Pernah tidak dalam satu waktu, kamu merenungi dirimu sendiri tentang kuliah yang sedang kamu jalani saat ini. Dari ribuan mahasiswa satu angkatan di kampusmu, apa yang membuatmu berbeda dengan mereka semua?
Apa “nilai lebih” yang kamu miliki dibandingkan dengan ribuan mahasiswa yang lain? Apa yang membuatmu merasa menjadi lebih berharga dan kamu merasa layak untuk mendapatkan peluang-peluang terbaik selepas lulus itu?
Lalu, setelah kamu lama merenunginya. Di semester tua yang semakin mencekam karena skripsi atau TA yang menghantui. Ada perasaan menyesal selepas bertahun di kampus dan kamu tidak pernah mengambil peran untuk menjadi apapun. Kamu sibuk dengan dirimu sendiri, pergi pagi dan segera pulang selepas kuliah. Itupun kalau tidak ada ajakan main dan nonton. Malas beroganisasi dan aktif di kegiatan baik di dalam jurusan maupun di luar jurusan. Tidak pernah mengambil kesempatan untuk ikut pertukaran pelajaran. Hampir absen disemua seminar dan kuliah umum di kampus yang diadakan baik oleh himpunan ataupun fakultas karena merasa itu tidak relevan dengan apa yang kamu pelajari.
Begitu banyak peluang yang datang dan kamu terus melewatkannya hingga tidak terasa penghujung semester telah tiba. Dulu, untuk bergerak keluar dari kamar kos yang nyaman terasa berat. Melawan terik matahari untuk berjalan dari kampus ke perpustakaan pun tidak kuasa. Diajak sedikit pusing memikirkan polemik kampus dan kegiatan kemahasiswaan pun enggan. Tidak pernah menambah jaringan pertemanan di luar kampusmu, bahkan tidak memiliki kenalan di kampus lain di luar sana.
Setelah sekian lama kamu merenungi pertanyaan,”Apa yang membuatmu berbeda dari ribuan mahasiswa lain di satu angkatanmu?”
Presiden Mahasiswa itu cuma satu orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Kabinet-kabinet BEM itu hanya diisi segelintir orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Pertukaran pelajar pun hanya mengirim beberapa orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan? Seminar dan kuliah umum itu pun hanya disediakan kursi untuk sejumlah orang, mengapa bukan kamu yang mengambil kesempatan?
Di saat orang lain yang sebaya denganmu telah melesat begitu jauh. Kamu menyadari ternyata kamu tidak pernah menjadi apa-apa. Kamu tidak bisa menjelaskan apa yang telah kamu ciptakan demi kebaikan banyak hal di sekililingmu.
Dalam 24 jam yang sama. Ada orang yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri dan urusan banyak orang, ada yang bisa menyelesaikan urusannya sendiri dan keluarganya, ada yang hanya bisa menyelesaikan urusannya sendiri, dan yang paling menyedihkan adalah orang yang bahkan menyelesaikan urusanya sendiri pun tidak bisa. Itu dalam 24 jam yang sama.
Maka benar bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat. Maka renungkanlah lagi, apa yang sudah kita lakukan selama ini?
Yogyakarta, 15 Januari 2016 | ©kurniawangunadi