I miss petrichor like I miss someone I've never met before.

Kiana Khansmith
untitled

tannertan36
Not today Justin
𓃗
No title available
EXPECTATIONS
Fai_Ryy
taylor price
Xuebing Du
No title available

Andulka

izzy's playlists!

Love Begins
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Noah Kahan
Cosimo Galluzzi
Cosmic Funnies
Keni
No title available
seen from Poland
seen from Türkiye
seen from Philippines
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Pakistan

seen from Canada
seen from Japan

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Guernsey
seen from Germany
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Colombia
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from Malaysia
@tuan-poetry
I miss petrichor like I miss someone I've never met before.
“Be a child again. Flirt. Giggle. Dip your cookies in your milk. Take a nap. Say you are sorry if you hurt someone. Chase a butterfly. Be a child again.”
— Unknown
Tubuku sedang merayakan kehancuran kecilnya sendiri. Sebuah siklus purba yang menolak kompromi dengan jadwal harian manusia kontemporer.
Aku tidak sedang ingin menjadi manusia sosial hari ini. Aku hanya ingin menjadi sebongkah batu yang tidak punya kewajiban untuk beramah-tamah.
Jangan tanyakan apa yang kuinginkan. Bahkan jika aku meminta bulan yang digoreng garing, semenit kemudian aku akan menangis karena bulannya terlalu bundar.
Tolong mengerti. Jangan mendekat. Jangan ganggu!
Yang kau lihat mungkin hanya seseorang yang tersenyum seperti biasa. Yang tidak kau lihat, la sedang menahan ribuan perang di dalam kepalanya agar tidak tumpah menjadi air mata. Setiap pagi ia mengumpulkan kembali serpihan hatinya, lalu berpura-pura kuat agar dunia tidak semakin gaduh.
Maka sebelum kau melontarkan kalimat yang menurutmu hanya candaan, ingatlah mungkin bisa jadi ia sedang bertahan dengan sisa kekuatan yang bahkan tak cukup untuk membenci hidupnya
Tidak semua perjuangan meminta tepuk tangan, dan tidak semua penderitaan mampu bercerita. Ada yang memikul dunia di kedua bahunya, tetapi masih sempat bertanya apakah orang lain sudah makan. Ada yang hatinya porak-poranda seluas langit, namun bibirnya tetap mengucapkan, "Aku baik-baik saja."
Jika kau tak mampu menjadi tempat pulang bagi lelahnya, setidaknya jangan menjadi batu yang menambah berat takdir yang sedang ia pelajari untuk dicintai.
Written by Aftansa
If you're not married yet , may Allah grant you a righteous spouse , someone who loves Allah the most and also fears Allah the most . Because if he/she doesn't fear Allāh, they won't fear hurting you .
Sakit mental level pengin nyayat tangan pake pentul tapi gajadi karna aku paling gabisa nahan sakit fisik masih aman kan ya🙂↕️
Kabar baiknya, dia menjadi baja yang tidak mudah patah.
Kabar buruknya, jiwa nya mati rasa dan tak bisa lagi merasakan apa-apa.
Aku pernah mengira cinta adalah rumah. Tempat pulang yang hangat, yang selalu menungguku dengan lampu menyala dan pintu yang tak pernah terkunci. Tapi ternyata, Tuhan lebih sering menjadikannya seperti stasiun; tempat singgah yang ramai, tempat orang datang dan pergi, tanpa pernah benar-benar menetap.
Berkali-kali aku belajar mengeja perasaan, merangkai harapan dari hal-hal kecil; tawa yang dibagi, pesan singkat yang ditunggu, dan tatapan yang diam-diam kusebut sebagai takdir. Namun setiap kali aku mulai percaya, semesta seakan berbisik pelan, “Bukan yang ini.”
Awalnya aku marah. Pada waktu yang terasa tidak adil, pada pertemuan yang sia-sia, pada perasaan yang tumbuh tanpa izin tapi dipaksa layu sebelum sempat berbunga dengan sempurna. Aku bertanya-tanya, apa aku kurang pantas dicintai, atau hanya terlalu mudah mencintai?
Lalu pelan-pelan aku mulai mengerti bahwa ikhlas bukan tentang berhenti berharap, tapi tentang menerima bahwa tidak semua yang kita harapkan memang ditulis untuk kita. Ada cinta yang hanya datang untuk mengajarkan cara melepaskan. Ada pertemuan yang hanya ditakdirkan untuk menguatkan, bukan menetapkan.
Aku belajar berdamai dengan kata “hampir”. Hampir memiliki, hampir bersama, hampir bahagia. Kata yang dulu terasa menyakitkan itu kini justru menjadi pengingat bahwa aku pernah cukup berani untuk mencoba.
Dan di setiap kegagalan itu, Tuhan seolah sedang merapikan hatiku, mengosongkan ruang dari yang salah, agar suatu hari jika waktunya tiba, yang tepat tidak perlu berdesakan untuk masuk.
Sekarang, aku tidak lagi memaksa cerita berakhir seperti yang kuinginkan. Aku hanya berjalan, dengan hati yang lebih tenang, percaya bahwa apa pun yang Tuhan tetapkan bukanlah bentuk penolakan, melainkan perlindungan.
Sebab mungkin, cinta yang benar bukan yang membuatku terus bertanya “kenapa bukan aku,” melainkan yang datang tanpa membuatku ragu bahwa aku memang dipilih.
Aku menuliskan ini bukan untuk memanggilmu pulang, bukan pula untuk menaruh beban rasa bersalah di pundakmu, atas jalan yang telah kau pilih dengan sadar.
Ini hanya caraku menyimpan sesuatu yang tersisa di antara kita; sebuah kata yang pelan-pelan kupelajari maknanya, ialah tentang penerimaan.
Aku pernah bertahan sejauh yang kupahami sebagai cinta, menautkan harap pada hal-hal yang bahkan tak lagi utuh. Aku berdiri tanpa diminta, memohon tanpa suara, menjaga tanpa benar-benar dijaga.
Dan aku percaya, bahwa cinta layak diperjuangkan sampai batas paling akhir. Tapi di ujung segala upaya, saat kata-kata telah habis, saat langkah-langkah tak lagi menemukan arah, pada akhirnya aku mengerti; perjuangan itu tidak gagal, ia hanya selesai dan perlu dicukupkan.
Aku merapikan diriku perlahan, mengumpulkan serpihan hari yang tertinggal di kenangan, menyusuri pagi yang terasa terlalu sepi, dan malam yang enggan benar-benar usai.
Tidak mudah, tentu saja tidak. Namun aku bertahan bukan untuk membuktikan apa-apa, hanya karena hidup terus bergerak, meski hatiku sempat tertinggal.
Ada bagian dariku yang masih diam di waktu-waktu bersama kita, yang sampai hari ini belum sepenuhnya pulang. Aku belajar bernapas di sela sesak, tersenyum di antara runtuh, dan melangkah dengan kaki yang gemetar tapi tetap ingin sampai.
Tak banyak yang tahu betapa sunyinya perjalanan ini; bahkan kamu yang dulu menjadi alasan mengapa aku bertahan. Jika suatu hari, di keramaian yang tak sengaja atau kesunyian yang tak terduga, namaku melintas di benakmu, ingatlah aku sebagai seseorang yang pernah tinggal begitu lama, hingga akhirnya pergi tanpa lagi meminta untuk dipertahankan.
Tak perlu lagi ada penyesalan. Cukup doakan aku diam-diam. Semoga suatu hari nanti aku menemukan damai yang dulu gagal kita jaga bersama. Aku mengakui satu hal; mungkin aku bukan tempat paling teduh untukmu pulang. Mungkin aku pernah menjadi ragu dalam langkahmu, menjadi lelah dalam harimu, dan pada akhirnya, menjadi sesuatu yang harus kau lepaskan lebih awal dari yang seharusnya.
Untuk itu, aku meminta maaf; bukan untuk mengubah yang telah lewat, melainkan untuk berdamai dengan peranku dalam kisah yang tidak berhasil kita selesaikan.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ..
Sometimes Allah makes you wait longer than you expected, not because He has forgotten you, but because He is preparing something your current patience cannot yet understand. There are moments when life feels confusing, when du’as seem unanswered and paths seem unclear, but Allah sees the entire story while we only see a single page. What feels like a delay to you may actually be protection, what feels like loss may be redirection, and what feels like silence may be the calm before Allah opens doors you never imagined. So keep turning back to Him, keep making du’a, and keep trusting that the One who controls every moment of your life will never write a destiny for you except one filled with wisdom and mercy.
Whenever I miss you, I have to remind myself that you had a choice, and you didn't choose me.