Tahun 2011, setelah hampir 5 tahun kita lama tak bertegur sapa dan bertemu muka, entah apa yang menggerakan kamu untuk menghubungiku lagi, dan akhirnya kita bisa bertemu di satu kesempatan yang tidak kita pernah duga dan pertemuan tersebut seakan ‘menampar’ diriku sendiri.
Sebuah percakapan singkat tapi sangat membuatku berpikir keras untuk tidak mementingkan ego ku, semua yang kita inginkan untuk dilakukan namun harus tetap memikirkan “sesuatu” dibalik itu semua, kepentingan yang jauh lebih penting daripada memikirkan ego sendiri, menyedihkan.
kamu : iya, jadi carissa ga terlalu deket sama bunda nya, bisa dibilang dia jarang sekali mengucapkan kata “bunda”.
aku : kenapa begitu? tapi bunda nya sayang kan? tidak ada ibu yang tidak sayang dengan anaknya, darah dagingnya.
kamu : menurutku bunda nya carissa tidak bisa memperlihatkan atau apalagi mencurahkan perhatian dan kasih sayang buat carissa, dia memang sayang dengan carissa, tapi dia tetap lebih mementingkan ego nya sendiri untuk kesenangannya.
aku : astaga, kasian carissa. kenapa begitu ya? lalu carissa nya bagaimana sama bunda nya? apakah ga rewel, hampir 2 minggu tidak bertemu bunda nya, 2 minggu itu lumayan lama.
kamu : dia lebih mementingkan diri nya sendiri dibanding kepentingan carissa, aku tau dia memang sayang dengan carissa, tapi ya dia memang tidak bisa memperlihatkannya, carissa tidak begitu dekat dengan bunda nya, dia lebih dekat dengan kakek nya, aku sebagai ayah nya, dan nenek beserta tante nya, terakhir sekali baru dengan bunda nya. agak menyedihkan sebenarnya. naluri anak kecil memang tidak bisa dibohongi, carissa lebih senang dan dekat dengan kakeknya dan aku karena mungkin carissa tau dan merasa disayang oleh kakeknya dan aku.
aku : *speechless* jujur, aku tidak tau harus berkomentar apa, yang pasti aku sangat tau apa yang dirasakan oleh carissa. apalagi ia masih kecil, sebenarnya ia sangat peka dan harus diberi perhatian lebih, apalagi dari seorang ibu.
kamu : yah aku tau, walaupun sekesal atau sebenci apapun aku dengan bunda nya carissa, tapi aku harus menahan semua ego ku demi kepentingan carissa, aku sayang dengan bunda nya carissa, tapi aku lebih sayang dengan carissa, sekarang ini, semua yang aku dapat cuma untuk carissa. aku ga mau hanya untuk kepentingan aku dengan bunda nya, carissa menjadi taruhannya.
aku : ya, apapun yang terjadi kalian memang harus berpikir dengan matang apapun yang nanti nya kalian putuskan, karena carissa menjadi taruhannya, masa depan carissa ada ditangan kalian.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~hening~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Well, dari situ aku tau bagaimana aku harus bersikap. Apapun perasaan yang kita rasakan dulu maupun sekarang, harus kita tahan sesuai dengan takaran yang sangat pas, tidak boleh lebih apalagi berlebihan. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, siapa yang dapat kita salahkan jika memang sekarang keadaannya sudah sangat jauh berubah? Perubahan yang drastis dan sangat signifikan. Bisa kah kita menyalahkan keadaan? Atau menyalahkan ego masing-masing yang masih saja bertahan walaupun sebenarnya kita tau untuk kembali menjadi seperti “dulu” itu sangat tidak mungkin. Sekali lagi, sangat tidak mungkin. Seperti yang kamu bilang “biarlah rasa ini hanya aku dan Tuhan yang tau”. Jauh dari lubuk hati ku yang paling dalam sebelum kamu berkata seperti itu, aku pun merasakan kehancuran yang sama. Kadang aku berpikir untuk apa Tuhan mempertemukan kita kembali kalau keadaannya sudah sangat berubah? Tapi seorang teman memberitahu ku, bahwa sesuatu itu dihadapkan kepada kita untuk alasan yang lebih baik, sekalipun itu sangat pahit. rasanya seketika aku hancur saat kamu bertanya pada ku, “menurut kamu kita bisa sama-sama seperti dulu lg?” Rasanya ingin sekali aku langsung menjawab dengan yakin, “ya, aku yakin kita bisa sama-sama seperti dulu lagi! “ Namun lidahku terlalu kelu untuk berkata seperti itu. Lagi-lagi masalah ego bermain disini, aku ini cuma bagian dari masa lalu mu, begitu pun kamu yang hanya bagian dari masa lalu ku, apakah kita tidak terlalu egois jika sekarang hanya mementingkan ego kita? Aku sangat sadar dan tau, akan banyak yang harus dikorbankan dan terlukai kalau kita ingin untuk menyatukan langkah kita bersama lagi, ya aku sangat tau, dan sadar bahwa itu semua tidak boleh terjadi. Mungkin memang berat bila kita berbicara tentang “hati”. Kita terlalu egois jika hanya memikirkan kepentingan kita saat ini. Bagi ku, sekarang ini mendengarkan celotehan mu, menggengam tangan mu walaupun langkah kita kini sudah tidak sama, mendapat kesenangan hati saat kamu bilang sayang pada ku, itu sudah sangat lebih dari cukup. Walaupun terdengar menyedihkan, tapi itu lebih baik, lebih baik kita mengorbankan perasaan kita, daripada semua nya hancur berantakan. lagi-lagi ego bermain disini. Kita sudah dewasa dan sama-sama tau, sepahit apapun keputusan yang kita ambil itu lebih baik, lebih baik memikirkan kemungkinan yang terburuk. Aku sangat menghargai perasaan kita, tapi aku jauh lebih menghargai apa yang sudah kita dapat jauh sesudah kita dulu memutuskan untuk “berpisah”. itu yang harus kita pikirkan, apakah mungkin kita menghancurkan apa yang sudah kita dapat dan kita punya di hidup masing-masing demi “ego” kita? Lalu kembali lagi terucap kalimat yang menurutku klise sepanjang masa : “kalau jodoh tak akan kemana” sangat menyedihkan, tapi itu lah pilihan hidup. Aku sangat senang dan menghargai hubungan baik yang saat ini mulai kita jalin kembali, tapi kembali lagi harus kita tahan sesuai dengan takaran yang pas, tidak boleh lebih ataupun berlebihan. ego dan kedewasaan kita diuji disini. Ini sangat membuat aku berpikir keras untuk bagaimana tidak terlalu sering bermain dengan perasaan, melainkan harus seimbang dengan logika.
Terimakasih atas segala pembelajaran hidup, setidaknya aku senang, penantian ku selama lima tahun bukan lah sia-sia, Tuhan menjawab doaku walaupun aku harus menerima kenyataan yang ada saat ini, ya keadaan yang telah merubah segalanya.
Sekali lagi, Terimakasih buat kamu. Kamu akan tetap ada, dihatiku dan dalam jangkauan doaku.