Misplaced Lens Cap
Xuebing Du
Three Goblin Art
Not today Justin

祝日 / Permanent Vacation

@theartofmadeline
dirt enthusiast
ojovivo

No title available

No title available
we're not kids anymore.
art blog(derogatory)
TVSTRANGERTHINGS
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

oozey mess
Claire Keane
No title available
cherry valley forever

shark vs the universe
taylor price
seen from Brazil

seen from Colombia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from Italy
seen from France
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from Brazil
seen from Vietnam
seen from United States
@usernamehalo
Even, punya temen suka traveling alam pun jenisnya beda2. Ada yang sukanya ke curug, ada yg suka pantai, ada yg suka hutan mati. Sedangkan aku suka hutan dan sabana hijau. Jadi, sekarang kalo ngajak temen lebih pemilih. Mana yang kira2 ga keberatan kalo aku ajak jalan ke suatu tempat. Meski ternyata ujung2nya ga cocok di waktu hehe
di hidup yang sepenuhnya milik Tuhan ini, semoga setiap dari kita selalu percaya bahwa skenario yang dituliskan-Nya adalah sebuah keajaiban.
Hidup yang sepenuhnya milik Allah ini, semoga setiap hal yang terjadi kita diberi keikhlasan dan kekuatan dalam menjalaninya. Karena sesungguhnya,
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyat · Ayat 56)
Aku suka doa ini, terdengar hangat, lucu tapi meaningful:
“Semoga nasi mu selalu hangat, semoga traffic light yang kamu temui selalu hijau, semoga selalu teduh disetiap terik, nggak pernah kekurangan dalam segi apapun, dikelilingi orang baik, lancar rezekinya, nggak susah tidur pas malam, semoga tiap kebingunganmu selalu ada orang yang membantu, semoga segala doa dan niat baiknya selalu dipermudah”
Bayangkan betapa powerful-nya doa yang diucapkan dengan hati yang tulus. Untuk itulah, mari kita tebar jala kebaikan di manapun kita berada. Mulai detik ini, perbanyaklah menabung kepada semesta, berbagi lebih banyak kepada sesama.
Aku sudah berusaha menjauh darimu, jika kita berpapasan kembali namun bukan untuk bersama. Tolong jangan pernah muncul diradarku! bahkan sedikitpun
Your healing is not erased by a bad week. You’re allowed to begin again, gently.
Also a valid holiday plan: choosing solitude, eating good, minding your peace, and enjoying your own quiet.
Nyatanya, ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan, meskipun kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Padahal kita sangat ingin. Karena memang bukan bagian dari yang ditakdirkan untuk kita. Atas sebab, Allah lebih tahu bahwa kita mungkin tidak bisa untuk menjaganya.
Atas sebab ketika sesuatu itu nanti kembali diambil, kita tidak kuasa untuk merelakannya.
Maka, jangan mudah berkecil hati atas yang demikian.
Tetap berbaik sangka adalah cara yang terbaik untuk menghibur hati atas kekecewaannya.
Tetap berbaik sangka adalah cara terbaik untuk tetap bersyukur meski hal tersebut tidak menjadi bagian dari yang ditakdirkan untuk kita.
Dan bersabar jauh lebih baik.
@azurazie
mau mengabadikan ketikan komentar seorang netizen di sebuah vt yang tibatiba lewat beranda. katanya gini :
@sr🌷:
Kak, tau gak… kadang kita terlalu sibuk bertanya “kenapa diambil?”, padahal harusnya kita belajar bilang “makasih Ya Allah udah dipinjemin.” kita lupa kalo semua yang kita punya didunia ini tu cuma titipan, termasuk orang-orang yang paling kita sayang sekalipun. Allah gak pernah salah, Allah gak mungkin ambil sesuatu tanpa maksud. dan ya, Dia lebih sayang mereka dibanding kita. lebih ngerti cara jaganya, lebih tau waktu yang pas buat bilang “cukup sampe sini." kamu kehilangan? pastii. tapi mari pelan-pelan belajar, ternyata kehilangan itu bukan hukuman, tapi cara Allah ngajak kita balik, ngajak kita sadar, kalo akhirnya semua ini tentang pulang. dan kamu tenang aja, kita akan nyusul kok, satu-satu. tinggal nunggu giliran. Allah itu Maha Tahu segalanya. bahkan sebelum tangismu jatuh, sebelum sesakmu tumbuh, Dia sudah menghitung semuanya. tidak ada yang acak, tidak ada yang terlalu banyak dan tidak ada yang terlupakan. kalau kaka mikir: “aku kuat gak ya?” jawabannya? kamu kuatt, kamu hebatt✨ Apa yang kamu rasa hari ini, apa yang kamu tahan tanpa suara, semua itu tidak sedang disepelekan oleh langit. Justru itulah bukti bahwa kamu dipercaya untuk membawa beban ini karena jiwamu setangguh itu. Allah tak pernah salah hitung, tidak lebih, tidak kurang, semua sakitmu itu tepat. Karena pada akhirnya bukan tentang seberapa besar sakitnya, tapi seberapa besar kamu bersedia untuk tetap hidup dan percaya bahwa Allah tahu dan sedang menyiapkan pelupur yg sebanding. Maaf yaa kak, kalau ketikanku diatas bikin kamu sakit hati. tapi kak aku cuma mau bilang semoga tidurmu pelan-pelan bisa nyenyak lagi, makanmu mulai banyak lagi, dan disetiap pagi matamu mulai tidak terlihat sembab lagi. kak aku gatau berapa lama pulihnya, tapi semoga kamu dan semua orang yang pernah kehilangan bisa bertahan untuk setiap doa yang dilangitkan, proud of you, terimakasih sudah bertahan🤍💐
satu lagi, dan mau nyimpen ini juga :
🥹🤍
Everything arrives,
and quietly, everything leaves.
People come close,
and one day, they may grow distant—
not out of harm,
but because everything in this life moves.
Even the version of you
who once burned with certainty
may one day become someone quieter,
someone who walks slower,
someone who chooses peace.
What remains
is not what was loudest,
not what burned the brightest,
not even what was built the biggest.
What remains
is what you chose to tend to.
The gentleness you returned to—daily.
The forgiveness you offered—again and again.
The small courage to stay kind
when it would’ve been easier to turn away.
It’s not intensity that lasts.
It’s the things you cared for,
even when no one was watching.
A heart that stays soft.
A gaze that still sees beauty.
A soul that keeps choosing
to love with both feet on the ground.
That is what remains.
Lagi riset konten tentang independent woman. Gue jadi ngebayangin kalau bahas sama Endah pasti juga mengundang banyak tawa karena beda umur dan beda POV.
Gue di usia 20 tahunan dulu tuh ngelihat independent woman sebagai cita-cita. Strong. Bisa apa-apa sendiri.
Tapi pas usia gue 30 tahunan pikiran gue jauh bergeser. Ada banyak PR yang perlu dikerjain orang yang biasa ngapa-ngapain sendiri. Salah satunya mengenal konsep hubungan yang lebih sehat.
Udah banyak konten di tiktok yang bahas perkara ini. Dari yang lurus dan scientific sampe aliran feminim energi yang gitu banget sih astagaaa.
Pada dasarnya, relasi yang sehat itu bukan tentang controlling siapapun. Ga melulu tentang nyalahin cowok insecure atau cewek dominan. Ga sesederhana If he want he would. Atau feminim energi memancing cowok provider.
Ada banyak belief yang perlu diurai. Ada kebiasaan baru yang perlu dipelajari lagi. Bukan cuma demi pasangan. Tapi demi keutuhan diri dan demi hubungan-hubungan sehat yang menumbuhkan.
Kapan hari pas gue lagi bahas tentang kecenderungan kita banding-bandingin diri dengan orang lain, Endah nyeletuk:
"Berarti kayak gitu tuh fase ya Bu?"
Kecenderungan membandingkan diri, avoidant, ketidakmampuan meregulasi emosi itu sebenernya bukan label yang menetap. Ia bisa menjadi fase selama kita terus belajar. Kita refleksi ke diri sendiri. Kita perbaiki diri kita.
Masalahnya nggak semua orang dapet cermin yang baik untuk refleksi. Kadang mereka punya self talk yang buruk, kadang lingkungan nggak mendukung dan seterusnya. Di sini kita butuh psikolog dan mungkin juga psikiater.
Media sosial mungkin glorifying trauma, glorifying hypervigilant dan hyper independent. Tapi kurasa kita perlu perspektif baru. Yang bikin kita trauma itu di masa lalu. Kita butuh masa depan yang lebih sehat.
The Social Function of Wealth
When we talk about money, the conversation often stops at numbers — income, savings, investments, returns. Rarely do we talk about circulation. And yet, it’s the movement of money — not its accumulation — that determines the health of a society.
1. Wealth that doesn’t move, stagnates
In macroeconomics, stagnant money slows down growth. In human life, it slows down empathy. When wealth stays in one place too long, it stops working for others — and eventually, for us too. A salary exists because someone invests. A scholarship exists because someone chooses to give. An entire market exists because people keep exchanging value.
Wealth is not meant to be stored like trophies; it’s meant to flow through systems that sustain life.
2. Stewardship over ownership
In many belief systems, including Islam, the challenge isn’t how to make money — it’s how to hold it without hoarding it.
To “guard wealth” doesn’t mean to lock it away; it means ensuring it continues to do what it was meant to do — enable livelihoods.
That’s the difference between hoarding and stewardship. Hoarding comes from fear. Stewardship comes from understanding.
The first freezes value. The second multiplies it — not just financially, but socially.
3. The social architecture of money
At a structural level, wealth has roles that mirror human needs:
Zakat (obligatory giving) protects those who are surviving.
Infaq (voluntary contribution) empowers those who are growing.
Sedekah (acts of kindness) keeps the entire system humane.
This design isn’t just spiritual; it’s systemic. It ensures that money doesn’t cluster at the top, but keeps circulating toward the margins where life actually happens.
When people say “money should work for you,” it’s easy to forget: it should also work for someone else because of you.
4. Reframing prosperity
True prosperity isn’t having more, it’s moving better — knowing how resources travel through your hands and into the world.
When you view money as a social instrument, not a personal measure, the focus shifts from how much I own to how much good passes through me.
Wealth, then, becomes less about privilege and more about responsibility. It’s not what we keep that defines us, but what we enable.
5. Closing thought
In the end, the healthiest kind of wealth is not the one that grows the fastest, but the one that keeps meaning alive wherever it goes.
So when you think about money — don’t just ask, how much do I have? Ask, what kind of system am I nourishing by how I use it?
Because wealth, like empathy, only stays alive when it moves.
Ternyata berbisnis tuh berasa harus memeluk dua nasihat yang udah jadi paradoks:
"Jaga wellbeing kamu dulu. Kamu bukan hidup untuk kantor"
sama
"Kalo mau sukses, harus kerja keras banget. Kalo perlu, lebih keras dari yang lain"
Pilih nasihat yang mana? Ketimbang cuma marah sama sistem, gue belajar menerima bahwa skill yang bagus belum tentu bisa dikonversi jadi uang yang sepadan. Kerja keras nggak menjamin kamu sukses apa lagi kalo kerjanya males ~XD
Kadang kesuksesan itu sifatnya struktural jadi kalo kamu belum sukses, jangan nyalahin diri sendiri tapi juga jangan blaming sistem terus seolah kamu nggak punya agency sama sekali.
It feels like David vs Goliath but one day kalo gue survive, semoga gue bisa ngasih tau bahwa sistem yang manusiawi dan bisa menghidupi orang-orang yang ada di dalamnya tuh masih possible buat diwujudin.
Green flag: they do kind things from love, not for love.
Pernah dengar… bahwa yang paling diinginkan penghuni kubur bukanlah emas, rumah mewah, atau umur panjang? Bukan. Yang mereka iri… adalah kesempatan sholat sunnah rawatib.
Rasulullah ﷺ sampai menekankan tiga kali: “Di antara azan dan iqamah ada sholat… di antara azan dan iqamah ada sholat… di antara azan dan iqamah ada sholat.”
Kenapa sampai beliau ulang tiga kali? Karena kalau kita tahu pahalanya, kalau kita sadar ganjarannya, mungkin kita akan merasa… rugi banget setiap kali melewatkannya.
Tahukah kamu apa yang paling dikhawatirkan untuk mereka yang sedang menunggu?
Bukan lamanya waktu yang membuat hati rapuh, bukan pula panjangnya penantian yang melelahkan jiwa. Yang paling dikhawatirkan adalah ketika penantian itu mengikis keyakinan, saat hati mulai bertanya, “Apakah janji itu benar akan datang?”
Menunggu sesungguhnya adalah madrasah kesabaran. Di dalamnya, iman diuji: apakah kamu masih teguh percaya pada Rabb yang tidak pernah alpa menepati janji-Nya? apakah kamu tetap menjaga doamu agar tetap hangat, walau hari-hari terasa dingin tanpa jawaban?
Yang paling ditakutkan bukanlah keterlambatan, melainkan hati yang menyerah di tengah jalan, jiwa yang letih lalu memilih meninggalkan doa, padahal pintu itu sudah hampir terbuka. Maka, jagalah hatimu ketika menunggu. Rawatlah keyakinanmu dengan dzikir, basuhlah resahmu dengan istighfar, dan peliharalah harapanmu dengan shalawat.
Karena di balik sabar yang terus terjaga, ada hadiah yang sedang dipersiapkan. Dan di balik doa yang tak henti dipanjatkan, ada janji Allah yang tidak akan pernah dikhianati.
@jndmmsyhd