Kamu akan Terkejut
Kehidupan manusia akan terus berkembang ke arah yang saat ini tidak kita sangka. Begitulah kurang lebih yang aku rasakan. Semakin banyak kutahu semakin ternganga mulut dibuatnya, “Hah?”
Disclaimer: tulisan ini penuh presumsi jadi silakan direspon dengan tulisan juga jika kamu punya pengalaman dan presumsi yang berbeda.
Satu akun kanal YouTube yang muncul di baris #trending memberi isyarat pada saya bahkan dunia ini lebih buruk dan hina dari pada yang kita bayangkan. Kanal ini diproduksi oleh beberapa anak muda yang melabeli diri mereka milenial-nya Singapura–negara yang kukira anak mudanya cukup sibuk memikirkan prestasi, pekerjaan, dan kekayaan. Di dunia yang materialistis dan individulistis ini, ternyata ada arus baru, yaitu sekumpulan orang dewasa yang bicara tanpa batasan nilai membahas yang tabu dan menendang batas wajar ke tingkat yang tidak terduga. Mereka tentunya akan diikuti anak muda yang menonton YouTube untuk membunuh waktunya. Hal ini bisa jadi juga terjadi di Indonesia.
A far broken society
Apakah yang dimaksud dengan ‘broken society’? Dari situs urbandictionary.com, a broken society refers to a society marked by the existence of widespread poverty, deprivation and depravity. Yang artinya, komunitas yang ditandai dengan maraknya kemiskinan, perampasan(?), dan ketiadaan moral. Istilah ini sempat hits tahun 2010 saat Perdana Menteri (PM) Inggris waktu itu David Cameron menggunakan istilah ini dalam orasinya. Cameron berfokus pada keadaan di mana nilai-nilai moral menurun dirasakan secara sadar oleh masyarakat.
Saya pernah tinggal di Inggris (waktu datang PM-nya David Cameron, waktu pulang sudah Theresa May + Brexit). Tapi, saya tidak pernah tinggal di daerah yang tergolong ‘broken society’ (BS). Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa kota markas dua klub bola besar English Premier League, Manchester, adalah satu dari lima kota paling tidak aman seantero Inggris.
Bagaimanapun, saya tentu tidak enak hati untuk menggolongkan daerah Rusholme di selatan pusat kota Manchester dimana saya pernah tinggal selama tiga bulan sebagai BS. Kami temukan anak-anak bandel yang mengagetkan pejalan kaki dengan petasan, mendengar berita pemuda tanggung bersepeda yang menjambret hape di taman, dan satu-dua mobil bermerek lewat dengan musik yang putar kencang meminta perhatian. Lebih dari itu, di seantero Manchester, ada pengeboman di tempat konser :( dan penggrebekan suspek pemuda ‘radikal’, percobaan perampokan oleh orang-orang mabuk dengan memecahkan jendela, dan penembakan oleh pemilik senjata ilegal. Tapi, semua kebandelan dilakukan malu-malu, sembunyi-sembunyi, saat keadaan sepi. Nah, bagaimana menurutmu jika satu hal buruk dibicarakan secara terang-terangan dan direkam dalam video dan kemudian dikonsumsi remaja yang belum sempurna akal mereka? Seperti video biru, produsennya tidak berbuat kriminal dan tidak membahayakan nyawa, tapi mereka merusak pikiran dan moral para remaja.
Fenomena Awkarin & Young Lex *telat tahu
Saya pernah dengar selentingan tentang ‘kebebasan’ anak muda di Jakarta, tapi saya tahu dari bisik-bisik saja. Sekarang bayangkan, jika ada kanal YouTube yang membahas sesuatu yang bahkan di dunia nyata saya orang sungkan bertanya di lapak japri? (kalau bisa pakai perjanjian off the record alias jangan bilang siapa-siapa)
Motivasi sebagian YouTuber tentu soal karya ketenaran dan akhirnya uang. Nah, ketika produksi ide ini sebatas untuk memproduksi hasil yang menarik, tentunya nilai-nilai moral akan diabaikan. Bila Awkarin dan Young Lex “bangga” dengan cara berpakaian dan tatonya, maka seharusnya kita bertanya, “Siapa yang salah?”
Bisa jadi orang dewasa: orang tua mereka yang tidak sempat memberikan pengertian akan rasa malu dan definisi prestasi dan kebanggaan orang tua yang sepatutnya; para produser dan promotor yang “memanfaatkan” mereka untuk jadi bintang utama dan membuat mereka merasa diri mereka keren; atau aktornya sendiri seperti Young Lex yang kelahiran 92 juga sekarang sudah bisa dianggap orang dewasa.
Bila tren ini terus terjadi, apakah kemajuan advancement of science and technology akan dibarengi kehancuran moral sebagian anak-anak mudanya? Cukup seram untuk melihat arah pergerakan anak muda di beberapa ekstrem. Dan kita yang berada di ‘ekstrem’ lain (berpendidikan tinggi juga punya cita-cita dan mimpi) haruskah menutup mata?
Belum lama dua role model Selebgram bercerai setelah tiga bulan menikah di usia muda. Selebgram ini punya pekerjaan tetap? Endorser, Kak. Ketika orang dibayar bukan karena keahlian atau daya saing yang membuat dia outstanding, di situ saya takut membayangkan masa depan mereka. Beda banget dengan generasi jaman gue yang jumpalitan nyari kesempatan karir dan pendidikan agar bedaya saing tinggi xD
Mindset suksespun bergeser dari memperoleh pekerjaan yang baik dengan kesempatan menaikin jenjang karir menjadi pekerjaan-pekerjaan instan seperti pengemudi ojek online dan pengantar makanan (GrabFood dan Foodpanda). “Ngapain capek-capek sekolah, toh ntar narik juga?” akan jadi pembelaan diri. Anak muda menjadi takut dan lari dari proses pembelajaran.
Apakah dunia akan baik-baik saja?
Saat kita sibuk dengan target-target pribadi (dunia dan akhirat) kita di saat yang bersamaan di luar sana ada teman-teman dan adik-adik yang sedang menunggu tegur sapa kita, sekadar menanyakan bagaimana keadaan mereka dan apa rencana mereka ke depan.
Di sini (media maya ini) mungkin kita adalah orang yang sedang mencari inspirasi atau senang berbagi inspirasi. Tapi, ketahuilah bahwa dunia tidak cuma di sini dan hidup setiap dari kita berharga bukan hanya untuk diri kita tapi juga untuk orang-orang yang telah berinvestasi pada diri kita dengan waktu, tenaga, dan cinta mereka.
Di luar sana, banyak teman-teman yang bermimpi kecil, tidak terinspirasi menjalani hidup, dan tidak merasakan mereka dicintai dan hidup mereka sungguh berarti. Bagaimanapun kita perlu prihatin dengan itu semua dan sebisa kita menularkan inspirasi dan visi yang kita punya. Minimal, kita bisa menjaga anggota keluarga kita–orang yang seharusnya ikut sukses bersama kesuksesan kita, ikut terpacu bersama kemajuan kita, dan terinspirasi dengan visi kita.
Ya, kita masih akan terkejut melihat arah pergerakan anak muda karena sepertinya itu di luar kuasa kita karena manusia diberi akal untuk mengindera dan mengambil pilihan.Terlepas dari itu semua, semoga kita bisa terus berjuang ke tempat yang tinggi walau sulit. Sulit, tetapi bisa kok. Be high achiever!
(*)
Sumber gambar: www.carmel.ac.uk












