Sanggar Kreasi Bebaskan Ekspresi
Sanggar Kreasi Bebaskan Ekpresi
Kurang lebih empat tahun lalu Mbakyuku berinisiatif membangun lembaga pendidikan. Untuk memberi les gratis anak-anak di sekitar rumah. Lembaga pendidikan itu diberi nama “Rumah Ceria”, setiap Sabtu sore anak-anak ramai datang ke rumah untuk belajar. Selain itu, ada kegiatan bermain seperti menggambar dan menulis di alam bebas. Sesekali kegiatan diganti dengan outbound ke luar. Harapannya Mbakyuku dengan kegiatan positif dan les gratis dapat meningkatkan minat anak-anak terhadap pelajaran. Mbakyuku juga menekankan cinta tabungan, karena dari jurusan Ekonomi. Sederhana impian Mbakyuku. Untuk memenuhui peralatan mengajar ada saja donatur yang memberikan sumbangan berupa buku, alat tulis dan uang. Pengajar “Rumah Ceria” dari beberapa pemuda desa dan teman-teman Mbakyuku. Namun, sayang “Rumah Ceria” kurang lebih hanya bertahan sekitar tiga tahunan. Keterbatasan sumber daya manusia dan kegiatan Mbakyuku yang kian bertambah, membuat kegiatan di “Rumah Ceria” tak berjalan dengan lancar. Ketika itu aku masih siswa SMA, yang belum paham tanggung jawab. Masih enggan jika mengajar dan masih belum mampu mengatur anak-anak. Sesekali hanya ikut mengajar dan mendampingi bermain.
Kini aku memiliki mimpi yang sama dengan Mabkyuku, bahwa pendidikan apapun dan dimanapun tetap harus berlanjut. Jika masih diberi kesempatan oleh Rabb, beberapa tahun ke depan aku ingin memiliki “Sanggar Kreasi”. Lebih berfokus terhadap pengembangan sosial anak-anak. Aku merasa miris melihat anak-anak usia dini, gemar dengan gadget. Zaman memang menganjurkan bergadget tetapi, empati dan simati terhadap lingkungan kurang tumbuh pada diri anak-anak. Anak-anak belum mampu memberi porsi batas-batasan yang harus mereka gunakan ketika memakai gadget. Masalah klasik sebenarnya, tetapi fenomena kursial. Di “Sanggar Kreasi” anak-anak akan menemui mendongeng dan pembacaan puisi untuk melatih tutur kata dan kepercayaan diri. Melalui dua hal tersebut, imajinasi mereka akan terjaga. Bagiku sesuatu yang mahal ketika masa kecil, yakni imajinasi. Melalui imajinasi anak-anak bebas menjadi apa dan siapa tanpa batas. Selain hal tersebut, “Sanggar Kreasi” memfasilitasi permainan tradisional. Untuk menumbuhkan kepekaan sosial dan pengalihan terhadap gadget. Ketika kecil aku mendapat manfaat dari permainan tradisional. Gobak sodor contohnya, mengajarkan untuk kekompakan, kepedulian, dan kebahagian.
Kecemasan ini sebenarnya menjadi cermin bagi diriku sendiri. Jika kelak anak-anakku hanya dapat berteman dengan gadget dan tanpa mengenal lingkungan. Maka, “Sanggar Kreasi” menjadi harapan agar kelak anak-anak yang lahir dari rahimku menjadi sosok yang peduli terhadap sesama.
Aku juga terinsipirasi oleh Rona Mentari (instagram @mentarirona) salah satu pendongeng muslimah Indonesia. Ia sudah berkeliling Indonesia untuk mendongeng bagi anak-anak. Perempuan berasal dari Yogyakarta tersebut, juga membangun sanggar di rumahnya untuk melatih beberapa pemuda dan anak-anak. Rona Mentari menganggap bahwa, budaya tutur itu penting. Baginya dalam mendongeng ada sentuhan dan kontak mata sebagai media untuk menyampaikan pesan kebaikan-kebaikan. Muslimah visioner dan peka terhadap lingkungan mantap sekali. Jika Rona Mentari lebih berfokus pada budaya tutur, aku lebih cenderung pada sosial. Meski tetap menggunakan dongeng dan berpuisi di kelas “Sanggar Kreasi”. Hal tersebut salah satu mimpi besarku.
Jadi, ada yang tertarik gabung dalam aksi sosialku? Tak asyik jika kebaikan hanya aku lakukan seorang diri. Perlu peran orang-orang yang berkemauan dan tanpa sambatan.
Ahad, 19 Mei 2019 | ©kekatazain11