Jangan Sampai Dunia Memperbudakmu
Ya, dunia.
Dunia adalah tempat persinggahan kita, manusia. Kita adalah ciptaan yang berakal, makhluk yang paling tinggi derajatnya dibanding makhluk lainnya. Makhluk yang diciptakan untuk beribadah kepada Robb kita, Allaahu robbil ‘alamin.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Dunia lah tempat kita bercocok tanam untuk mempersiapkan kehidupan yang sesungguhnya kelak, kehidupan yang kekal abadi, penuh kebahagiaan dan nikmat yang hanya Allaah berikan kepada hamba-Nya yang taat. Itulah kehidupan di syurga.
Dunia bukanlah tujuan kita, tempat kita menghabiskan kesibukan hanya demi mencapai asa dan cita-cita serakah. Dunia lah wadah untuk menuju tujuan kita yang sebenarnya, menuju tempat kita kembali, negeri akhirat.
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ [1]
Dunia penuh dengan gemerlapnya kesenangan. Dunia penuh dengan godaan untuk bermaksiat kepada Allaah, mengingkari tujuan kita yang diciptakan-Nya.
Robb kita tidak membutuhkan kita, tetapi kita lah yang membutuhkan-Nya.
Bekal yang kita peroleh, akhlak, perbuatan, perkataan, amal, dan semua yang kita kumpulkan di dunia ini akan kembali kepada kita, akan menjadi saksi saat kita kembali, akan menjadi putusan apakah kita layak mendapatkan kehidupan di syurga atau sebaliknya.
Manusia tidak dilarang untuk bersenang-senang di dunia, akan tetapi jangan sampai lupa akan tujuan ia diciptakan, jangan sampai terlena apalagi diperbudak oleh dunia.
Kita diciptakan dengan kesempatan sekali di dunia ini. Kesempatan untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Jika kita melewatkan kesempatan ini begitu saja, maka tak kan berguna kelak penyesalan karena ia tak kan terulang kembali.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata [2],
“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir. Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu, sebagaimana dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“[3]
Artinya mau sebahagianya seseorang di dunia ini atau berhasilnya seseorang di dunia ini, maka jangan sampai lupa bahwa tujuan kita diciptakan bukan untuk dunia, bukan untuk terlarut dan mabuk dalam kesenangan yang ada didalamnya, tetapi gunakanlah sebaik-baiknya.
[1] HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.
[2] Dalam kitab kitab “Igaatsatul lahfaan” (1/37).
[3] HR al-Bukhari (no. 6072) dan Muslim (no. 116).