Saya jatuh, tapi saya (akan) naik
Tapi setelah saya jatuh, saya terlempar ke dunia lain. Saya berada di tempat yang... oh, saya tidak bisa menggambarkannya dengan baik! Bahkan seorang sastrawan ulung sekalipun tidak bisa dijamin menciptakan kata-kata yang sama eloknya dengan dunia tempat saya berpijak sekarang. Bahkan untuk menjelaskannya dengan kata-kata yang biasa saya pakai untuk menyusun laporan pun—logis dan lugas—belum tentu bisa tersampaikan dengan baik. Bahkan saya tidak yakin ada kata yang bisa menyimbolkan keindahan yang saya rasakan sekarang.
Tapi, jika kalian masih ngotot meminta penjelasan, maka inilah penjelasan abal-abal saya.
Saya merasakan sesuatu yang manis. Bukan, bukan di lidah saya. Meski mulut saya sempat menganga—sampai sekarang—karena mengagumi keindahan di depan mata saya, saya tidak merasakan manis merasuk ke mulut saya. Saya merasakan manis di kulit saya, di perasaan saya.
Saya merasakan manis di kulit saya. Manis yang tidak terbuat dari gula. Manis yang “pas”-nya mengalahkan resep saklek para koki terkenal. Manis yang hanya bisa dirasakan di buah; manis karena nikmat Tuhan. Dan ini adalah manis yang tepat, manis yang nikmatnya luar biasa. Manis yang tidak akan membuat tenggorokanmu haus, dan manis yang tidak akan membuatmu mual. Tapi manis yang membuatmu menginginkan lebih dan lebih.
Nah, paham tidak? Tidak, ‘kan! Itulah kenapa saya bilang tidak ada kata yang pas sandingannya dengan keindahan ini. Tapi, itu bukan berarti saya akan berhenti menjelaskannya.
Setelah kulit saya merasakan manis, mata saya memandang keseimbangan. Yang ini mungkin lebih bisa dipahami. Kalian mungkin pernah dengar pengetahuan kecil semacam “suasana dingin” pada film-film barat atau “suasana hangat” pada film-film timur. Nah, mata saya memandang lebih dari itu. Suatu keseimbangan yang tercipta demikian cermat. Setiap warna yang ada di depan mata saya begitu lembut, tegas, dan tentunya menyenangkan. Rasanya setiap warna yang ada di sini akan menjadi warna favorit saya. Bahkan ketika pink seharusnya menjadi warna yang menjijikkan bagi saya, pink di sini seribu persen akan berubah menjadi warna yang paling saya cintai. Begitu pula dengan semua warna lainnya. Saya mencintai semua warna.
Setelah mata saya tidak puas-puasnya memandang keseimbangan, telinga saya merasakan kedamaian. Kedamaian yang begitu membuai, kedamaian yang begitu nyata, seolah-olah hidup saya sebelumnya adalah hal semu; ciptaan imajinasi terburuk saya. Telinga saya memakan ketenangan. Telinga saya hanya mendapat asupan keamanan, kepastian bahwa saya akan hidup dalam kemakmuran tiada akhir.
Saya memejamkan mata. Oh, betapa ini begitu indah. Betapa semua ini terasa sangat nyata, bahkan melebihi kehidupan sebelum saya. Dan... tunggu, tunggu sebentar. Apakah saya memang hidup sebelumnya? Maksud saya, sebelum saya jatuh tadi? Rasa-rasanya ini adalah kehidupan saya yang sebenarnya. Apa yang terjadi sebelum saya jatuh hanyalah rekaan otak saya yang berusaha mengintip kemungkinan buruk selain kenyataan ini.
Tapi kemudian saya sadar. Waktu terus berjalan. Ketika saya membuka mata, yang saya lihat hanyalah sesuatu yang buram. Semuanya berputar. Merah mendominasi pandangan saya dengan membabi buta. Kulit saya tidak merasakan manis, melainkan sengatan yang luar biasa membakar di sekujur tubuh. Mata saya tidak melihat keseimbangan, melainkan keruntuhan karena saya memandang dunia dari sudut pandang aspal. Telinga saya tidak mendengar kedamaian, karena derasnya hujan menusuk-nusuk luka yang menghias tubuh saya, menulikan pendengaran saya.
Saya memejamkan mata sekali lagi.
Tapi setelah saya jatuh, saya tidak langsung terlempar ke dunia lain. Tuhan masih membiarkan saya menikmati dunia tempat saya hidup selama sembilan belas tahun... untuk beberapa saat ini. Karena saya tahu, begitu pula dengan Tuhan, bahwa sebentar lagi saya tidak akan berada di sini lagi.
Dan setelah saya jatuh, saya yakin Tuhan telah mengirimkan utusan-Nya untuk menjemput saya.
Dan pertama kalinya setelah saya jatuh, saya bisa tersenyum.
Semoga Tuhan membawa saya ke dunia-Nya!