Muak, lelah, tapi saya salah
Untuk urusan pekerjaan, sebenarnya sudah dari tahun lalu saya mencari pengganti, karena memang di tempat yang sekarang itu sudah amat sangat toxic sekali. Terkadang juga saya membawa emosi yang tidak perlu ke rumah, padahal itu hasil akumulasi dari pekerjaan. Pelampiasan kadang ke istri, kadang juga ke anak. Kalau ke istri paling jadi lebih banyak diam tanpa komentar, yang memang membuat dia menjadi salah mengartikan juga. Kalau ke anak, ya, ketika istri meminta bantuan untuk menyuapi makannya, karena masih bayi kan suka sekali bermain-main dengan makanan atau minumannya. Ketika anak sudah berbuat seperti itu, kadang saya jadi memarahi dia dengan berkata, 'Enggak ayah kasih lagi ya, habis enggak dimakan/diminum dengan benar. Enggak boleh main-main dengan makanan gitu. Kalau masih dimainin, enggak ayah kasih lagi ya.' Ketika saya begitu ke anak, ekspresi anak langsung berubah. Di situ juga kadang saya merasa bersalah sekali.
Ya, mungkin selain karena kebutuhan biologis, hal lain yang berpengaruh ya dari pekerjaan. Sudah lama saya ingin pindah dan mencari pekerjaan baru, tetapi dengan kondisi Indonesia seperti sekarang juga susah untuk mencari pekerjaan lain. Sudah beberapa kali interview juga, tetapi tidak ada panggilan lanjutan untuk proses selanjutnya.
Mencari pekerjaan baru ya, lagi-lagi memang karena ada kebutuhan finansial. Untuk pekerjaan sekarang memang masih di tempat yang sama. Hanya saja untuk penggajian menggunakan budget yang berbeda. Jika sebelumnya menggunakan budget dana hibah, sekarang menggunakan APBN, yang sudah pasti ada pengurangan besaran gaji bulanan. Dari yang sebelumnya di angka 12 juta, turun menjadi 8 juta. Dengan angka seperti itu, bisa hidup seperti apa saya, suami istri dengan anak 1? Mungkin untuk kehidupan saya dan istri bisa dikatakan terbantu karena kami masih tinggal di rumah orang tua saya, tetapi anak kami? Belum lagi untuk kebutuhan tambahan di luar itu! Dari awal Januari saya bisa dikatakan sudah berpikir keras, bagaimana bisa memperbaiki semua ini.
Tapi ya memang kesalahan saya juga adalah tidak bisa menahan diri, harusnya saya bisa memperbaiki diri saya sendiri dengan tidak membeli konten-konten itu. Terkadang juga marah dengan keadaan, di saat lelah juga istri masih meminta bantuan untuk mengurus anak. Sampai kadang terlontar dalam hati, 'Ini kan bagian kamu, kenapa tidak bisa juga untuk hal seperti ini, saya capek, saya lelah, saya butuh istirahat.' Tetapi itu semua hanya terlontar di dalam hati, tidak sampai keluar dari mulut saya. Memang sih terkadang ada terlontar, 'Kamu enak enggak kerja,' dan dia mengembalikan dengan, 'Mengurus rumah dan anak memang enggak kerja?' Kenapa saya terkadang semudah itu untuk melontarkan hal-hal seperti itu? Mau dibilang konteksnya bercanda, tapi ya serius juga.
Banyak hal-hal yang sebenarnya tidak perlu tapi terlontar dari mulut saya.
Sekali lagi ya, memang ini semua kesalahan saya, bukan kesalahan istri atau anak saya.








