Honest review tentang EreMika
Disclaimer: Kalo lu solo Mikasa stans atau solo Eren stans mending segera menjauh dari sini, ini bukan konten buat lu, apalagi kalo elu ngeship selain Eremika.
Ini full apresiasi gue secara subjektif dan sumpah gue ga perlu bacot dan komentar lu pada haha
Gue bukanlah tipe orang yang nonton sebuah serial dan tiba-tiba nge-ship (memasangkan) karakter A dan B, bahkan gue yang ngikutin Sherlock dari season 1 sampai 4 engga pernah tau kalo fandom mereka masangin Sherlock dan Watson. Â Bukannya Watson canonically menikah dengan Mary meskipun akhirnya (spoiler alert) Mary meninggal terbunuh? Dan bukannya Sherlock sendiri punya love interest dengan Irene Adler? Mbuhlah, gue juga bingung. Ternyata shipping fandom itu lebih barbar daripada football twitter, to be honest.
Saat gue memutuskan untuk membaca Attack on Titan, gue ga memikirkan bakal memasangkan siapa dengan siapa karena ga terpikir dengan hal itu. Ya paling sih sebelum beneran baca AoT gue sering lihat meme yang bertebaran di facebook soal Mikasa yang sodaraan sama Eren, ah awkey? Meskipun dari desain karakternya sendiri engga ada mirip-miripnya sama sekali.
Eren dan Mikasa bertemu dalam momen yang tidak normal, di saat gadis itu diculik dan akan dijual oleh para penculiknya, Eren datang dan menyelamatkannya dari mereka, bahkan dia membuat insting Ackerman yang dimiliki Mikasa menjadi bangkit dan berhasil membunuh penculik ketiganya. Dari kisahnya saja mana ada orang berpikir kalau mereka saudara sedarah ataupun diadopsi semenjak Mikasa sama sekali tidak mengganti nama belakangnya menjadi âYeagerâ.
Harusnya sejak chapter enam sangkaan jika mereka adalah saudara sudah gugur, apalagi Eren berkali-kali mengatakan kalau Mikasa bukan ibu ataupun saudara perempuannya, orang yang tidak bias dalam shipping pasti paham kalau itu artinya Eren tidak mau dianggap sebagai orang lemah yang harus dilindungi, tetapi sebaliknya, ialah yang ingin melindungi Mikasa.
Mengenai pertemuan mereka yang tidak normal itu, gue ada perbedaan impresi antara saat membacanya pertama kali dan setelah chapter 139 rilis. Saat pertama kali baca gue berpikir kalau saat itu memang insting survivalnya Eren saja yang bekerja saat terancam, tetapi setelah melihat chapter 139, yah rupa-rupanya memang tendensi Eren sudah seperti itu dibuat Isayama. Semenjak chapter enam perbedaan ideologi antara Eren dan Mikasa ini sudah terlihat dan berbenturan.
Gue percaya secara fundamental Eren adalah orang yang baik, gak perlu gue jelaskan daftar kebaikannya apa saja, silakan tonton season 1 sampai 3 atau baca manga chapter 1 sampai 90, paling jelas dan kentara adalah saat dia mengalungkan syal dan memberi rumah baru untuk Mikasa. Mungkin benar Eren adalah orang yang jahat dan toxic karena menghalalkan berbagai cara agar konsepsi akan dunia luar temboknya bisa terwujud, bahkan dengan cara menyingkirkan Mikasa dan Armin di chapter 112 (table scene), namun ada kebaikan lain yang dia punya untuk teman-temannya dan dirinya sendiri. Eren tau jika Pulau Paradis akan hancur karena serangan dari berbagai penjuru, oleh karena itu dia mengaktifkan rumbling sebagai âmekanisme pertahanan diriâ, jujur sih gue di sini kurang puas karena Isayama engga memperlihatkan semengerikan apa serangan yang diterima Pulau Paradis sehingga mau engga mau Eren harus melakukan hal seperti itu. Yakin sih gue sebenarnya mereka bisa menempuh jalan negosiasi kalau Eren mau menceritakan bebannya kepada teman-temannya, yah balik lagi ini sih memang Eren yang engga mau membaginya dan sebetulnya jauh dalam dirinya ada obsesi akan konsepsi dunia luar tembok yang ingin ia wujudkan.
Jadi sebetulnya debat soal apakah Eren orang baik atau jahat itu percuma, karena dia adalah keduanya. Debat ga jelas di twitter ini murni karena shipping agenda doang sih. Hahaha
Lalu bagaimana hubungannya dengan Mikasa?
Mikasa punya masa lalu yang kelam dan pahit, harus kehilangan orang terkasihnya berkali-kali selama hidupnya namun dia tetap maju meskipun terluka dan tetap menjalani hidupnya. Rasa kehilangan inilah yang membuat dia rapuh tetapi tetap mencoba untuk menata dirinya kembali. Penilaian gue tentu saja tidak objektif, namun gue berusaha menafsirkan apa yang gue lihat dan baca di manga.
Kalian salah besar jika melihat cinta dan kasih Mikasa untuk Eren itu adalah sebuah obsesi, jika kalian pernah mencintai seseorang sedalam itu pasti paham tidak kehilangan seseorang itu bagaimana rasanya. Awalnya gue melihat proteksinya pada Eren itu adalah hal yang berlebihan, tetapi setelah melihat bagaimana perangai dan aksi Eren yang sembrono hingga dijuluki suicidal maniac, rasanya itu adalah hal yang wajar. Toh pada akhirnya Eren menerima bahwa apa yang Mikasa lakukan semata-mata adalah bentuk kasih darinya yang tak ingin kehilangan lagi.
Jika memang cinta dan kasih Mikasa adalah obsesi, harusnya dia akan bergabung dengan Yeagerist dan melancarkan rencananya, tapi bukannya bergabung, ia bahkan berada pada posisi melawannya. Bahkan di Marley arc Mikasa sempat mempertanyakan mengapa Eren sampai hati menyerang Liberio dan membuat Survey Corps terlibat, jadi meskipun ia mencintai Eren, tapi dia tetap punya kompas moral untuk membedakan mana yang baik dan buruk.
Konsepsi soal Mikasa yang harus independen dan membuang jauh-jauh perasaannya pada Eren adalah sangat salah. Sumber kebahagiaan dan ketenangannya adalah memori tentang Eren, bahkan di Trost arc yang  diagung-agungkan itu, kekuatan terbesarnya sehingga dia memutuskan untuk fight back adalah memori tentang Eren yang dia pikir sudah meninggal.
âI am sorry, Eren, if I die, I couldnât remember you...â
Mikasa tidak mencintai Eren karena dia membunuh para penculiknya, namun karena kebaikannya yang telah memberinya kehangatan dan rumah baru.
Mikasa adalah orang yang punya motivasi hidup paling sederhana di antara karakter lainnya, dia hanya ingin hidup tenang bersama Eren dan Armin, tetapi toh pada akhirnya memang tidak bisa karena jalan yang ditempuh Eren membawanya pada kematian, dan Arminpun harus menanggung sebagian dosa yang ditanggung Eren dengan menghabiskan hidupnya untuk bernegosiasi dengan populasi manusia yang tersisa dan manusia yang tinggal di Pulau Paradis.
Seperti yin dan yang, itulah Eren dan Mikasa, mereka adalah kedua kutub berlawanan yang tidak dapat bersatu di dunia yang kejam bagi mereka. Jika Eren adalah orang yang punya keinginan kuat yang harus dilakukan, maka Mikasa adalah orang yang realistis dalam menjalani hidup, dia puas dengan apa yang dia dapatkan dalam hidupnya asalkan yang ia kasihi tak pergi lagi. Jika Eren adalah manusia yang dipenuhi dendam, maka Mikasa adalah seorang pemaaf dan penyabar. Inilah mengapa ship ini begitu menarik dan tidak membosankan, meskipun sejujurnya genre angst bukan kesukaan gue.
Bagi gue Eremika itu adalah nuansa baru dalam karya fiksi yang gue nikmati, baru kali ini menemukan dinamika hubungan seperti mereka di manga bergenre shonen. Di manga populer seperti Naruto, MC dan love interestnya berakhir bahagia, menikah, dan punya anak. Di sini Isayama mendobrak streotipe itu, bahkan gue rasa di sini, baik Eren dan Mikasa punya kualitas lebih dari love interest untuk masing-masing individu.
Tapi di sini ada hal yang gue sayangkan. Isayama membuat perasaan Eren pada Mikasa terlalu subtle sehingga banyak yang berpikir jika yang terjadi di chapter 139 itu adalah suatu hal yang dipaksakan. Jujur saja engga semua orang punya kompetensi membaca yang bagus, apalagi untuk sekelas Attack on Titan.














