Setiap orang memiliki ego, namun ego jangan jadi sentris sehingga memberi dampak buruk bagi diri dan juga orang lain. Bawalah dia kepada Allah Ta'ala, agar kita mudah menundukkan hawa nafsu yang buruk, supaya tidak lebay dan lalai.
Ego itu dalam makna tertentu adalah hawa nafs, ia sudah aktif, namun jangan dibiarkan lepas kendali sehingga diintervensi syaitan. Tundukkan kepada Allah, ditundukkan agar selaras dengan 'internal guidance' nya, yaitu fitrah yang mengajak nafs untuk tunduk kepada aturan syariat, serta Ilmu yang benar yang membimbing akal, agar jangan menjadi Nafs Ammarah Bissu (nafsu yang selalu menyuruh kepada kejahatan) ataupun nafs lawwamah (nafsu yang tidak tetap pendirian untuk menjalankan ketaatan dan meninggalkan perbuatan dosa), tetapi nafsu muthma'innah (nafsu yang dapat dikendalikan oleh akal yang sehat. Nafsu yang mendapat rahmat Allah).
Ego yang dibiarkan lepas kendali akan menjadi sangat egosentris atau menjadi sangat pasif dikendalikan.
Begitupun bagi yang akan menikah, selain berilmu terlebih dulu tentangnya.. persiapkan mental yang matang, karena kita akan menyatukan dua keluarga didalamnya, tidak sekedar dua jiwa yang terlahir dari didikan dan karakter yang berbeda.
Bahasan tentang ego merupakan salah satu bahasan penting didalamnya.
Saya kutip tulisan seseorang, saya tidak begitu tahu sumber tulisannya dari siapa, karena banyak yang membagikan tulisan ini. Semoga Allah Ta'ala memberkahi penulisnya:
"Dari kajian pra nikah yang pernah diikuti, ego merupakan satu bahasan penting. Ego, bagian diri kita yang kita harus ‘deal with it’ sebelum melangkah jauh ke pernikahan. Sebab yang akan bersama kita kelak adalah manusia yang tidak sempurna, yang akan terus bertumbuh setiap hari, berubah pemikirannya, berubah fisik dan perilakunya, berubah-ubah sedih dan bahagianya. Maka, alih-alih menetapkan kriteria yang ‘almost perfect’ mari mencoba menyelami diri sendiri “Sebenarnya apa yang kita bisa beri dan kita butuhkan dari sebuah pernikahan?” sambil berdoa kepada Allah agar segera dimampukan." -selesai nukilan-
Menundukkan ego itu memang bukan hal yang mudah. Apalagi bagi yang memiliki mental egosentris. Maka berusahalah untuk mengenal diri sendiri dulu, menyelesaikan apa yang menjadi PR besar kita sendiri terlebih dulu.
Ada dua prinsip dasar yang harus dimiliki ketika memasuki gerbang pernikahan:
Lelaki tidak diciptakan untuk tunduk kepada istrinya. Tetapi ia diciptakan untuk beribadah semata kepada Allah Ta'ala, dan Allah lah yang memerintahkannya untuk berakhlak baik kepada istri dan keluarganya, beserta kewajiban-kewajiban lain yang mengiringinya.
Adapun perempuan, ia tidak diciptakan untuk 'menghamba' kepada suami. Tetapi diciptakan untuk beribadah semata kepada Allah Ta'ala, dan Allah Ta'ala lah yang memerintahkannya untuk taat kepada suami, setelah mentaati-Nya, selama apa yang suaminya perintahkan ataupun inginkan tidak bertentangan dengan perintah dan larangan Allah.
Jika suami dan istri memahami dua prinsip dasar ini, insya Allah keduanya akan memahami hak dan kewajibannya tanpa mengedepankan egonya masing-masing. Sehingga pernikahannya bernilai ibadah.
Maka bagi yang belum menikah, berilmulah terlebih dulu sebelum beramal, persiapkan mental secara matang. Karena pernikahan adalah ibadah terpanjang, dan merupakan perjanjian berat antara kita dengan Allah Ta'ala.