Kaki kita berada di ambang penyeimbang.
yang kita saksikan adalah diorama berkepanjangan dan pada setiap lini masanya yang kita mulai tanpa tau akhirnya.
Mike Driver
Keni
Interview Vampire Daily
occasionally subtle
𓃗
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
sheepfilms

Game Changer & Make Some Noise

@theartofmadeline
macklin celebrini has autism

Kiana Khansmith
🩵 avery cochrane 🩵
tumblr dot com

oozey mess
Monterey Bay Aquarium
untitled
art blog(derogatory)
Color Me Curious
★
Phantogram Three
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from Brazil

seen from United States

seen from Singapore
seen from Sweden
seen from Australia
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Colombia
seen from Colombia

seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from Canada

seen from France

seen from Colombia

seen from India
@tulisandidraftku
Kaki kita berada di ambang penyeimbang.
yang kita saksikan adalah diorama berkepanjangan dan pada setiap lini masanya yang kita mulai tanpa tau akhirnya.
Sambut pulang
Dengan lapang
Kata hanya menjadi kumpulan huruf yang selalu jadi tanya
Kami tak banyak mengeluarkan energi
karena tak semua orang pintar memahami
Alam kami seperti langkisau
Kami melaung sampai ke palung lini hati
Budaya Apresiasi
“Empat lagi.” Komen saya dalam hati.
Melihat nilai anak yang belajar privat dengan saya lagi - lagi mendapat nilai empat puluh, di situ saya merasa gagal T^T. Sebagai seorang pengajar salah satu parameter keberhasilan adalah ketika anak mendapat nilai bagus. Tapi Rayyan sudah dua kali ini mendapat nilai empat puluh dipelajaran matematika. Namanya Rayyan, Rayyan Samudra. Anak laki - laki yang polos, sekarang duduk di kelas 5 SD. Rayyan tipikal anak yang lugu sekali, tipe yang rasanya ingin cubit - cubit pipinya karena gemes. Tipe adik kesayangan yang rasanya kalau sudah besar dia akan jadi good boy banget lah.
Saya heran dengan nilainya, setiap kali mau ujian kami selalu belajar sampai larut. Yang bikin terenyuh adalah Rayyan ini lemah matematika, tapi dia belajar sampai kadang harus dipaksa – paksa melek matanya. Tapi setiap kali ulangan nilainya selalu saja Her (bahasa lain dari remedial). Setiap kali hasil ulangannya keluar, saya selalu mempelajari dimana letak - letak kesalahan Rayyan. Ulangan Rayyan biasanya essai dan sungguh menyedihkan melihat bagaimana cara guru Rayyan menilai. Saya kemudian berdiskusi dengan ibunya Rayyan yang juga seorang dosen. Sikap kami sama, sama – sama kecewa dengan cara guru matematika Rayyan menilai ulangan seorang anak SD. Begini penjelasannya, dalam deretan soal tersebut tiap satu soal ulangan terdapat dua perintah, misalnya saja hitunglah operasi pecahan dan sederhanakanlah. Logis sekali sebagai pengajar memahami bahwa satu soal dengan dua perintah berarti setiap perintahnya memiliki poin masing – masing. Yang apabila salah pada satu poin dan benar pada poin lain, jawaban soal tersebut masih mendapatkan nilai paling tidak setengahnya dari total poin soal tersebut. Tapi apa yang dilakukan oleh guru matematika Rayyan? Dia mencoret jawaban soal tersebut dan sama sekali tidak memberi poin padahal Rayyan salah hanya pada bagian penyederhanaan. Sesuatu yang amat sering dilakukan oleh anak laki – laki dalam ujian, tidak teliti dalam menghitung hasilnya. Saya membaca alur berpikir Rayyan dalam selembar jawaban yang saya tengah pegang, Rayyan memahami konsep soal tersebut dan benar dalam menjawab tahap demi tahapan perhitungan, tapi salah dibagian ujung. Jika saja proses perhitungan diberi poin paling tidak Rayyan bisa mencapai nilai enam puluh atau tujuh puluh. Sebuah nilai yang sama – sama Her tapi berefek jauh berbeda pada psikologis seorang anak. Sebuah nilai yang tidak merugikan guru tersebut, tapi berefek pada terjaganya kepercayaan diri seorang anak dan rasa menghargai usaha seorang anak dalam menaklukkan momok pelajaran di negeri kita ini. Ah, seandainya guru tersebut tahu, bahwa tidak semua anak yang mendapat nilai jelek itu pemalas. Saya melihat salah satu contohnya, anak lugu yang selalu belajar keras dan selalu bisa saat diberi latihan di rumah tapi mendapat nilai jelek saat ujian.
Yang mencengangkan, 85% anak di sekolah Rayyan senasib dengan Rayyan. Mendapat nilai 4,3, bahkan 1. Orang tua dan wali kelas saja sadar, siapa yang bermasalah dalam hal ini apakah itu siswa, ataukah itu guru. Saya memahami guru tersebut bisa saja berdalih zero tolerance untuk kesalahan – kesalahan. Tapi apakah dia menyadari bahwa dia tengah mengajar anak Sekolah Dasar, yang mana guru baginya adalah segalanya. Ketika seorang guru mengatakan si anak pintar, maka anak tersebut akan mempercayai hal itu dan melakukan hal – hal yang mencerminkan kepintaran, anak tersebut akan belajar rajin dan ingin mendapat nilai bagus. Tapi jika seorang guru bilang anak itu bodoh, maka anak itu akan memahami kalau dia bodoh dan takkan mungkin bisa dapat nilai bagus. Alhasil anak itu akan malas belajar karena belajar atau tidak dia merasa akan tetap bodoh. Jangankan anak SD, mahasiswa saja direvisi skripsinya berkali – kali bisa turun kepercayaan dirinya bahkan sampai ada yang bunuh diri karena skripsi yang gak selesai selesai. Itu mahasiswa, yang sudah memiliki modal kepercayaan diri dan nilai – nilai yang kuat dalam dirinya. Apa kabar anak SD yang baru belajar tentang kehidupan dan belajar memupuk kepercayaan diri? Jangan – jangan banyak anak yang tidak terlihat cemerlang bukan karena dia bodoh atau pemalas, tapi karena kekurangan apresiasi dalam pola pendidikannya. Di australia atau negara – negara maju lainnya, budaya apresiasi begitu kental dirasakan dalam pendidikan. Seorang anak menulis huruf B yang urek urekan saja mendapat dua jempol dari gurunya ‘Well done! Well done’ kata sang guru mantap. Alhasil anak merasa bahwa dirinya bisa, dirinya istimewa, dan akhirnya memiliki keinginan untuk terus tumbuh menjadi istimewa. Yang menyedihkan dalam pendidikan di negara kita, guru – guru seperti guru matematika Rayyan masih banyak. Yang minim apresiasi dan menjatuhkan dalam mengajar. Semoga Allah membuka pintu kesadaran pada guru – guru tersebut. Karena tanpa mereka sadari, mereka bisa saja merusak kepercayaan diri seorang anak. Bahkan merusak keistimewaan yang dimilikinya.
“Rayyan perasaannya gimana kalau dapet nilai jelek?”
“Sedih.” Katanya sambil berlinang air mata dan menunduk.
“Sedihnya kenapa?”
“Soalnya udah berusaha tapi tetep jelek.”
Andai guru itu melihat bagaimana ekspresi Rayyan ketika saya tanya perasaannya, apakah ia akan menyadari dan mengubah caranya dalam mendidik dan menghargai seorang anak? Entahlah…
Padahal mama Rayyan bilang, saat pulang usai ujian Rayyan sumringah sambil memeluk pinggang ibunya dan berkata yakin “Ma, adek bisa ujiannya. Kayaknya adek gak Her deh ma kali ini. Tujuh puluh Rayyan dapet kayaknya ma.” Karena memang menurut saya Rayyan benar dengan keyakinannya, lembar jawaban Rayyan layak diberi nilai 70, jika saja kita mengenal budaya apresiasi dalam pendidikan kita. Kita mampu melihat proses dalam jawaban tersebut tahap demi tahap. Bukan hanya memberi tanda silang pada ujung jawaban karena salah. Sebab pendidik bukanlah seorang algojo. Pendidik itu membangun, bukan menghakimi.
——
Jakarta, 10 Mei 2017
©Alizeti
Parenting#10 : Tips Mendidik Anak Sukses, Berawal dari Bangun Pagi
1. Perbaikan kualitas generasi selayaknya dimulai dgn kebiasaan bangun di pagi hari. Sebab, generasi unggul bermula dari pagi yang berkualitas.
2. Kebiasaan bangun pagi hendaklah dimulai dari usia dini. Peran Ayah amat dinanti. Ayah yang peduli tak abai dalam urusan bangun pagi buah hati.
3. Jika anak terbiasa bangun siang. Maka keberkahan hidup melayang. Aktivitas ruhani menjadi jarang. Perilaku menjadi uring-uringan.
4. Mulailah dengan malam yang berkualitas. Anak tidak terjaga di ambang batas. Harus buat peraturan tegas. Kapan terjaga dan kapan pulas.
5. Setelah Isya jangan ada aktivitas fisik berlebihan. Upayakan aktivitas yang menenangkan. Membaca atau bercerita yang berkesan.
6. Biasakan berbagi perasaan. Mulai dengan cerita aktivitas harian. Evaluasi jika ada yang tidak berkenan. Sekaligus sarana pengajaran.
7. Buat kesepakatan bangun jam berapa. Lantas, anak mau dibangunkan bagaimana. Jadikan ini sebagai modal membangunkan di pagi harinya.
8. Tutuplah aktivitas malam dengan mendengarkan tilawah. Agar anak tidur membawa kalimat Allah Pemberi Rahmah. Dan terekam dalam memorinya.
9. Pagi pun datang. Jalankan kesepakatan yg dibuat sebelum tidur menjelang. Bangunkan anak penuh kasih sayang. Bangunkan dengan cara yang ia sepakati.
10. Jika anak menolak tuk beranjak, ingatkan akan kesepakatan semalam. Anak siap terima konsekuensi tanpa diancam. Batasi kesenangannya yang berlebihan.
11. Bangunkan anak dengan kalimat Illahi. Agar paginya diberkahi. Jika perlu adzan di telinga kanan dan kiri. Bisikan dengan lembut tembus ke hati.
12. Jika ia segera bangun, jangan lupa apresiasi. Hadiahi dengan doa dan kecupan di pipi. Tak lupa bertanya tentang mimpi. Anak butuh waktu transisi.
13. Jika anak telah terjaga, siapkan aktivitas olah jiwa dan raga. Agar fisik anak bergerak tak kembali ke kasur yg menggoda. Semoga jadi pola kesehariannya.
14. Jalankan pola ini minimal 2 pekan. Agar lama-lama jadi kebiasaan. Insyaa Allah anak bangun pagi dengan kesadaran. Sebab tubuhnya telah menyesuaikan.
15. Jika ayah tak sempat membangunkan, karena harus segera ke kantor kejar setoran, mintalah ibu berganti peran. Agar anak tak merasa diabaikan.
16. Jangan sampai anak tumbuh remaja, punya kebiasaan yang tidak mulia. Bangun pagi selalu tertunda. Sholat shubuh di waktu dhuha. Banyak melamun tak ada guna.
17. Jika terlanjur anak bangun kesiangan. Buatlah rencana bersama pasangan. Konsisten dan tidak saling menyalahkan. Fokus kepada upaya perbaikan.
18. Sebelum terlambat, segera bertindak cepat. Agar masa depan anak selamat. Fokuslah kepada perbaikan pola tidur yang sehat.
19. Jika anak terbiasa bangun pagi sedari dini, itu ciri anak berprestasi. Tak mudah dipengaruhi berbagai pergaulan yang tidak islami.
20. Jadi, tunggu apalagi. Jangan hanya bisa marah dan berteriak. Segera bertindak untuk buah hati. Fokuslah kepada bangun pagi.
Selamat beraksi.
Sumber : Parenting Care
29 Desember 2017 | ©shellymushollia
Kalau kamu bingung bagaimana memperjuangkannya, mulailah dengan melibatkan Allah, memperbaiki sholat, menguatkan ikhtiar, melewati sabar, lalu tutup dengan sebenar-benarnya berserah.
Danny Dzul Fikri
Jadilah yang tidak cepat menyerah untuk tetap bersamaku. Yang terus keras kepala menemaniku berjuang untukmu. Yang tidak mudah pergi, yang selalu ingin kembali. Yang mengerti, bahwa tak semuanya mudah. Kita selalu butuh saling menguatkan, saling mendekatkan. Lagi, dan lagi lagi.
–boycandra
BAGUS BANGET BUAT DIRENUNGKAN:
Cara Allah menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu, tapi dengan menguatkan jiwamu sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tak menyerah.
Cara Allah menyayangimu bukan dengan mengurangi beban yang kau pikul, tapi dengan mengokohkan pundakmu, sehingga kau mampu memikul amanah yang diberikan kepadamu,
Cara Allah menyayangimu mungkin tak dengan memudahkan jalanmu menuju sukses, tapi dengan kesulitan yang kelak baru kau sadari bahwa kesulitan itu yang akan membuatmu semakin berkesan dan istimewa.
Hidup itu ………
Butuh masalah supaya kita punya kekuatan
Butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras.
Butuh air mata supaya kita tahu merendahkan hati
Butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai.
Butuh tertawa supaya kita tahu mengucap syukur,
Butuh senyum supaya tahu kita punya cinta
Butuh orang lain supaya tahu kita tidak sendiri
Beberapa luka tidak diciptakan untuk sembuh, tidak pula untuk menetap
Jika ia berakhir dengan ke IKHLASAN, ia akan lahir menjadi cahaya yang itu adalah hadiah terindah dari Allah.
Berbahagialah pada taqdir dengan penerimaan yang tulus, Sungguh mengajari hati BERBAIK SANGKA itu Indah.
Semoga kita semua diberikan keselamatan, kesehatan, kekuataan, kesabaran dan rezeki yang melimpah,
Aamiin.
Awali dengan doa dan hati yg ikhlas
#selfreminder
Rules menjadi istri yang supportif dalam pekerjaan (ala Apik) : nggak malu (dengan apapun pekerjaan suami), nggak banyak menuntut, nggak bosan bersyukur, dan nggak berhenti upgrade ilmu.
Katanya, istri magnet rejeki kan? Saya setuju. Tapi istri juga bisa jadi magnet atas rejeki yang nggak halal itu datang.
Jangan bosan, untuk kita sebagai perempuan, supaya terus mengupgrade pengetahuan dan prinsip kita–tentang halal haram harta. Terus belajar untuk jadi alarm bagi pekerjaan suami, mengingatkan untuk zakat serta sedekah, dan menguatkan kalau-kalau perlu hijrah–meski harus meninggalkan jabatan, harta, dan hal duniawi lainnya kalau ternyata…iklim kerjanya malah mendekatkan keluarga pada hal-hal yang haram.
Jangan bosan menekan ego dan nafsu kepengen ini kepengen itu supaya nggak menstimulus suami untuk mengerjakan hal yang enggak-enggak. Jangan bosan untuk bersyukur atas berapapun dan apapun pemberian suami.
Jangan bosan mendidik diri dan keluarga, untuk memahamkan bahwa rejeki yang baik bukan yang banyak, melainkan yang berkah.
Yang kuat, kita! ;)
Asal Bersamamu
Ayo melakukan perjalanan, Lanang! Tentu setelah kepercayaan menjagaku Ayah serahkan sepenuhnya padamu. Ketika kita benar-benar sudah terikat. Ke mana pun, asal bersamamu, aku aman. Ke mana pun, asal bersamamu, aku nyaman.
Sejauh apa pun, selelah apa pun, asalkan bersamamu. Ke tempat entah berantah yang baru sekali kita kunjungi. Menikmati perjalanan langkah demi langkah kaki, bergenggaman jemari. Ke mana pun. Lombok? Maluku? Derawan? Kepulauan Riau? Keluar negeri sekalipun? Atau bahkan keluar angkasa? Samudra Antartika? Ah asal bersamamu. Sudah cukup kurasa. Jauh dari cukup, aku akan bahagia menjadi-jadi. Kujanjikan lengkung senyum takkan lari ke mana-mana jauh dari pipi.
Lanang, barangkali pernah kau dengar, ‘suatu perjalanan akan membawa kita lebih memahami diri sendiri.’ Jika bersamamu akan kupahami dua sekaligus. Dirimu dan diriku. Ah bahkan bukan cuma dua, tetapi juga tiga. Diri kita. Ya, kita. Sedalam, sejauh dan sebesar apa rasa kita untuk saling menjaga dan menerima. Maka, untuk perjalanan-perjalanan menyenangkan kelak, mari agendakan. Ke mana saja. Asal bersamamu. Asal kau yang bayar. :)
Pernikahan adalah…
Pernikahan adalah bahu membahu meraih cinta Allah. Pernikahan adalah samudera amal sholeh tiada bertepi. Pernikahan adalah uswah hasanah menebar cahaya Islam. Pernikahan adalah wasiat indah dengan kesabaran. — KH. Abdullah Gymnastiar
Padamu, aku pernah bosan dan sesekali pergi, setidaknya hanya menyepi. Tetapi dengan matakepalamu dapat kau lihat sendiri, aku pasti tergerak untuk kembali lagi.
Lelaki (via miftahulfikri)
Kita adalah salah satu alasan; mengapa Tuhan menciptakan Cinta dan kebahagiaan.
(via satukatasaturasa)
Catatan Empat Hari Sebelum Pernikahan.
Empat hari sebelum hari pernikahan, bukan karena alasan filosofis aku memilih hari ini. Lebih karena mungkin beberapa hari ke depan aku akan sulit memegang laptop kesayanganku ini (yang usianya sudah 7 tahun dan dia masih fit sehat walafiat :’D). Laptop ini saksi semua cerita yang pernah kutuliskan, tentang orang - orang yang kutemui, tentang kegelisahan yang kurasakan. Sejauh ini tiada teman sebaik dia dalam menyimpan semua rahasia - rahasia yang kupunya. Baik tangisan maupun senyuman.
Aku merasa perlu menulis sesuatu untuk diriku yang belum menikah. Sebab setelah ini tulisanku bukan lagi tentangku, kegelisahanku, dan dunia dari sudut pandangku. Jika Allah mengizinkan kami sampai pada empat hari ke depan, maka tulisanku akan tentang kami, kegelisahan kami, dan dunia dari sudut pandang dua orang. Jika pandangku sedang tak bijak maka pandangnya yang akan melengkapi begitupun sebaliknya.
Banyak teman yang bertanya padaku “Sit, apa rasanya bentar lagi nikah?” Saat mendengarnya aku cuma bisa ketawa sambil bilang “mm..biasa aja.. ga degdegan.. mungkin belom kali ya.” Saat ini, aku merasa tak memiliki ketakutan sedikitpun untuk menjalani fase baru terhitung sejak 23 juli nanti. Mungkin karena telah menemukan orang yang tepat, yang cara-berpikirnya-sama-gilanya-denganku :D. Yang tidak mempermasalahkan hal - hal yang tidak terlalu esensial, tapi teguh pada apa yang diyakini. Mungkin memang beginilah rasanya bertemu dengan orang yang mengerti diri kita. Tak ada kekhawatiran. Sebab semua kekhawatiran telah dijawabnya dengan meyakinkan. Sikap - sikap skeptisku ia respon dengan manusiawi dan bijaksana. Terlebih aku belum pernah seumur hidup bertemu dengan seseorang yang begitu teguh dengan keyakinannya sebagaimana ia yakin padaku, seseorang-yang-bahkan-awalnya-dikenalnya- lewat-cerita-orang lain dan tulisan tulisanku yang ia baca melalui halaman halaman tumblr ini. Aku merasa begitu diperjuangkannya selama proses kami menuju pernikahan.
Akan jadi bab panjang hanya untuk menceritakan bagaimana seorang laki - laki gurun bisa sampai ke rumahku satu tahun yang lalu :). Kami tak punya kisah selain kisah proses menuju pernikahan. Satu hal yang ingin aku bagi padamu, pertimbangkanlah laki - laki yang datang dengan penuh keyakinan. Sebab pada keyakinannya kelak kamu akan mempercayakan satu satunya hatimu untuk ia jaga dan sisa hidupmu untuk ia pelihara. Bagaimana bisa kamu memberikan dua hal itu untuk laki - laki yang merasa ragu? :)
Logikaku berkata pernikahan adalah fase yang sama dengan fase baru yang tahap demi tahap telah kita lalui sebagai manusia. Dulu kita tak bisa berjalan lalu kita tertatih tatih belajar berjalan. Dulu kita tak bisa naik sepeda lalu kita terjatuh jatuh belajar naik sepeda. Dulu berbulan - bulan kita ketakutan akan hasil ujian kelulusan atau menunggu sidang skripsi selesai. Toh semua akan tetap berjalan menuju fase yang akan terus menumbuhkan. Begitupun dengan pernikahan. Kita hanya perlu melewatinya.
Perasaanku berkata pernikahan dan fase setelahnya akan sedikit berbeda dari semua fase yang telah kulewati. Akan ada orang baru yang begitu lama masuk ke dalam kehidupanku.Yang seumur hidup akan kukenal, yang akan mengetahui bahwa aku menangis jauh lebih banyak daripada apa yang nampak. Bahwa aku jauh lebih gila daripada apa yang kutunjukkan haha. Yang akan mengetahui kecerobohan - kecerobohan sederhana sebagai cacat dalam sifat perfeksionisku. Yang akan mengenalku tanpa lagi menghitung berapa banyak kurang dan lebihku. Untuk orang itu, aku ingin kamu diriku yang telah menikah nanti bahagiakanlah dia dan bahagialah bersamanya :)
Terakhir doa yang senantiasa aku panjatkan sejak mengenalnya, semoga Allah sampaikan kami pada hari dimana malaikat turun mendengar ucap akadnya. Pada hari dimana kembali lagi haru dan bahagia ayah ibu kami jadi satu , setelah hari dimana kami dilahirkan dulu. Semoga kami sampai. Sebab Allah lah tetap sang penguasa segala skenario pertemuan..
——-
Laptop ini saksi semua cerita yang pernah kutuliskan, tentang orang - orang yang kutemui, tentang kegelisahan yang kurasakan. Sejauh ini tiada teman sebaik dia dalam menyimpan semua rahasia - rahasia yang kupunya. Baik tangisan maupun senyuman. Mungkin setelah ini perannya akan tersaingi oleh seseorang :)
©Alizeti
For The Sake of Update (?)
Suatu hari, saat sedang jam istirahat, seorang teman yang baru beberapa bulan melangsungkan pernikahan bertanya kepada saya, “Nov, apa pendapatmu tentang fenomena kebanyakan orang saat ini yang sering memposting adegan mesra dengan pasangan halalnya di medsos sambil ditambah caption-caption romantis gitu?” Mendengar pertanyaan itu, saya lumayan kaget lalu menanggapinya dengan candaan terlebih dulu, “Hmm, kenapa nanya ini sama saya deh? Hehe.” Saya pun menjawab dan mencoba jujur pada diri sendiri, “Ya hmm, gimana ya, aku kurang sepakat kalau postingnya terus-terusan, berlebihan, dan kopong engga ada isinya. Kenapa? Karena aku pikir akan selalu ada orang-orang yang perlu dijaga perasaannya, yang belum menikah misalnya.” Sejurus kemudian, ia pun menimpali, “Nah! Itu juga sebenarnya yang aku pikirkan. Pengen sih posting, foto kami juga bagus-bagus, tapi kalau dipikir-pikir rasanya ya buat apa, khawatir engga bisa mendatangkan kebaikan buat yang lain.”
Di kesempatan yang lain, saya berdiskusi dengan seorang teman yang lain saat sarapan pagi. Kepadanya saya bertanya, “Teh, bulan madu kemarin gimana di SG, seru? Kok aku engga lihat satu pun posting kalian di medsos, sih? Terus, rasanya teteh juga engga pernah posting tentang cerita jalan-jalan, makan-makan, atau apa gitu di medsos, padahal kan setahun kemarin keliling Indonesia terus?” Saya begitu penasaran dengan jawabannya, pasalnya teman saya ini kadar empati dalam dirinya dahsyat, tinggi sekali! Lalu ia menjawab, “Engga, Nov. Hehe. Aku takut tanpa sengaja menyakiti hati orang lain. Alih-alih membagikan kebahagiaan, gimana coba kalau ternyata aku malah bikin orang lain sedih karena posting jalan-jalan atau makan-makannya aku? Apalagi kalau ingat Suriah, Palestina, dan yang lainnya, aduh aku engga sampai hati.” Saya pun mengangguk-angguk setuju.
Saya jadi ingat tentang sebuah inspirasi yang saya dapatkan dari Austin Kleon dalam bukunya yang berjudul “Show Your Work!”. Disana Austin menyampaikan sebuah pertanyaan yang kurang lebih menyatakan, “Apa pentingnya memposting apa yang kita makan, sedang hangout dimana, siapa saja yang menjadi teman kita, atau pamer-pamer lainnya? Memangnya apa manfaatnya untuk pembaca atau followers kita?” Ya, saya sepakat! Sayangnya, hari ini, ketika media sosial seperti sudah menjadi bagian besar dari hidup kita, kita seolah ingin melakukan banyak hal untuk kepentingan update. Yup, for the sake of update~ Padahal, tidak semua hal layak diupdate dan tidak semua hal juga boleh diketahui orang lain.
Benar memang penerimaan orang lain terhadap apa yang kita posting tergantung pada bagaimana mereka menggunakan persepsinya, tapi, rasanya kita juga perlu bijak menjaga perasaan orang lain dengan menentukan mana yang layak posting dan mana yang tidak. Kita tentu pernah menjadi rendah diri atau sejenisnya karena posting orang lain, bukan? Bagaimana rasanya?
Sekali lagi, kita perlu benar dalam menempatkan diri dan berhati-hati dalam menceritakan kebahagiaan yang kita miliki. Jangan sampai impulsifnya kita membuat tidak adanya kebaikan apapun yang bisa diambil oleh orang lain dari postingan kita. Duh, maaf ya teman-teman kalau ternyata selama ini ada update-update saya yang menyakiti hatimu, memunculkan iri dan dengki, atau terkesan menyombongkan diri. Semoga Allah senantiasa menuntun kita untuk memperbaiki diri.
19. kebaikan laki-laki
kalau kita lihat, di dunia ini ada banyak sekali laki-laki yang baik. laki-laki yang rajin sekali ke masjid dan tekun sekali beribadah. laki-laki yang gigih sekali belajar dan giat sekali bersekolah. laki-laki yang begitu sungguh-sungguh bekerja dan menjemput nafkah. laki-laki yang sangat setia dan taat kepada kedua orang tuanya. laki-laki yang nyaris tidak punya catatan keburukan. kalau beruntung, kebaikan-kebaikan itu berkumpul di satu orang.
kalau kita pikir-pikir dan rasakan, mungkin ada laki-laki baik yang berbuat baik kepada kita (perempuan). menjadi sahabat dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. memberikan semangat setiap hari. mengantarkan kita pulang atau pergi. membelikan makanan saat kita sakit. mengirimi kita berbagai kado. menjadi orang pertama yang panik saat sesuatu tak baik terjadi kepada kita. menjadi yang paling penasaran atas tulisan kita atau karya kita. mungkin ada, laki-laki yang menyayangi kita.
tapi taukah kamu? sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah ibu) seorang perempuan hanyalah satu: melamarnya. kalau ada laki-laki yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum penuh. sebaliknya, pun begitu. dia yang tidak (belum) berbuat apa-apa tetapi melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.
sebab bukanlah perkara kecil bagi seorang laki-laki untuk meminta perempuan dari orang tuanya. tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu). ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil. ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakkannya di pundaknya sendiri.
maka janganlah kita perempuan, yang belum menikah, terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. maka tak perlu jugalah kalian laki-laki berbuat baik yang semu-semu itu. salah-salah malah ada harapan tidak perlu yang ikut tumbuh. pada suatu titik semua itu tidak penting. semua itu akan kalah dengan dia yang melangkahkan kaki kepada ayah.
maka janganlah kita perempuan, yang sudah menikah, iri dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan para laki-laki lain kepada pasangannya. apalagi tergoyahkan kesetiannya karena ada laki-laki yang baik kepada kita. semua itu kalah dengan dia yang telah melangkahkan kaki kepada ayah.
karena ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu. maka, hitunglah kebaikan yang satu itu–hitung baik-baik. :)
Kamu tahu hal universal dari kehidupan manusia? Narasi. Untuk kita bisa diterima, dimengerti, berbaur, kita harus menciptakan narasi. Manusia menuntut manusia lain untuk punya drama. Itu syaratnya supaya kita kelihatan normal.
Simon Hardiman dalam Intelegensi Embun Pagi (via dialogdiberanda)
Enggan menikah (padahal seharusnya sudah siap) adalah salah satu godaan setan.
Karena setan paling suka pada perceraian, dan sangat membenci pernikahan. Setan lebih suka kita pacaran, dari pada kita membentuk keluarga untuk berjuang.
#selfreminder
(via jagungrebus)