Aktivitas inti research itu: mencari-menyimpulkan-mengusulkan.
yagasi? kayanya akan muter2 disitu terus pekerjaan ku kedepan :) semoga aku bisa maksimal yahh dan enjoy jugaa!
EXPECTATIONS
The Bright Sessions

No title available

Product Placement
No title available
Sade Olutola
Fai_Ryy
noise dept.
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com
Cosmic Funnies
One Nice Bug Per Day

ellievsbear
Keni
Game of Thrones Daily
🪼
macklin celebrini has autism
d e v o n
𓃗
occasionally subtle

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Italy
seen from Iraq

seen from Philippines

seen from Uzbekistan

seen from Vietnam

seen from United Kingdom

seen from South Korea
seen from United States

seen from Argentina
seen from India
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Vietnam
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Singapore
@waaritsa
Aktivitas inti research itu: mencari-menyimpulkan-mengusulkan.
yagasi? kayanya akan muter2 disitu terus pekerjaan ku kedepan :) semoga aku bisa maksimal yahh dan enjoy jugaa!
Aku bersyukur, karna aku masih bisa berdoa
Love language yg paling aku sukaa: didoain. gapapa ga ketemu asal doain aku teruss :) dan begitu juga aku ke orang2 yg aku sayang. Masih bisa doain mereka aja udah bersyukur banget :)
Mungkin ini ujian Nya
"ujian dari Allah itu ada supaya kita naik kelas." ga enak ya diuji? :) tapi kita akan paham makna dibalik ujian itu ketika kita sudah melewatinya dengan sabar dan ikhlas. Semoga kita ngga pernah capek dan nyerah untuk "nurut sama Allah" :D
Reading Mini Habits no #12min!
Explore the summary for Mini Habits by Stephen Guise. With 12min, read or listen to the key takeaways from the best nonfiction books.
Wajib download aplikasi nya sih, buat yg pengen rajin baca buku dan pengen nambah insight tiap harii!
Terkadang kita memilih abai terhadap seseorang yang begitu peduli terhadap kita, bukan bermaksud menyakiti, bukan berarti tidak perasa. Hanya saja, kita butuh benteng untuk melindungi dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kita dalam lubang maksiat.
Menjaga memang tak pernah mudah. Kadangkala kita merasa sudah membatasi, bahkan menutup interaksi, namun, siapa yang tahu perihal hati? Hanya segelintir yang berhasil selamat dari jerat tali asmara, yang bisa menjadikan seseorang lupa diri.
Perasaaan itu dibungkus rapi dengan iman sedemikian rupa, sampai kita lupa, Siapa seharusnya yang menjadi alasan kita untuk tetap taat dalam menghamba?
Berdoalah yang baik dan mintalah diberi jalan terbaik. Sebab, Allah lebih mengerti apa kebutuhan kita, bukan sekadar keinginan.
Pena Imaji
Terkadang kita lebih membutuhkan telinga yang siap panas untuk menampung semua ocehan, serta semua perasaan yang belum bisa diungkap kepada sasarannya.
-Cakrawala
If you complain that Allah is testing you too much, you’re failing the test.
Shaykh Omar Suleiman (via islamic-art-and-quotes)
ini bener banget.kadang kita ga sadar kalo lagi diuji.mikirnya udah susah dulu, dan akhirnya bikin prasangka negatif ke Allah.Padahal niatnya teh buat nguji kita dan ningkatin level kita :” )
Yang namanya proses ya harus ada perubahan,perbaikan,dan gerakan.ga diem aja
anonym
so, katanya kalo mau sukses harus mau berproses kan ya, bukan banyak protes, jadi yok lah udahan mager2 an nya, alesan nya, rebahan nya :)
semangat berproses!
Kalau kita sempurnakan niat, Allah sempurnakan pertolongan Nya.
Gamal Albinsaid
kadang, setiap ada hal yg ingin dicapai, kita lupa apa “tujuan dan niat” kita yang sesungguhnya.Padahal kalo kita sempurnakan niat, akan banyak keajaiban yang terjadi.Karena yang turun langsung udah bukan manusia lagi nih,Tapi Allah, yang maha berkuasa atas segala sesuatu jangan lupa -luruskan,perbarui, dan luaskan niatmu
minta sama Allah!
Kalau dulu saya pernah mendengar nasihat Ustadz Yazid, bahwa kalau kita ingin sesuatu, kita minta sama Allah.
Dan meminta itu bukan minta yang terbaik, tapi minta yg Kita inginkan, di situ lah rukun pertama roja tadi, berharap.
Lalu kita pun berdoa dengan bersungguh2 dan berusaha, untuk memenuhi rukun kedua, Khouf, saking bersungguh-sungguh-sungguhnya sampai takut tidak terwujud.
Insya Allah, kalaupun yang terjadi sebaliknya kita ga akan kecewa, di situlah rukun yg ketiga muncul, hubb atau cinta dengan ketentuan Allah.
Kok bs ga terkabul malah “seneng”? Karena kita sudah melakukan apa yg harus kita lakukan. Apakah sama orang yg ga usaha dengan yg usaha? Tentu tidak. Orang yg ga usaha sudah tahu akan kecewa sejak awal.
Tapi orang yg usaha ketika tidak berhasil akan kecewa saat itu aja. Selebihnya dia akan menerima ketentuan Allah, dan dia yakin ini yang terbaik buat dia.
maa syaa Allah :’)
itu nasehat teman saya beberapa tahun yang lalu, yang saya simpan di notes hp.
teman sejati itu ada nggak, sih?
Terbiasa ditinggalkan dan disakiti, buat kamu jadi bertanya,
Apakah teman yang benar-benar teman itu… ada?
Ada, kok, yang mau tulus berteman denganmu. Tetapi…
Mereka nggak sempurna. Kadang, menyakiti. Kadang, mengecewakan. Kadang, beda opini. Kadang, ada konflik. Tetapi, mereka ada, hanya nggak sempurna.
Yang nggak ada: teman sejati yang sesuai ekspektasimu.
Teman yang akan selalu menyetujuimu. Teman yang harus selalu ada kapan pun kamu butuh. Teman yang tak pernah salah, tak pernah menyakiti, tak pernah mengecewakan.
Itu, yang nggak ada: Seperti menuntut kesempurnaan pada manusia yang tak sempurna.
And, your friends are not you. Kamu nggak bisa berekspektasi seseorang memperlakukanmu sebagaimana kamu memperlakukan seseorang.
Teman sejati itu ada, tetapi nggak selalu sesuai ekspektasimu.
Dan, teman yang paling sejati adalah amalan-amalan baik yang kita lakukan hari ini, yang nanti jadi satu-satunya ‘teman’ di alam kubur.
- Alvi Syahrin, @alvisyhrn, alvisyahrin.com
{join grupku di sini, yuk. klik ini aja.}
Sedang belajar untuk dua hal. Belajar untuk bilang tidak. Sekaligus belajar berani untuk tidak disukai.
Allah karuniakan kepada masing-masing hamba kemampuan yang tidak sama. Rute jalan juang yang Allah tentukan untuk tiap hamba pun pasti berbeda.
Apa yang mungkin bagi kita mudah, belum tentu bagi orang lain demikian.
Apa yang mungkin bagi kita remeh, belum tentu bagi orang lain demikian.
Maka, tidak perlu menjadikan kehidupan orang lain sebagai pembanding atas berhasil tidaknya diri kita; atas sukses tidaknya diri kita.
Pada akhirnya, pada batas kemampuan kita, kita hanya akan dipertemukan pada ujian yang kita akan sanggup menjalaninya.
Kelebihan itu mutlak,pasti ada.PD aja :)
Kalo kata tulus, Ratusan alasan kamu cahaya🎵
“Mempertebal keyakinan tauhid tidak cukup hanya dengan mendengarkan ceramah dan membaca setumpuk buku, tapi mesti juga melalui sejumlah ujian Tuhan agar diketahui mana yang jujur dan mana yang bohong dalam ketauhidannya.”
— Al-Qarni
Catatan nasehat dari sang guru
Umat Islam dalam kurun waktu yang panjang senantiasa dalam keadaan aman sentosa.
Pemerintahan Khilafah Utsmaniyah mereguk kejayaan selama empat abad. Kekuatan persenjataan dan pasukan, luasnya daerah yang dikuasai dan wibawa hukum yang berlaku, membuka jalan bagi ekspansi wilayah Islam.
Namun, bila kita melihat kondisi umat Islam hari ini, sangatlah memprihatinkan. Islam sebagai tatanan hidup (nizhamul hayah) yang mengatur sendi kehidupan, saat ini hanyalah sebatas konsep dan simbol-simbol belaka. Kemunduran demi kemunduran diderita oleh umat ini, terutama sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah, dengan tumbangnya kepemimpinan Turki Utsmani sebagai khilafah terakhir pada akhir Perang Dunia I (1924). Dua fungsi khilafah, yaitu hirasatuddin (menjaga tegaknya din) dan siyasatuddunya bid-dien (mengelola dunia dengan visi din) menjadi mandul. Umat Islam di berbagai belahan bumi ini bagaikan anak ayam kehilangan induknya.
Kaum muslimin pun mengalami keadaan yang kritis dan berada pada posisi yang lemah. fitnah syubhat (keragu-raguan dan kerancuan pemikiran) dan fitnah syahwat telah mencengkeram umat ini, dan melemparkan mereka ke dalam kehinaan dan keterpurukan. Peradaban barat dan ideologi rusaknya telah meracuni pemikiran umat ini, serta menjadikan mereka berkiblat kepadanya
Abul A’la Al-Maududi menggambarkan lemahnya posisi umat dengan mengibaratkan jika dunia ini adalah kereta, maka orang-orang Barat sebagai masinisnya dan kaum Muslimin sebagai penumpangnya. Betapa umat ini senantiasa dimarginalkan dan menjadi bulan-bulanan oleh musuh-musuh Islam.
Untuk bangkit dari keterpurukan, bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu panjang dan perjuangan yang berat. Perlu adanya penopang-penopang yang kuat dari setiap komponen umat. Setiap sumber daya harus dipotensikan dan diarahkan dalam perjuangan penegakan Islam.
Salah satu unsur penopang kebangkitan tersebut adalah para muslimah, yang memiliki posisi strategis dan urgen dalam memperjuangkan kebangkitan Islam. Peran yang bisa dimainkan oleh para muslimah, tak dapat hanya dipandang sebelah mata. Sejarah pun mencatat, bahwa para wanita dalam lintas perjuangan Islam di masa nubuwwah telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi tegaknya risalah tauhid.
Dalam berbagai lini kehidupan, terhamparlah pentas iqamatuddin (perjuangan menegakkan din) bagi muslimah untuk memfungsikan dirinya. Besarnya tanggungjawab muslimah dalam iqamatuddin menuntut dirinya untuk aktif berpartisipasi dan berkiprah. Dia dibutuhkan dalam dakwah dan tarbiyah, baik dalam skala individu, keluarga, masyarakat bahkan negara.
Muslimah harus ‘bergerak’ dan berperan, tidak hanya diam, ‘duduk manis’, dan sekadar berpangku tangan. Dialah imadul bilad (tiang negara), murabbiyah (pendidik), ustadzah (pengajar), madrasatul ula (madrasah pertama bagi anak-anaknya), muharikah (aktivis pergerakan), dan da’iyyah (juru dakwah). Dialah parameter kemuliaan masyarakat dan bangsa.
Dalam aplikasinya bentuk-bentuk peran yang dimainkan oleh seorang muslimah dalam upaya-upaya iqamatuddin tidaklah terikat dan terbatas pada label-label dan predikat-predikat yang ada. Karena dalam memainkan peran tersebut, tiap individu memiliki ruang kapasitas dan posisi yang berbeda-beda.
Titik tekan pemberdayaan peran muslimah lebih kepada kontribusi apa yang bisa ia berikan dalam kancah iqamatuddin, baik besar atau kecil, tergantung pada kapabilitas yang dimiliki. Menjadi ustadzah TPA, ibu rumah tangga ataupun aktivis dakwah, semuanya akan memiliki nilai tambah bagi iqamatuddin, selama kita meniatkannya karena Allah dan menjadikan tujuan turunannya sebagai manifestasi menuju kebangkitan Islam.
Karena itulah, sebagai muslimah yang menyadari urgensi perannya, jangan hanya diam dan menjadi penonton. Perjuangan Islam menantikan ‘sentuhan’ kita. Apapun posisi kita, sebagai siapapun kita, dan berada dimanapun kita, peran kita sangatlah dibutuhkan.
Apa yang bisa dan mampu kita berikan, mari kita berikan. Think globally, act locally. Berpikirlah secara global tentang kebangkitan Islam, dan bertindaklah secara lokal tentang apa yang bisa kita lakukan. Sekecil apapun itu, akan bernilai besar di sisi Allah dan bagi perjuangan Islam. Jangan hanya diam, ayo kita berperan !
Ada kesederhanaan peran sebagai hamba dibalik peliknya peran sebagai manusia.
Namun kesederhanaan memang seringkali terdominasi sehingga manusia lupa akan jati diri dan peran awalnya sebagai seorang hamba.
Beribadah sebagai tujuan awal penciptaan, kini telah luluh secara perlahan, manusia kian sombong menunjukkan superioritas layaknya Tuhan. Padahal segala jiwa,raga, dan harta bisa lenyap jika Tuhan inginkan ketiadaannya.
Tujuan awal, yg seringkali tertutup oleh gemerlap dunia dan perhiasannya yang memabukkan.
-Cakrawala