
Origami Around
Acquired Stardust
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

★
Keni
No title available
Xuebing Du

titsay

blake kathryn
we're not kids anymore.
h

Kiana Khansmith
$LAYYYTER

roma★
NASA
wallacepolsom
styofa doing anything
almost home
cherry valley forever

Janaina Medeiros
seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Pakistan
seen from United States

seen from United States
@yasminichi
aku lupa kenapa aku simpan halaman koran lama ini.. apakah karena ingin mencatat buah pikiran pak Emha Ajib? atau karena ulasan buku yang berada di bawah ulasan ini, pada halaman yang sama? Ya, di postingan sebelumnya.. Anyway, aku scan and post aja, supaya bisa dibaca oleh siapa saja yang menemukannya.. hingga bertahun-tahun yang akan datang.
mengenang “Hujan” yang tanganku memilihnya kala gagal Merbabu di awal 2016. Kuputuskan untuk melupakan.
Berserah diri haram setengah hati
Aku sedang berseluncur di antara rak-rak buku online @Mizanstore yang menggelar diskon. Mencari buku untuk Nadine, Rajwa, dan tentu saja aku. Untuk mengurangi interaksi dengan gawai, akibat #dirumahaja. Setelah memasukkan satu judul untuk Rajwa ke dalam keranjang belanja, aku beralih ke rak lain. Mata terpaut pada “I am Sarahza”, lalu klik sinopsisnya, tapi belum cukup juga, aku mengintip 3 artikel ulasan tentang buku ini. Mungkin karena penulis adalah putrinya Bp. Amien Rais hehe..
Akhirnya ku tersengat kalimat “berjuang memang harus setengah mati, dan berserah diri HARAM setengah hati” dari salah satu tulisan ulasan. Okesip. Masuk ke keranjang! Bahasa yang ringan, meskipun sesekali mengutip penjelasan ilmiah dan medis, melancarkanku dalam melahap buku ini, hanya dalam 3 hari. Padahal banyak dijeda kegiatan nginem juga bacanya.
“I am Sarahza” menambah ilmu tentang memaknai takdir. Apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, pasti akan datang menemui. Perkara kapan, kita hanya perlu mengisi waktu dengan kebermanfaatan yang ikhlas hanya karenaNya. Bukan karena ukuran-ukuran manusiawi. Lupakan ingin. Luruskan niat. Kadang Tuhan kabulkan doa, saat kita sudah tak lagi mengharapkannya.
TAWAKKAL – IKHTIAR – TAWAKKAL. Begitu mestinya.
Buktikan tawakkal-mu.
Betapa Tuhan selalu menguji ucapan kita. Betapa DIA selalu memberi kita peluang untuk mengamalkan ilmu agar berakar kuat demi sebuah pohon yang kemudian berbuah dan jadi manfaat.
Mungkin, sakitku kemarin adalah caraNya menguji ilmuku. Seminggu setelah mendengar kisah tentang #UrbahbinZubair yang menolak khamr dan obat bius agar tetap sadarkan diri mengingat Allah ketika kakinya diamputasi, seolah tegurNya,”Katamu, sudah paham tentang #tawakkal . Coba buktikan seperti apa tawakkalmu.” . . Dan pada “karantina” kedua itu, aku merasakan sakit yang luar biasa. Entah level kesakitannya berapa. Hingga kuputuskan di setiap tarikan nafas yang diiringi serangan di kepala, aku ucapkan kalimat #tawhid “Laa ilaaha illallah”, sebagai ganti jeritan sakit. Berharap itu jadi tarikan nafasku yang terakhir.
Jika dulu aku masih melewatinya dengan memaksa disegerakan obat penghilang rasa sakit, kalau perlu dengan membuat perawat panik dan melanggar prosedur, kali ini cukup kulampiaskan lewat tangisan seraya berkata,”Ya Allah, jika sakit ini adalah #kifarat dosaku, aku rela.. Gugurkan sebanyak-banyaknya dosaku yaa Allaah..” . . Tapi.. ah, aku masih harus hidup. Masih harus menghadapi tantangan maksiat. Masih dititah menikmati derita hidup demi menggugurkan dosa-dosa di masa lampau. Semoga Allah memanggilku pulang di kala suami sedang memiliki ridha terbaiknya padaku.
My gratitude to the best nurse I ever had.
Azizah’s Diary
Malam itu, jari-jari tangan Azizah tergerak menuju lembaran kosong pada buku hariannya dan mulai menulis.
Assalamu'alaikum Yusuf... Semoga keberkahan masih mengiringimu.
Yus, ingat nggak? Dulu ketika aku mulai terbebani dengan percakapan kita yang tiada henti, kamu malah berkisah bahwa konon orang-orang di jaman Rasulullah saw bekerja sambil menyenandungkan ayat-ayat Qur'an. "Semoga kamu gak bosan ya berbincang tentang Qur'an denganku." Katamu.
Sekenanya saja kujawab,"Mana mungkin bosan?"
Lalu kau mengakhiri obrolan hanya dengan senyuman, seolah paham bahwa aku sudah lelah, sementara hatiku mulai khawatir pada rasa janggal yang mulai hadir.
Ah kau pasti sudah lupa. Seperti biasa. Tapi tak apa.. Aku masih bisa bersyukur. Walau kini, di duniamu yang baru, aku sudah terhapus.
Yang membuatku bahagia adalah karena sekarang aku bisa merasakan suasana kisah itu. Alhamdulillah hapalan-ku sudah masuk surah yang keenam. Dan aku mulai sering mengalami momen "memasak sambil murojaah".. Haha, kali pertama aku melakukannya, otakku langsung mengingat obrolan kita itu... Lucu yang menyedihkan. Oya, harusnya sudah surah ke-7, tapi ada satu surah yang aku gagal selesaikan. Dropped out. DO. Gagal fokus waktu kamu terbang ke dunia baru itu.
Terima kasih pernah berbagi banyak cerita denganku Yus.. Mudah-mudahan aku bisa segera melupakanmu. Aku takut Allah memurkaiku pada ingatanku padamu.
Azizah menutup buku harian, dan terlelap entah setelah lafadz istighfar yang keberapa. Keesokan harinya, ia dapati pesan singkat dari Yusuf, di ponselnya. Sungguh, Azizah tak mampu memahami yang terjadi, hanya mampu berucap “tabaarakallahu bi yadihil mulku wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir” lalu membalas pendek saja kepada Yusuf, karena tak ingin merusak pemulihan hatinya sendiri. *mentekstualkan kisah nyata seseorang, dari percakapan di tahun 2015.
Sejarah Kopi di Islam
Sebagai penggemar kopi (tapi bukan di ketinggian dataran), aku percaya kubu sejarah yang bilang bahwa perjalanan kopi terbilang panjang untuk bisa dinikmati seperti sekarang.
Steven Topik menceritakan, kopi telah menjadi simbol dalam berbagai praktik spiritual, kontroversi politik, bahkan alat tukar jual-beli. Sejarah kopi dimulai di Ethiopia. Kopi tumbuh liar dan sering digunakan masyarakat setempat untuk upacara komunal dan penahan lapar saat berburu.
Dilansir dari muslim village, kopi mulai menyebar ke bagian lain di benua Afrika. Beberapa kelompok mencoba membuat minuman yang mencampurkan kopi dengan buah berry. Ada pula yang mencampurnya dengan mentega agar mudah dikunyah. Di sana, kopi pun mulai berubah menjadi alat tukar dalam perdagangan. Di Tanzania, kopi menjadi mata uang untuk bisa membeli ternak atau komoditas lain.
Kopi pun mulai menyebar ke seantero dunia berkat jasa para pedagang Arab. Diketahui, muslim Sufi di Yaman sangat menyukai kopi. Pria dan wanita sama-sama berbagi mangkuk berisi kopi. Dulu, kopi diminum untuk mengatasi masalah kesehatan dan diyakini memberikan kedamaian pada peminumnya. Di Yaman, kopi menjadi barang yang sangat dominan selama 250 tahun. Tak mengherankan kopi menjadi sumber kekayaan baik secara ekonomi dan militer kekaisaran Ottoman.
Di seluruh negara-negara muslim, kopi menjadi kontroversial. Topik menulis, kopi menarik perhatian terutama bagi orang-orang yang menghindari alkohol. Terlebih pada perayaan menjelang malam Ramadhan mereka meminum kopi. Beberapa ilmuwan agama keberatan, prihatin dengan sifat obat yang terkandung dalam kopi, dan diyakinkan oleh interpretasi Alquran yang memperingatkan penggunaan kopi.
Perhatian lainnya adalah munculnya kedai kopi. Pembuatan kopi yang membutuhkan keterampilan membuat kebanyakan pedagang membuka kedai. Para pedagang menyadari tak bisa sekadar menjual biji kopi. Oleh karena itu, mereka membuka kedai kopi kemanapun mereka pergi. Tak pelak, tempat berkumpul baru pun bermunculan dan membuat khawatir beberapa pemimpin agama. Misalnya kekhawatiran kedai kopi membuat orang malas datang ke masjid.
Namun, pada 1500, kopi populer di sekitar Jazirah Arab. Bahkan menurut beberapa cerita (mitos), orang-orang Arab memuji Muhammad dan Malaikat Jibril karena telah membawa kopi itu ke bumi. Orang-orang Timur Tengah meminum kopi mereka dengan warna yang hitam dan tanpa pemanis. Lalu ketika orang-orang Eropa mulai minum kopi mereka tak terkesan dengan rasanya tetapi tertarik dengan manfaat yang terkadung dalam kopi.
Seiring waktu, Topik menulis, perkumpulan tersebut bergeser. Kopi menjadi minuman akademisi Eropa dan kapitalis. Tapi sama seperti di Timur Tengah, kedai kopi yang menjadi tempat bersosialisasi, juga dikhawatirkan beberapa penguasa Eropa. Kekhawatiran ini ternyata bisa dibenarkan, ketika kedai kopi berfungsi sebagai markas untuk merencanakan revolusi di 1789 Prancis, serta di 1848 Berlin, Budapest, dan Venesia.
Dengan pertumbuhan masyarakat konsumen di Eropa dan Amerika Serikat, penikmat kopi menyebar ke kelas pekerja. Ketika tentara Revolusi Amerika menerima jatah rum, justru tentara Perang Saudara itu mendapat kopi. Seorang pejuang mengklaim, jika ada kehormatan yang cukup bagi para veteran untuk membuat sebuah agama baru, mereka akan manjadikan kopi sebagai Tuhan.
sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/17/10/16/dunia-islam/khazanah/17/10/16/oxw9ir335-sejarah-kopi-di-islam
Bersyukur adalah berbahagia.
Kadang kala, aku bisa begitu sedih bila kawan-kawan yang pernah karib kini menjauh, dan bertingkah seolah mereka melupakanku, atau mungkin betul-betul lupa. Padahal, di saat yang sama, ada orang-orang baru yang datang menemani langkah menuju tujuan yang sama. Diiringi beratnya berpikir, atau ringannya kelakar penghibur. Bukankah seharusnya aku bersyukur? Bersyukur atas kebaikan Tuhan yang telah mengatur semuanya dengan sedemikian adil, berwarna, dan teratur.
Bahagia itu rumit. Rasa syukur lah yang membuatnya sederhana. ~kata Ridwan Mansyur
I knew I loved you before I met you.
Biasa ya punya teman, yang hadir dalam sepinya, gundahnya, atau butuhnya.. Lalu menghilang bersama lainnya, dalam bahagianya, atau cukupnya..
Dicintai, atau mencintai? Dilupakan, atau melupakan?
Kurasa sudah tak penting lagi. Toh akan datang masa di mana segala ingatan manis takkan mampu mendongkrak peduliku pada orang lain, tersebab sibuk menyelamatkan diri sendiri.
Mestinya aku lebih berharap dalam upaya demi diingat oleh satu-satunya manusia mulia yang akan paling sibuk mempedulikanku di masa depan. yang akan memohonkan keselamatan dan ampunan bagiku meski belum pernah bertemu. yang akan keluar dari nyamannya syurga firdaus untuk sekedar meminumkan air segar dari telaga Al Kautsar bagiku, andai aku terselamatkan.
Tak cukup di situ, ia akan terus memintakan ampunan sekiranya catatan amalan kebaikanku tak mampu menyeimbangkan timbangan dosaku, namun di hatiku masih menyimpan kalimat "laa ilaaha illallaah".
Bukankah lebih mendebarkan? Memantaskan diri untuk dicintainya, menanti perjumpaan dengan ia yang seolah akan berkata kepadaku "I knew I loved you before I met you."
Allahhumma sholli ‘alaa Saidina Muhammad wa ‘ala aalihi Sayyidina Muhammad.
Senyum dari hati
Jika hidup selalu indah, selalu mudah... Jika segala ingin selalu mendapat ijin... . Apakah kau akan bersimpuh dan bersujud mengadu, memohon kepadaNya? Apakah kau akan mengingat dan mendekat kepadaNya?
Semoga, suatu saat, senyummu tak lagi palsu, untuk sembunyikan dukamu. Tapi karena kau telah berhasil tersenyum, dan bahagia tanpa syarat, apapun yang DIA hadirkan di hadapanmu.
Tempat naik (Al-Ma`arij):5 - Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.
SELAMAT HARI ANAK NASIONAL 2017 by : rizkisani
Hari Anak Nasional 23 Juli 2017, Indonesia masih memiliki beberapa PR besar atas permasalahan yang melanda anak-anak di Indonesia. PR besar karena Indonesia membutuhkan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Sebagai bagian dari bangsa ini tentu ini bukan hanya permasalah yang harus dituntaskan oleh pemerintah saja, segala sektor kehidupan yang berhubungan dengan anak harus ikut berpartisipasi dalam pengentasan masalah ini terlebih sektor yang berhubungan sangat dekat dengan anak yaitu keluarga.
Salah satu permasalah anak di Indonesia adalah masih banyak anak-anak yang memilih tidak melanjutkan pendidikannya dan lebih memilih bekerja. Hal ini dikarenakan karena sudut pandang yang terbentuk pada anak adalah sudut pandang kebermanfaatan hari ini, bukan kebermanfaatan di masa yang akan datang. “Lebih baik saya mulung, sehari dapat 20ribu, kalau sekolah butuh jajan dan bikin capek, jadi ga menghasilkan”. Permasalahan ini muncul pada pengalaman penulis sendiri ketika mendapat kabar bahwa seorang anak didik tidak melanjutkan pendidikannya lagi.
Anak bersangkutan memiliki latar belakang tinggal di daerah pengepul sampah dan orang tuanya juga bekerja sebagai seorang pemulung. Mungkin berawal dari keinginan anak yang ingin merasakan susah payah pekerjaan orang tuanya, sampailah si anak mencoba melakukan pekerjaan tersebut dan mungkin juga karena adanya pembiaran oleh orang tua, dan berakhir dengan anak yang memiliki sudut pandang yang demikian.
Dalam sebuah artikel di factsforlifeglobal.org dengan judul “Child Development And Early Learning” dikatakan bahwa anak dalam masa perkembangannya memiliki cara menyikapi sesuatu yang sangat logis serta powerful. Mereka akan kecewa ketika ada hal yang tidak mereka bisa lakukan, mereka akan sangat ketakutan ketika diganggu oleh orang asing, takut akan gelap, takut akan tempat baru. Anak-anak dapat merasakan dengan sensitif ketika mereka terekspos dengan tekanan mental dan fisik atau terekspos dengan kekerasan, dan anak-anak yang terekspos dengan lingkungan tidak baik dapat menjadi anak-anak dengan sudut pandang yang tidak baik pula. Ini lah bagaimana anak-anak merespon terhadap lingkungan mereka serta dampak yang dihasilkan dari lingkungan tersebut terhadap sudut pandang anak.
Benar bahwa kita tidak dapat memilih di lingkungan mana kita dilahirkan dan dibersarkan ketika tiba ke dunia ini, namun bukan berarti kita melakukan pembiaran atas apa yang ada disekitar kita ketika itu merupakan hal yang salah. Keluarga sebagai sektor terdekat dengan anak memiliki peran yang sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak baik secara mental maupun fisik. Cara yang positif dan efektif untuk mengarahkan sudut pandang dan sikap anak oleh keluarga, dapat berupa :
1. Memberikan penjelasan yang jelas kepada anak atas apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.
2. Memberikan respon terhadap anak atas apa yang telah mereka lakukan sebagai bentuk penilaian for what is right and what is better.
3. Serta, menunjukkan sikap yang baik kepada anak.
Baik orang tua, saudara, atau pengasuh anak, harus berperan aktif dalam memperhatikan dan menjaga pola tumbuh kembang anak. Sehingga anak menjadi pribadi yang memiliki semangat untuk tumbuh baik hari ini maupun di masa yang akan datang. Lihat, bagaimana dengan menjadi orang tua dan saudara yang baik saja, kita secara tidak langsung memberikan kontribusi pada bangsa ini dalam proses pengentasan permasalah anak.
LALU BAGAIMANA DENGAN KITA YANG BELUM MENJADI ORANG TUA?
Ya segerakanlah menjadi orang tua…. ga deng canda. Tapi bener juga loh..
Masalah yang terjadi pada anak-anak Indonesia khususnya masalah yang sebelumnya penulis sebutkan tidak semata karena kesalahan orang tua atau keluarga. Namun ini merupakan bentuk akumulasi dari lingkungan negatif lainnya yang terekspos kepada anak, a.k.a efek negatif Sosial Media. Jika ditanya anak lebih memilih sekolah atau libur, anak lebih memilih libur. Karena anak melihat bersekolah adalah hal yang berat, melelahkan, serta tidak menyenangkan. Beberapa hari yang lalu penulis melihat sebuah meme di Instagram bertulisan “17 Juli” dan didukung dengan gambar orang yang stress dan lelah, kemudian dilengkapi dengan caption “I’m not ready for this”. 17 Juli 2017 merupakan hari pertama anak TK dan SD kembali melanjutkan aktifitas belajar mereka setelah sekian lama berlibur, dan meme diatas memberikan pandangan bahwa hal ini sangat tidak menyenangkan.
Hal ini mungkin terkesan bercanda karena mewakili apa yang sebagian besar kita rasakan ketika memulai kembali aktifitas bersekolah. Namun menurut penulis, ini merupakan salah satu penyebab kenapa anak dengan mudahnya meninggalkan pendidikan mereka, karena adanya mindset-mindset negatif yang terekspos kepada anak melalui sosial media tentang bersekolah, dan kita tau sendiri bagaimana anak-anak saat ini dengan mudah mengakses sosial media tersebut. Dan masih saja kita melakukan yang namanya pembiaran…
Dalam sebuah buku berjudul “ The Tipping point” karya Malcolm Gladwell, terdapat sebuah teori yang berhubungan dengan pembiaran. The Broken Windows Theory oleh Wilson dan Kelling, sebuah teori yang menunjukkan bagaimana sebuah pembiaran atas sesuatu yang negatif dapat menyebabkan berkembangnya hal negatif tersebut. Teori ini berawal dari sebuah permasalah yang dihadapi United State pada tahun 1980an yaitu kasus kriminal yang sangat tinggi. “If a window is broken and left unrepaired, people walking by will conclude that no one cares and no one is in charge. Soon, more windows will be broken, and the sense of anarchy will spread from the building to the street on which is faces, sending a signal that anything goes.
Berdasarkan teori diatas dapat kita renungkan bagaimana akibat pembiaran yang kita lakukan atas mindset-mindset negatif yang terekspos kepada anak tentang bersekolah. Siapa tau suatu saat nanti anak-anak bisa benar-benar menjadi malas dan mungkin saja benci untuk bersekolah. Disinilah terjawab peran apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda dalam mengetas permasalahan pendidikan anak di bangsa kita ini. Stop sebarkan info-info yang tidak menyenangkan tentang bersekolah, baik dalam bentuk meme ataupun status. Stop berkeluh kesah tentang beratnya bersekolah atau kuliah melalui sosial media, stop menunjukkan tugas-tugas yang berat melalui sosial media. Percayalah itu bukanlah hal yang berat hanya saja kita yang tidak memaksimalkan diri untuk menyukurinya dan Allah pun tidak akan memberikan cobaan diluar kapasitas hamba-Nya. Daripada memberikan komentar atau pandangan negatif tentang beratnya bersekolah, akan lebih baik menunjukkan bagaimana serunya bersekolah, bertemu dengan teman ketika belajar kelompok, berdiskusi dan bermain bersama guru, indahnya bersemangat dalam persiapan ujian, dan bahagianya menjadi kebanggan orang tua saat menuntaskan pendidikan dengan nilai yang baik. Sehingga anak-anak dapat mendapat energi positif bahwa ternyata bersekolah itu merupakan hal yang menyenangkan, ketika mereka sudah menjalani pendidikan dengan hati yang senang dan nyaman maka anak suatu saat akan memahami dengan sendirinya bahwa pendidikan itu adalah hal yang penting.
Jadi teman-teman se-generasi, peran dalam pengentasan masalah di bangsa ini tidak melulu melalui orasi, demo, atau diskusi terbuka bersama pemerintah yang terkesan kita hanya menuntut pemerintah untuk menuntaskannya. Tapi mulailah dari diri sendiri, dan yakin hal kecil yang kita lakukan secara terus menerus dapat memberikan kontribusi yang besar pada bangsa ini. Semoga hal kecil positif yang kita lakukan dapat bermanfaat bagi pendidikan anak-anak di bangsa yang kita cintai ini.
Selamat Hari Anak Nasional 2017.
Keterangan: Rizki Sani adalah salah satu relawan pengajar Swayanaka, yang saya kagumi mindset-nya
Azizah & Yusuf
Azizah masih setia menanti imam yang sebenarnya, yang mau menemani perjalanannya menuju kampung akhirat nan bahagia. Ia seringkali kesepian dalam ikhtiarnya, meski lambat laun terbiasa juga dengan keadaannya.
Di suatu masa, Allah mempertemukan Azizah dengan Yusuf, pemuda yang mengaku sedang memulai perjalanan menuntut ilmu, menuju Allah. Azizah dan Yusuf menjadi dekat, nyaris setiap hari bertukar ilmu, berbincang tentang banyak hal, dan saling memperhatikan. Yusuf sering berkata bahwa Azizah bagaikan guru baginya. Yusuf tidak tahu, bahwa sesungguhnya Azizah justru belajar banyak dari Yusuf. Waktu berlalu, kebersamaan dan kebaikan Yusuf, membuat Azizah jatuh hati padanya. Pada cara Yusuf melihat dunia, yang telah semakin mendekatkan Azizah kepada Allah ta’ala.
Sebenarnya Azizah yakin, bahwa sikap Yusuf bisa jadi sama terhadap wanita-wanita lainnya, karena Yusuf memang lelaki yang baik. Namun tetap saja, Azizah ingin terus menikmati perhatian Yusuf, yang baginya adalah sebuah keistimewaan, yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
Azizah tahu, bahwa Yusuf hanya menganggapnya sebagai sahabat dalam menuntut ilmu, sebagai seseorang yang mau menemani dan mendukungnya dalam berbagai keadaan. Azizah tak pernah ragu untuk menolong Yusuf, semampunya. Karena meski mereka tak punya ikatan istimewa, Azizah ingin melihat Yusuf berhasil. Mungkin, bagaikan Khadijah yang senantiasa mendukung Al Amiin.
Azizah tetap mengucapkan kebaikan-kebaikan selayaknya doa untuk Yusuf, walaupun hatinya pedih jika membayangkan doanya akan terkabulkan. Pedih karena kebahagiaan yang sama yang ia doakan untuk Yusuf, tak kunjung tiba menghampirinya… Dan atas kehendakNya, cukup banyak ucapan Azizah yang menjadi nyata.
Azizah tahu, betapa pun ia mencintai Yusuf, mereka takkan bisa bersatu, karena ada hal-hal yang menghalanginya. Azizah sadar, masanya bersama Yusuf cepat atau lambat akan berakhir. Karena Yusuf yang menjauh, meninggalkannya, atau melupakannya. Azizah pun paham, ia tak mungkin berharap berjumpa lagi dengan Yusuf. Serindu apapun Azizah pada Yusuf, ia tak ingin merendahkan dirinya dengan meminta perjumpaan. Azizah juga tak ingin mengganggu kekhusyukan Yusuf dalam menimba ilmu, dan dalam tugas-tugasnya.
Hingga ketika momen yang ditakutkan akhirnya datang, hati Azizah pun runtuh sedalam-dalamnya. Azizah memendam harapan,”Apakah hati Yusuf menggenggam cinta yang sama untukku? Seandainya ya, cukup lah sekedar ku tahu, lalu aku kan pergi menghadap sang Khaliq dengan tersenyum. Seandainya tidak, cukup sudah, aku takkan lagi mengganggunya, dan membuangnya jauh-jauh dari ingatan, karena ini semua memang sia-sia bagiku.”
Namun Azizah kemudian terhempas oleh teguran nuraninya,”Untuk apa kamu mengharap-harap dari orang yang belum tentu mengharapkanmu sebagaimana kamu mengharapkannya? Ketika sakaratul maut nanti, toh yang akan kamu harap hanya ampunan dari Tuhanmu. Lupakan saja harapan bodoh untuk mendapatkan jawaban itu!”
Azizah tersadar, bahwa tak pernah ada cinta yang lebih layak untuk direngkuh, kecuali cintaNYA. Bahwa ia tak ingin ada yang lain merajai hatinya, kecuali Ar Rahiim. Azizah hanya mampu terisak tangis dan melanjutkan doanya, di atas keyakinan bahwa Allah akan mendatangkan kebahagiaan untuknya, entah kapan, entah apa bentuknya. Seyakin Ratu Asiyah yang meminta rumah di dekat Allah.
"Pico" PV Financing Initiatives for the poor in the outer islands of Indonesia; a presentation
as a speaker in The 4th Symposium Small PV-Applications, ICM, Munich, Germany, June 9-10, 2015, an international renewable energy symposium, shared field experience for small photovoltaic technologies and ideas for rural people in east Indonesia.
kindly email me at [email protected] for detailed presentation content.
Piagam Madinah, dan Garuda Pancasila
Di #kelaskelapadua kemarin, adik-adik berkreasi dengan lambang negara kita. Serius, ini bukan ideku. Kurikulum /silabus, sepenuhnya menjadi wewenang kakak pengajar @Swayanaka_Jkt.
Tapi tentu aku paham kenapa-nya. Aku jadi ingin cerita apa yang kutau, meski belum tentu sempurna benar-nya. Karena kebenaran mutlak jelas di tangan Tuhan. Mungkin bisa bantu teman-temanku di Instagram, yang sedang mempersiapkan diri menjadi orang tua, sekolah pertama bagi anak-anaknya di masa depan.
Ketika Nabi membangun tatanan politik di Yastrib (nama asal Madinah), beliau tidak mendirikan Negara Syariah dengan menjadikan Islam sebagai agama resmi negara, dan al-Qur’an sebagai konstitusinya. Melainkan pada kesepakatan bersama antar warganya, dikenal dengan “Piagam Madinah” (Shahifatul Madinah), yang kemudian menjadi landasan bagi kehidupan masyarakat Madinah yang majemuk, agar kaum Muhajirin dari Mekkah, kaum Ansor, penganut Yahudi, Kristen, Majusi, dan agama pagan di Madinah bisa hidup berdampingan, bersama-sama mempertahankan wilayahnya dari agresi musuh.
Dalam Konstitusi Madinah, misalnya, terdapat pasal yang menegaskan bahwa kaum Muslim dan Yahudi merupakan satu umat. “Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan kaum Muslim. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka.” Juga ada pasal tentang perlindungan terhadap kebebasan menjalankan keyakinan agama masing-masing.
Piagam Madinah (dan seluruh komponen masyarakatnya) menempatkan Nabi Muhammad sebagai Kepala Negara Madinah, sebagai wasit dan pemutus perkara manakala ada perselisihan. Tapi ingat, bukan lantaran beliau adalah Rasulullah, karena warga Madinah yang non-Muslim jelas tidak mengimaninya, dan tidak ada paksaan bagi mereka untuk mengakui kerasulannya.
Dengan kata lain, dasarnya adalah kesepakatan bersama warga Madinah. Nabi begitu kukuh memegang kesepakatan yang tertuang dalam Konstitusi Madinah dan dengan tegas memberi sanksi pada para pelanggarnya, apa pun agamanya. Ketika ada satu kabilah Muslim melanggar Konstitusi Madinah, Nabi tak segan menghukum mereka.
Begitu juga terhadap kabilah Yahudi yang mengkhianati Konstitusi Madinah dengan perbuatan makar mereka, Nabi mengusir dan memerangi mereka. Itulah yang dilakukan Nabi terhadap kaum Yahudi Madinah dari Bani Nadzir, Bani Qainuqa’, dan Bani Quraidzah. Mereka masih terikat dengan kesepakatan Piagam Madinah, tapi mereka merongrongnya.
Sebaliknya, kalangan Yahudi dan non-Muslim yang loyal terhadap perjanjian tetap hidup damai di Madinah. Dan Piagam Madinah diakui banyak kalangan termasuk non-muslim, sebagai konstitusi pertama di dunia.
Bagaimana dengan NKRI?
Negara Madinah adalah negara kesepakatan di mana kehidupan masyarakat majemuknya dipimpin oleh Rasulullah saw yang ucap dan lakunya dituntun oleh Allah Swt. Bahkan sebagian ulama telah menyebutnya sebagai negara Islam, meski masih dalam masa perjuangan baginda saw. Demikian pula republik kita, lahir sebagai hasil kesepakatan para pendirinya, yang sangat meyakini kalimat-kalimat Allah. Pancasila dipilih sebagai dasar negara karena dengan cara itulah kebhinekaan terjaga. Ikatan politik yang mendasarinya bukanlah sentimen primordial, melainkan kesatuan sebagai bangsa. Sebagaimana Piagam Madinah menjadi titik temu menyatukan kaum Muslim dan Yahudi Madinah dalam persaudaraan keumatan, maka Pancasila menjadi titik temu yang menyatukan warga Muslim dan non-Muslim dalam persaudaraan kebangsaan.
Tokoh-tokoh Islam yang ikut dalam kesepakatan tersebut sebagai wakil umat Islam menyatakan setuju dengan negara kebangsaan tersebut ketimbang mendesakkan berlakunya Piagam Jakarta yang memberi mandat kepada negara untuk mewajibkan penerapan syariah pada pemeluknya. Dengan keputusan itu, mereka selintas tampak tidak menerapkan syariah dalam bernegara. Tapi itu hanya lahiriahnya saja. Dari segi substansi, mereka justru menerapkan tujuan utama syariah, yakni merealisasikan kemaslahatan bersama yang notabene merupakan TUJUAN SYARIAH.
Para tokoh Islam tersebut menyadari, tuntutan menegakkan dawlah Islamiyah atau khilafah dalam konteks Indonesia yang majemuk akan berujung pada perpecahan bangsa dan sektarianisme politiik yang justru bertentangan dengan prinsip maslahat.
Kesepakatan bersama yang mendasari Negara Pancasila termanifestasi dalam konstitusi RI. Konstitusi merupakan dokumen kontrak sosial yang mengikat semua pihak yang terlibat, langsung atau tidak. Artinya, kontrak sosial tersebut juga mengikat warga negara yang lahir belakangan. Setiap warga negara harus memiliki kesetiaan terhadap konstitusi, karena konstitusi merupakan manifestasi dari perjanjian sosial seluruh warga negara.
Tentu saja kesepakatan bisa diubah, konstitusi bisa diamandemen, ditambah, atau dikurangi sesuai dengan kalkulasi kemaslahatan hidup yang dinamis. Namun, selama itu belum terjadi, maka warga negara harus menaati konstitusi yang ada.
Pendapat pribadi: Kalaulah hendak mengubah bentuk pemerintahan ini, silakan saja. Toh bagiku, ruh syariah Islam yang telah dihembuskan oleh para pendiri bangsa ini ke dalam Pancasila, maupun konstitusi UUD ’45, hanya sebuah strategi awal untuk membawa bangsa ke peradaban yang lebih tinggi, dengan tetap menjunjung tinggi keadilan bagi sesama manusia. Sampaikan ide perubahan dengan cara-cara yang baik, tidak jalan sendiri-sendiri, yang cenderung hanya akan menggiring kita pada perpecahan dan kerusakan. Allahu a’lam bi shawab.
Dikompilasi dari berbagai sumber: bertanya kepada yang lebih tau, twitter, sampai ke ngkong gugel.
Bisa membaca Al Qur’an dalam 6 jam!
Anda ingin cepat bisa baca Alquran ?? Baca Alquran itu mudah, itu tidak butuh waktu lama
Dengan aplikasi DVD Cinta Quran Virtual akan membongkar kebiasaan dan anggapan yang selama ini tersebar bahwa belajar baca Quran itu sulit... Padahal kenyataanya tidak demikian, banyak ayat-ayat Alquran yg menegaskan bahwa Alquran itu mudah dibaca, dipelajari dan dipahami
"Dan sungguh benar-benar Kami telah mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yg mengambil pelajaran" (Q.S. Al-Qamar : 17,22,32,40)
KENAPA APLIKASI INI WAJIB DIMILIKI? - Aplikasi ini sangat cocok bagi Anda yang belum bisa baca Alquran sama sekali dan masih terbata-bata - Penggunaannya pun sangat mudah & praktis serta bisa dipelajari oleh semua tingkatan usia mulai dari anak SD sampai orang dewasa - Dapat digunakan kapan pun dan dimana pun! - Satu aplikasi bisa digunakan untuk seluruh anggota keluarga - Hadiah terbaik untuk keluarga atau sahabat yg masih belum bisa baca Alquran - Berisi metode Tahrir yg telah teruji dan membantu puluhan ribu alumni di seluruh Indonesia
BONUS SPESIAL !! 1. Voucher Umroh Royal Indonesia senilai 1juta rupiah 2. Layanan Ekstra CQ Call
Apa Kata mereka terhadap program Aplikasi ini : "... Aplikasinya sangat mudah digunakan & menyenangkan ketika belajar Alquran dgn aplikasi ini. Terima kasih Cinta Quran!" (Steven Yudiantho - Muallaf & Direktur HRD Danone Indonesia)
Yuk segera miliki aplikasi ini, Insyaa Allah Anda akan mendapatkan manfaat dunia akhirat!
Pesan sekarang juga!
Info lebih lanjut hubungi : Call/WA 0896 6116 6271
Good job, Syahidas!
Iya, ini pamer. . Maafkan, aku cuma seorang emak yang masih baper akibat #syahidas -nya yang biasanya ga akur, tapi karena nolongin kucing jadi #teamwork, sampe" si kakak pesen #gojek untuk beli #whiskas buat si kucing. . Keep up the good work, guuurls! 👭
@KelasKelapaDua bersama Swayanaka Jkt, di Cendekia, Metro TV, Januari 2017
Pssst sesungguhnya, tenggorokanku tercekat menahan desakan air mata haru di saat mengatakan “melihat ada yang secara serius, dan konsisten membaktikan waktunya untuk bikin lesson plan, briefing, trus menyiapkan segala macam peralatan untuk bisa delivery materi... itu.. sesuatu banget “
http://video.metrotvnews.com/cendekia/akWwJRBk-pelajar-berbagi-ajar-1
http://video.metrotvnews.com/cendekia/4barLQZk-pelajar-berbagi-ajar-2
Puji syukurku kepada Allah, Maha Pengasih, yang telah mengirimkan Swayanakers untuk anak-anakku di @Kelaskelapadua..
Jaga semangat ya sob!