Keni
will byers stan first human second
Misplaced Lens Cap
dirt enthusiast

oozey mess
🪼
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
One Nice Bug Per Day
AnasAbdin
almost home
art blog(derogatory)

blake kathryn
taylor price
noise dept.

Kiana Khansmith
No title available
Jules of Nature
Acquired Stardust
Peter Solarz

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from France
seen from Spain

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from United States
@unpredictablemoment
Sepagi ini ada rindu yang sulit kujelaskan hadirnya. Ada harap yang terlampau tinggi bukan pada tempatnya. Ada angan yang semakin sulit untuk didekap. Dan sayangnya, masih saja kamu penyebab semuanya.
Hujan Mimpi
(via hujanmimpi)
Diatas langit tidak ada langit. Mereka meluas dan meninggi bersama. Tingkatan itu hanya bikinan kepala manusia. Langit tidaklah angkuh, dia hanya dirinya.
(via mardianina)
Aku Yang Sungguh Perempuan Atau Kau Yang Sungguh Lelaki
Malam ini aku ingin terlelap lebih cepat Kali ini aku benar-benar butuh istirahat Tuan Wajahku sudah terlampau pucat Beberapa pil pahit terpaksa harus ku telan
Tak usah berfikir yang macam-macam Kau pikir aku hendak bunuh diri karena patah hati? Tolonglah jangan beranggapan demikian Aku hanya ingin tidur lebih nyaman serupa saat sebelum kau mengusik ketenangan
Aku tak setangguh kau Namun aku bukanlah seorang yang begitu mudah ingin mati hanya karena patah hati Ku akui, sampai pada saat ini kau masih separuh hati Separuh hidupku? Ku pikir tidak lagi setelah kau pilih pergi
Ku akui kau sungguh berani! Berani mematahkan hati perempuan berkali-kali Kau sungguh lelaki?!
Aku tak setangguh kau Ku akui, aku menangis saat kau lukai Namun aku bukanlah seorang yang gemar meratapi keadaan Aku tahu bagaimana cara tetap berdiri pun masih sanggup melihatmu berlari, Berlari dengan yang lain lagi
Ku akui kau sungguh berani ! Berani memberi perempuan luka bertubi-tubi lalu begitu saja meninggalkannya pergi Kau sungguh lelaki?!
Aku tak setangguh kau Ku akui saat kau tancapkan pisau dari balik punggungku berkali-kali Rasanya sakit sekali, sesak sekali, aku seperti tak sanggup bernafas lagi! Namun aku bukanlah seorang yang gemar berserah pada keadaan
Ku akui kau sungguh berani! Berani mengkhianati perempuan lalu membiarkannya berjalan sendiri saat ia hampir kau buat mati Kau sungguh lelaki?!
Tuan, Aku yang sungguh perempuan atau kau yang sungguh lelaki?
Tidak! Aku sungguh perempuan Kaupun lelaki, sungguh lelaki Entah lelaki yang harus kusebut dengan sebutan yang bagaimana lagi
Suaracerita : Tunggulah
Suara : @dokterfina Cerita : @kurniawangunadi Backsound : Jorge Mendez - Farewell
©Medan, 20 Agustus 2015
TUNGGULAH
Bila yang akan kamu tunggu itu sesuatu yang berharga, maka tunggulah. Karena mungkin tidak akan ada lagi yang demikian. Karena menunggu itu pun tidak untuk selamanya kan? Tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu kan?
Bila yang akan kamu tunggu itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat hidupmu akan menjadi lebih baik, maka tunggulah. Meskipun orang lain kehabisan sabar terhadap kesabaranmu, biarkan saja. Karena kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri dan sesuatu yang sedang kamu tunggu itu. Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti yang lebih cepat, tapi menunggu akan membuat sesuatu menjadi semakin berharga.
Bila yang akan kamu tunggu adalah sesuatu yang pasti datangnya, maka jangan ragu untuk menunggu. Karena jarak dalam satuan waktu akan mengajarkan kita bagaimana menahan hawa nafsu, bagaimana kita menahan diri, dan bagaimana kita mengisi waktu dengan hal-hal yang baik selama menunggu.
Dalam menunggu, kamu harus membayar dengan waktumu untuk sesuatu yang paling kamu inginkan. Sebuah harga mahal dari menunggu, karena waktu kamu tidak akan pernah bisa diganti bahkan dikembalikan. Dan untuk sesuatu yang berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu.
Dan bila kamu memintaku untuk menunggu, aku akan melakukannya. Karena aku tahu kamu sangat berharga dan aku juga tahu bahwa menunggu ini tidak selamanya, tidak akan menghabiskan seumur hidup.
Tunggulah sebentar. Sabar atau kamu akan kehilangan.
Sifat Manusia
Banyak cara untuk mengetahui sifat asli seseorang.
Kalau kata anak Kehutanan, bawa dia ke hutan.
Kalau kata anak Perikanan, bawa dia ke laut.
Kalau kata anak Organisasi, beri dia kekuasaan.
Intinya, sifat asli seseorang akan tampak ketika ia berada pada titik maksimal dalam hidupnya. Baik ketika berada di atas, maupun di bawah.
Mari tentukan pilihan kita. Hidup ini penuh pilihan, hanya terkadang kita sendiri yang mempersulit pilihan itu sendiri.
Selamat menjalani.
Dalam acara Ulang Tahun ke-54 Gerakan Pramuka, Kwartir Ranting Nanggung, 18 Agustus 2015 | Seto Wibowo
Menghargai Rasa Nyaman Seseorang
Terkadang pikiran kita suka terlalu usil ingin menilai ini, ingin menilai itu, atas apa-apa yang kita lihat. Padahal kita tidak benar-benar tahu apa sebab ia menjadi begini, apa sebab ia menjadi begitu.
Dulu, waktu pipi saya masih tirus, waktu saya masih hobi pergi ke kampus, di kelas saya ada seorang anak yang pengen banget jadi artis. Dia hobi bercerita ini itu yang wah, yang enggak masuk akal kata teman-teman kebanyakan, begitu pun menurut saya. Aneh, super susah buat percaya kalau itu benar nyata, dari cerita pernah ini, pernah itu, keturunan orang negeri ini, dan sebagainya.
Anak ini memang cukup berbeda dari kebanyakan, dia yang punya pedenya super tinggi, dia yang suka bercerita ini itu, yang memang sebenarnya terasa enggak logis kalau dipandang dari kesehariannya, dari apa yang nampak pada diri dia.
Sampai pada suatu hari, saat saya sudah lebih dekat dengan dia. Saya baru bisa menilai dia dengan lebih fair, sikap dia yang terkesan suka menceritakan hal yang enggak logis (dunia khayal dia) sebenarnya adalah penghibur bagi rasa kesepiannya. Dia butuh merasa dianggap, dia bosan merasa diremehkan. Dia rindu kasih sayang ayahnya yang entah menghilang ke mana.
Sejak saat itu, setiap kali dia bercerita hal-hal yang terasa berlebihan, dan otak saya ingin berteriak “cukup”, hati saya selalu menenangkan, “Ya sudahlah, begitu cara dia menghibur dirinya sendiri. Apanya yang salah, yang salah justru karena kita lebih suka menghindarinya.”
Dari dia saya belajar untuk menjinakkan otak saya yang kadang suka usil ingin menilai seseorang begini, seseorang begitu. Dari dia saya belajar jika saya ingin tahu tentang kenapa seseorang terasa “aneh”, lain dari manusia kebanyakan, saya butuh jadi teman dia dulu, mengenali lebih baik dulu, biar saya bisa menilai dia dengan lebih fair. Bukan sekadar menjadi yang sok merasa sudah tahu.
Setiap orang punya rasa nyamannya sendiri, dan setiap mereka punya kriteria pada siapa dia akan benar-benar ingin membagi sebenar-benarnya dia. Jika benar ingin tahu, jadilah teman dekatnya lebih dulu, bukan menjadi yang sekadar suka sok tahu.
Tidak semua orang bisa senyaman kamu bercerita ini itu perihal kehidupannya. Jangan jadi si egois yang menilai keseluruhan seseorang berdasar kemampuan kita, tapi nilai dia sesuai kesanggupannya.
(via jalansaja)
Aku jatuh hati pada caramu membahagiakan sepi. Saat orang lain sibuk mengoloknya, kau hadiahi ia bunga-bunga.
(via jalansaja)
http://askdoctorknow.tumblr.com’
Harus Diupayakan Kan?
Bekerja apa saja tentu saja baik, yang terpenting itu halal dan menumbuhkan kebermanfaatan. Tentu saja setiap pekerjaan itu indah, selama kita bisa bersyukur dan paham bahwa jalan itu yang sedang Tuhan gariskan.
Tapi, setiap kita punya impian kan? Setiap kita berhak untuk mengupayakannya kan?
Tentu saja takdir bisa membawa kita terlempar ke jalan yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Tapi tetap saja kita masih punya hak untuk melompat kembali pada track yang sudah kita rencanakan, kan?
Seringkali yang membunuh impian kita bukan takdir yang sedang Dia berikan, tapi diri kita sendiri.
Mumpung masih muda, mumpung masih belum terlalu banyak yang benar tanggungan. Apa salahnya mencoba untuk gagal, apa salahlah belajar lebih akrab dengan kegagalan. Yang membuat seseorang lebih matang bukan apa saja keberhasilan yang ia torehkan, tapi sering kali justru tentang seberapa banyak kegagalan yang ia terus lewati dengan senyum keyakinan.
Sukses itu bukan hasil akhir, sukses itu mampu mengalahkan ketakutan kita pada apa-apa yang belum tentu terjadi. Sukses itu mau mengupayakan dengan seluruh kemampuan atas apa-apa yang kita impikan, entah seperti apa pun hasil akhirnya.
Sesekali bertanya lebih rutin pada diri sendiri; “Jika aku kayak gini terus, apa mungkin impianku akan jadi nyata?”
Jika jawabannya selalu “tidak” barangkali sudah waktunya kita lebih gila dari manusia normal biasanya.
***
Nona, setiap pilihan selalu ada risikonya, mari mendewasa dengan lebih berani mengambil tindakan. Mumpung masih muda, mumpung belum banyak yang benar tanggungan. Nanti, kalau sudah semakin tua, tuntutan akan sebuah realita akan semakin dahsyat. Kita tidak akan bisa sesembarangan sekarang buat mengambil tindakan. Mari manfaatkan.
Tak perlu jadi orang normal yang menunggu-nunggu mengejar impian sampai ada partnernya, sampai siap ini, sampai siap itu. Itu trik jadul, kita tak perlu harus seperti itu juga. Nona, mari bergerak lebih sigap.
I’m not a pitiable creature. It’s just that I suffer very eloquently.
Joni Mitchell (via anditslove)
Cukup
Kalau kita terus menerus mencari yang terbaik. Mungkin, kita tidak akan pernah selesai membanding-bandingkan. Kata guruku, segala yang baik itu adalah yang tumbuh ke arah kebaikan. Tidak ada yang benar-benar terbaik, yang ada hanyalah yang bersedia untuk terus memperbaiki dan diperbaiki.
Lalu bagaimana kita bisa menentukan? Kata guruku, dasarnya adalah kecukupan. Manusia bisa jadi memiliki ribuan pakaian, tapi dia hanya bisa memakainya satu. Bisa jadi memiliki ratusan piring makanan dalam satu meja makan, tapi dia hanya akan bisa menghabiskan beberapa saja.
Ambilah secukupnya. Karena yang cukup itulah justru yang bisa memberikan kenyamanan. Bisa memberikan ruang gerak untuk terus tumbuh, untuk terus memperbaiki diri.
Pada akhirnya memang kita hanya perlu yang cukup.
©kurniawangunadi
Tak perlu apa-apa harus segera, harus cepat, yang ada cuma nyiksa diri sendiri. Sesanggupnya saja dulu, semaksimal yang kita bisa lakukan saja dulu. Pun begitu perihal menerima kenyataan.
(via jalansaja)
Menikah, Layak Diperjuangkan
Sungguh menikah itu sesuatu yang layak diperjuangkan. Bukan semata untuk menggenapkan tulang rusuk saja. Atau untuk menghiasi jari manis dengan sepasang cincin bertuliskan nama pasangan di belakangnya. Apalagi sebagai ajang unjuk gigi.
Tapi jauh di atas itu, menikah adalah perintah Allah. Satu alasan yang saya pikir cukup untuk dijadikan sebuah alasan. Karena ini perintah Allah, tentu tersimpan banyak kemaslahatan di baliknya. Dan yang saya rasakan, kemaslahatan-kemaslahatan tersembunyi di balik pernikahan sangat sangat banyak. Beneran.
Sepengalaman saya, menikah itu banyak mendatangkan kebaikan. Seolah pintu-pintu “ketidakmungkinan” yang sewaktu masih sendiri banyak terlintas, setelah menikah satu persatu terbuka dengan sendirinya. Dari arah yang tak disangka. Dan seringkali dari arah yang tidak diduga.
Saya menyaksikan dan merasakan sendiri, penggalan ayat “…Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya…” itu benar adanya. Mata, hati, dan tubuh ini menjadi saksi. Bahwa benar, Allah takkan menelantarkan apalagi menyembunyikan apa-apa yang sudah menjadi rezekinya.
Jika rezeki itu berupa materi, sungguh, saya merasakan sendiri bahwa Alhamdulillah hingga saat ini, kebutuhan selalu saja tercukupi. Materi selalu muncul dari pintu yang tak terpikirkan sebelumnya. Kekhawatiran-kekhawatiran yang dahulu menghantui pikiran, seolah kini berbalik menjadi sebuah pertanyaan: Apa benar dulu saya mengkhawatirkan ini sampai sebegitu khawatirnya?
Sekali lagi. Banyak hal yang sebelumnya tak terpikirkan sedikitpun, tiba-tiba Allah buka semua jalan keluar. Bahkan seringkali, membuat saya sendiri menganga. Dari situ saya belajar makna dibalik kata ‘yakin’. Dan saya juga mempelajari bahwa ‘keyakinan’ adalah sesuatu yang sangat berharga.
Sepengalaman saya lagi, menikah juga menarik batas-batas potensi setingkat lebih atas. Saat ‘tak boleh egois’, 'harus menjadi pasangan terbaik’, 'bagaimana makan esok hari?’, 'si kecil layak mendapat orang tua terbaik’ berpadu menjadi satu, seolah tulang-tulang yang sebelumnya terdiam kini jadi bekerja dua kali lipat dengan sendirinya. Entah dari mana juga datangnya energi penggeraknya.
Menikah juga mengajari arti empati, keteladanan, fastabiqul khairat, dan romantisme di level yang lain. Eksperimen-pembelajaran-evaluasi yang dilakukan setiap hari bersama pasangan, sedikit demi sedikit menaikan kapasitas diri, baik sebagai personal maupun sebagai pasangan.
Dan yang pasti, menikah itu menenangkan. Saat kamu tahu bahwa saling berpandangan itu berpahala, berpegang tangan berpahala, dan bercanda bersama pasangan itu berpahala, seger banget dah. Lebih seger dari sirup marjan.
Apalagi saat ada buah hati di sisi. Lebih memahami dan merasakan makna 'unconditional love’ dan kasih sayang orang tua. Kelelahan-kelelahan yang didapat saat mencari sesuap nasi seolah sirna seketika sesaat setelah melihat senyum si kecil. Satu senyuman yang menjadi penetralisir semuanya. Semua emosi-emosi negatif yang sedang bergemul dalam dada.
So, menikah itu layak diperjuangkan. Perjalanan hingga akhirnya sampai di pintu pernikahan jangan dipandang sebelah mata. Serius. Ini bukan tentang harus cepat-cepat menikah atau menunggu keren dulu baru menikah. Ini tentang bagaimana dengan kapasitas yang dipunya, kita merencanakan, mempersiapkan sebaik mungkin, dan memperjuangkan segigih mungkin proses ini hingga akhirnya sampai di pintu pernikahan suatu saat nanti.
Semangat berjuang.
© Zaky Amirullah
Kagak Dah
Bilakah kelak sudah mau mencari pasangan, lebih baik mencari dengan wajar saja, tanpa perlu berlebihan. Kalau udah jadi, udah sah, baru deh, nananinana. Dari pada awal-awal kebanyakan manis-manisnya, giliran udah nikah baru kelihatan bengisnya, suka bikin nangis, suka bikin kecewa. Kan wagu, kan ndak lucu.
Ndak apa dah sebelum nikah dibilang dingin, toh emang belum bagiannya, ngapain pula dilebih-lebihkan, sewajarnya saja. Kalau udah nikah, barulah. Dari pada sebelum nikah banyak janji-janji manis yang tinggi-tinggi, giliran udah nikah pusing ditikam kenyataan. Si istri yang sebelum nikah ngebayangin yang super wah, setelah nikah malah jadi uring-uringan. Ujung-ujungnya jadi hobi saling nyalahin, tengkar sana, tengkar sini. Kan kasihan cicak serta nyamuk di rumah ngelihat pemandangan tak sedap macam itu setiap waktu.
Sebagai penghuni setia rumah, nyamuk dan cicak juga perlu kita hargai keberadaannya. Masa iya kita tega ngebuat mereka mendapat tontonan yang enggak bermutu, kan kasihan generasi penerus mereka.