Ulasan Film: Kisah Dinosaurus Baik Yang Mencari Jati Diri
Oleh: Amalia Safira
Film The Good Dinosaur adalah film yang diproduksi oleh Disney Pixar yang menceritakan tentang perjalanan panjang Arlo untuk menemukan jalan pulang serta kisah-kisah menarik persahabatan Arlo dan Spot selama menempuh perjalanan bersama. Film arahan Peter Sohn ini bertemakan tentang keluarga dan persahabatan. Film yang dirilis pada November 2015 ini juga disuarakan oleh Neil Patrick Harris, Bill Hader dan Frances McDormand, Judy Greer, John Lithgow, Lucas Neff, Estelle Yves, dan Adam Stedman.
The Good Dinosaur dimulai dengan sebuah pengandaian, bagaimana jika dinosaurus tidak jadi punah dan tetap menghuni bumi selama jutaan tahun, sampai bisa hidup satu zaman dengan spesies manusia. Film ini pun melanjutkan pengandaian itu dengan cukup menarik sekaligus jenaka. Bahwa para dinosaurus tersebut berevolusi hingga mampu memproduksi makanan sendiri, baik dalam hal bertani, termasuk membajak tanah dalam garis lurus, beternak, maupun membuat rumah sendiri, tanpa harus mengubah perannya sebagai dinosaurus. Dalam film ini juga menggambarkan tentang kehidupan manusia yang pada masa itu masih sangat primitive dan liar, selain itu dalam film ini dapat mengedukasi anak-anak dibawah umur karena banyak menceritakan tentang hewan-hewan purba yang menjadi cikal bakal hewan-hewan masa kini.
The Good Dinosaur sendiri berfokus pada sebuah keluarga dinosaurus herbivora berjenis Apatosaurus. Keluarga ini terdiri dari Henry sang ayah (diisi suara Jeffrey Wright), Ida sang ibu (Frances McDormand), anak tertua Libby (Maleah Padilla), anak tengah Buck (Marcus Scribner), dan si bungsu Arlo (Raymond Ochoa). Bukan hanya dari urutan lahir, Arlo juga paling kecil dalam hal ukuran tubuh dan nyali dalam keluarganya. Alhasil, ia satu-satunya yang belum diperbolehkan mengecap tanda kakinya di lumbung keluarga.
Karena keinginannya untuk mendapatkan cap kaki dilumbung keluarganya, ia pun berusaha melakukan tugas-tugasnya dengan baik. akan tetapi tetap saja, ketakutan Arlo mengahalanginya dalam melakukan tugasnya. Hingga ia melakukan kesalahan karena ia melepaskan pencuri makanan keluarganya. Dari sinilah masaah mulai muncul, Henry, ayah arlo yang marah akan kelalian yang dibuat Arlo bersuaha menghilangkan ketakuakan Arlo dengan mengejar si pencuri tersebut, tetapi kemalangan terjadi saat pengejaran terjadi banjir bandang, saat kejadian Henry berusaha menyelamatkan Arlo, sayangnya saat Henry berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, justru ialah yang harus tewas terhempas banjir bandang tersebut.
Suatu ketika Arlo mencoba mengetes keberaniannya dalam menjaga persediaan makanan di lumbung keluarga, yang kerap dicuri oleh makhluk liar. Arlo yang penakut panik ketika berhadapan langsung dengan seorang manusia kecil yang mencuri makanannya. Akibat kecerobohannya, Arlo pun terseret di sungai deras, sampai jauh dari rumahnya. Arlo lalu harus mencari cara untuk pulang, yang berarti juga ia mulai harus lebih berani dalam menghadapi segala sesuatu di alam liar. Ia tak sendiri, karena perlahan ia justru menjalin persahabatan dengan sang manusia kecil yang ditemuinya, yang kemudian diberi nama Spot (Jack Bright).
Kisah persahabatan antara Arlo dan Spot juga tidak kalah menarik, perjuangan mereka mencari jalan bersama menemui banyak hal baru, dari pertemuannya dengan dinasuarus pemangsa berhati baik yang mengajarkan Arlo dan Spot untuk berani, selain itu juga aksi penyelamatan Arlo saat Spot akan dimangsa oleh para pemangsa. Lalu pilihan terberat Arlo saat harus berpisah dengan Spot karena pertemuan Spot dengan keluarganya, semua kisah tersebut sangat bagus dan dibawakan dengan aksi aksi kocak, serta penuh akan pesan moral yang berarti. Kisah perjalanan Arlo berakhir saat Arlo kembali kerumahnya, tak hanya itu, arlo juga mendapatkan cap lumbung keluarganya. Perjalanan tersebut membawa Arlo menjadi pribadi baru yang lebih baik.
Film ini dibawakan dengan begitu baik dari segi tema maupun pemvisualisasian. Film 3D karya pixar ini membawa kesan bagi para penontonnya, tak hanya itu animasi yang dibawakan pun juga sangat sesuai dengan kesan dari film ini sendiri. Tidak terlalu berat dan berlebihan. Selain itu pengisi suara dan visualisasi suara juga sangat membuat keadaan dalam film ini begitu nyata. Selain itu pesan-pesan moral yang dibawakan juga mudah dicerna penontonnya. Selain itu segi drama-komedi yang pas sangat menambah kesan baik dari film ini.
Film ini sangat cocok ditonton bagi segala kalangan, tak hanya anak kecil saja. Namun oran dewasa juga. Film ini juga sangat menyentuh hati para penontonnya, selain itu pesan moral yang dibawakan juga mempunyai nilai tersendiri. Dengan cerita yang tak biasa dikemas dengan komedi dan drama yang unik membuat film ini sangat layak ditonton.
Papua adalah sebuah provinsi terluas di Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua / bagian paling timur Papua Bagian Barat. Sejak 2003 dibagi menjadi dua provinsi dengan bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian barat memakai Papua Barat. Luas daerah Papua 808.105 km2.
B. BAHASA
Bahasa yang dimiliki oleh etnik Papua sangat beragam. Sedikitnya ada 270 macam bahasa yang digunakan di Papua.
C. KEBUDAYAAN
Papua memiliki beragam kebudayaan, diantaranya ;
1. Rumah Adat : Rumah Adat yang dimiliki oleh suku di Papua bernama
Honai.
Rumah adat ini memiliki 2 lantai yang setiap lantainya memiliki fungsi yang berbeda, lantai satu digunakan untuk tidur dan lantai dua digunakan untuk bersantai. Honai memiliki pintu yang kecil, tanpa cendela dan atapnya terbuat dari rumput lalang. Honai memiliki tinggi 4m.
2. Pakaian Adat : Pakaian yang dimiliki suku ini antara pria dan wanita juga
berbeda. Pria menggunakan hiasan kepala, kalung dan gigi atau tulang hewan, kalung dari keong, ikat pinggang dan sarung yang berbentuk rumbai. Pakaian yang digunakan oleh wanita adalah kalung dari kerang atau gigi binatang.
3. Tarian : Papua memiliki berbagai macam tarian, diantaranya ada tari
Musyoh, tari Toraja, tari Yospan.
a. Tari Musyoh : tarian sakral suku adat, yang bertujuan untuk menenangkan arwah suku adat Papua yang menongal karena kecelakan.
b. Tari Sajojo : tarian pergaulan berbagai suku, yang mimiliki tujuan untuk menyambut tamu
c. Tari Mbes : tarian garapan , yang berfungsi sebagai tari penyambutan tamu.Yang unik adalah tarian ini menggambarkan tamu yang digotong.
4. Senjata Tradisional : Salah satu senjata tradisional Papua adalah pisau belati.
Senjata ini terbuat dari tulang burung Kasuari dan bulunya menghiasi hulu belati .
5. Suku : Suku yang ada di Papua sangat beragam, diantanya : Asmat,
Dani, dan suku lainnya. Di Papua ini juga terdapat suku Rumpu Melanisia.
6. Lagu : Papua memiliki lagu daerah yang sangat khas. Lagu
Dia melihatku untuk kesekian kali, duduk sendiri di café langgananku. Yang sedang termenung memandang langit, menghirup wangi segelas kopi hitam, dan sedang memikirkan mengapa aku bisa hidup didunia ini. Mengapa aku tahu? Karena tanpa disadari, aku juga memperhatikan setiap geraknya. Gerak yang dia diciptakan, hanya untukku. Hanya dia yang mampu menarik perhatianku.
Berjam-jam aku duduk disini, namun tak juga ia beranjak dari tempat duduknya. Sekali lagi, aku meliriknya sekilas. Berpikir mengapa dia selalu ada disekitarku akhir-akhir ini. Jika diibaratkan, dia bagaikan bunga matahari yang tak pernah lelah untuk menanti setiap pergerakkan sang mentari. Dia sangat-sangat lucu dan tidak dapat dideskripsikan.
Aku sama sekali tidak tahu, mengapa saat aku menatapnya terasa ringan pikiran ini. Dia bagaikan candu yang harus aku temui disetiap hari. Aku ingin sekali berkenalan dengannya yang sangat membuatku jatuh untuk kesekian kalinya. Tidak mungkinkah ini. Aku tak mengenalnya, mengapa aku bisa jatuh kepada pesonannya?
Tanpa aku sadari, aku menatapnya lama. Lama sekali, hingga aku tak menyadari dia sudah berdiri didepanku dengan mengulurkan tangannya. “Selamat pagi, nona. Bisakah aku duduk disebelahmu?”
Aku hanya menatapnya, tanpa membalas apa yang dia ucapkan. Aku tak tahu harus berkata apa. Hingga akhirnya, dia menurunkan tangannya dan duduk didepanku. Tapi aku masih tak merespon apa yang sedang terjadi didepanku.
Dia tersenyum padaku. Dia menggerak-gerakkan tangannya tepat didepan wajahku. Akupun kaget dan langsung kembali kedunia nyata. Dan sekali lagi dia mengulurkan tangannya kepada ku. “Namaku Elang. Namamu siapa?”
Aku hanya tergagu tak bisa menjawab segala pertanyaan yang dia tanyakan kepadaku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku menunduk malu dan tak berani menatap mata tajamnya itu. Sekali lagi, dia menarik tangannya kembali. Dia menghela napas.
“Apakah kau tak ingin berkenalan denganku?” dia menatapku kecewa. Dan aku langsung mendongakkan kepala menatap matanya lagi.
Dan sekali lagi, aku hanya mampu tergagu. Aku gugup. Bukan-bukan itu. Bukannya aku tak ingin berkenalan denganmu. Hanya saja, aku bingung apa yang harus aku ucapkan kepadamu.
Akhirnya, dia menceritakan segala seseuatu tentang dirinya sendiri. Tanpa aku putus dan hanya aku dengarkan. Sesekali aku juga ikut tertawa dengan apa yang dia ceritakan. Elang, satu nama yang benar-benar cocok dengan mata tajamnya saat dia sedang menatap. Akhirnya aku bisa mendengarkan suaranya. Tidak, bukan hanya mendengarkan suaranya dari dekat. Tapi aku juga bisa berkenalan dengan dia. Dia sangat-sangat menyenangkan.
Akhirnya dia memberhentikan segala ceritanya. Aku menatapnya bingung, seolah-olah mata ku berbicara, “Mengapa kau berhenti bercerita? Lanjutkan.” Tapi dia hanya diam tanpa ada kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya itu. Ya, aku baru menyadari jika dia memiliki bibir ranum yang sangat manis dan tipis. Astaga, apa yang kamu pikirkan.
Sekali lagi, dia hanya menatapku dengan tajam. “Apakah namamu benar, Lily?” aku yang ditanya seperti itupun tertegun. Mengapa dan bagaimana caranya dia bisa tahu namaku.
“Lily, maukah kau bersamaku?” Tanya pria didepanku, kepadaku. Dan setelah aku sadar, aku langsung menampar pipinya. Tidak habis pikir, aku bisa menampar pipinya. Aku pergi meninggalkannya. Dia ternyata orang yang tidak punya pikiran rupanya.
Namun, tanpa aku duga, dia mengejarku. Dia mencekal tanganku. Menarikku hingga menabrak tubuhnya. Aku memaksakan diriku untuk berbicara agar dia menjauh. Wanita bisu sepertiku, tak pantas bersanding dengannya.
“Sudah, Lily. Aku mengetahui kondisi mu. Dan aku tidak memperdulikan hal itu. Jauh sebelum aku bertemu denganmu di café itu, aku juga telah mengenalmu. Kita satu sekolah. Dan aku menaruh hati padamu.” Tuturnya yang masih membuatku diam.
“Lily adalah lambang dari kebangkitan dan kecantikan. Kau adalah wanita yang berbeda dari yang lain, Lily.” Akupun hanya menatapnya dengan tatapan, “Apakah aku juga mengenalmu.”
Sambil menggenggam tanganku, Elang melanjutkan ceritanya lagi. Rupanya, dulu aku pernah satu kelompok tugas dengan dia. Tapi aku tak pernah memperhatikan-nya. Akhirnya, untuk kedua kalinya, Elang bertanya padaku, “Lily, maukah kau bersamaku?” dan aku pun mengangguk.
Ulasan Film: Mengenal Sejarah Islam Di Tanah Eropa
Oleh: Ratna Dewi A.
“99 Cahaya di Langit Eropa” merupakan film yang memiliki genre drama ini mengisahkan perjalanan sepasang suami-istri di Eropa. Film ini diambil dari sebuah novel yang berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Didalam kisah ini lebih banyak memuat cerita tentang pengetahuan sejarah Islam di Eropa dan bagaimana kehidupan Islam di Eropa. Film ini mengisahkan perjalanan seorang Jurnalis bernama Hanum yang sedang menemani suaminya yang bernama Rangga yang sedang kuliah di Vienna. Didalam kisah ini, menceritakan tentang persahabatan, toleransi, dan bagaimana mereka beradaptasi dengan orang baru.
Perjalanan sepasang suami-istri ini dimulai pada saat Rangga kuliah doktor di Vienna, Austria. Saat itu Hanum berprofesi sebagai jurnalistik. Mereka berdua sangat sulit hidup di Eropa, apalagi mereka adalah seorang muslim. Namun mereka tidak pernah putus asa. Rangga sangat sulit beribadah di kampusnya, karena disana tidak ada masjid. Jangankan masjid, untuk berwudhu saja ia harus menggunakan wastafel. Melihat Rangga seperti itu membuat penonton terpukau betapa melekatnya Islam pada dirinya. Begitu juga Hanum, di Eropa ia juga mencari pekerjaan namun tidak kunjung dapat karena ia kurang fasih dalam berbahasa Jerman.
Pada waktu berjalan-jalan, Janum berhenti karena ada seorang wanita berkerudung yang diusir dari sebuah toko. Hanum bertanya-tanya ada apa, namun ia melanjutkan perjalanannya. Ditengah jalan, harapan Hanum tentang fasih tentang berbahasa Jerman muncul ketika ia melihat poster kursus berbahasa Jerman. Pada saat mengikuti kursus, Hanum bertemu dengan wanita berkerudung yang ia lihat tadi. Selesai kursus, Hanum berkenalan. Wanita itu bernama Fatma yang berasal dari Turki. Fatma adalah sosok wanita yang sangat luar biasa. Selain Fatma, Hanum juga bertemu dengan Asye yang merupakan anak dari Fatma. Asye adalah sosok gadis yang sangat ceria dan penuh semangat dalam hidupnya yang membuat Hanum merasa nyaman dan bahagia bersamanya. Ketika Fatma, Hanum, dan Asye sedang makan di toko, ada dua orang laki-laki yang menghina agamanya. Hanum sangat marah mendengar itu, namun lain hal dengan Fatma. Ia justru membayarkan makanan kedua orang tersebut. Dengan tindakan bijaknya itu membuat kedua orang yang tadi menghina agamanya menjadi mengakui dan menyesali perkataan dan perbuatannya. Dalam adegan ini, membuat penonton tersentuh hatinya akan perbuatan fatma. Ia mengajarkan bagaimana menyikapi orang yang telah berbuat jahat kepada diri kita.
Pertemuan Hanum dengan Fatma dan Asye menciptakan kenangan yang sangat berkesan. Hanum diajarkan dan diberikan banyak informasi tentang sejarah Islam di Eropa dengan mengelilingi bagian-bagian dari kota di sana. Dibagian ini juga secara otomatis dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tentang Islam kepada penonton. Tidak berhenti sampai sini. Fatma menyarankan Hanum untuk berkeliling di Prancis. Hanum pun berangkat ke Prancis bersama Rangga. Disana mereka bertemu dengan teman Fatma yang bernama Marion Latimer untuk menjadi pemandu perjalanannya. Di Prancis, Hanum mendapat wawasan lebih tentang sejarah Islam. Selepas dari Prancis, Hanum dan rangga kembali ke Vienna. Sebelum kembali, Marion Latimer menitipkan barang dan salam untuk Fatma dan Asye. Setibanya di Vienna, Fatma dan Asye menghilang tanpa kabar. E-mail yang dikirim Hanum pun tak kunjung dibalas. Di adegan ini, sutradara membuat penonton penasaran dan bertanya-tanya akan keberadaan Fatma dan Asye yang tiba-tiba menghilang. Dengan terpaksa Hanum mencoba membuka titipan dari Marion Latimer. Didalam nya ada barang berupa obat herbal dan secarik kertas yang bertuliskan bahwa obat herbal tersebut untuk Asye. Tak disangka Asye mengidap kanker. Didalam kisah ini dapat membuat penonton kaget dan tidak percaya. Karena sosok Asye yang begitu ceria ternyata mengidap penyakit kanker . Hanum pun menangis membaca tulisan itu.
Lain hal dengan Rangga. Dikampus Rangga memiliki teman bernama Stefan dan Khan. Stefan adalah seorang atheis yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap Islam. Sedangkan Khan adalah seorang seorang muslim asal Pakistan. Kehidupan Rangga dan khan sangat sulit dikampus, karena disana tidak ada mushola. Mereka harus sholat diruangan ibadah yang bercampur dengan agama lain. Disini sutradara menunjukkan tentang lika-liku kehidupan seorang muslin di Eropa. Selain itu, penonton juga mendapat pelajaran untuk saling menghargai orang lain yang memiliki agama berbeda.
Selain jadi mahasiswa, Rangga adalah sosok suami yang hebat. Ia berusaha menghibur istrinya yang sedang sedih kehilangan sahabat karibnya Fatma tanpa memberi penjelasan apapun. Di tengah kesedihannya Hanum ingin ke Cordoba untuk melihat sejarah islam disana, Rangga pun menuruti kemauannya di Cordoba. Hanum membelikan hiasan kulkas bergambarkan bagimana Cordoba sebagai oleh-oleh untuk Ayse ketika ia bertemu nanti. Sepenuhnya dari Cordoba, tak disangka Fatma membalas semua e-mail Hanum. Fatma mengajak bertemu di Istanbul, Turki negara asal Fatma. Hanum dan Rangga yang awalnya berencana kembali ke Indonesia karena Rangga telah selesai kuliah batal dan pergi ke Istanbul. Disana Hanum sangat bahagia bertemu Fatma. Ia diajak mengelilingi Istanbul. Ditengah jalan, Hanum menanyakan dimana keberadaan Ayse. Fatma mengajaknya kesebuah pemakaman umum dimana Istanbul dan menjelaskannya. Ayse telah meninggal lima bulan yang lalu karena kanker, Disitu Hanum sangat sedih dan hatinya mulai terbuka untuk berkerudung. Di akhir adegan ini, sutradara mengakhiri filmnya dengan suasana sedih dan tangis. Selain itu, disini banyak hikmah yang dapat diambil oleh para penonton.
Film “99 Cahaya di Langit Eropa” ini sangat memukau hati penonton. Perjalanan hidup sepasang suami-istri ini banyak mendapatkan perjalanan yang sangat menarik dan bermanfaat. Dalam film ini, saya bisa belajar bagaimana cara menghargai orang lain, beradaptasi, dan membalas kejahatan dengan kebaikan. Di film ini pula saya sangat suka karena pengambilam film langsung dari negara Eropa, sehingga penonton dapat menambah wawasannya mengenai peradaban sejarah Islam di Eropa. Namun, pada saat akting Raline Shah (Fatma) menjelaskan sejarah Islam kepada Acha Septriasa (Hanum) , pelafalan yang diucapkan kurang jelas. Sehingga membuat penonton bingung akan apa yang dibicarakan.
Film yang diambil dari sebuah karya novel best seller ini dapat ditonton dari berbagai kalangan, karena film ini adalah film sejarah Islam yang bagus. Film ini juga dapat banyak mengambil hati penonton karena dapat membuat penonton terenyuh dan menangis. Selain itu, film ini juga memberikan motivasi bagi penonton dari berbagai sisi, terutama pada sisi keIslaman. Penonton bisa mendapatkan banyak wawasan mengenai Islam di Eropa, serta dapat belajar cara toleransi kepada orang lain. Banyak hikmah yang dapat penonton dapatkan dari film ini.
Suara alarm terdengar nyaring berusahamembangunkanku. Dengan setengah sadar, tanganku refleks meraih jam yang ada di atas meja, mematikannya dengan cepat dan berusaha kembali tidur. Belum sempat aku memejamkan mata, seorang laki-laki masuk dan duduk di sampingku. Aku merasakan tangannya yang kasar mengusap rambutku dengan lembut.
“Selamat pagi, sayangku.” Ucapnya lembut.
“Selamat pagi juga Abell, hoamh.” Aku membalasnya sambil menutup mulutku yang menguap.
“Bukankah kau berencana pergi ke café hari ini? Ku kira kau akan bertemu dengan teman-temanmu?” Tanya Abell padaku.
“Beri aku waktu 5 menit.” Gumamku sambil merapatkan selimut yang membungkus tubuhku.
“Tapi jamnya tidak akan menunggumu selama 5 menit. Lihatlah, sudah pukul berapa ini.” Abell lalu melemparkan jam alarm tadi. Dengan sedikit malas, aku mengambil jam tersebut dan mengarahkannya ke depan mataku.
“Ya ampun, kenapa aku gak dibangunin dari tadi?” Aku sangat terkejut dan langsung lompat dari tempat tidurku. Aku bahkan sempat menarik bahunya sehingga ia terjatuh di atas tempat tidur.
Aku pergi meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Bahkan, aku melewatkan sarapan yang sudah disiapkan oleh suamiku. Aku membuka pintu rumah sambil berusaha memakai low heels merah milikku. Saat berada di luar, sebuah mobil taksi terparkir tepat di depan rumahku. Sopir yang ada di dalam taksi tersebut lalu membuka kaca mobilnya.
“Tuan Abell?” Tanyanya ke arahku. Dari belakang, tangan kasar itu kembali menyentuhku. Saat aku menoleh ke belakang, kulihat Abell membawa beberapa lembar uang di dalamnya.
“Aku sudah memesan sebuah taksi untukmu, aku khawatir kamu tidak sempat memesannya kemarin.” Di saat bersamaan, mobil taksi lain juga terparkir di belakang mobil taksi sebelumnya.
“Maaf sayang, tapi aku sudah memesan taksi kemarin malam.” Aku mengatakannya pelan karena aku tahu kalau dia adalah orang yang pemalu. Benar kataku, wajahnya langsung merah setelah aku mengatakan itu.
“Berikan dompetmu!” Mintaku padanya. Abell tampak bingung dengan apa yang kumaksud. Kuulangi permintaanku sambil menadahkan tanganku ke arahnya. Meski masih bingung, dia menyerahkan dompetnya kepadaku. Setelah mendapatkannya, aku langsung menukar KTP miliknya dengan milikku dan mengembalikkan dompetnya kembali.
“Aku akan naik taksi yang kau pesan. Sedangkan kau, naik taksi yang aku pesan kemarin.” Aku mengatakan itu sambil mengambil uang yang dia bawa. Sebelum kami berpisah, Abell memberikan kecupan hangat di keningku dan mengucapkan selamat tinggal kepadaku.
Perjalanan dari Brunoy menuju Strate City cukup jauh bahkan untuk ditempuh dengan mobil. Beruntung, jalanan hari ini tidak terlalu padat sehingga aku bisa sampai lebih cepat. Dari kaca mobil, aku bisa melihat teman-temanku telah berkumpul di meja depan café itu. Setelah aku membayar taksi, aku bergegas berjalan ke arah mereka.
“Maaf semua, aku datang terlambat hari ini.” Aku meminta maaf pada teman-temanku
“Tidak masalah, kami juga baru mulai.” Kata salah satu temanku. Aku menaruh tasku di atas meja dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Kami lalu memperbincangkan berbagai hal yang kami senangi.
Tidak terasa perbincangan kami sudah hampir setengah jam. Seorang waitress datang sambil membawa croissant hangat milik kami. Setelah makan, aku pergi ke kamar kecil untuk membetulkan dandananku yang sedikit luntur. Aku menyapa seseorang yang juga membetulkan dandannya di kamar mandi. Aku menatap cermin, dan perlahan aku mengoles lipgloss merah ke seluruh permukaan bibirku. Semua berjalan biasa-biasa saja, namun semua hal itu berubah dengan sangat cepat.
*BOOM*
Hening, hanya hening. Semua terlihat gelap. Aku tidak bisa merasakan apapun, bahkan tubuhku sendiri. Hanya batinku yang menemaniku di sini. Aku juga tidak dapat mengingat apapun. Saat hatiku sudah pasrah dengan apa yang terjadi, aku mendengar suara laki-laki memanggil namaku. Suara itu seperti berusaha menarikku keluar dari sini. Semakin dekat suara itu, kegelapan di mataku semakin lama berubah menjadi terang.
Pandanganku kembali gelap, hanya saja aku bisa merasakan tubuhku kali ini. Perlahan, aku mencoba membuka mataku, namun pandanganku masih sangat kabur. Kepalaku juga terasa sangat berat. Ku pejamkan mataku sesaat, lalu kubuka mataku kembali. Mataku perlahan mulai bisa fokus kembali.
Betapa terkejutnya aku saat melihat keadaan di sekitarku, semuanya hancur penuh dengan puing-puing. Cermin di depanku pecah tanpa kutahu sebabnya. Saat aku menoleh ke sampingku, aku melihat orang yang tadi ku sapa, tergeletak kaku penuh darah. Aku sangat ketakutan melihat apa yang ada didepanku. Aku berusaha berteriak meminta tolong, tapi suaraku tertahan di tenggorokanku. Aku hanya bisa menangis, tak bisa melakukan apapun. Aku baru sadar kalau teman-temanku masih ada di luar. Aku berusaha untuk mencari jalan keluar, berlari secepat mungkin karena cemas akan keadaan mereka.
Setelah berhasil keluar, aku melihat pemandangan yang jauh lebih menyeramkan. Seisi café telah hancur tanpa sisa. Orang-orang di luar lari ketakutan berusaha untuk menjauh dari café. Meja yang ada di luar café juga ikut rata dengan tanah. Aku berjalan perlahan menuju meja yang tadi kami tempati. Di situ, aku menemukan tas salah seorang temanku yang telah setengah hangus. Aku duduk tersungkur di depan meja itu, menangis tersedu-sedu, mengetahui hal buruk telah terjadi.
Di saat bersamaan, aku mendengar suara tembakan yang berasal dari belakang café. Aku melihat segerombolan orang bermasker dengan senjata api tengah menembaki satu per satu orang yang berusaha lari dari pengeboman yang baru saja terjadi di café. Aku tidak bisa bergerak, aku terlalu takut untuk meninggalkan tempat ini. Lalu, salah seorang dengan masker itu mengarahkan senjatanya ke arahku. Saat itu, aku sudah pasrah dengan nasibku. Namun, aku teringat pada peristiwa pagi hari dengan suamiku. Masih ada seseorang yang harus menjaganya. Seseorang juga harus mengembalikan KTP miliknya yang kubawa tadi pagi. Entah dari mana sebuah kekuatan datang, kakiku tiba-tiba bisa berdiri kembali, dan aku segera berlari meninggalkan tempat itu, meninggalkan teman-temanku di sana.
Aku berlari secepat mungkin, berusaha menyelamatkan nyawaku. Aku mencoba untuk meninggalkan tempat ini, tapi setiap jalan yang kulalui telah dikuasai oleh teroris yang tampaknya telah mengepung wilayah ini. Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa. Aku lalu menemukan sebuah rumah yang terbuka dan aku langsung masuk untuk mencari perlindungan di sana. Aku bersembunyi di salah satu sudut ruangan, perlahan mengambil nafas panjang karena aku telah berlali sangat jauh. Aku tidak bisa menelpon siapapun karena tasku tertinggal di café.
Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh seorang anak kecil yang duduk di atas tangga menuju lantai dua. Dia sedang menangis tersedu-sedu, yang membuatku merasa iba padanya. Aku mencoba mendekat padanya. Dia sempat mundur karena mungkin terkejut akan kehadiranku.
“Hei nak, kau kenapa? Apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku kepadanya, namun ia tidak memberikan jawaban apapun.
“Aku hanya berusaha membantumu. Di mana orang tuamu?” Aku bertanya lagi padanya, tapi dia masih diam.
“Mama.” Kata itu yang diucapnya lirih setelah beberapa waktu diam tidak menjawabku.
“Di mana mamamu, apa dia di sini?” Aku bertanya lagi padanya. Dia lalu menunjuk sebuah ruangan paling ujung di lantai dua. Pelan-pelan, aku berjalan menuju ruangan tersebut. Aku menekan salah satu saklar untuk menghidupkan lampu ruangan itu.
Aku sangat terkejut saat mengetahui apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Sesosok mayat perempuan tergeletak di atas ranjang. Sebilah pisau tertancap didadanya. Darahnya terlihat sudah kering. Aku langsung memalingkan mataku karena tidak tahan dengan apa yang aku liat. Di belakangku, anak itu menatapku dengan mata yang kosong. Ia sudah tidak bisa menunjukkan rasa sakitnya karena air matanya sudah mengering. Aku langsung memeluknya erat, mencium pipinya yang dingin, berusaha memikul kesedihannya yang aku sendiri tidak bisa menahannya.
Pada saat bersamaan, pintu depan rumah dibuka dengan sangat keras oleh seseorang. Mendengar itu, aku langsung menggendong anak itu ke ruangan lain untuk bersembunyi darinya. Aku mendengar suara langkah kaki seseorang saat menaiki anak tangga. Aku menutup mulutnya agar tidak berteriak sambil meyakinkannya kalau kita akan baik-baik saja. Aku mendengar suara langkah kaki beberapa orang yang juga masuk ke dalam rumah tak lama setelah orang pertama. Aku mendengarkan percakapan, salah satu memohon untuk mengampuni nyawanya.
*DAR*
Suara tembakan pecah di antara mereka. Aku berusaha tetap tenang, meski aku sendiri rasanya ingin berteriak sekencang mungkin. Aku memeluknya sangat erat untuk menutupi ketakutanku. Tak lama, mereka semua pergi meninggalkan rumah, sehingga aku bisa melepaskan pelukanku kepadanya. Aku lalu melihat apa yang baru saja terjadi. Seorang laki-laki tergeletak dengan tembakan di kepalanya. Aku mulai terbiasa saat melihat mayat di hadapanku. Wajahnya dipenuhi oleh darah, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.
Aku lalu memeriksa apa yang dia bawa saat itu, aku sangat berharap ada sesuatu yang berguna. Saat aku merogoh saku celananya, aku menemukan sebuah dompet yang cukup aku kenali. Karena penasaran, aku membuka dompet itu dan melihat isinya.
Aku tidak dapat percaya dengan apa yang aku lihat. Aku melihat foto suamiku di dalam dompet tersebut. Aku tidak mengerti, mengapa dompetnya ada bersama laki-laki ini? Aku juga menemukan KTP milikku yang tadi pagi aku berikan kepadanya. Ku bersihkan darah yang ada di wajahnya sedikit dengan tanganku untuk memastikan apa yang aku takutkan tidaklah benar.
Saat aku sudah bisa melihat wajahnya, ketakutanku menjadi sebuah kenyataan. Wajah yang kukenal, wajah yang selalu bersamaku setiap aku butuh, sekarang berada di depanku dengan kondisi yang tidak bisa kujelaskan. Aku mencoba untuk tidak percaya, namun mataku telah melihat kenyataan itu.
“Abell, ABELL!” Aku terus memanggilnya agar dia bangun. Tapi semua itu sudah tidak mungkin terjadi. Di saku yang lain, aku menemukan ponsel miliknya. Ternyata, dia telah mencoba untuk menghubungiku berulang kali. Ia juga terus mengirimiku banyak pesan untuk memastikan keadaanku.
“Nicole, di mana kau sekarang?”
“Nicole, katakan pada ku, kau tidak sedang di Strate City kan?”
“NICOLE, PERGILAH DARI SANA!”
“NICOLE, JAWABLAH, ANGKAT TELPONKU.”
“NICOLE!”
Aku membaca satu per satu pesan yang coba ia kirimkan padaku. Aku menangis, tidak berdaya menahan kesedihanku. Bahkan di saat seperti ini, dia ada untuk melindungiku dari orang-orang jahat yang ingin melukaiku. Aku tidak mengerti kenapa ini harus terjadi kepadaku. Aku kehilangan segala hal yang aku miliki. Rasanya, aku juga ingin mati bersama mereka. Aku sudah tidak tahan. Semua ini tidak masuk akal.
Aku yang masih duduk dan menangis di depan Abell, tiba-tiba aku merasakan sentuhan yang hangat. Aku seperti merasa ada Abell di dekatku, hanya sentuhan ini lebih halus. Saat aku menoleh ke belakang, anak itu memelukku, ikut memikul beban yang kubawa. Kami duduk bersama di sana, tidak ada sepatah katapun yang terucap, hanya tangis dan pelukan yang menyampaikan perasaan kami. Kehadirannya, seperti malaikat yang datang untuk melindungiku.
3 bulan kemudian
Aku berdiri di samping makam Abell. Aku sudah tidak menangis lagi, meskipun luka ini tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Aku mengusap nisannya, mengucapkan do’a untuknya, dan kutaburi bunga mawar di atas tanahnya.
“Mama!” Aku mendengar suara Ashya memanggil namaku. Dia datang sambil membawa setangkai bunga ditangannya.
“Ashya bawa bunga buat Papa.” Ia menaruh tangkai bunga itu diatas makam Abell. Aku memeluknya dan memberikan ciuman hangat padanya.
“Terima kasih sayang.” Ucapku padanya sambil menahan tetes air mata yang sulit untuk terbendung.
Aku jadi teringat. Dulu, aku tidak mengerti mengapa hal yang lalu itu terjadi. Dulu, aku sempat merasa telah kehilangan semua hal yang aku miliki. Dulu, aku sempat ingin untuk mengakhiri hidupku, karena semuanya penderitaan datang bertubi-tubi. Tapi, aku menyadari kalau semua itu salah.
Ashya. Malaikat kecil yang datang dikehidupanku. Malaikat yang rapuh sama sepertiku. Tapi, dia adalah jawaban atas semua pertanyaanku. Dia adalah alasan kenapa aku masih harus ada disini. Kami dipertemukan oleh takdir yang sangat jahat, memisahkan kami dari orang yang kami sayangi sebelum mempertemukan kami. Sekarang kami akan tetap hidup, agar mereka yang telah tiada terus ada disini, dihati kami.
Halo sobat Stetsa! Pekan ini menjadi sangat menyenangkan bagi seluruh warga Stetsa, karena mulai tanggal 8 agustus sampai dengan 13 agustus diadakan pemeran karya seni dan kewirausahaan tahun ajaran 2015-2016!. Bertempat di gazebo bawah SMA kita yang didekorasi sangat rapih dan nyaman, dihiasi bunga serta tanaman tak lupa penataan yang sangat terstrukur. Penyelenggara dari kegiatan ini adalah Bapak Ibu guru kita tercinta! Pak Edi, Bu Shinta dan juga Pak Tony, Pak Saerodji dan Bu Bayu merupakan pemrakarsa kegiatan ini. Beliau adalah guru mata pelajaran seni dan kewirausahaan.
Sobat, kegiatan ini rutin diadakan setiap tahun, biasanya dimulai pada saat tahun ajaran baru. Penyelenggara dan pihak sekolah sangat mendukung diadakannya pameran ini, karna selain untuk menujukan hasil karya siswa siswi stetsa yang sangat luar biasa, pameran ini juga memotivasi siswa siswi stetsa untuk terus berkarya dan juga bisa mengapresiasi suatu karya dengan baik. Kegiatan pameran ini berisi karya karya terbaik siswa siswi Stetsa loh! Ada banyak sekali jenis karya yang dipamerkan, antara lain karya seni kolase, pointilis, ilustrasi bentuk, komposisi warna, kerajinan dari bahan limbah tektil, kerajinan 3D dari barang bekas dan masih banyak lagi.
Antusiasme dari warga stetsa sangat baik, hal ini terbukti dengan banyaknya pengunjung yang mengunjungi pameran ini, mulai dari murid, guru dan sebagian besar warga stetsa. Pengaturan plot pada pameran ini sangat sistematis loh, pengunjung masuk melalui pintu kiri, lalu pengunjung dipersilahkan mengisi daftar hadir. Kemudian pengunjung bisa berkeliling keliling menikmati karya luar biasa yang disuguhkan. Setelah puas memikmati dan mengapresiasi hasil karya, pengunjung bisa memberikan kritik dan sarannya yang bisa dituangkan dalam buku kritik dan saran di pintu keluar pameran. Dengan begitu, pendapat apresiator dapat tersalurkan dan penyelenggara bisa mengevaluasi, memperbaiki dan mempertahankan segala sesuatu tentang kegiatan ini.
Sayangnya, kegiatan menyenangkan ini hanya berlangsung selama satu minggu karena gazebo akan difungsikan sebagai sarana pembelajaran kembali. Walaupun hanya satu minggu tetap membuat warga stetsa terhibur dan takjub akan kreatifitas, ketrampilan, dan kreasi dari karya teman teman kita tercinta. Semoga untuk kedepannya kegiatan ini tetap bisa berlanjut ya sobat, nantikan pekan yang tak kalah menakjubkannya tahun depan, dan selamat berkarya!!
Hujan. Ini sudah memasuki musim hujan tahun ke 17 sejak ia dilahirkan. Di suatu perkampungan, tepatnya 17 tahun lalu, lahirlah seorang putri, kembar pula. Serupa tapi tak sama. Mereka berdua diberi nama Jingga dan Nila. Mereka suatu kecil sangat mengerti satu sama lain. Hingga pada saat itu, pada saat Jingga sakit, Nila pun ikut sakit. Setelah lama bermain bersama, mereka terpisahkan saat umur mereka masih 7 tahun. Benar-benar tak terduga, kedua orang tua mereka bertengkar hebat saat Jingga dan Nila sedang bermain di kamar. Mereka hanya bisa mendengar bentakan-bentakan. Dann.. akhirnya kedua orang tua mereka memutuskan untuk bercerai. Mereka berdua pasti masih ingat dimana mereka berdua terpisah dan pada saat apa mereka berpisah.
Ya! Tepat pada bulan November dan tepat pada musim hujan mereka berpisah. Basah kuyup? Pasti. Mereka berdua diseret keluar rumah oleh ayah ibunya yang tak akur lagi. Jingga dibawa ayahnya menuju parkiran mobil yang cukup jauh. Sedangkan, Nila dibawa ibunya menuju depan rumah untuk menunggu taksi. Selang beberapa menit, hujan pun reda dan tiba tiba muncul pelangi. Pelangi dengan bentuk sempurna dan mengartikan kedamaian. Tenang. Di lain tempat, tanpa disadari Jingga dan Senja sama-sama melihat pelangi itu. Hati mereka tenang seakan semua kesedihan pun hilang.
Pagi hari cuaca tampak mendung seperti mau hujan, Jingga berangkat ke sekolah barunya. SMA Antariksa namanya. Sekolah baru Jingga ini terkenal dengan murid-muridnya yang cerdas.
“Pa.. ayo berangkat!! Keburu ujan niihh” teriak Jingga memanggil ayahnya yang masih di dalam rumah.
“Iyaa..iyaa .. buah hati Papa ini jadi rajin sekolah yaa..” manja Papa sembil mengunci pintu rumah.
Segera mereka memasuki mobil dan berangkat menuju sekolah. Didalam mobil Jingga sangat antusias menceritakan semua hal tentang sekolah barunya tanpa henti, seperti burung berkicau. Tak terasa samap juga di sekolah.
“Pa.. aku masuk dulu yaa”
“Iya nak, belajar yang pinter”
Jingga melangkah kaki dengan penuh semangat. Selang beberapa menit, ada satu siswi datang ke sekolah sendiri di hari pertama masuk sekolahnya ini. Penampilannya sihh, dibilang norak? Bukan. Famous? Nggak. Kalem? Bangett. Udah pake kerudung, berkacamata, cantik lagi. Betul! Namanya Nila. Hidupnya sederhana banget. Walaupun semua penghasilan ibunya banyak. Ibunya bekerja sebagai Sekretaris di suatu perusahaan.
Setelah berjalan melewati lapangan sekolah, Jingga langsung menuju Papan Pengumuman untuk melihat jadwal pembagan kelas. “Jingga Pematasari,... yakk!! Ketemu! Oke.. kelas X-5, cuss” dengan semangat langsung menuju kelas barunya. Dann ternyata oh ternyata, Nila juga maenjadi anggota kelas X-5. Mereka masih belum menyadari bahwa mereka telah dipertemukan dalam satu sekolah. Bahakan SATU KELAS!!
Dikelas, Jingga mendapati cewek kalem tadi duduk di bangku paling depan. Dan langsung memilih dudung dibangu tengah dan menghampiri teman-teman barunya untuk berkenalan. Nila tidak menghiraukan teman-teman barunya ramai di kelas. Dia sibuk membaca novel.
“Teettt..tetteett..” bel masuk berbunyi tanda pelajaran jam petama dimulai. Kelas X-5 diisi oleh Bu Awin, guru geografi. Setelah berdo’a Bu Awin segera mengabsen agar semua kenal. Semua murid nampaknya sudah saling akrab, buktinya pada saat Bu Awin mengabsen hanya murid yang duduk didepan saja yang memperhatikannya.
“Jingga Permatasari..” “hadirr Buu”jawab Jingga dengan lantang.
Nila pun tersentak. Langsung menoleh kebelakang dan mendapati sosok tersebut. Apa? Jingga? Desah Nila dalam hati. Badannya langsung dingin dan membeku. Terpaku akan kejadian barusan ini. Sepertinya nama itu tidak asing didengarnya. Benarkah cewek itu saudara kembarnya yang sudah satu dekade ini tak bertemu???
Setelah menyelesaikan mengabsen siswa di sekolah, sesuai kurikulum 2013 Bu Awin memberikan waktu 10 menit kepada muridnya untuk membaca bab pertama yaitu kejadian alam. Kemudian terbentuklan kelompok secara acak. Dann..Nila Permatadewi satu kelompok dengan Jingga Permatasari. Apa?? Gerutu Nila. Apa nggak salah? Sudah satu sekolah, satu kelas, satu kelompok pula! Nila berusaha meyakinkan kejadian ini dengan menhapiri Jingga untuk membahas materi. Jingga masih belum mengetahui bahwa ada suatu kejanggalan diantara mereka.
“Kamu Jingga, kan?”
“Iyaa, oh ya nanti aja ngerjakan tugas ini di rumah gue ya, sambil kita ngobrol-ngobrol.. heheh..”
“Okee..”
Memang sih, saat ini kondisi fisik mereka sangat berbeda daripada waktu kecil. Dari penampilan saja sudah berbeda. Kalau Nila berkerudung sedangkan Jingga tidak. Hal ini membikin wajah mereka tidak terlihat kembar. Karakteristiknya juga berlawanan. Kalau Nila cenderung ke pendiam sedangkan Jingga yang cerewet. Bisa-bisa kalau ngomong sama dia nggak ada habisnya.
***
Sorenya, cuaca nampak tidak mendukung. Hujan yang sangat deras dan tak kunjung reda memaksa Nila berangakat ke rumah Jingga untuk mengerjakan tugas. Sesampainya di rumah Jingga.
“Aduhh.. maaf ya repot-repot ke rumah gue segala buat ngerjain tugas..” seru Jingga denga nada bersalah.
“Iyaa, gapapa, ayo kita kerjakan tugasnya” sahut Nila
“Oiyaa!! Siapa nama loo?? Hehehe udah SMSan tapi gatau namanyaa..” tanya Jingga sambil menyalakan laptop.
“Akuu... Nila” jawab pelan. Jingga juga belum sadar akan kejanggalan nama tersebut.
“Kita bahas tentang kejadian alam kan?”
“iyaaa”
Seketika hening, bersamaan dengan hujan yang sudah mulai reda dan matahari memantulkan sinarnya melewati kaca rumah Jingga. Jingga lalu menoleh ke arah luar. Dann ternyata ada pelangii!! Dia langsung tersenyum bahagia. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.
“Gue sukaa banget kalo ada pelangii” seru Jingga
“Aku kalo lihat pelangi kayak semua beban hidup aku ilang semua, kayak tenang gituu” seru Nila dengan nada pelan.
“Pertama aku mendenger namamu di absen oleh Bu Awin rasanya nama itu tak asing olehku.” Lanjut Jingga.
“Oiyahh!! Kenapa? Nama lengkap lo sama kayak gue?” dengan nada antusias.
“Yaaa..” menghembuskan nafas panjang. “Sepuluh tahun lalu aku berpisah sama saudara kembarku dengan carayang nggak enak.
” Dengan nada lembut “tiba-tiba mucul pelangi yang membuatku kerasa nyaman dan tenang. Soalnya aku percaya sihh kalau keadaan saudara kembarku baik-baik saja. Dan sekarang ternyata benar” Menghela nafas panjang.
Jingga yang tadinya antusias sekarang jadi hiam. Terpaku. Dan bingung. Mencoba mencerna kata-kata dari Nila. Jingga mencoba mengingat kembali kejadian lalu. Dan ternyata!!
“Sepuluh tahun yang lalu gue juga liat pelangi yang indaahh banget, dan sama seperti yang lo rasakan” nada lembut Jingga sambil menahan air mata.
“Aku yakin, suatu saat nanti aku bakal ketemu sama saudara kembar aku. Soalnya ada pelangi yang menemaniku saat kita berpisah.. dan sekarangg aku ketemu sama kembarankuu” dengan kuat hati Nila mengatakan hal itu.
“Lo.. Nila Permatadewi kan? Lo.. kembaran gue kan??” sambil memeluk erat Nila.
“Iyaaa... kamu baik-baik saja kan?” seru Nila dengan senang hati
“Iyaa.. kak aku baik-baik saja” sebut Jingga karena Nila lahir lebih dulu.
Memang keduanya sekarang tidak memiliki banyak kesamaan, namun hati mereka sudah menjadi satu hati yang utuh selama sepuluh tahun terasa hampa ini. Mungkin ada hubungannya dengan telepati atau dengan pelangi?
STETSA- SMAN 4 Malang tidak mau kalah dengan program yang diadakan oleh Kota Malang, yaitu “Kakang Mbakyu”. Pemilihan dua orang putra dan putri ini terpilih sebagai duta Kota Malang guna menjadi suri tauladan bagi Kota Malang. Begitu pula dengan SMAN 4 Malang, OSIS dan MPK Stetsa (sebutan hits untuk SMAN 4) ini mempunyai ide yang sangat kreatif dan dapat menarik perhatian seluruh siswa. Mereka membuat acara yang tidak jauh berbeda dengan Kakang Mbayu, yaitu Dimas Diajeng Stetsa (DDS). Acara yang lebih dikenal dengan duta sekolah ini dilaksanakan setiap 2 tahun sekali.
Kegiatan ini diikuti oleh siswa-siswi STETSA yang merupakan delegasi dari setiap kelas. Sebelum mereka melakukan pengisian formulir, mereka harus memenuhi syarat-syarat yang sebelumnya sudah ditentukan oleh panitia. Dalam acara ini, setiap kelas boleh mendelegasikan lebih dari satu orang siswa dan siswi. Bahkan, ada satu kelas yang mendelegasikan dua orang siswi nya karena siswa di kelasnya hanya satu orang dan juga kebetulan sudah pernah mengikuti DDS pada tahun sebelumnya.
“Dengan adanya acara DDS ini, maka sekolah akan mengetahui bakat dari muridnya. Selain itu, dalam acara ini setiap siswa juga dapat menunjukkan bakat yang dimilikinya kepada banyak orang”, ujar salah satu siswa SMAN 4 Malang. Siswa-siswi yang mengikuti acara ini tidak dengan mudahnya bisa terpilih, acara ini mempunyai beberapa seleksi untuk maju ke babak 10 besar. Seleksi pertama yang dilakukan yaitu dengan mengerjakan ujian tulis seputar SMAN 4 Malang yang telah dibuat oleh panitia. Kemudian bagi siswa yang lulus tes tersebut akan lanjut dalam seleksi wawancara. Disitu siswa akan diberi pertanyaan mengenai pengetahuan umumnya serta sekolah.
Seleksi yang paling ditunggu adalah unjuk bakat dari siswa siswi yang telah lulus dalam seleksi wawancara. Unjuk bakat ini biasa dilakukan digasebo dan selalu ditonton leh semua siswa Stetsa. Juri yang menilai bakat para calon DDS ini adalah guru Seni dan Bahasa Indonesia. Dalam seleksi unjuk bakat ini, para calon DDS ada yang menunjukkan suara merdunya, lemah gemulai badannya, hingga ada seorang siswi yang unjuk bakat menjadi drummer.
Sepuluh besar finalis DDS yang terpilih dalam seleksi unjuk bakat akan melanjutkan kegiatannya. Awalnya mereka photoshoot di tempat yang telah ditentukan oleh panitia. Tidak lupa juga, setiap sore setelah pulang sekolah mereka diwajibkan untuk berkumpul dalam rangka pengarahan serta pembelajaran catwalk, atau sering disebut di karantina. Pada masa karantina, para finalis diajarkan table manner, catwalk, serta tata cara pada saat acara puncak nantinya.
Pada acara puncak ini, panitia sudah menyiapkan acara dengan matang. Didalam acara ini tidak hanya menampilkan sepuluh finalis DDS saja, tetapi masih banyak acara yang akan ditampilkan seperti tari tradisional, modern dance, teater, dll. Tidak berhenti sampai disitu, panitia juga selalu mengundang pemenang dari Kakang Mbakyu yang akan menjadi juri dalam acara ini.
Di acara puncak, sepuluh finalis melakukan catwalk berulang kali dengan pakaian yang berbeda setiap penampilannya. Pakaian yang digunakan antara lain, batik, baju adat, dan baju formal. Disela-sela penampilannya, para juri juga menilai catwalk dari para finalis. Dalam acara puncak, beberapa para finalis ada yang menampilkan bakatnya. Acara akhir yaitu, juri dari Kakang Mbakyu memberikan sebuah pertanyaan kepada para empat finalis yang sudah lolos dalam seleksi tidak terduga dari juri. Jawaban dari pertanyaan itulah yang akan menentukan siapa yang berhak menjadi Dimas dan Diajeng Stetsa.
“Saya berharap dengan acara ini, siswa yang terpilih menjadi Dimas Diajeng Stetsa dapat menjadi panutan suri tauladan yang baik bagi siswa yang lain, ujar salah seorang guru Stetsa. Acara ini sangat diharapkan oleh sekolah agar Dimas dan Diajeng dapat membawa nama baik SMAN 4 Malang ini ke luar sekolah, serta dapat menjadi icon bahwa SMAN 4 Malang memiliki siswa siswi yang berprestasi.
Ing sawijining dina, Aku tuku buku tulis menyang nggone kopsis sekolah. Buku kuwi dienggo pelajaran (sing jelas guduk pelajaran Basa Jawa). Amargane Aku ora excited marang pelajaran mau. Mangkono kuwi Aku ora ikhlas ngetokake dhuwit kanggo tuku buku. Wektu pelajaran arep diwiwiti, kanca siji kelas padha seneng banget. Seneng amarga iki salah siji pelajaran sing ora abot, ora butuh mikir, isine mung ndongeng. Nggone pelajaran uga ora nyang njero kelas, dadine iso fresh lan ora mboseni. Saben pelajaran kuwi Aku mbatin, “pelajaran apa toh iki? Arane kaya sinau agama”. Murid sing ora nggatekne, entuk. Murid sing turu, entuk. Murid sing anggone rame nganti ngrusak kuping, entuk.
Nanging para murid mau apa wis entuk ilmu ngenani pelajarane? Isa tak warahi, ora entuk. Mergane ndeleng saka awakku dhewe sing dak arani wis niat wae isih gelagapan anggone materi, ndaniya sing liyane. Ora suwi, buku sing dak tuku mau ilang. Ora papa, Aku ikhlas. Pranyata semono suwine iki buku kuwi ora pati kanggo. Aku ikhlas yen buku kuwi njegur nyang nggone truck kuning, ilang digondhol wewe, utawa digawe bungkus gorengan. Akhire, para murid sing diajar mesthi sugih ilmu moral ning njero atine, ora ning njero buku. Saking sugihe........ biji ulangan akhir ora bisa diadol
Guru, digugu lan ditiru. Gawe murid sing ngefans nyang nggone guru, mesthi dheweke bakal kena identifikasi virus. Utawa niru-niru sakpolahe gurune. Sawijining dina, Aku nemoni murid sing misuh-misuh arane “daksuk”, ora ngerti piye tulisane. “wih, misuh anyar toh kuwi?” batinku. Pranyata wektu pelajaran iki, Aku kaet weruh musababe. Padahal pas pelajaran kuwi wis diwekasi marang gurune yen ukara mau ora entuk ditiru. Nanging ya ngono kuwi, bocah SMA kupinge kandel. Sawijining dina maneh, Aku krungu yen guru kuwi nduweni kebatinan. Weleh, pret, mbujuk. Aku ora percaya, nanging akeh murid sing ngomong yen dheweke bisa diwaca kepribadiane, dheweke ora ngomong “wih” nanging banjur wedi marang guru iki. Kebacut arane, tingkah polahe guru kuwi wis famous ning sekolah. Kapan maneh dadi guru hitz? Nggih napa nggih?. Saben ana kelas sing wis rampung pelajarane kadang ngono banjur ngrasani. Nanging, wektu dak sawang bocah wadon sing ayu-ayu kuwi padha ngangkat sikile. Ora sopan. Aku banjur nyedheki “nyapo toh cah, sikile diangkat?”. “jarene iku lek ngrasani wong sing nduwe kebatinan, sikile ora oleh ngidak bumi”. “heleh, tenane???”. “iya, jare wong biyen”. “lah, ngono kuwi apa ora medeni yen ngangkat sikil? Rokmu kuwi mbukak”. “loh iya!”. “timbang ngono kae unggahna kursi sikilmu, njigang”. “ora sopan toh tul”. “loh ora papa, salahe sapa nduweni kebatinan. Ora salah yen muride ora sopan”.
Ora peduli nduweni kebatinan, ora peduli saben pelajaran ngewenehi wejangan, ndongeng, utawa nyepik bocah wadon. Sing penting, ora usah tuku buku, ora usah nggawa buku, ora mikir abot. Mung nyepakne awak lan mbukak kuping. Kapan maneh nduweni guru sing hemat kertas, kapan maneh nduweni guru sing hemat pulpen. Mangkane, mbesuk yen dadi guru kaya ngono wae. Muridmu bakal sumringah, ngelestarekake takhayul, bijine apik, praktek nul puthul. Nggih napa nggih???
Masa SMA, masa yang paling indah kata mereka. Tetapi hati kecilku mengatakan, itu tidaklah benar. Bagaimana bisa mereka menyebutnya indah? Untuk hidupku yang selalu hambar setiap harinya.
Ditengah kesibukan menuntut ilmu, aku hanya bisa meluangkan sedikit waktu saja untuk bersenang-senang. Bangun jam 5 pagi, berangkat sekolah, ekskul, menonton anime, main gadget, mengerjakan pr, menonton tv. Seperti itu... Setiap hari hingga aku tidak mengerti makna hidup yang sesungguhnya. Berkecimpung dalam dunia pendidikan yang merantai kebebasan sebagai seorang remaja. Ingin ngetrip tidak ada waktu, ingin tidur panjang tidak ada waktu, ingin travel makan makan tidak ada waktu. Itukah yang mereka katakan sebagai masa indah? Mungkin ya, untuk mereka yang mengesampingkan pendidikan, yang memiliki banyak teman, waktu luang sekaligus uang.
Lalu berbicara mengenai satu hal yang menyebut masa SMA adalah masa indah, adalah ketika dirimu telah menemukan pasangan. Girlfriend, boyfriend, relationship apalah itu. Itukah keindahan yang sesungguhnya? Ayolaah, ketika aku telah lama sendiri selama 17 tahun. Apakah hidupku bisa dikatakan tidak indah? Tentu saja, benar-benar tidak indah. Saat kalian berada di jaman yang mana banyak gadis mendapat balasan atas cintanya. Tetapi tidak untuk kalian yang pemalu, mengagumi seorang lelaki dalam diam, hanya mampu membayangkan wajahnya setiap malam, menunggu hingga tua termakan usia, mengintipnya dari kejauhan, hanya bisa stalking berbagai macam akun sosmednya. Terlebih jika kalian tidak bisa melupakan seseorang yang istimewa bertahun-tahun lamanya.. Dan saat sekian tahun itu tiada hasil karena kalian terlalu pasif, pada akhirnya dia pun tidak pernah menoleh kalian. Padahal, dalam benak diri hanya dialah orang yang sempurna hingga mungkin kalian mengibaratkan perbedaan derajat seperti langit dan bumi. Lalu disaat perasaan itu tetap saja tidak hilang, datanglah seseorang yang menyukai kalian. Tetapi, bukankah itu seharusnya membuat kalian bahagia? Karena saat kalian bersakit atas perasaan yang lalu, datang orang lain yang mengagumi kalian tanpa alasan, menerima kalian apa adanya. Tuhan memang selalu begitu, tidak mudah untuk memberikan apa yang kalian inginkan. Tetapi Tuhan lebih mengerti, Dia akan mengirim seseorang saat kalian benar-benar membutuhkan.
Awan berarak menyapa dunia. Menaungi langit Byzantium. Gugusan bintang laksana intan, terpatri dalam hitam. Senandung dalam ruh kepada Mesias memberi kesyahduan malam. Glory to God, In the highest! Deru umat dalam katredal. Surga Mesias di bumi, Ayasofya. Suatu kesalahan jika mengabaikan pertemuan kudus. Sebab pertemuan ini mengandung sebuah janji. Langit menyeru kepada Hawariyin, di sampaikannya berita melalui bintang-bintang. Mereka dipanggil untuk bebas dari kerusakan dunia. Membentuk suatu ikatan dan menjadi gula diantara masam. Menjadi terang diantara gelap.
Sebuah negeri keajaiban. Sang Yehovah lah pengarang semua cerita. Dalam satu malam, dunia mencatat sejarahnya. Byzantium yang agung berdiri membentang. Luasnya hampir separuh lautan peradaban. Tafsirannya dituliskan dalam tabir, menunjuk kepada Remus dan Romulus yang perkasa. Mereka sangat bangga atas keberhasilannya dalam cipta modernisasi dunia. Tampak salah satu daripadanya mengernyit dalam diam kekaguman. Perlahan, gelombang yang sebenarnya tak positif mengalir melalui untaian nadi. Berhenti pada suatu pusat penggerak dalam kepalanya. Kemudian menciptakan gagasan yang sebenarnya tidak berwujud. Ini dia. Negeri ini akan menjadi yang termahsyur di dunia. Negeri ini akan menjadi teladan bagi dunia. Senyum tergambar dibibirnya. Wah, rupanya Sang Yehovah mendengar suara hati itu. Dalam surga yang sebenarnya, Dia berbisik kepada para bidadari, “semua itu tidak akan terjadi.” Tidak akan Dia jadikan sebuah tangan kecil, menjadi seperti Mesias yang suci dan diagungkan. Kemudian bidadari itu bertanya kepada Sang Yehovah, “bukankah Engkau wahai Sang Agung Yehovah. Yang telah memberikannya mukjizat? Sehingga mereka bisa mendirikan negeri itu dalam satu malam saja?”. Sang Yehovah hanya tersenyum dalam diam. Sebelum Ia sempat menjawab, hilanglah nyawa kedua bersaudara itu. Selalu saja, tahta adalah penyebabnya.
***
Kaisar Agung Byzantium, memberikan namanya untuk sebuah kota. Disaksikan ratusan penduduk Byzantium. Di pelataran gereja saat terik, terikrar penganugerahan sebagai wujud do’a kepada Mesias dan pengharapan bahwa kota ini akan menjadi pusat dari sebuah peradaban negeri ajaib Byzantium. Ialah Constantine. Kota cyclos yang dipimpin oleh Raja Constantine. Eloh bless you! Sorai mereka.
***
Diatas meja kayu, beberapa botol anggur dan roti isi dihidangkan. Keluarga besar berkumpul. Suasana pagi yang dingin tidak menjadi penghalang untuk mereka berpesta ria. Inilah keluarga besar yang bahagia. Barang sekejap, sekelebat bayangan ruh merasuk dalam ilustrasi permainan warna. Terpasang di muka dinding, dan mengawasi setiap amalan. Hanya sebuah imajinasi. Mereka menyebut dirinya sebagai umat setia Mesias, Ortodox. Kembali seperti saat Mesias yang suci menyantap sebuah roti isi dan anggur istimewa itu. Itulah yang mereka lakukan. Kehidupan tenang dan penuh gairah duniawi. Semua melakukannya, seluruh Byzantium menjaga tradisi itu. Jutaan tahun lamanya.
Bagaimana saat Sang Yehovah berkata bahwa Aroma manis Byzantium perlahan memudar. Berganti oleh aroma anggur sang pemicu zina. Benarlah ini menjadi negeri cyclos. Wanita negeri ini ibarat keledai dungu, saat pria Byzantium diselimuti nafsu hingga titik puncaknya. Byzantium merayakan kebahagiaan bersama para iblis. Kala matahari kembali dari peraduan. Pria-pria itu dengan nafas bau anggur terbangun dari tidurnya. Wajahnya bahagia saat mendapati wanita tengah tidur dibalik selimut yang sama. Tanpa mengenakan busana. Ibarat mimpi indah seakan mati tidak akan pernah.
Bagaimana saat Sang Yehovah tahu. Di bawah langit biru, Byzantium berubah kelabu. Kelabu karena gelap hati dan perilaku. Seperti putih yang terbunuh oleh hitam. Kemudian alam berkata, “petir akan datang setelah langit kelabu, namun jika Yehovah mengacungkan telunjuk-Nya, biru akan lahir kembali.”
Inilah abad yang akan menjadi sejarah buruk, jika tidak ada penghapusan. Langit meratapinya, saat bintang tidak lagi mampu untuk menyampaikan pesan. Kembali awan berarak menutup angkasa. Berharap bahwa Sang Yehovah tidak akan melihatnya. Namun, Yehovah selalu hadir dalam segala penjuru. Apa yang tidak diketahui-Nya? Bahkan akhir dunia pun Dia tahu. Di langit selatan, di bawah kepadatan awan yang menghitam. Cahaya petir merobek langit. Suaranya mengaum sebagai isyarat bahwa Yehovah telah murka. Hujan badai mengamuk di atas langit Byzantium. Berjatuhan mendobraki setiap atap rumah penduduk yang mengaku sebagai umat Mesias itu. Seperti mozaik saat lampu menyorotinya. Daun-daun berjatuhan dengan ketakutannya, bahkan batu terpecah karena hantamannya. “Negeri ini akan memberi dampak buruk bagi dunia, untuk itu Aku harus memusnahkannya.” Berkatalah Yehovah, sembari memutari negeri kelabu itu. Sepersedetik, murka telah menguras air mata negeri.
***
“Mereka menyebutnya Kalky Autar. Petunjuk dari Rabb.” Petuah orang suci dari Tanah Suci. Adalah para sahabat yang sedang mengkaji tata hidup menuju sempurna. “Wahai sahabat, ketahuilah. Pada senja yang beradu, datanglah Rabb kepada Ia dan Dia berbisik melalui jibril. Kalky Autar kemudian menyampaikan kepada umat. Kebathilan akan musnah oleh yang haq”. Apalah negeri Heraklius itu, hingga Tuhan menginginkannya untuk musnah dalam api kebaikan? Saat ia berdiri atas mukjizat dari-Nya, kemudian ia menghancurkan diri dengan nafsu duniawinya. Gumam para sahabat. Heraklius adalah orang penting dari Constantine. Dia pernah menapak di tanah suci. Bertanya kepada Sang Kalky mengenai penghancuran Byzantium suatu hari nanti. Rupanya dia percaya kepada kabar yang sesungguhnya itu benar. Ibarat informan dan kembali membawa perlindungan kepada negara. Karenanya, benteng didirikan. Ialah Benteng yang paling kuat didunia. Beserta pasukan yang siap menepis kehancurannya.
Tanpa membuka ayat lauhil. Rabb menunjuk Fetih untuk menghapus kelabu. Siapa tak kenal Fetih? Dialah kebenaran yang ada dalam bisyarah Kalky Autar. Gagah, pemberani, setia kepada Qiamullail, dan luar biasa cerdas. Seorang Sultan dari tanah yang suci. Tanah yang selalu ingat kepada pencipta-Nya. Tidak seperti Byzantium.
***
Kabut pagi yang dingin menusuk. Terlukis diatas gurun pasir. Diujung mata memandang, kabut memecah. Samar-samar terdengar langkah kuda yang berlari kencang. Bukan seribu, melainkan 150 ribu. Pasir menggulung seperti badai. Membuat getir hatimu saat kau melihatnya. Diatas, petir menyambar-nyambar. Seperti semangat yang tak akan hancur malah menghancurkan. Suara itu semakin jelas, diikuti gambaran jelas manusia. Ialah 250 tentara yang akan menghancurkan Byzantium. Lengkap dengan senjata perang. Laksana ribuan semut hitam yang mengerubung gula. Tetapi ini bukan gula, melainkan sebuah getah yang akan membuat pahit dunia. Kabut menyingkir secepat kilat. Ia terpukul oleh sebuah benda tak berjiwa. Benda itu mulutnya terbuka, seperti siap memakan nyawa. Suara yang dihasilkan mengundang ketakutan. Seakan nyawa sebatas tenggorokan. Ialah gergasi meriam ciptaan Fetih dan serdadunya. Yang pertama dan terbesar di dunia. Bukan satu, melainkan puluhan. Tangan-tangan itu berakar ketika mendorongnya. Dan lembu-lembu itu sungguh kuasa menariknya.
Tepat di hadapan benteng Byzantium. Fetih memberi komando penghancuran. Negeri itu terlihat membisu, seakan pasrah terhadap takdir. Namun ternyata tidak, ratusan ribu tentara mulai beraksi. Berbanjar sejauh dinding batu itu. Dibalik baju besi, semangat api berkobar. Mereka melompat dari ketinggian dan mulai menghujam. Suara nyaring pedang itu menyayat telinga, bahkan mampu membangkitkan orang mati. Tubuh memuntahkan darahnya seiring hunusan mata pedang. Teriakan-teriakan mengatas namakan Tuhan memenuhi lautan pasir. Serangan kedua, meriam mereka ledakkan. Bola panas itu meluncur seperti pesawat tempur. Namun, benteng itu tetap pada pendiriannya. Tantangan diberikan oleh Byzantium, anak panah berapi mereka luncurkan. Dan pasukan Fetih mengalami guncangan.
Pada akhirnya, Rabb memberi mukjizat-Nya. Dalam satu malam peristirahatan yang penuh dengan bintang-bintang. Dikelilingi oleh bukit batu. Ia datangkan kayu dan minyak hewan. Dibuatkan-Nya 70 perahu yang akan dilayarkan ke Pelabuhan Golden Horn sebagai pengalihan. Alam bersaksi, melihat siasat itu telah berhasil menghancurkan benteng negeri ini. Dalam satu malam, Constantine berhasil ditawan.
Matahari pagi menyinari, langit biru menaungi kemenangan Islam. Yehovah lah Tuhan Pencipta Alam. Pengarang cerita ini. Di dalam Surga Ia tersenyum. Tafsirannya membentang. Terukir nama Fetih sebagai Muhammad Al-Fatih. Sebaik-baiknya pemimpin yang ada dalam Bisyarah Kalky Autar, yang tak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Ialah negeri satu malam. Konstantinopel, kota dari peradaban Romawi Timur yang mereka sebut Byzantium.
Semilir angin malam membuatku ingin segera merebahkan tubuhku di atas kasur dan melupakan semua masalah yang sedang kuhadapi. Namun, tumpukan buku ekonomi yang harus kupelajari memaksaku untuk tetap berada di balkon kamar tidurku. Pikiran yang seharusnya kupusatkan pada buku ekonomi, kini melayang entah kemana. Tak satupun rumus dan teori ekonomi masuk dipikiranku. Suasana malam yang dingin dan sepi seakan mendukungku untuk terus melamunkan masalah yang sedang kuhadapi.
“Klung” dering BBM dari Alvin menyadarkanku dari lamunan.
“Malam Len, sudah tidurkah?”
“Belum.” Jawabku singkat.
“Sudah sholat?” pertanyaan yang selalu diucapkannya.
“Sudah.”
“Sudah larut malam, cepat tidur, jangan tidur terlalu malam, nggak baik buat kesehatan.”
***
Alvin, nama yang akhir-akhir ini sering muncul di benakku. Entah mengapa setiap aku mengingatnya, ingin rasanya kuhantamkan kepalan tanganku kewajahnya. Alvin, adalah teman yang menurutku amat sangat menyebalkan. Tiap pagi, siang, malam, Alvin selalu nge-chat aku entah melalui BBM maupun WhatsApp. Jujur aku merasa risih dengannya. Ia selalu datang diwaktu yang tidak tepat. Alvin selalu ikut campur tentang segala sesuatu yang berhubungan denganku. Hal paling menyebalkan yang masih hangat dalam pikiranku adalah ketika di kantin sekolah. Dia menanyakan siapa itu Joe.
***
“Joe? Ngapain kamu tanya siapa dia, emang ada ya hubungannya sama kamu?” Alvin terdiam lama sambil memperhatikanku asik menyantap mie ayam yang sedari tadi kuabaikan gara-gara kedatangannya. “Dia temanku.” Saking asiknya menyantap mie ayam, aku lupa kalau tadi aku menyodorkan pertanyaan padanya.
Hah? Teman?
Karena tatapan Alvin begitu tajam, aku jadi enggan bertanya lebih lanjut tentang Joe. Dalam hatiku timbul tanya, “Bagaimana Alvin tahu kalau aku kenal dengan Joe? Apa Joe banyak bercerita padanya?” Sejauh ini aku tak pernah bercerita pada siapa pun jika aku sedang dekat dengan Joe. Begitu pun dengan Joe, dia tidak mau seorang pun tahu jika dia menganggap kita lebih dari sekedar teman.
Joe. Ya, Joe adalah lelaki yang sejauh ini selalu membuatku nyaman. Hal yang membuatku nyaman adalah ketika aku curhat, ia selalu menjadi pendengar yang baik dan selalu memberi solusi. Padahal, sahabat-sahabatku juga merupakan pendengar yang baik, tapi ada rasa yang berbeda ketika aku curhat pada Joe. Joe juga sering memberi perhatian padaku, meski Alvin jauh lebih memberikan perhatiannya padaku. Kurang lebih sudah lima bulan aku mengenal Joe. Aku dan Joe sering bertukar cerita, bahkan banyak hal yang telah kita bahas, dan saat ini Joe menganggap bahwa kita lebih dari sekedar teman.
Jujur aku bingung dengan hal tersebut. Lebih bingung lagi ketika aku melihat Alvin berubah menjadi sedikit dingin dan sedikit menakutkan setelah ia menanyakan siapa itu Joe.
***
Aku membuka mataku dan rasanya berat sekali. Ingin rasanya kupejamkan mata ini lebih lama lagi, namun suara adzan sudah berkumandang. Aku harus segera bergegas melakukan segala aktivitasku di pagi hari.
Ketika aku sampai di sekolah, kulihat Alvin sibuk memainkan bola. Ketika ia juga melihatku, ia langsung lari menuju arahku. “Dianter sama Joe?” pertanyaan yang sangat menjengkelkan bagiku. “Bukan urusanmu.” Jawabku lembut, namun menusuk hati. “Kamu cinta sama dia?” tanyanya lagi.
Seketika itu pula kuhentikan langkahku. Dalam hatiku bertanya dan berkata, “Apa itu cinta? Aku tidak begitu paham tentang definisi cinta. Ada yang bilang padaku bahwa cinta merupakan benang-benang emas berduri, begitu indah menali, namun penuh duri, sehingga akan terasa pedih jika tertusuk olehnya. Ada juga yang bilang padaku bahwa cinta adalah gila. Siapa pun yang menyentuhnya akan menjadi gila, melupakan apa saja, menciptakan kesombongan, bahkan meninggalkan segalanya. Namun, nyatanya jika aku sedang mencintai Joe, aku tidak melupakan dan meninggalkan segalanya. Apa ini pertanda bahwa aku tidak cinta pada Joe? Memang, kurasa aku hanya merasa nyaman pada Joe, rasa nyaman yang hanya akan menjadi sebuah kenangan. Pernah kubaca di sebuah buku bahwa cinta adalah bahagia, lebih bahagia dari apa saja, mampu membuatnya tertawa, karena kebahagian itu tak terukur dengan sifat benda di dunia, memang aku bahagia karena Joe merupakan pendengar yang baik, tapi kebahagiaan itu bukan kebahagiaan yang lebih dari apa saja. Cinta adalah duka, bila berpisah merindukannya, bila bertemu merasa canggung dan takut, takut berpisah, terlebih kehilangan. Aku tidak pernah berfikir jika aku akan kehilangan Joe sebagai teman dekat. Menurutku cinta itu lahir dari hati yang paling dalam. Cinta hanya sebuah kata, mudah diucap, namun susah untuk dijelaskan.”
“Len, jawab pertanyaanku.” Alvin menatapku dengan mata elangnya yang membuatku semakin kesal, dan bingung hendak menjawab apa. Lagi-lagi dia ikut campur ke dalam urusanku. “Pertanyaanku, pertama, ngapain kamu selalu ikut campur ke dalam urusanku? Kedua, haruskah kujawab pertanyaanmu tadi? Ketiga, menurutmu, apa itu cinta? Sehingga kau menanyakan hal itu padaku?” pertanyaan Alvin kujawab dengan pertanyaan pula. Tiga pertanyaan bertubi-tubi yang kulontarkan padanya dan dia hanya menjawab satu pertanyaanku saja, “Cinta. Cinta adalah sebuah rasa. Tak pernah berwujud, namun hadirnya terasa menyentuh. Joe hadir di kehidupanmu dan aku tahu bahwa kamu merasakan kehadirannya membawa sesuatu yang berbeda. Berbeda dengan yang lainnya.”
“Tett tett tett” bel masuk berbunyi. Hal ini membuatku segera lari menginggalkan Alvin yang masih berdiri di ujung koridor kelas XI. Sebenarnya, aku mengerti bahwa Alvin masih ingin membicarakan suatu hal lagi kepadaku, namun aku malas menatap mukanya lagi dan karena keegoisanku, aku lari menuju kelasku. Jujur aku sangat tersentak ketika Alvin memberi definisi tentang cinta dan dia mengerti bahwa perasaanku pada Joe berbeda.
Sepulang sekolah aku merenungkan apa yang telah diucapkan oleh Alvin. Sebenarnya aku sendiri juga bingung, aku merasa nyaman pada Joe, rasa nyaman itu tidak pernah sirna, hingga saat ini. Tapi, ketika Joe mengatakan bahwa aku dan Joe lebih dari sekedar teman, responku biasa saja. Bahkan aku tidak terlalu menggubris hal itu.
“Leny.”lagi-lagi Alvin mengirim pesan BBM.
“Iya?” jawabku singkat.
“Aku tadi belum selesai ngomongnya, aku ingin melanjutkan perbincangan ini, kamu bisa ke Cafe Coffee sekarang? Aku jemput kamu ya?”
“Iya” lagi-lagi jawabku singkat padat dan jelas.
Sesampai di cafe, Alvin memesan dua cake chocolate dan dua macchiato, itu adalah makanan dan minuman favoritku. “Katanya belum selesai ngomongnya? Mau ngomongin apalagi?” ujarku membuka pembicaraan. “Kamu tadi tanya mengapa aku selalu ikut campur dalam urusanmu? kamu tau apa jawabnnya?” “Ya nggak lah, makanya aku tanya ke kamu.” Ujarku sewot.
Alvin tersenyum, dan disitulah aku baru menyadari bahwa Alvin sangat manis sekali ketika tersenyum. Pelayan cafe datang dengan membawa macchiato, cake chocolate dan juga membawa rangkaian bunga mawar.
“Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini, tapi aku bingung kapan, dimana, dan harus dengan cara apa. Inilah alasan kenapa aku sering ikut campur dalam urusanmu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, dan kurasa aku tak mengerti apa alasan aku mencintaimu. Mungkin, kerena dihatiku kamu berbeda dengan yang lain dan kamu istimewa.” Aku hanya bisa terdiam dan sedetik kemudian aku meneteskan air mata, sungguh, aku terharu.
“ Terima bunga ini Len, bunga ini sebagai tanda permintaan maaf karena mungkin aku sudah mengganggumu. Aku tidak ingin mengerti jawaban apa yang keluar dari bibirmu, aku juga tidak mengajakmu untuk jadian atau pacaran denganku, aku tahu jika aku mengajakmu untuk berpacaran, mungkin suatu saat aku tidak akan bisa memberi perhatian lebih padamu, karena hal yang aku takutkan adalah masa dimana kita sudah tidak berpacaran lagi, aku hanya ingin kamu terima bunga ini dan aku hanya ingin menyatakan perasaanku saja, karena kalau aku nggak nyatain rasa sayangku ke kamu, aku semakin sakit, sakit karena memendam perasaan yang sudah lama kupendam.”
Kata-kata yang romantis terucap dari seorang Alvin, lelaki yang menurutku sangat menyebalkan, namun kini aku sadar dibalik sifatnya yang menyebalkan terdapat suatu perasaan yang berbeda. Berbeda jauh dengan apa yang aku pikirkan. Tak pernah sekalipun aku berfikir bahwa Alvin mencintaiku, sungguh bodoh diriku, tidak peka dan salah menilai seseorang. Tapi yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan.
Cinta? Apa itu cinta? Setelah hati ini tergores, tak pernah lagi ku merasakan apa itu kebahagiaan. Rasa trauma berkecimpung dihati, tak tau apa arti cinta dan untuk apa sebenernya itu cinta. Mengapa Tuhan menciptakan rasa cinta dan juga lelaki? Aku tak tau maksud Tuhan dengan adanya cinta.
Rida, namaku. Aku hanyalah anak kelas 2 SMA di SMA tersohor di Jakarta. Aku hanyalah anak yang nakal dan hanya peduli pada duniawi. Orang tua ku tak pernah memperdulikan apa yang aku lakukan, bahkan keadaan ku pun mereka tak peduli. Hanya pada Ida lah aku bersandar. Ida adalah sahabatku dari kecil yang benar-benar mengerti ku .
Pagi itu di sekolah megah ditengah kota aku bercanda dengan Ida. Kita sering membicarakan hal-hal konyol yang benar-benar tidak masuk akal, namun itulah kita. Disela-sela gelak tawa kami, ada sesosok lelaki yang muncul dan langsung menggenggam tanganku untuk ditarik secara paksa mengikutinya. Ya, dialah Hery, pacarku. Dia tak pernah memperlakukan ku sebagai seorang pacar yang biasanya selalu diberi tindakan halus seperti Ratu. Dia menarikku menuju lorong yang berada di koridor atas. Sama saja perlakuannya setiap hari kepadaku. Hanya tengkar,tengkar, dan tengkar.
Sudah 1 tahun kami berjalan. Dulu, kami bisa bertemu karena dia sangat bertingkah baik dan memberiku perhatian setiap saat. Bulan pertama hingga berjalan bulan keenam dia memperlakukanku layaknya seorang pacar. Namun entah kenapa dibulan selanjutnya dia mulai mengacuhkan ku, aku terus berusaha mempertahakannya hingga 1 tahun ini. Aku tak tau apa alasannya, apakah ia bosan dengan ku atau mungkin.... Ahh sudahlah, aku tak ingin berprasangka buruk dengan orang yang kusayangi.
Malam hari, sebuah mobil parkir didepan rumahku. Hery datang dengan muka yang teramat kesal. Aku hanya bisa terdiam dan tertegun melihat wajahnya yang seperti itu. “Ada apa?” tanyaku. Hery tak menjawab, melainkan semakin mendekatiku dan “Plaaakk…”, begitu saja ia menamparku tanpa kutahu apa salahku. “Kita putus!” . Aku tertegun tak bisa berkata layaknya patung. Tetes demi tetes air mata ku berlinang. Aku tak mengerti apa mau Hery kepadaku. “Megapa? Apa salahku? Apa gunanya kita bersama selama 1 tahun jika ini akhirnya! Semua sudah kuberikan padamu, apa yang kurang dariku!”. “Aku hanya ingin sendiri, kita putus. Aku capek sama kamu! Hanya begini saja hubungan kita daridulu, aku bosan”. Dengan terpaksa aku meng-iyakan permintaan nya karna aku tak ingin ia bermain tangan denganku lagi. Ia lagsung pergi begitu saja tanpa berkata apapun.
Keesokan harinya, aku menagis seharian dipangkuan Ida. Tak ada hentinya ku menagisi sesosok lelaki yang bertingkah seenaknya kepadaku. “Bodohnya mengapa aku menangis”, ucapku dalam hati. Ida berusaha menenangkan aku. Saat istirahat kedua aku berencana ke kamar mandi untuk mengusap wajahku yang sembab akibat menangis. Ditengah aku berjalan, aku melihat Hery berjalan menggandeng cewe lain menuju koridor. Aku mengikuti dan menghentikan langkah mereka, dengan spontan aku menampar Hery “Plaakkk….” . Lalu aku pergi begitu saja dengan perasaan kesal yang mendalam dan isak tangis yang tiada henti seperti air mengalir. Sejak saat itu aku dan Hery tidak pernah berbicara lagi, bahkan ketika bertemu kami sama-sama memalingkan muka.
Satu minggu, satu bulan, hingga satu tahun berlalu, aku tetap tak bisa melupakan kejadian bersama Hery. Rasa sakit hati, trauma dan benci berkecamuk di hati ini. Pelajaran disekolah pun tak kusandang dengan baik. Nilai rapotku semakin turun tiap semesternya. Hingga akhirnya Ujian Nasional tiba dan semua perasaanku tidak berubah sama sekali. Aku memang membenci Hery, tapi bagaimanapun dia sudah mengisi hidupku selama 1 tahun, bisa dikata aku juga masih menyayanginya. Tapi, jika dipikir selama aku menjalin hubungan dengan Hery , hanya pengaruh negatif yang kudapat. Aku menjadi remaja nakal karnanya.
Hari pertama hingga terakhir Ujian Nasional kujalani dengan perasaan yang tidak tenang. Aku hanya pasrah dengan hasil akhir nantinya. Dihari terakhir aku Ujian Nasional, aku tidak langsung pulang melainkan pergi ke Bandung untuk sekedar membersihkan segala kotoran yang ada dibenakku. Tak kusangka ditempat yang ku kunjungi aku bertemu dengan Hery. Kali ini dia sendiri dan aku rasa dia sedang melakukan hal yang sama denganku. Ingin rasanya aku mendekatinya dan mengajaknya bicara, tapi setelah kupikir untuk apa aku berbuat seperti itu. Tak lama aku langsung berbalik badan dan kembali ke mobil untuk mencari tempat tenang lainnya. Namun, ketika aku membalikkan badan, suara berintonasi tinggi memanggil namaku “Ridaa…!!”, teriak Hery. Akupun kaget dan spontan menoleh. Hery mendekat, ia langsung memegang kedua tanganku dan berkata “Sedang apa kau disini?”. Aku yang sedari tadi diam tak tau harus menjawab apa. “Hai? Ada nyawa nya kan? Yuk duduk disana”. Aku pun mengikutinya dengan tetap membeku seperti es.
Kami pun duduk dikursi sederhana dibawah pohon beringin. Aku masih termenung akan semua ini. Lalu Hery membuka pembicaraan “Hai da, lama kita tak bertatap muka seperti ini. Rindu rasanya. Bagaimana keadaanmu?”. “Emmm, ke..keadaanku kau bilang? Apakah kamu tidak melihat bahwa aku sedang sakit karnamu?” spontan aku menjawab sinis kepada Hery. Hery pun tertegun dengan jawabnku “Aku minta maaf da, aku khilaf dengan semua yang sudah aku lakuin ke kamu. Aku bener-bener nggatau harus nebus kesalahan ku pakai cara apa. Aku masih sayang kamu da. Maukah kamu memaafkan ku?” “Sayang kamu bilang? Tau apa kamu tentang sayang? Sudah lah Her, tipu muslihatmu sudah tidak mempan lagi bagiku. Cukup sekali aku masuk kedalam lubang busukmu itu!”, ucapku sambil pergi meninggalkan Hery dan kembali ke Jakarta.
Satu bulan pun berlalu, pengumunan hasil Ujian Nasional telah diumumkan. Tak kusangka, walaupun aku mengerjakan dengan penuh kegalauan dan tangisan, tetapi hasil ujian ku tidak seburuk yg kuduga. Aku mengambil keputusan untuk berkuliah di UI jurusan Hubungan Internasional, dan tak kusangka lagi aku keterima disana. Puji syukur…
Tak terasa 1 bulan berlalu dan aku sudah tidak terfikir Hery lagi. Namun, walau begitu perasaan trauma untuk menjalin hubungan dengan seorang lelaki tetap ada didiriku. Aku menganggap semua laki-laki itu sama dengan Hery, hanya bisa kasar dan mengajari ku hal-hal tidak baik. Aku sudah tak mengerti apa itu arti cinta dan untuk apa cinta diciptakan Tuhan. Aku hanya berharap sebentar lagi Tuhan menghapus kata-kata cinta, sehingga aku takkan jatuh cinta lagi dengan siapapun.
Satu tahun berlalu, aku masih mengidap penyakit trauma yang Hery berikan padaku. Dikampus aku tidak memiliki teman dekat seperti Ida. Ida mendapat beasiswa Oxford, sehingga kita berpisah tetapi tak lupa kita berkomunikasi.
Disaat jam kosong, aku pergi ketaman belakang kampus. Ditempat duduk dibawah pohon besar aku duduk dan mengerjakan tugas ku. Tiba-tiba Darma duduk disebelahku. “Hai da, lagi apa? Serius amat?”. Darma adalah temen sekelas ku yang selalu dan selalu ganggu setiap aktifitas ku. “Ngerjain tugas”, jawabku ketus. “Aku duduk sini ya?”, tanyanya. “Duduk aja kali, ini milik umum bukan milikku.”
Sempet denger isu dan gossip yang gatau diterpa angin muson mana yang bilang kalo Darma itu naksir aku. Aku sih denger kabar itu cuma biasa aja. Darma itu orang nya nggak menarik banget dan banget. Apalagi aku juga masih dalam masa-masa trauma yang tak terhentikan.
Hari demi hari berlalu, sudah 2 tahun berlalu. Tak kusangka sekarang aku sudah waktunya magang. Aku bingung karna selama aku kuliah, aku benar-benar tidak memiliki teman satupun. Hal itu karna aku menutup diri dengan siapapun dan tidak bergaul. Hanya ada satu anak yang aku tau, Darma. Tapi aku masih takut untuk kontak langsung bersama anak laki. Tidak diduga ternyata khusu kelasku untuk magang dilakukan pengundian secara acak, dan juga harus laki-laki dengan perempuan karena isu nya sekarang sedang banyak kejahatan. “Pfffttt… Undian segala”, kataku lirih.
Setelah mengambil undian, aku kaget dan benar-benar kaget! “DARMA??!!!?!” . “Oh Tuhan.. Kenapa aku harus magang bersamanya.. Tapi ini kan udah 2 tahun, jadi nggak mungkin dia masih naksir aku”, ucapku dalam hati. Saat itu juga Darma langsung mendekatiku. “Hai da, kita magang bareng ya? Gimana enaknya nih?”, ucapnya. “Gimana apanya?”, ucapku polos. “Hmmm, yaudah kita bicarain nanti ajadeh, kamu lagi nggak sinkron rupanya, hehe”, jawab Darma.
Sepulang kuliah, aku dan Darma menaiki sebuah mobil sedan hitam milik Darma. Di dalam mobil aku dan Darma diam, tak ada yang memulai percakapan. Aku sendiri juga masih terlarut dalam trauma, padhal sudah 3 tahun berlalu tapi trauma itu tak kunjung hilang, Suasana dimobil hening seperti kuburan. Hih serem. Hingga akhirnya Darma mengatakan satu kalimat, “Dimana alamat rumahmu?” . “Hah? Rumahku? Untuk apa?”, jawabku kebingungan. Darma menjawab “Ya bicarain magang kita, udah H-seminggu loh. Sekalian nganterin kamu pulang.” Aku pun bingung, daripada rebut mending langsung aku kasih alamat rumahku.
Sesampai dirumah, Darma langsung duduk diruang tamu utama rumahku. Aku pun masuk kamar untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Saat aku keluar kamar, aku tidak melihat darma duduk diruang tamu. “Kemana tuh makhluk?”, batinku. Aku mencoba melihat di teras rumahku, ternyata dia berada disitu, “kenapa duduk disini? Kenapa nggak didalem aja?”, tanyaku. “Nggak deh, nggak enak. Kayanya dirumah mu lagi kosong dan sepi, aku nggak mau orang berfikir negative kalau aku masuk rumah mu disaat kosong”, jawab Darma. Aku hanya bisa menyerngitkan alis dan berkata “Ada kaliiii, pembantu ku ada didalem tapi didapur, jelas aja kamu nggak tau. Santai aja kali, yuk masuk daripada diluar nggak enak”, jawabku santai.
Aku heran dan benar-benar heran. Gilak! Masih ada ya jaman sekarang anak cowo nggak mau masuk rumah cewe kalau lagi kosong. Kereeennn! Dan lebih herannya lagi, nggak tau kenapa aku merasa tenang disampingnya padahal baru pertama aku berdua dengannya. Biasanya aku nggak berani deket cowo setelah rasa trauma itu muncul. Tapi ini beda, jangan-jangan.. Ah! Apaan sih.
Selama 2 jam kami berbincang mengenai rencana kita untuk magang dimana dan bagaimana ngekostnya. Alhasil, kami magang di Depok. Untuk masalah kost-kostan kita tidak perlu ngekost karena di Depok ada rumah budhe aku. Aku dan Darma diperbolehkan untuk menginap selama 3 bulan disana. Lumayan lah makan gratis, tidur gratis.
Pertengahan semester 6, aku dan Darma mulai magang di Depok. Barang-barang kami juga sudah kami baawa ke Depok satu minggu sebelum magang. Selama magang, aku dan Darma tidak banyak komunikasi. Tapi entah kenapa, hatiku merasa selalu tenang didekatnya. Jika dia kembali ke Jakarta untuk pulang dan aku tetap di Depok, aku selalu khawatir dengan keadaan dia. Seriring berjalannya waktu, setiap aku berangkat ke tempat magang bersama aku terasa gugup. Jantungku berdebaran seperti bedhuk masjid yang sedang dipukul, darah ku seakan berhenti layaknya saluran air yang tersumbat batu besar.
Hari demi hari berlalu. Sudah satu setengan bulan kami magang. Tidak ada kejadian special diantara aku dan Darma. Tapi, dimalam hari yang sedang dipenuhi oleh indahnya bintang-bintang, Darma mengajakku keluar untuk sekedar cuci mata. Disaat itulah kita saling bertukar cerita. Dan disitu juga aku mulai terbuka lagi dengan orang lain. Aku menceritakan bagaimana masalalu ku bersama Hery. Begitu juga Darma, dia juga menceritakan masalalu nya. Bagiku, mala mini adalah malam indah yang pernah kujalani seumur hidupku.
Masa magang kami telah berakhir. Perasaan trauma yang aku alami hari demi hari semakin menciut, bahakan hilang. Itu semua berkat Darma yang selama 3 bulan membuat hidupku menjadi berubah dan kembali seperti dulu namun dalam tipe yang positif. Walaupun sudah tidak magang, tapi kita masih sering keluar berdua dan belajar bersama tanpa ada yang mengungkapkan isi hati masing-masing. Hatiku merasa bahagia ketika didekatnya, aku merasa nyaman ketika ia memperhatikanku dan menasehatiku untuk melupakan masalalu ku dan semua trauma ku. Tapi entah mengapa Darma tak menunjukkan jika ia memiliki rasa kepadaku seperti 3 tahun yang lalu.
Malam ini langit penuh dengan bintang yang bertaburan seperti gula. Sungguh indah angerah Tuhan. Aku memandang langit dengan penuh penghayatan.. Aku memikirkan Darma yang entah sedang apa ia sekarang. Setelah 2minggu aku tidak keluar dan tidak berhubungan dengannya, Darma tidak ada kabar selama 3 bulan.Aku khawatir dengannya. Aku merindukannya Apakah aku jatuh cinta pada Darma? Tapi apa mungkin aku bisa jatuh cinta lagi setelah sekian lama aku jomblo? Dan jika iya, apakah Darma memiliki rasa yang sama seperti aku?
Tak terasa siding skripsi sudah didepan mata. Ketika aku akan sidang, darma menghampiriku dan berkata “Semangat da, kamu pasti bisa”. Ya, aku memang sangat gugup. Darma sendiri sudah sidang lebih dahulu ketimbang aku.
Dihari kelulusan, aku sama sekali tidak bertemu dengan Darma. Aku hanya melihatnya disaat namanya dipanggil kedepan. Setelah itu, aku sudah tidak bertemu lagi. Aku mencoba bertanya ke temen-temennya namun tak ada satupun yang tau. Aku memutari kampus, dan tidak bertemu dia. Aku sedih dan larut dalam kesedihan karena dihari kelulusan , sosok yang mulai aku sayangi tidak ada. Sosok dimana telah merubah kehidupanku menjadi lebih baik dan mengajariku segalanya. Orang yang telah membantuku bebas dari yang namanya “kutukan trauma”.
Keesokan paginya, aku membuka mata dan kaget karena melihat sekeliling kamarku penuh dengan bunga mawar. Didepan rumah berdiri sesosok lelaki yang tak kusangka itu adakam Darma. Ia membawa bunga mawar dan secarik kertas yang bertuliskan “maaf”. Disitu aku terlihat bingung, dan Darma membuka mukut berkata “Maafin aku da, aku menghilang 3bulan dan disaat kelulusan aku tidak ada disampingmu. Aku sedang mengurusi sebuah perusahaan dan mempersiapkan segalanya. Sudah 3 tahun aku menyimpan perasaan kepadamu Da. Tapi aku urungkan niatku untuk menjadikanmu pacar. aku ingin menjadi orang sukses dan mapan. Aku menyiapkan segala nya untuk masa depanku, sekarang hanya tinggal oendamping hidup. Rida, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”,ujarnya lirih namun jelas.
Aku hanya bisa termenung dan tidak menyangka bahwa Darma akan melakukan hal seperti ini. Dan aku menjawab “Tidak ada kata terlambat. Aku bersedia”.
Semua kejadian ini membuat ku sadar bahwa ternyata Tuhan punya rencana yang lebih baik. Sekarang aku tau apa itu artinya cinta dan untuk apa cinta itu.
Kembang kang abang mbranang, katiup angin semilir semilir nyadarake aku marang semangat lan tekad khas e arek STETSA. Mujudake angan kang meh ora bisa diwujudake pancen ora segampang munggah mudun tangga ing STETSA, nanging angan iku bisa kawujud tekan pengorbanan tenaga, wektu lan pikiran dening kita, ya. Kita, panitia Stetsa Specta Show 2016 sing nyoba mujudake angan e arek STETSA.
yo iki, Pengalaman kang ora bakal bisa tak lalekake .....
Udan deres lan sak botol banyu putih ngancani aku lan kanca kancaku. Dina iki, akhir wulan November calon ketua OSISku, Prastomo Wahyu Putra ngadakake rapat babagan SSS (Stetsa Specta Show) 2016. SSS 2016 yaiku pensi eksternal sing diadakake STETSA 2 taun pisan. Wektu iku, kita optimis bakal bisa nyelenggarakake acara kang megah, ngundang bintang tamu kang istimewa lan bisa mbanggakake STETSA. Nanging kita sik kepangan karo ambisi, ora mikir dowo, sakpenak e dewe lan sik durung ngerti opo opo. Akibat e pas konsultasi marang pembina akeh banget kaluputan. Luput marang anggaran dana, konsep acara lan sakpanunggalan e.
wulan Februari wes katutup, nanging kita durung entuk persetujuan marang sekolah, proposal direvisi ping sewidak jaran. Kabeh panitia bingung, stress, pegel, sumpek, kudu ngamuk sak wayah-wayah, durung bisa kerjo maksimal amarga kehalang acc proposal sing durung mudun. Akhir e sakwise rapat gede karo bapak ibu guru lan kepala sekolah, pihak sekolah mutusake gae ngepress anggaran dana SSS kurang luwih 50 jt an. Aku, Shasha, Prastomo lan Ero budhal menyang ruangan e Pak Budi kanggo njaluk tanda tangan. Dikancani Pak Doni, kita kasil entuk persetujuan. Alhamdulillah, rasane ati lego banget, mak plong rasane sampek kudu nangis. Metu tekan ruangan e Pak Budi aku lan kanca kancaku rangkulan, mbrebes mili lan podo mbatin “Bismillah, SSS 2016 barokah, Sukses, lan iso mbanggak ake sekolah” tepukan alon nang pundak nggambarake podo podo ngekek i kekuatan lan kapercayaan.
Crew SSS akrab e, uwis bener bener siap njalanake tugas abot iki. SSS 2016 iki acara eksternal pertama kanggo angkatanku lan adhik kelasku, dadi kita bener bener mulai tekan dasar. Nanging kita percaya marang 100 panitia sing makili impian 900 arek stetsa, yen kita saged nyelenggarakake acara kang paling dienteni iki. Wektu terus mlaku, SSS 2016 ditetapake Wulan Mei, tanggal 14 dino Sabtu tepat e. Meh saben dino mesti ono rapat kanggo bahas luwih jero babagan SSS iki. Marang SSS keakraban tambah raket, sing maune ora kenal dadi kenal, sing mau ne kenal saiki tambah kenal, sing maune gak seneng dadi seneng, ono pisan sing moro moro akhir e seneng senengan, jenenge.... Cinta Lokasi, yo gak rek? SSS iki yo ajang gae sing jeneng e modus, nggolek nggolek kesempatan kanggo metu bareng, mangan bareng, lan kerjo bareng iku kabeh gak masalah nanging kudu pancet fokus marang tujuan awal.
Yen pelangi nduweni werna werni, abang, oren, kuning, ijo, biru, lan ungu panitia SSS yo nduweni sifat kang werna werna. 2 wulan terakhir nyedek i tanggal 14 mei dadi dina dina paling nyumpek i. Akeh banget banget masalah sing dihadepi. Mulai tekan masalah karo ekskul, masalah bintang tamu, lan masalah DUWIK. Sing paling ora bisa tak banyangno yaiku piye carane kita nggolek duwit atusan juta nanging namung nduweni wektu 2 wulan? Arek Sponsor pontang panting golek bantuan dana menyang ngendi endi, ngalor ngidul ngorbanake wektu sinau nanging tetep mboten ngelalekake kewajiban minangka pelajar iku gak gampang, ora kabeh arek iso ngelakokake.
April, wulan terakhir kanggo kerjo maksimal sakdurung e perang, persiapan digencarake. Arek bagian humas promosi menyang ngendi endi, saben sekolah dititipi tiket mulai tekan SMP, SMA lan Universitas sak Malang raya. Parkembangan teknologi ya dimanfaatno kanggo promosi, SSS nduweni akun dewe ning Instagram, Twitter, Ask.fm lan website, papan iklan gedhe yo dipasang ing pinggir dalan kanggo nginformasikno babagan acara Spektakuler e STETSA iki. Alhamdulilah ben dina akeh tiket SSS sing payu. Wiwitan April tiket gelombang 1 sing diregani 30 ewu kasil ludes diserbu 1000 calon penonton. Gak heran tiket SSS laris, amarga sopo se sing gak ngenali Rizky Febian? Anak lanang tekan artis kondang Sule, sopo sing gak kenal Barsena Berstandhi? Penyanyi ganteng anyaran kang nduweni suwara merdu bak Yamawidura, sopo sing gak kenal Yura Yunita? Artis ayu kang dadi kanca duet e Glenn Fredly. Yura Yunita, Rizky Febian lan Barsena Berstandhi yaiku bintang tamu SSS 2016 sing tekan jakarta, ana maneh tambahan 1 bintang tamu tekan malang sing iso nggemparake panggung Gracak yaiku DJ Dhana. Ora luput, ning acara SSS 2016 iki yo nampilno artis internal STETSA. Puluhan pengisi acara sing nduweni kualitas jos gandos siap 86 kanggo ngehibur ewonan penonton ning SSS.
Mei, wulan kang paling tak wedeni uga paling tak emteni ing sak dowone uripku. Ing SSS aku nduweni kontribusi dadi Ketua bidang Acara kang ngurusi sembarang kalir e tentang ekskul lan pengisi acara sing tampil, ngurusi bintang tamu mulai tekan pesawat, panginapan e nganti mangan e, mikirno kapan acara kuwi diwiwti nganti dimarekake. Utekku meh pecah ngerasaake kabeh iki. Ditambah maneh omahku adoh e masyaallah, Turen-Malang mbutuhake 1 jam ngliwati dowone dalan sing mbendino tak liwat i, 32km nambahi rasa bosen lan sumpek. Akhir e, aku lan keluargaku mutusno gae aku Kos ing cedhek sekolah. Lumayan, aku wis ora wedhi dibegal ning bis yen mulih bengi tekan sekolah.
Tiket gelombang 2 sing diregani 35.000 wis kasil ludes maneh, 2000 tiket entek resik ing awal Mei. Wis ono 3000 calon penonton sing bakal ngeramekake Graha Cakrawala UM. Kabeh panitia fokus kerjo miturut kawajibane, nanging tambah cedek dino, tambah panas ati lan pikiran, keadaan sing paling tak benci nalika para general pada metenteng tukaran, adu argumen, lan sentak-sentak an. Kadadean iku ora jarang kedaden, salah tangkep maksud iso ngakibatake kesalahan ingkang fatal, akhir e apa maneh kang iso iso dilakuno selain nangis? Iyo, nangis iku spontan pas wayah-wayah ngeneiki.
Seminggu sakdurunge SSS pelajaranku wes ora pati tak reken, masalah teko sak wayah wayah, kabeh iki nguras pikiran lan perasaanku. Ora jarang aku nyetak i koncoku dewe, ora jarang aku nlangkupake tangan ning raiku, ngempet banyu kang wis meh numplek ngalir ing pipi. Nanging wayah aku nutup mripat kanggo ngasuh sadilut, aku mbayangno rai arek STETSA ingkang bungah, bangga lan sumringah. “seminggu maneh, aku kudu berjuang. Ora mung kanggo kabahagiaanku dewe, nanging yo kabahagiaane kanca-kancaku, adhik kelasku, guru-guruku, lan STETSAku” ya, aku kudu tatag. Dina dina nyedheki SSS iki kapercayaan lan semangat paling dibutuh ake. Egoisme buak adoh adoh, individualis sepak adoh adoh. Kerjasama, doa lan tekad simpen, lakokno barang bareng. inshaAllah kita saged ya rek?
Sawengi sakdurung e perang diwiwiti... ndredeg, adem tangan, lan abange mripat dirasakake kabeh crew SSS. Turu wis ora penting saiki, kopi iso dadi penyangga mripat gak katutup. Bengi wis kaya awan, kabeh panitia nglakokake lakune pas banget karo posisine. Panggung wis siap, lighting wis jos gandos, pengisi acara sampun siap tempur, artis wis bubuk anteng ing hotel. nanging panitia mak tratap, ana ae sing gak iso turu ngenteni dina Spektakuler sesuk, ya termasuk aku, hehehe.
Sabtu, 14 Mei 2016. Mrinding rasane pas ndelok HP ana alarm tulisane “THE BIG DAY” aku jegegal nyamber anduk lan mlayu nang jedhing. Adus kramas wajib rasane ing dina spesial iki. Aku mlayu nang dalan arep nyegat angkot AL kang iso nggawa aku nang Graha Cakrawala Kanggo nggelar Gladi Bersih pengisi Acara. Sakwis e tekan panggon e, Angel Koordinator bagian Internal sektor wis siap, para pengisi acara yo wis pada akeh sing teka, nanging....... vendor durung padha tangi, aku bingung gelimpangan. “kudu yakpo maneh iki? Wong vendor rung padha tangi. Gladi ora bisa di wiwiti” ujarku marang angel “duh Nov, yokpo maneh? Arek arek wes teko. 15 menit maneh pokok kudu wis diwiwiti!” Angel kepangan emosi amargi gupuh. Ning keadaan kaya ngene wis ganok maneh cara liya, sakliyane NYOGOK. Aku budhal nggawa kerdus isine jajan lan nenteng banyu putih “pak, nuwun sewu, niki jajan kalian banyu putihnipun. Gladinipun napa saged diwiwiti 10 menit malih?” aku mesem menyang bapak bapak vedor mau, “yo ngene a, dikek i mangan karo ngombe, kerjone cek semangat, entenono 10 menit maneh nduk” hmm rasane kobong ati iki saking pegel e.
Acara Gladi ora sakmulus karo apa sing tak pikirake, bareng aku napakno tlapakku ning panggung aku sik tas sadar yen panggung e ora sak gedhi bayanganku. Kabeh pengisi acara protes, ngamuk nang aku. Aku lan angel mung bisa ngelus dhadha, gak onok maneh sing iso dilakukake slain nrimo sentakan sentak an kan nglarani ati iki. Pentas kudu tetep digelar, akhir e kita saged mbujuk lan ngeyakino pengisi acara kanggo pancet bisa tampil ing panggung iku.
Srengenge wis arep ninggalake bumi, lighting padang nyorot ing peti gedhe kang dadi dekorasi utama ing tengah pangung, Acara SSS 2016 dipun wiwiti........ Ora bisa tak ceritakake saking spektakuler e, 5000 penonton kasil ngguncang Graha Cakrawala! Kabeh pengisi Acara SSS nampilake penampilan ingkang luar biyasa, Rizky, Barsena, Yura lan DJ Dhana kasil ngehipnotis penonton, ngasilake jeritan, dobrakan lan tepuk tangan paling meriah kang bisa tak rasaake ing uripku, Subhanallah, Alhamdulillah. Wengi iku sikikul lemes, mripatku abang, rambutku gak karuan, nanging atiku mesem. Kita, 100 panitia SSS akhir e saged mujudake impian kita, impian STETSA. STETSA SPECTA SHOW 2016 Sukses!
Proses ingkang ngancani mlakune sawijine rencana niki pancen dawa lan ana liku liku, bologan, lan cobaan. Nanging proses niku saged nuntun kita kanggo ngentukake pelajaran. Bak berlian kang nyingit ing weteng e bumi, gae ngentuk ake berlian kuwi kita kudu ngorbanake tenaga, wektu lan pikiran. Nikmati lan rasakno proses iku, bakal ora bisa mbok lalekake ing njero pikiran lan atimu.
Aku bertemu dengan bintang. Saat langit malam yang kelam. Sunyi. Sebuah sinar menyelirit di bawah hitam. Kecepatannya seperti capung yang melesat. Menukik tajam dan jatuh ke bumi, tepat didepanku. Mati. Pikirku dalam hati. Namun saat aku membuka mata. Kudapati bintang itu melayang di hadapanku. Ia hanya sebesar jantung. Bersinar sangat terang diantara gelap malam. Dia hidup.. suaraku dalam lirih. “siapa kau?” sebuah ucapan keluar darinya. Aku menerka bahwa ini hanyalah ilusi. Mana mungkin ada bintang, yang jelas-jelas benda mati bisa berbicara? Lalu aku, dengan kikuk mengikuti semua skenario ini. Berkatalah aku pada bintang itu,
“Aku Dev, dan kau pula siapa?”.
“Aku, adalah bintang ketujuh. Sebuah keadilan, yang paling cerdas dan bijaksana diantara seluruh bintang jagat raya”
“wah, hebat sekali. Sayangnya, kau terlihat paling sombong dari semua bintang”
“Berani sekali kau, Nona. Tidak bisa dipungkiri, akulah yang paling terang. Bawalah aku ke tempatmu. Saat kau dapati disana gelap, maka aku akan menerangi seluruhnya”
“baiklah, tetapi jika kau bisa membuat aku tertawa, maka aku akan membawamu”
Kemudian, dengan satu tindakan saja, bintang itu mampu membuat Aku tertawa. Membuat tubuhku terguling-guling diatas rerumputan. Benarkah bintang ini tidak akan mencelakaiku? Gumamku saat membawa bintang itu ke rumah. Aku membuka pintu. Benar saja, rumahku yang belum terjamah hari ini sedang gelap gulita. Dengan gerak yang sangat cepat, bintang itu terbang menyelinap. Ia bersinar dengan terangnya. Menyilaukan. Tanpa lampu, tanpa matahari pagi. Dia tersenyum sangat lebar, bahwa dia berhasil membuktikannya kepadaku. Perlahan Aku berjalan menuju saklar. Seperdetik lampu menyala.
“mengapa kau menghidupkan benda itu?”
“lampu ini? Tentu saja. Mana mungkin aku membiarkanmu menyinari rumah ini sepanjang malam”
“ini sudah tugasku. Menghiasi malam yang gelap”
“kembalilah ke tempatmu di langit. Aku ingin tidur”
“tidak. Biarkan aku menyinari tidurmu”
Aku mengalihkan pandangan. Baranjak ke tempat tidur dan berharap esok pagi, mimpi ini akan segera berakhir.
***
Sinar matahari merayap ke wajahku. Hangatnya membuat Aku terbangun. Saat aku beranjak, suasana hening dan sepi. Benar sekali. Malam itu hanyalah ilusi. Kemudian kulanjutkan rutinitas, Aku menuntut ilmu di kota. Semester pertamaku. Aku mendapati teman baru. Seorang lelaki dari kelas yang sama.
“siapa namamu?”.
“aku Dev, dan siapa pula namamu?”.
“aku Rey, seorang yang menjunjung tinggi keadilan, bijaksana dan paling cerdas di sekolah ini”.
“wah, hebat sekali. Sayangnya, kau terlihat paling sombong di sekolah ini”.
“berani sekali kau. Tidak bisa dipungkiri, orang cerdas memang selalu dihujat. Kau akan tahu, saat aku menjadi juara di sekolah ini nanti”.
“baiklah, jika kau bisa membuat aku tertawa. Maka aku akan mengakui bahwa kau memang cerdas”.
Kemudian, dengan satu tindakan saja, Rey mampu membuat aku tertawa. Membuat tubuhku terbang melayang. Yang benar saja, aku merasakan De Javu. Dia sama seperti bintang itu. Dari matanya terpancar sinar keadilan yang sangat kuat. Dari pembicaraannya terlihat jelas kebijaksanaannya. Ia memiliki aura kecerdasan yang luar biasa. Ia memiliki selera humor diatas rata-rata. Meski terselip arogansi dan kesombongan dalam tindakannya. Siapa dia? Diakah bintang ketujuh seperti malam itu? Bintang yang menyinariku sejenak namun bisa membuatku jatuh hati...