Tadi malam sekitar jam 21.00 aku beranjak pulang menuju ke kos dari tempat pelatihan DM2. Agak kemalaman, tapi berhubung malam Minggu dan besok ada pemeriksaan kesehatan masyarakat, aku memutuskan untuk tetap pulang ke kos meski badanku sudah cukup letih setelah seharian beraktivitas. Di tengah perjalanan aku teringat bahwa masih banyak yang harus ku selesaikan, bisa jadi lembur malam mini. Akhirnya ku putuskan mampir ke toko market dekat di daerah Pandanaran untuk membeli kopi.
Saat keluar dari toko, ada yang menarik perhatianku. Jam menunjukkan pukul 21.20, keadaan depan toko masih ramai. Banyak pasangan muda yang bercengkerama menikmati malam. Ada pemandangan yang menarik bagiku. Diantara muda-mudi, ada anak laki-laki yang duduk sambil memandang kosong jalanan. Mungkin usianya sekitar 10 tahunan. Tampilan anak tersebut sedikit kumal, corang-coreng, dan bajunya sedikit lusuh. Ku lihat di sampingnya ada kain karung sebagai penanda bahwa ia baru saja mengumpulkan loakan. Ku perhatikan beberapa saat sebelum beranjak menuju dia. Ternyata dia tidak meminta-minta. Mungkin dia kelelahan, sehingga mampir untuk beristirahat. Akhirnya ku putuskan untuk membeli beberapa roti dan susu untuknya.
Ku hampiri anak tersebut dan mengajaknya bicara,“Kok belum pulang?”
Si anak kaget ada yang mengajaknya bicara. Ia menggeleng. Aku penasaran.“Rumahmu di mana?”
“Tanah Mas.” Wah cukup jauh juga dari sini.
“Namamu siapa, dek?”“Muhammad Juli.”“Wah lahir di bulan Juli ya. Berarti sebentar lagi ulang tahun dong, hehe.”“Iya, besok Juli usiaku 13 tahun.”Akhirnya aku tawarkan susu dan roti untuknya. Ia tampak malu-malu tapi senang menerimanya. Satu roti dilahap sembari aku masih mengajak ngobrol. Lucu sekali melihat seorang anak yang belepotan makan coklat saking laparnya
.Dari perbincangan singkatku, ternyata Juli masih bersekolah kelas 1 SMP. Dia mempunyai satu orang kakak dan dua orang adiknya. Kakaknya usia 15 tahun, seharusnya saat ini kelas 1 SMA. Namun, karena keterbatasan biaya, sang kakak keluar dari sekolah saat kelas 2 SMP. Sementara adik pertamanya kelas 4 SD dan si bungsu masih usia 4 tahun. Juli sehari-hari bekerja membantu ayahnya mencari loakan botol bekas untuk dijual, sementara ibunya berjualan gorengan di dekat rumah. Juli termasuk beruntung karena ayahnya tetap memperhatikan pendidikannya dengan membolehkan Juli membantu hanya ketika di akhir pekan. Biasanya Juli diantar setelah Maghrib menggunakan pit ontel oleh ayahnya ke daerah Tugu Muda dan berjalan sampai simpang lima untuk mencari botol-botol layak pakai.
Juli mengaku tidak pernah diminta orang tuanya untuk membantu. Semua datang dari keinginan sendiri untuk tetap bersekolah. Ia begitu takut tak mampu melanjutkan sekolah seperti kakaknya, padahal Juli suka belajar. Juli pun yakin dengan harapannya dia menjadi dokter, suatu saat akan terwujud asalkan dia mau bekerja keras.
Juli mendewasa dibandingkan usia sebayanya. Roda kehidupan menamparnya untuk segan bermalas-malasan. Ia sadar ada banyak harapan yang dipercayakan kepadanya untuk mengubah masa depan keluarganya. Juli kecil pun mengerti bahwa keluhan tak menyelesaikan masalah, ia justru lebih bersemangat untuk mengumpulkan botol demi botol agar menghasilkan uang. Makin banyak botol, makin banyak uang. Makin banyak uang, aku bisa belajar terus di sekolah. Makin banyak aku belajar, aku makin cepat menjadi dokter. Suatu strategi yang luar biasa pada pikiran Juli.
Hanya satu yang dikeluhkan Juli. Juli tak mempunyai seragam sekolah. Terlalu mahal, bapak ibu belum mampu beli, katanya sambil membuang pandangan ke jalanan. Mungkin ia ingin menangis, tapi malu pada diriku yang baru dikenal beberapa menit. Saya percaya, seorang anak tetap terlahir sebagai seseorang yang baik hati dengan jiwa yang lurus. Termasuk Juli dan teman-temannya. Juli masih beruntung, hidupnya tak dihabiskan sepenuhnya di jalanan. Masih ada yang mengajarkan budi pekerti dan menyayanginya di rumah.Setelah beberapa menit mengobrol, aku pamit pulang. Juli masih harus melanjutkan pekerjaannya di Tugu Muda. Sebelum pulang, aku meminta ia untuk meminum susu yang aku beli. Tapi ia menolak.
“Udah, Kak. Makasih. Tadi rotinya udah buat kenyang. Susunya buat adik aja di rumah.” Rasanya segala kelelahan, kepenatan, keletihan menguap begitu saja dari pikiran saya. Masya Allah, betapa tulus yang dia pikirkan untuk adik-adiknya. Padahal bisa saja dia menghabiskan semuanya sendirian, tapi ia lebih ingin berbagi walau hanya sedikit kepada adik-adiknya.
Terkadang kita lupa betapa banyak nikmat yang terlupakan untuk disyukuri. Tempat dan status mewah yang kita sandang adalah harapan banyak orang. Menjadi mahasiswa seolah punya harapan yang lebih besar untuk menuju kesuksesan. Tinggal sebentar lagi mencapai sarjana! Tinggal sedikit lagi mencapai cita-cita!
Saya tak bisa membayangkan jika ada di posisi Juli. Untuk terus menajamkan mimpi saya dan terus menggelorakan semangat harapan di tengah kesempitan, belum tentu saya mampu melaluinya. Tapi Allah Maha Sayang, Ia berikan ujian bagi mereka yang benar-benar dipercaya menjalaninya. Semoga Juli kecil senantiasa sehat. Semoga ia takkan berhenti mengejar title sebagai teman sejawatku.