Judul buku: Na Willa
Penulis/Ilustrator: Reda Gaudiamo/Cecilia Hidayat
Bahasa: Indonesia
Buku ini direkomendasikan oleh seorang teman kepada saya. Sebetulnya saya pernah membaca buku ini sekilas saat mencari buku untuk perpustakaan sekolah, namun saya merasa bacaan ini kurang cocok untuk perpustakaan TK karena teksnya terlalu banyak untuk murid TK yang belum lancar membaca, padahal tokoh utamanya adalah murid TK (sehingga saya merasa buku ini juga kurang cocok untuk diletakkan di perpustakaan SD).
Karena teman saya mengatakan buku ini sangat baik, maka saya akhirnya membelinya untuk saya baca sendiri. Saya juga penasaran, apa yang membuat buku ini menjadi sangat terkenal sampai akhirnya dibuat filmnya. Teman-teman bilang, kisahnya menceritakan tentang seorang anak dan menekankan tentang bagaimana memandang dunia dari sudut anak.
Mereka tidak salah.
Membaca buku ini dari sudut pandang orang dewasa sangat menyenangkan. Karena saya juga berasal dari Jawa Tengah dan papa saya adalah orang Surabaya, konteks dan kosa kata di buku ini sangat akrab bagi saya. Saya seperti membaca sebuah rekam jejak mengenai masa kecil saya yang sangat menyenangkan, yang memiliki banyak kemiripan dengan Na Willa: bermain bersama tetangga, mencoret tembok, menunggu papa pulang kerja, mengejar layangan, memelihara ayam, dan masih banyak lagi.
Membaca pertanyaan, isi hati, dan pemikiran Na Willa juga banyak yang sangat relevan dengan saya yang sehari-hari berinteraksi dengan anak-anak sesuai Willa. Sebagai guru TK, saya banyak menemukan jawaban dan pemikiran Na Willa yang masih polos, sederhana, kreatif, dan inspiratif dalam keseharian. Inilah sebabnya saya suka menjadi guru TK! Pemikiran dan jawaban mereka banyak menginspirasi saya dalam berpikir dan berelasi dengan cara-cara yang tulus dan penuh kasih.
Terkadang, setiap kita membutuhkan inspirasi-inspirasi seperti demikian.
Semakin beranjak dewasa, dunia seperti terbuka dengan berbagai kemungkinan dan peluang. Namun, saya perhatikan kita juga semakin banyak mengalami kegagalan dan tantangan yang lebih berpotensi membuat kita menutup diri, menghambat pertumbuhan kita, dan menjadikan kita orang-orang yang skeptis dengan keadaan dunia.
Semakin banyak tahu, semakin banyak tanggung jawab, bebanpun semakin bertambah.
Betul, kita diajak dan didorong untuk bisa menjadi semakin dewasa. Tapi, dewasa seperti apa? Menjadi anak-anak memiliki kelebihan dan kekurangannya. Tetapi, begitu pula dengan menjadi dewasa. Mungkin, kedewasaan sejati bukan hanya ditandai oleh kemampuan kita untuk bertahan dan tetap tangguh dalam menjalani tantangan kehidupan—namun kemampuan kita untuk bisa tetap memiliki hati yang murni, berani, dan penuh kasih seperti anak kecil, BAHKAN setelah dan di dalam keadaan yang sulit dan bisa membuat kita tak lagi berani maju atau mencoba.
Pemain yang hebat bukan hanya bisa bemain defense, tetapi juga offense.
Kita dipanggil bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk overcome difficulties dan membuat sesuatu yang indah muncul dari kesulitan itu. Itulah keberhasilan yang sesungguhnya.
Na willa bisa menjadi bacaan yang lucu untuk anak-anak dengan kejenakaannya, dan dapat menjadi jembatan budaya antara masa lalu dengan masa kini ketika dibaca bersama antara anak dengan orang tua. Tapi bagi kita orang dewasa, Na Willa juga bisa menjadi inspirasi dan bahan refleksi mengenai hati yang tulus, pemikiran yang kreatif, rasa ingin tahu yang tinggi, kasih yang murni, dan relasi yang indah. May we continue to desire it, work on it, and strive towards it.
and for that, it’s an honor and delight to read, reflect, and enjoy this book.










