
oozey mess
Cosimo Galluzzi
$LAYYYTER

★

titsay
Mike Driver
Fai_Ryy

❣ Chile in a Photography ❣
The Stonewall Inn
No title available
YOU ARE THE REASON
ojovivo

JVL

tannertan36
d e v o n

Love Begins
🩵 avery cochrane 🩵
Monterey Bay Aquarium

if i look back, i am lost
The Bowery Presents

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Pakistan

seen from Ireland

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Singapore

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Argentina
seen from Netherlands

seen from Australia
seen from United Kingdom
@yoctanr
I dont ask u to be my girl friend. But i ask u to be mother of our children
Sekarang udah ada ekstraknya
saya yang salah, kenapa tak menjepret foto tapi tak tahu kuratornya :}
Hal yang Saya Gumamkan di Biennal Jogja XIV
jam di layar handphone kurang lebih menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tapi siapa sangka antrian di depan gedung Jogja Nasional Museum mengular panjang. Diantara kerumunan antrian terceletuk ucapan ”Ini acara apaan ya?”
Sabtu (9/12) kebetulan sehari menjelang berakhirnya ajang pameran seni kontemporer Biennale Jogja XIV. Berdiri di tengah antrian yang terus memajang, tersirat rasa pesimis mau berapa lama antri juga jumlahnya sebanyak ini. Namun saya salah, ternyata cepat saja barisan kami yang beberapa saat menunggu itu dipersilahkan masuk.
Benar saja, masuk ke dalam gedung museum dan galeri seni kontemporer terasa sedikir crowd. Meski tak sampai bersesak sesakan saya merasa ini cara yang salah untuk mengapresiasi karya seni. Lorong panjang selepas pintu masuk berisi dengan coretan tangan menjadi karya seni yang pertama menyambut. Kanan-kirinya berupa ruang-ruang yang juga menampilkan seni yang berbeda, salah satunya berjudul When I Google Ahok.
Sedikit hal yang terus menggelitik selepas menyelesaikan semua pertunjukan seni di sana. betapa banyaknya pengunjung itu dipenuhi dengan nafsu yang menggebu gebu untuk selfie.Ke sana tak ubahnya berburu spot swafoto. Angkat tongkat selfie tinggi-tinggi. Pasang pose yang etnah saya rasa tak nyambung dengan instalasi yang dihadirkan.
Jeprat-jepret tak peduli dengan batasan jarak, berkerumun, dan saya juga jumpai karya seni yang lepas dari tempatnya karena ulah pengunjung demi nafsu selfie-nya. Penuh dengan peluh pun tak masalah asal bisa foto. Masih bergumam dalam hati, mungkin selfie adalah satu cara mengapresiasi karya seni.
mendialogkan masa lalu, menakar identitas
Yang Tersisa dari Main ke Merapi
Libur lebaran lalu salah satu agenda kami berlibur ke kaliurang. salah satu kegiatanya yakni lava tour. terbilang ini pengalaman pertama menjajal medan berliku di bekas aliran lahar gunung Merapi.
Ada sejumlah titik yang kami lewati dalam lava tour saat itu. Paket perjalanan yang kami sebenarnya terbilang paling pendek diantaranya paket perjalanan yang lain. Sekitar dua hingga tiga jam waktu yang kami habiskan untuk perjalanan sekaligus mengunjungi sejumlah titik. Seingat saya yang terjauh hingga mencapai bunker kaliadem.
Salah satu titik yang kami kunjungi yakni petilasan Mbah Maridjan. Yakni lokasi dimana sang juru kunci Gunung Merapi ini meninggal dunia karena terjangan awan panas pada erupsi 2010 lalu. Tiba disana terbilang masih pagi. Namun sudah banyak sekali pengungjung yang memadati tempat tersebut. parkiran jeep dan kendaraan di sana cukup penuh. Gunung merapi nampak menjulang gagah memadangi kami di bawahnya.
Sebelumnya saya kurang tau persis bagaimana kondisi di wilayah Kinahrejo tersebut. Saat berada di sana agaknya fasiltas tersedia cukup lengkap. Selain bekas petilasan itu sendiri, berdiri kokoh juga pendopo dengan desain Joglo serta gardu pandang.
Beberapa barang yang tersisa dari erupi tak lapu dipajang. Benda yang menjadi saksi bisu erupsi gunung merapi itu diantaranya kendaraan yang tinggal rangka, kerangka binatang, hingga beberapa alat gamelan. Begitu juga sisa perabotan rumah tangga, disusun layaknya sepeti sebelum diterjang bencana.
Disamping barang-barang yang tersisa dari kejadian alam itu, suasana suram itu seolah turut tertinggal di sana. Salah satu celetukan yang saya dengar dari seorang pengunjung merasa betapa ”dinginnya” suasana di tempat tersebut. Sejumlah foto-foto yang menggambarkan betapa mengerikannya kejadian saat itu juga ditampilkan di dinding .
Petilasan Mbah Maridjan tidak hanya bicara soal erupsi Merapi. Bergerak pula roda ekonomi di sana. Ada beragam oleh-oleh yang disediakan. Souvenir yang tersedia seperti kaos, topi dan lain sebagainya. Selain itu dijajakan pula wedang jahe merapi dan beberapa panganan. Semua itu masih dikelola oleh kerabat Mbah Maridjan sendiri.
Saya sebenarnya cukup beruntung saat itu dapat berjumpa langsung dengan Pak Asih. Juru kunci Gunung Merapi yang baru yang juga sekaligus anak kandung dari Mbah Maridjan. Sosoknya yang berkacamata terbilang ramah dan murah senyum. Sayangnya saat itu saya tidak dapat ngobrol banyak.
Jika doa bukan sebuah permintaan, setidaknya itu adalah pengakuan atas kelemahan diri manusia di hadapan Tuhannya - Pidi Baiq (1972-2098) #dilan #pidibaiq #quote (di Starbucks Uttara)
Kedai Filkop, Ngopi di Joglo
Ada banyak alasan kenapa orang mendatangi Kedai Filosofi Kopi. Entah karena sebelumnya karena telah merampungkan baca novelnya atau kerena filmnya yang booming. Satu lagi alasan yang tidak bisa dilewatkan, yakni karena ini terbilang tempat ngopi yang hype di ibu kota.
Belum lama ini Kedai Filosofi Kopi buka di jogja. Konsep yang diambil joglo, bangunan khas jawa. Tempatnya pun di tengah desa. Hastag yang mereka gaungkan #ngopidijoglo. Awalnya saya sedikit skeptis untuk ke sana. Rasa-rasanya sebagai orang yang lama tinggal di Jogja disuguhi suasana bangunan joglo dan ndeso agaknya bakal terasa biasa saja.
Namun anggapan saya terpatahkan. Saya akui mereka cukup serius menyiapkan joglo sebagai tempat jamuan kopi mereka. Terhitung ada empat bagunan joglo dengan emperannya tersedia untuk menikmati kopi. Ditambah lagi sederet tempat duduk di seberang jalan di depan jejeran joglo tersebut.
Sore itu saya sengaja datang tidak terlalu sore, sekitar jam empat. Ada satu bangunan utama tempat barista meracik kopi yang sekaligus menjadi tempat penikmat kopi untuk memesan minuman mereka. Tidak cukup ramai, namun bisa dibilang ada cukup banyak orang saat itu.
Kopi yang saya pesan saat itu secangkir espresso dan cappocino latte. Sebagai orang dengan lidah yang awam dengan kopi saya tidak cukup pintar men-judge apakah kopi yang saya nikmati itu cukup baik atau tidak. Namun saya bisa bilang espresso mereka pekat dan kelam.
Ada beragam jenis sajian kopi di sana. Namun umumnya bukan kopi daerah. Seperti latte, V60, atau pun tubruk. Untuk makanan pendamping ada beberapa jenis pastry dan churos.
Saya merasa berlama-lama di sana bukan hal yang buruk. Terlebih untuk menghabiskan waktu di saat senja. Suasana desa yang chill dan pendar lampu yang menghiasi kedai membuat anda betah di sana. Satu yang jadi catatan, saya merasa tidak cukup nyaman ketika harus memilih pesanan di depan kasir sekaligus. Rasanya seperti sedang ditodong untuk segera menentukan pilihan dalam waktu singkat. Sebagai tambahan, saya cukup beruntung sore itu bisa berjumpa dengan ”Ben dan Jody” yang sedang berduet meracik kopi. Selamat ngopi!
Saya punya pengalaman menarik di sini, selain karena fasilitas air minum gratisnya, saya iseng naik ke lantai dua. setelah puas melihat-lihat di lantai atas setibanya di bawah saya ditegur kalau ternyata hanya wanita yang boleh ke lantai atas. saya pun minta maaf untuk itu. hal menarik lain di sini, masjidnya banyak dikunjungi wisatawan, ada papan informasi sejarah masjid, dan tour guide yang menjelaskan seluk beluk masjid yang arsitekturnya dulu mirip dengan masjid di Jawa pada Umumnya
Pengalaman Perdana ke Singapura (2)
Spot kunjungan yang menjadi tujuan kami di sana yakni Masjid Sultan, Merlion Park, dan beberapa pusat perbelanjaan oleh-oleh. Terbilang tidak banyak hal yang bisa dilakukan di negara semenanjung Malaya itu dalam setengah hari. Terbatasnya waktu membuat kami berfikir ulang suatu hari berharap bisa ke Singapura lagi.
Mengingat mahalnya biaya jajan dan cekaknya bekal yang saya punya, maka mau tak mau harus pintar-pintar menghemat dan menahan diri. Salah satunya soal bekal air minum. Dimana untuk mendapatkan sebotol air dengan ukuran tanggung bisa membuat kami berpikir berulanng-ulang.
Tidak jauh dari tempat kami makan terdapat Masjid Sultan, yang selanjutnya masjid ini mejadi titik meeting poin rombongan kami untuk bertemu. Masjid yang berada di Kampung Glam itu seolah jadi oase bagi saya.
Saya begitu tertolong dengan adanya pancuran air minum di masjid pertama di Singapura itu. Teriknya cuaca di Singapura memaksa saya banyak menghabiskan air untuk minum. Bersyukur air minum di masjid itu bisa saya peroleh gratis. Berkali-kali.
Sebenarnya air itu tidak hanya saya manfaatkan untuk menghilangkan haus saja, tapi juga menunda lapar. Ya menunda lapar, lagi-lagi karena terpaksa dan hal yang dapat saya konsumsi hanya itu, maka air itu juga berulang kali saya minum untuk menuntaskan rasa lapar saya walau sebentar.
Jangan pernah berfikir air itu senikmat air yang disimpan di dalam kendil yang segarnya luar biasa. Kalau boleh saya tebak fasilitas air minum itu mengandung klorin atau kaporit. Jelas terasa di tenggorokan bagaimana kuatnya bahan kimia yang terasa. Sekali karena terpaksa, saya tak ambil pusing soal itu.
Belakangan saya tahu, air di Singapura tak semelimpah di Indonesia. untuk air, mereka harus menyuling atau meng-import dari Malaysia. Jika ingin air mineral dalam kemasan, butuh tak sedikit uang untuk menebusnya.
Meninggalkan air minum, sebagaimana saya ceritakan sebelumnya, hanya beberapa spot yang kami kunjungi. Lebih ekstrimnya sebenarnya tujuan kami ke Singapura hanyalah ke Merlion Park. Ya, foto dengan Patung Merlion sebagai tanda sahnya kami sudah pernah ke sini, ha ha ha.
Kami tiba di Merlion Park dengan menumpang bus kota di sana, saran saya siapkan uang receh anda. Cukup satu dolar dan 50 sen, biaya perjalanan hanya 1,5 dolar saja. Apesnya, pecahan terkecil yang saya miliki hanyalah lembaran satu dolar, terpaksa uang yang saya sodorkan dua dolar. di bus hanya ada seorang supir, jangan berharap ada kondektur atau kernet, begitu juga jangan berharap untuk uang kembalian. Mau tak mau saya harus menyumbangkan 50 sen yang berharga itu.
Puas berfoto-foto Merlion Park, bermain dengan beberapa burung dara di sana, dan tentu saja berpanas-panas ria dengan teriknya cuaca di sana. Setelah beristirahat sejenak saya menyempatkan untuk pergi ke pusat oleh-oleh seperti Bugis Street dan Mustafa Center.
Lokasi kami tuju dengan berjalan kaki dari Masjid Sultan. Cukup susah untuk mendeskripsikan rutenya, sebenarnya cukup modal bertanya untuk bisa sampai ke sana. Seperti oleh-oleh pada umunya, banyak dijual gantungan kunci, kaos, atau jam dengan hiasan Singapura. Saran saya tak perlu beli kaos di sana, 10 USD bisa dapat tiga kaos, tapi soal kualitas jangan ditanya. Sablon saja di rumah kaos bergambar Singapura kalau sudah tiba di Indonesia.
Social Media Slave
Twitter, untuk Apa? (1)
Ditengah usaha saya untuk memejamkan mata, tergelitik tangan ini untuk melihat Twitter. Merunut barisan timeline, mengintip deretan trending topic, dan yap saya berfikir, media sosial apa ini?
***
Tercatat per tanggal 6/6/2017 akun yang mulai bergabung sejak agustus 2009 itu setidaknya ada 7984 twit yang saya cuitkan. Bersanding di kanannya ada 181 mengikuti dan dan 377 pengikut.
Saya memutuskan untuk melihat daftar pertemanan yang follow saya dan juga saya follow. Mereka kebanyakan orang yang benar-benar saya kenal, terlibat dalam kehidupan saya, dan sebagian kecil lainnya tokoh yang saya anggap bisa mengispirasi.
Rasa iseng saya tak berhenti, secara acak saya kunjungi satu persatu akun pertemanan saya di twitter. Saya pikir selama saya buka twitter, jarang bahkan dibilang banyak akun yang vakum. Dan pertanyaan saya pun terjawab. Tidak sedikit teman-teman saya yang telah ”meninggalkan” twitter.
Beberapa akun yang terakhir aktif tahun antara 2016 dan banyak diantara lainnya 2015 kebawah. Tidak banyak aktifitas yang bisa saya tangkap. Beberapa twit curhat pribadi atau retweet akun lain. Sisanya, akun twitter semacam jadi wadah buangan buat postingan dari Instagram dan Path.
Tidak hanya di teman saya, lapak-lapak penjual sneaker yang pernah saya ikuti juga banyak yang off tahun lalu. Untuk alasan ini saya berfikir mungkin mereka mulai gak jualan lagi sneaker. Anehnya entah tiga atau empat aku jualan sneaker yang saya ikuti kompak off di tahun 2016.
Sejujurnya, hingga saat ini saya masih tak menemukan nikmatnya bercuit ria di twitter
Sejujurnya, hingga saat ini saya masih tak menemukan nikmatnya bercuit ria di twitter. Terlebih banyak teman-teman saya tak lagi menggunakannya. Media sosial miliki Jack Dorsey tak lebih saya gunakan untuk me-retweet berita yang saya post dan beberapa tentang Juventus. Selebihnya faedah yang saya dapatkan dari twitter adalah bisa komplain langsung dengan provider seluler.
Dan memang manfaat yang tersisa hanya soal komplain ini. Terbilang keluhan atau beberapa pertanyaan tentang layanan provider ini bisa terjawab. Begitu juga saat mungkin untuk akun PT KAI @KAI121 dimana saya kadang butuh tanya-tanya jadwal keberangkatan dan ketersediaan tiket tersisa. Selain urusan di atas, selebihnya tidak ada aktifitas lain di akun twitter saya.
Tentu saja merangkai kata-kata motivasi, membuat semacam quote, dan sebagainya secara reguler bukan tipikal saya. Terlebih untuk sekadar nyampah ”mau makan apa” atau ”ngeluh susah tidur” dan lain sebagainya sudah pasti bukan saya banget yang menginjak usia seperempat abad ini.
Di saat saya menuliskan ini, beberapa waktu yang lalu masih ada orang yang follow saya. Saya ndak kenal orangnya, dan tentu saja saya biarkan begitu saja. Di akun yang terbilang banyak pasifnya ini saya heran masih ada yang mem-follow.
Bersambung …
Pengalaman Perdana ke Singapura (1)
Belum lama ini, saya berkesempatan untuk pergi ke negara tetangga. Singapura tepatnya. Ada hal menarik yang saya dapatkan dari kunjungan kurang sehari di sana. Berangkat dengan perjalanan darat dari Malaysia, hampir setengah hari lebih waktu yang saya miliki habis di dalam bus.
Sesampainya di pintu masuk singapura, hal yang mengejutkan saya alami di imigrasi. Saat pemeriksaan, saya bersama dua teman saya lainnya digelandang ke kantor imigrasi singapura. Entah apa yang salah dengan saya saat itu, saya ikut saja dengan apa yang dimau petugas imigrasi.
Tak ada perasaan apa pun saat itu, saya berjalan santai menyusuri beberapa antrian orang dipandu dengan petugas tentu saja. Sesampainya di kantor, sudah ada dua teman saya yang lain. Paspor saya dibawa oleh petugas itu dicek, dicocokan dengan wajah saya (mungkin), dan tanyanya sederhana.
”Asal dari mana?” ”Yogyakarta pak.” Jawabku
Tak banyak cakap lagi, diberikan kembali pasporku, saya pun melenggang meninggalkan kantor imigrasi. Saya pun tak tak tahu motif apa saya dan dua teman saya dibawa ke sana.
Tiba juga kami di Singapura, menjejakkan kaki di sana, kesan yang saya dapatkan, keren, bersih, rapi dan segala ungkapan sejenisnya berkelebat di pikiran saya. Saya pun menyusuri jalanan di sana. Tak jauh dari Masjid Sultan, langkah kaki kami terhenti. Di sana kami putuskan mampir di salah satu rumah makan (yang saya masih lupa apa namanya).
Tidak sulit rasanya menemukan rumah makan dengan selera lidah Indonesia. beberapa diantaranya ada masakan Minang dan Jawa. Nah di rumah makan tujuan kami ini menu yang ditawarkan masakan yang sudah umum dijumpai di Indonesia. Si Ibu penjual, dari caranya berucap dengan mudah saya kenali dia orang melayu atau mungkin juga berasal dari Sumatra yang hijrah ke Singapura.
Selanjutnya makanan yang saya dan rombongan yang kami pesan diantaranya opor ayam, mie goreng, ikan sarden, dan beberapa menu ikan lain yang saya tidak begitu ingat. Di sana kami makan secara prasmanan. Makanan disajikan dalam porsi besar. Kemudian kami tinggal memilih, lauk apa yang ingin disantap. Untuk minum, semua sepakat untuk pesan the, entah itu yang panas atau dengan es.
Ini lah yang kemudian membuat saya terkaget. Untuk satu porsi nasi sarden dengan sedikit mie dan segelas teh, harga yang harus saya bayarkan saat itu delapan dolar Singapura. Bagi saya yang kantong tipis ini, makanan dengan menu sederhana itu dihargai senilai delapan puluh ribu rupiah tentu saja membuat saya sedikit melongo. Tapi mau apa lagi, nasi sudah dicerna dalam lambung kami, cukup lah bayar saja dan ambil hikmahnya.
Dari sana saya bisa menarik kesimpulan sementara, jangan asal makan di negeri orang, apalagi dengan kantong dan modal cekak. Pengalaman lain yang dirasakan teman saya, yakni saat membeli air mineral. Untuk air mineral ukuran 600 ml, teman saya bilang dia harus membayar 2,5 SGD. Mahal betulkan untuk menebus sebotol air di sana, (untuk orang seperti saya ini, hehehe).
Disamping untuk makan, uang saya yang tidak seberapa itu habis untuk ongkos taksi yang tentu saja luar biasa tarifnya, angkutan bus yang tidak ada kenal uang kembalian atau hanya mau dibayar dengan uang pas. Oleh-oleh yang saya beli hanya sebuah tas cangklong dengan berhias patung singa.
One destination is never a place, but a new way of seeing things - Henry Miller #travelingram #travelgram #asia #journey #singapore (di Merlion Park - Marina Bay, Singapore)