Hati adalah bejana Allah di bumi-Nya. Maka, hati yang paling dicintai oleh-Nya adalah hati yang paling lembut, paling teguh, dan paling jernih. Tidak ada hukuman terberat yang dijatuhkan kepada seorang hamba daripada hati yang keras dan dijauhkan dari Allah.
Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras. Apabila hati telah keras, maka mata pun menjadi sulit menangis karena Allah. Kerasnya hati bermula dari empat hal yang dilakukan secara berlebihan, yaitu makan, tidur, berbicara, dan bergaul. Api neraka diciptakan untuk meluluhkan hati yang keras tersebut.
Seperti halnya tubuh yang tidak mendapat manfaat dari makanan dan minuman bila sedang sakit, maka demikian pula dengan hati. Jika hati telah sakit karena syahwat, maka nasehat apapun tidak akan mampu menyembuhkannya.
Siapa saja yang ingin hatinya menjadi jernih, maka hendaklah ia mengutamakan Allah daripada syahwatnya. Jika hati dipupuk dengan dzikir, disirami dengan pikir, dan dibersihkan dari karat dosa, niscaya ia akan mengetahui berbagai keajaiban dan hikmah dari Allah.
Penyebab kesuburan atau hidupnya hati adalah takut kepada Allah dan banyak berdzikir. Sebaliknya, penyebab rusaknya hati adalah merasa aman dari ancaman Allah dan lalai terhadap perintah-Nya.
Jika hati menolak hidangan dunia, niscaya ia akan menikmati hidangan akhirat bersama para penyeru akhirat. Namun, jika hati senang dengan hidangan di dunia, maka ia akan kehilangan hidangan akhirat. Rindu kepada Allah dan rindu bertemu dengan-Nya adalah sarana untuk menyejukkan hati dan menjinakan dunia.
Siapapun yang menempatkan hatinya di sisi Allah akan merasa tenang dan nyaman, sedangkan siapapun yang menggantungkan hatinya pada manusia niscaya akan merasa gelisah dan gundah. Rasa cinta kepada Allah tidak akan meresap ke dalam hati yang sudah dikuasai rasa cinta kepada dunia.
Hati bisa mengalami sakit seperti badan. Kesembuhan hati terletak pada taubat dan menjaga dirinya dari perbuatan buruk.
Hati bisa berkarat seperti cermin, untuk mengkilapkannya adalah dengan dzikir.
Hati bisa telanjang seperti halnya tubuh, pakaian yang dapat menutupinya adalah taqwa.
Hati bisa lapar dan haus sebagaimana tubuh, makanan dan minumannya adalah mengenal dan mencintai Allah, melayani-Nya, serta tawakal dan kembali kepada-Nya.
Jika Allah mencintai seorang hamba, maka dibuatlah ia bekerja untuk-Nya, mencintai-Nya, dan ikhlas beribadah kepada-Nya. Keinginannya pun akan dicurahkan kepada-Nya. Lidahnya dijadikan sibuk menyebut-Nya dan anggota tubuhnya dijadikan sibuk melayani-Nya.
Frasa: Perempuan, Ilmu, dan Rasa