk kita berkomunikasi. Kita memang memiliki kewajiban itu semua, tapi bukan berarti semua ditumpukan ke kita. Ga ada salahnya untuk meminta bantuan. Kita makhluk sosial, akan lebih mudah kalau bersama menghadapi.🫂