Merantau di Tanah Kelahiran
Ia tidak menyadari, ternyata menjadi seorang perempuan ternyata sulit. Ada pendapat yang diabaikan, ada jerih payah yang tidak dihargai. Sebenarnya sedari SMP Fuka sudah mengalami diskriminasi seperti itu.
Ia yang ingin mengabaikan teman-temannya, berusaha untuk aktif di berbagai bidang yang ia sukai. Selama ini sebenarnya ia sudah aktif bermain permainan bola basket bersama teman dekatnya Jia.
Namun suatu hari, ia tertarik dengan kegiatan jurnalistik yang saat itu pertama kali ada di sekolahnya. Fuka bersekolah di sekolah Islam swasta yang menyematkan kata modern pada nama sekolahnya. Namun, tetap saja perempuan di sana dibatasi untuk beraktifitas. Perempuan tidak memiliki ruang aktifitas yang sama dengan laki-laki yang sama-sama menuntut ilmu di sana.
Dalam tulisan ini, saya ceritakan diri saya sebagai Fuka. Nama dari sebuah tokoh novel karya penulis Jepang yang cukup populer. Jangan tanya alasannya, karena memang tidak ada alasan khusus saya ambil nama tersebut untuk menyamarkan diri saya dalam tulisan ini.
Seharusnya Fuka bisa lebih lama di sekolah Islam modern tersebut. Namun karena banyak teman seangkatannya yang memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah di sana, Fuka menjadi Fomo dan meminta untuk dipindahkan sekolah di sekolah umum biasanya.
Fuka akhirnya pindah ke sekolah negeri berbasis Islam pada strata menengah atas. Kejenuhan Fuka rupanya lumayan tersalurkan di sekolah barunya. Meskipun ia tak lagi bisa berteman dengan buku-buku perpustakaan yang biasa menemaninya di jam istirahat, Fuka aktif di beberapa organisasi besar seperti PASKIBRA dan Rohis sekolah, juga beberapa ekskul lainnya seperti bola basket dan karate.
Namun, pada pencalonan komandan satuan, Fuka harus kalah pamor dengan pria yang dianggap tampan. Bagaimana tidak, suara untuk Fuka hanya didominasi oleh para alumni dan beberapa senior. Sementara saingannya digandrungi oleh adik-adik baru yang jangan jangan motivasi masuk PASKIBRA awalnya hanya ingin dengan kakak kelas tampan.
Meski kesal, Fuka tak terlalu berkecil hati. Karena dari dulu juga ia tak pernah menjadi seorang populer. Cukup wajar jika ia tak bisa meraup banyak suara hanya modal kinerja yang bagus. Di sisi lain, ia cukup senang dengan kepercayaan pelatih terhadapnya.
Pada akhirnya si ketua tampan harus keluar secara tidak terhormat karena melanggar aturan keras di PASKIBRA.
Hal seperti itu juga beberapa kali Fuka rasakan. Saat Fuka mulai berkuliah di jurusan yang menjunjung tinggi kalau pemimpin harus laki-laki. Saat kepengurusan BEM diamanahi pada angkatannya dan ketua-ketua divisi ditempati oleh laki-laki yang bahkan tidak punya kompetensi dan minat untuk berorganisasi.
Pada kasus divisi dimana Fuka berada, hanya program yang Fuka pegang saja yang berjalan. Selebihnya banyak divisi yang tidak menjalankan program atau kegiatan sama sekali. Padahal di tahun pertama masa jabatannya di BEM, Fuka sudah beberapa kali memimpin program sampai skala Jabar, yang mana program itu bahkan vakum selama beberapa tahun.
Tapi ya, saya kira wajar karena Fuka membenci teman-temannya yang tidak banyak memberikan kontribusi pada event besar yang ia buat. Tapi ketika acaranya sukses, mereka yang gabut malah berbangga diri. Sepertinya memang mereka tidak suka dengan perempuan yang terlalu vokal.
Saya tidak tahu apakah Fuka menyadari kalau ia adalah seorang perempuan yang biasanya diistimewakan untuk tidak banyak menanggung beban tanggung jawab berat yang seharusnya dipikul oleh seorang pria.
Mungkin karena hal itu juga Fuka tidak pernah mendapat posisi sebagai pemimpin tapi tetap saja para pria itu memaksa Fuka untuk bergabung membantu mereka. Beberapa event besar yang Fuka pegang, dijalani berawal dari paksaan para pria yang seharusnya mengemban amanah itu.
Tapi karena Fuka adalah orang yang sulit menolak, akhirnya setelah beberapa kali bujukan akhirnya ia mengiyakan.
Fuka hidup merantau di tanah kelahirannya. Orang tuanya pergi merantau ke luar kota meninggalkan ia bersekolah dan tinggal bersama neneknya, kadang uwa nya, pamannya, dan terakhir Fuka memutuskan tinggal sendiri.
Sejak SD Fuka dipaksa mandiri oleh keadaan ekonomi sulit. Ia hanya fokus sekolah, sementara orang tuanya mencari uang untuk biaya hidup dan sekolahnya. Setelah cukup umur dan dapat berfikir logis, Fuka merasa bertanggungjawab untuk mengarahkan hidup adik adiknya pasca keluar sekolah.
Fuka membantu kedua adiknya agar bisa lebih melek terhadap dunia pasca sekolah. Sebab Fuka pernah alami, dimana ia bahkan tidak memiliki tujuan hidup apapun, karena ia tidak banyak tahu tentang apapun.
Meski Fuka sudah banyak mengikuti kegiatan hingga aktif di organisasi nasional, tetap saja seumur ia hidup, ia tidak pernah berkomunikasi dengan orang tuanya.
Sampai akhirnya Fuka menyadari bahwa ia perempuan saat, ia merasa tidak aman untuk bepergian seorang diri lagi. Padahal, selama ini ia bertahan hidup sendiri dengan beberapa ratus ribu bekal yang diberi orang tuanya.
Mau bagaimana pun, ia tetaplah perempuan. Seorang yang rentan dilecehkan, seorang yang dipandang sebelah mata, seorang yang dianggap tak bernilai hanya karena ia seorang perempuan.
Namun pada beberapa situasi pelik, ia berkali kali juga diselamatkan oleh sang ayah yang senantiasa mengantarkannya kemana pun ia ingin pergi, seorang paman yang menampungnya saat ia telah kehilangan banyak orang terdekat,, seorang suami yang selalu mengkhawatirkannya, seorang adik laki-laki yang menafkahinya, dua anak laki-laki yang selalu bergantung padanya, dan teman laki-laki nya yang pengertian untuk menjaga jarak.
Akankan kasih sayang seperti itu akan ia terima jika ia bukan perempuan?
Takdir tak bisa terhindarkan. Dari banyak kesedihan yang harus diterima, ada banyak hal yang sudah sepatutnya disyukuri.
Setelah tahun demi tahun berlalu, saat akhirnya Fuka harus mencurahkan rasa syukurnya pada baris kalimat dalam tulisan ini. Sepanjang hidupnya, sebenarnya ia merasa syukur sudah ditempatkan Tuhan di tempat yang aman.
Seperti perpustakaan SMP ditengah pergaulan teman-teman yang mabuk dan geng motor, markas komando dan kelas intensif di tengah tengah siswi yang mudah dilecehkan bahkan sering berbuat mesum, kemiskinan di antara hedonisme anak anak beasiswa yang doyan nongkrong di kafe.
Serta ketertarikannya pada organisasi-organisasi muslim yang membuatnya tetap dalam penjagaan pergaulan yang buruk.
Tak terelakkan, teman teman yang ia pernah temui selama ini adalah teman teman yang dapat memenuhi hidup Fuka dengan kasih sayang mereka yang benar-benar tulus.
Sampai ia lupa kalau dulu ia pernah dibully hanya karena dekat dengan sepupu yang populer di sekolah, dilabrak oleh segerombolan adik adik kelas yang iri Karena Fuka lebih dipercaya pihak sekolah, diasingkan karena kutu buku yang belum punya ponsel pintar.
Tapi itu bukanlah masalah besar. Watak buruk yang terlihat jelas hanya akan memudahkan Fuka untuk menjauhi pergaulan negatif. Arkian kini ia tak risau, sebab yang tersisa hanya teman-teman yang benar benar saling mencintai karena Allah.***











