Semoga bisa menjadi golongan hamba yang dicintai Nya. Aamiin
Three Goblin Art

tannertan36
h
taylor price

@theartofmadeline

blake kathryn
Keni
Cosimo Galluzzi
Stranger Things
occasionally subtle
Show & Tell

titsay

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

No title available

Origami Around
🪼
Xuebing Du

oozey mess
YOU ARE THE REASON

seen from United States
seen from Canada

seen from Singapore
seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Italy

seen from Switzerland

seen from Canada

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Iraq

seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States
@yolandadwio
Semoga bisa menjadi golongan hamba yang dicintai Nya. Aamiin
Harap
Disaat kondisi pandemi lagi kacau dimana-mana
Semua berita isinnya faskes collapse
Semua ig story isinya sejawat burnout
Sendirinya juga lagi burnout
Banyak temen yang WA ngabarin kalau sekeluarga positif, minta saran harus gimana
Plan untuk melarikan diri supaya engga burnoutnya juga batal karena nambah jaga backup yang lain yang harus isoman
Tempat pelarian alternatifnya juga tutup karena PPKM
Jaga sore hari itu hati lebih kosong dirasanya
Perasaan hopeless mendominasi
Allah kasih celah harapan
Jaga sore itu kebagian pasien venti yang lagi di weaning dan akhirnya alhamdulillah bisa ekstubasi
(Setelah sekian lama udah engga ada pasien covid on venti ekstubasi)
Sebelum ekstub engga berhenti nyebut minta dimudahkan dilancarkan
Semoga ibunya kuat bisa nafas sendiri setelah beberapa lama on venti
Alhamdulillahnya bisa dan stabil bagus kondisinya
"Alhamdulillah bu seneng banget saya bu beneran ini engga boong alhamdulillah" bilang ini ke si ibu berkali kali
Si ibu cuma genggam tangan terus senyum dan gerakin bibir bilang terima kasih
Ada pasien NIV yang alhamdulillah bisa weaning ke HFNC juga
Sisa jaga hari itu dipenuhi ucap syukur
Berkaca kaca mau nangis karena syukur bahagia
Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah
Pulang jaga malem juga masih dikasih hiburan sama Allah
Bulan nya bundar sempurna terpampang dengan cantiknya
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah
Jakarta, 28 Juni 2021
Yang hidupnya tidak pernah benar-benar tenang minimal sampai 1-2 shift berikutnya setelah di shift jaganya ada yang perburukan, apalagi sampai ada tindakan 👉🏼🧏🏻♀️👈🏼
TSK: Teeny Tiny Therapist
Cranquis: (talking loudly through an N-95 mask to parents of little kid)
Lil' Kid: Excuse me?
Cranquis: Yes?
Lil' Kid: You need to take a deep breath.
Cranquis: Huh?
Parent: Oh, uh, sorry -- we've taught him to take a deep breath to calm down when he's getting upset, so now he says that to anyone who is talking loudly.
Cranquis: Hey, thanks, little pal -- wanna take a deep breath with me?
(He did, and I did, and everyone felt a little happier)
Harap Si Bungsu
"Nak, kamu tetap harus nunggu temenin bapak di RS ya bagaimanapun caranya"
Pesan sang ibu yang sedang menjalani isolasi mandiri di rumah bersama anak sulung, menantu dan cucu-cucunya di rumah, kepada si bungsu.
"Iya, bu" jawab si bungsu dengan menahan sedih karena ia tahu pasti hal tersebut sulit untuk dilakukan mengingat sang bapak saat ini sedang terbaring di ruang ICU isolasi.
Akhirnya setiap hari si bungsu tetap datang ke RS untuk 'menemani' sang bapak yang sedang berjuang dengan entah berapa selang, kabel dan alat yang terpasang di tubuhnya. Si bungsu hanya menunggu di lobby RS berharap ayahnya bisa merasakan kedatangannya dan akan ada kabar baik yang ia bawa pulang hari ini. Ia duduk menunggu sambil terus menatap layar gawainya menunggu pesan kabar harian dari RS mengenai kondisi sang bapak. Dengan penuh rasa khawatir dan cemas, si bungsu tetap yakin berdoa bahwa Allah punya rencana paling baik untuk bapak dan semua anggota keluarganya. Setiap sebelum pulang dari RS untuk kembali bekerja, si bungsu pamit "Saya pulang dulu ya pak, besok datang lagi. Bapak semangat."
Sore hari saat tiba di rumah, si bungsu selalu menyampaikan kabar tentang kondisi sang bapak yang ia dapat dari RS kepada sang ibu. Mendengar kondisi bapak yang berangsur menurun, kondisi sang ibu pun ikut menurun. Sore itu juga sang bungsu mengirimkan pesan ke RS meminta agar diberikan kesempatan video call dengan sang ayah untuk mengobati rindu keluarga terutama sang ibu.
"Bapak bisa pak pasti bisa, ayo sembuh, semua keluarga di rumah doain ini nunggu bapak pulang. Yuk pak yuk kan biasanya bapak juga selalu kuat. Bangun yuk pak yuk ini ibu nunggu di rumah. Doa terus ya pak dzikir minta sama Allah". Hanya kalimat itu yang terulang selama video call dengan diselingi isak tangis. Sang ibu tahu bahwa di balik layar sana sang bapak tidak bisa menjawab dan merespon perkataan dan doanya, tapi ia tidak pernah putus harap.
Pagi ini, seperti pagi pagi sebelumnya, si bungsu kembali datang untuk menemani bapak. Hari ini si bungsu memiliki janji untuk bertemu pihak RS untuk menanyakan semua kabar tentang bapak yang masih berjuang di atas tempat tidurnya. Di pertemuan itu, dengan penuh harap si bungsu menyampaikan semoga di hari jumat pada bulan penuh keberkahan ini, akan ada kabar perbaikan dari sang bapak yang dapat ia bawa pulang untuk disampaikan kepada sang ibu di rumah. "Terima kasih dok, sus, bu atas semua yang telah diusahakan dan diberikan kepada bapak saya. Saya mohon berikan yang terbaik. Semoga ada mukjizat untuk bapak saya" pesan si bungsu di akhir pertemuan itu. Ia pulang dari RS dengan penuh doa, penuh harap, namun ia paham seperti apa kondisi bapak saat ini.
Sang bapak sudah berjuang maksimal semampu yang ia bisa. Tapi semua tahu bahwa ada yang lebih berkehendak. Sang pencipta lebih sayang sang bapak. Sang pencipta punya rencana paling baik untuk sang bapak, ibu, si bungsu dan seluruh keluarganya.
Di tengah malam itu, sang bapak berpulang.
Pagi berikutnya, si bungsu tetap datang. Kali ini untuk menemani bapak berpulang ke tempat peristirahatan terakhirnya.
"Yang tenang ya pak. InsyaAllah tempat bapak di surga."
Rapihkan lagi caramu menyimpan rasa, tenangkan lagi setiap gemuruh yang selalu ingin mendapatkan dan memiliki, dan simpanlah dengan baik apa yang seharusnya kamu jaga. Sebab tidak baik menuruti nafsu dengan apa yang dunia tawarkan, lebih baik diam dan menjernihkan rasa daripada salah langkah dan kecewa.
Untuk semua hal yang sedang kamu hadapi, jernihkan pikiran dan jangan asal melangkah. Pertimbangkan lagi soal resiko dan bagaimana langkah kedepan, jangan kamu hanya melibatkan nafsu tanpa bertanya pada hati, sebab banyak yang akhirnya kecewa dan menyalahkan keadaan.
Dewasalah dalam memilih dan menentukan, pandailah dalam mengelola hati dan rasa yang sedang tidak tertahan. Semoga Allah berikan ketenangan dan kejernihan untuk semuanya.
@jndmsyhd
Takdir-Takdir yang Tertunda
Tanpa terasa, sudah sebulan kita menjalani masa-masa #dirumahaja. Bagaimana kabar dirimu? Adakah yang sudah mulai bosan dan ingin melihat dunia luar lebih jauh dari sekedar berjalan-jalan di sekitar rumah? Bagaimana juga kabar hatimu? Adakah yang sudah mulai gusar, resah, juga gelisah karena sesuatu? Bagaimana pun kabar diri dan hatimu saat ini, semoga surat ini bisa tetap hadir tepat di hatimu. Sebab, sejak beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang ingin kuceritakan. Apakah itu?
Beberapa hari lalu, saya membaca secuplik tulisan yang ditulis oleh seorang kakak dalam Instastory yang diunggahnya. Dalam sebuah panel disana, beliau menuliskan,
“Ketidakpastian itu memang selalu jadi ketakutan manusia. Bukankah kita selama ini berusaha keras untuk mengontrol keadaan, membuat sesuatu bahkan orang lain berada dalam kendali kita. Kita membuat rencana-rencana yang teliti. Kita membuat strategi dan siasat. Semua itu nampak sia-sia. Kita kini bahkan tak mampu mengendalikan diri kita sendiri. Sebelum ini, kita tak mengenal tawakal. Sebelum ini, kita tak pernah mengenal pasrah. Sebelum ini, kita adalah orang yang penuh gairah untuk menjalani hari demi hari. Kini, kita takt ahu apa-apa.” – Kurniawan Gunadi
Kalimat demi kalimat yang ditulis disana membuat saya berpikir dan merenungi banyak hal, tak hanya yang berkenaan dengan diri sendiri, namun juga orang lain dan tentunya orang-orang di sekitar. Kalimat itu benar. Betapa tidak, saat ini kita memang seolah tidak memiliki gambaran tentang bagaimana hari-hari kita di depan akan bergulir. Tidak hanya itu, kita pun sedang dipaksa akrab dengan berbagai ketidakpastian. Rasanya, semua serba tanda tanya, entah apa dan bagaimana jawabannya. Ada kelulusan yang entah ditunda sampai kapan. Ada sidang tugas akhir yang entah bagaimana bisa dikejar. Ada khitbah yang mau tidak mau harus ditangguhkan. Ada pekerjaan yang hilang, yang entah kapan penggantinya akan datang. Ada pula ketetapan-ketetapan lain yang kita tunggu, namun tak pernah ada yang pasti tentang kapankah ia akan datang. Apakah kamu sedang merasakannya? Hal apa yang kini sedang kamu tunggu dan sudah mulai meresahkanmu?
Entah bagaimana, kondisi pandemi yang mendunia ini sedikit banyak menggoda kita untuk mulai menyalahkan Corona atas apa-apa yang terjadi di luar rencana kita, “Lulus ditunda nih, gara-gara Corona. Khitbah terancam diundur nih, gara-gara Corona. Naik gaji enggak jadi nih, gara-gara Corona. Aku resign nih, gara-gara Corona. Agenda hidup jadi berantakan nih, sebel banget, gara-gara Corona.” Begitulah, semua gara-gara Corona. Tapi, apakah memang benar bahwa semua penundaan, penangguhan, atau pembatalan itu terjadi gara-gara Corona?
Kalau kita mengedepankan emosi dalam berpikir mengenai segala ketetapan takdir atas diri kita saat ini, mudah sekali kiranya bagi kita untuk setuju bahwa semua yang tak sesuai dengan apa yang pernah kita doakan, harapkan, dan rencanakan ini memang gara-gara Corona. Namun, ketika kita menggeser sudut pandang dan menggunakan lensa iman sebagai landasan cara pandang kita atas semua ini, kita akan temukan bahwa sejatinya, dengan atau tanpa adanya Corona, segala ketetapan takdir-Nya atas diri kita sudah ditetapkan-Nya dengan sempurna sedemikian rupa, bahkan sebelum kita terlahir ke dunia. Dalam hadist At-Thirmidzi bahkan disebutkan bahwa berkenaan dengan hal-hal seperti ini, pena telah diangkat dan tintanya pun telah mengering.
Yup! Bukan Corona yang datang mengubah atau menunda kedatangan takdir. Namun, kedatangan Corona itu sendiri pun telah menjadi bagian dari ketetapan takdir. Tanggal sidang, kelulusan, menikah, naik gaji, menerima pekerjaan baru, dst, semua sudah Allah tetapkan. Maka, tidak produktif kiranya jika kita saat ini sibuk menyalahkan Corona atau bahkan menyangkal takdir. Sebaliknya, hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah tetap menuggu dengan sabar dan tetap berupaya lagi, berdoa lagi, juga berbaik sangka lagi kepada Allah. Tenang, sebab Umar bin Khattab pernah berkata,
“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”
Tidak mudah memang. Sebab, bagaimana pun kita terbiasa untuk memiliki kehendak-kehendak diri. Tidak hanya itu, mungkin kita pun terbiasa untuk bersandar pada kehendak-kehendak itu hingga melupa bahwa Allah pun memiliki kehendak dan hanya kehendak-Nyalah yang menjadi sebaik-baik kehendak. Tidak apa-apa, barangkali memang inilah saatnya bagi kita untuk menundukkan hati dan jiwa untuk kemudian kembali berserah dan berbaik sangka kepada-Nya. Selama bersama-Nya, tak ada apapun yang akan terjadi selain dengannya kita beroleh kebaikan, bukan? Tetap semangat, ya! Jika suatu ketika kamu lelah, ingatlah bahwa tak ada setetes air mata pun yang akan disia-siakan-Nya. Semoga Allah melapangkan jiwa kita semua. Baarakallahu fiik.
“Jika kau tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya atas kebaikan perlakukan-Nya terhadapmu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan mengaruniaimu berbagai kenikmatan?” – Ibn Atha’illah, dalam Al-Hikam
___
Picture: Pinterest
ada rezekinya
tiap orang punya rezekinya sendiri-sendiri. ada yang rezekinya didekatkan dengan jodohnya. ada yang rezekinya dimudahkan dalam menuntut ilmu. ada yang rezekinya diberi jalan untuk berkarir dan bekerja. ada yang rezekinya dicerahkan untuk berkarya.
ada yang rezekinya punya uang banyak. ada yang rezekinya punya waktu luang. ada yang rezekinya punya energi penuh, sehat utuh.
ada juga yang rezekinya belum menikah, bisa di rumah merawat orang tua. ada juga yang rezekinya belum lanjut sekolah, bisa bekerja dan menabung. ada juga yang rezekinya belum bekerja, bisa santai sambil berkarya apa saja.
kalau kita mengukur rezeki dengan apa yang sudah didapatkan oleh orang lain, alih-alih apa yang kita miliki dan capai, kita akan terus merasa kekurangan. padahal di saat yang sama, ada orang lain yang berharap memiliki hidup seperti yang kita punya.
sesuatu yang belum itu bukan cobaan apalagi musibah, melainkan rezeki kalau dilihat dari sisi yang lainnya.
kekurangan atau keterbatasan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa bersyukur.
kehilangan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa mengikhlaskan.
kesulitan itu bukan musibah, yang musibah adalah kita jika tidak bisa bersabar.
dan kita tahu bahwa bersabar yang sesungguhnya bukanlah menanti dalam ukuran waktu, melainkan menunggu dalam ukuran usaha. kita tidak berputus asa karena kita tahu bahwa setiap langkah akan mendekatkan kita kepada tujuan.
dan kita juga tahu, bahwa musibah yang paling besar adalah ketika kita tidak bisa menjalani hidup yang tenang, ketika kita tidak bisa merasakan nikmatnya beribadah, ketika berbuat dosa terasa biasa saja.
semoga kini kita tak lagi menyebut yang belum sebagai ujian, cobaan, apalagi musibah. sebab kita tahu bahwa rezeki kita lain. sebab kita tahu bahwa musibah yang sejati jauh lebih mengerikan daripada itu.
Musibah itu, mengecil jika dirahasiakan. Membesar jika dikeluhkesahkan. Terurai jika diadukan pada Allah. Dan merumit jika diumbar pada manusia.
- salimafillah
Hampir sama seperti rencana besarmu, tidak perlu semua orang tau apa langkah terdepanmu dalam hidup ini, kabarkanlah pada ia yang mau mendoakanmu, bukan untuk dipamerkan agar terlihat orang besar.
Dan kecewamu juga tidak perlu disampaikan pada banyak orang, bukankah kecewa berasal dari meletakkan harapan pada manusia ? Jika ia lillah tak akan ada kecewa karena semua berasal dariNya. Meluruskan niat, mengupayakan apapun yang dikerjakan tujuannya mencari ridho dan keberkahanNya, bukan manusia.
Utamakan Allah pada senang dan sedihmu, utamakan Allah pada lapang dan sempitmu, dan utamakan Allah pada setiap kebahagiaan, bukan hanya datang ketika ada yang hilang.
Meluruskan niat.
@jndmmsyhd
pola yang berulang
kita adalah pola yang berulang.
kalau kita tidak bersyukur saat kita susah, kemungkinan besar kita juga tidak bersyukur saat kita mudah.
kalau kita tidak menaati komitmen pada hal yang kecil, kemungkinan besar kita juga tidak menaati komitmen pada hal yang besar.
kalau kita tidak menghargai pemberian yang sederhana, kemungkinan besar kita juga tidak menghargai pemberian yang istimewa.
kalau kita tidak pandai mengelola uang saat penghasilan masih sedikit, kemungkinan besar kita juga tidak pandai mengelola uang ketika penghasilan sudah banyak.
kalau kita tidak rapi menata kamar saat luasnya kecil atau bukan milik sendiri, kemungkinan besar kita juga tidak pandai menata rumah seberapa pun lapangnya dan bagusnya.
kalau kita tidak memiliki hati yang kuat ketika kita belum berpasangan, kemungkinan besar kita juga tidak memiliki hati yang kuat pun sudah berpasangan.
kalau kita tidak merencanakan hidup ketika yang perlu diurus barulah diri sendiri, kemungkinan besar kita juga tidak merencanakan hidup ketika harus mengurus satu keluarga, atau satu tim, atau satu apa pun.
kalau kita tidak memiliki waktu untuk membela mimpi-mimpi kita–atau mengurus hal-hal yang penting–ketika kita sibuk, kemungkinan besar kita juga tak mau membela mimpi-mimpi kita ketika kita tak sibuk.
kita adalah pola yang berulang sehingga kita sendiri yang harus membuat polanya, tanpa menunggu keadaan berubah. justru, seringkali pola hidup kitalah yang membuat keadaan berubah.
Cinta Itu Tanpa "Tapi"
Jika cinta berada dalam koridor kebenaran dan kepatuhan kepada Allah, maka cinta menjadi mutlak tanpa “tapi”. Sebab prinsip cinta dalam mencintai Allah—dan segalanya yang berhubungan dengan Allah—adalah “kami dengar dan kami taat”. Itu loyalitas cinta.
Jika cinta yang dimaksud adalah selain dari itu, maka “tapi” menjadi mungkin. “Tapi” harus digunakan untuk merujuk kepada standar kebenaran dan kepatuhan kepada Allah.
Jika mencintai manusia, tapi maksiat kepada-Nya. Jika mencintai manusia, tapi melupakan-Nya. Jika mencintai manusia, tapi menduakan-Nya. Jika mencintai manusia, tapi tidak bertambah ilmu-Nya. Jika mencintai manusia, tapi tidak menurut terhadap syariat-Nya.
Tak ada cinta yang berjalan di atas titian rabbaniyah dengan “tapi”. Cinta kepada-Nya itu akan selalu tanpa “tapi”. Itulah mengapa cinta yang hakiki itu akan selalu tanpa “tapi”, termasuk cinta kepada manusia.
Cari orang yang mencintaimu tanpa “tapi” dan jadilah orang yang mencintai tanpa “tapi”.
Kenapa Tahajjudku, Shalatku, dan Shaumku Tak Tercatat oleh Malaikat?
Pada zaman dahulu ada seorang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yang kuat sekali tahajudnya. Hampir bertahun-tahun dia tidak pernah meninggalkan solat tahajud.
Pada suatu malam ketika hendak mengambil wudhu untuk tahajud, Abu dikejutkan oleh kehadiran satu makhluk yang duduk di tepi telaganya. Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?”
Sambil tersenyum, makhluk itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah”.
Abu Bin Hasyim terkejut sekaligus bangga kerana telah didatangi oleh malaikat yang mulia. Abu lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.”
Melihat Malaikat itu memegang sebuah kitab tebal, Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yang engkau bawa?”
Malaikat menjawab; “Di dalamnya terdapat kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.”
Mendengar jawapan Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dalam hati moga-moga namanya ada di situ. Maka ditanyalah kepada Malaikat. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?”
Abu menyangka namanya ada di dalam buku itu, kerana amalan ibadahnya yang tidak putus-putus, selalu mengerjakan solat tahajud setiap malam, berdo’a dan juga bermunajat kepada Allah SWT di sepertiga malam, setiap hari.
“Baiklah, biar aku lihat,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata Malaikat itu tidak menemukan nama Abu bin Hasyim di dalamnya.
Tidak percaya, Abu meminta Malaikat mencari sekali lagi.
“Betul… namamu tidak ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.
Abu bin Hasyim pun gementar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis sejadi-jadinya…
“Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan munajat, tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pencinta Allah,” ratapnya.
Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, engkau mengambil air wudhu dan menahan kedinginan ketika orang lain terlelap dalam kehangatan buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allah menulis namamu.”
“Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya?” tanya Abu bin Hasyim.
“Engkau memang bermunajat kepada Allah, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga ke mana-mana. Engkau asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Sedang di kanan kirimu ada orang sakit, ada orang lapar, ada orang sedang sedih, tidak engkau tengok tidak engkau ziarah.
Mereka itu mungkin ibumu, mungkin adik beradikmu, mungkin sahabatmu, malah mungkin juga cuma saudara seagama denganmu, atau mungkin cuma sekadar mereka menjadi tetanggamu. Tidak engkau peduli pada mereka, kenapa?
Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pencinta Allah kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allah?” kata Malaikat itu.
Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang hari.
Dia tersadar hubungan ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allah semata (hablumminAllah), tetapi juga kepada sesama manusia (hablumminannas) dan juga kepada alam.
Saudara-Saudara, jika kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu… maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah.
Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain… maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang dengannya.
Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidup kita lapang dan bahagia.
:’”
I don’t know what we did to deserve Mr. Rogers but I’m so glad we had him.
A little bit of sunshine for your morning 💛
Hari ke-9
6 Agustus 2018
Akhirnya alhamdulillah hari ini mulai lari lagi semenjak tinggal disini. Larinya enaknya pagi jam setengah 6an gitu kayanya supaya belum terlalu ramai.
Semoga rutin lari seterusnyaaaa ya Yolanda!
Hari ke-4
31 Agustus 2018
Hari ini jaga perdana. Belajar adaptasi sama karakter dan cara komunikasi sama pasien disini, kasus yang seringnya apa, dan yang paling penting belajar jaga dengan keterbatasan yang ada. Baik keterbatasan fasilitas ataupun spesialis yang bisa dikonsul.
Foto : Foto polos abdomen Ny.S, pasien jaga perdana paling berkesan
Pertimbangan pengambilan keputusannya juga jadi beda, ada poin pertimbangan yang ditambah. Poin jarak yang paling kerasa. Semacam jauh dari mana mana. Pasien kalo mau ke RS jauh, kami juga kalau may Rujuk jauh. Rujuk ke fasilitas kesehatan terdekat yang lebih lengkap butuh waktu kurang lebih 3-4 jam, paling ngebut katanya 2-2.5 jam.
Semoga segala perkataan perbuatan tindakan keputusan yang dilakukan terutama terhadap pasien selalu dalam petunjuk, bimbingan dan perlindunganNya.
Kalo kata bagian terakhir saat Sumpah Dokter
"Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada Saya"
Hari ke-3
30 Juli 2018
Hari ini adalah hari pertama ke Rumah Sakit. Alhamdulillahnya untuk orientasi dulu, belum mulai jaga. Karena kemampuan berkendara yang minim dan tidak mau ambil risiko aneh aneh berkendara di jalan trans sulawesi di hari pertama mulai, akhirnya kami memutuskan untuk naik ojek. Tapi ternyata oh ternyata saat bertanya, tidak ada ojek, jadilah kami di jemput. Merepotkan saja, tapi yawis daripada kenapa kenapa.
Saat keliling perkenalan RS bersama direktur, kami sempat bertemu dengan anak dan keluarga dari "orang gunung" yang sedang dirawat di ICU.
"Orang gunung" disini semacam suku pedalamannya. Jadi mereka tinggal di daerah-daerah pegunungan dengan keterbatasan. Jarak dari gunung menuju RS sangat jauh dan bisa ditempuh selama berhari-hari dengan berjalan kaki (Dan tanpa menggunakan alas kaki). Kalau mereka bawa pasien yang sakit biasanya ditandu atau digendong. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia atau bahasa daerah sini. Beda lah pokoknya bahasanya, jadi agak sulit untuk berkomunikasi.
Meskipun begitu, mereka sudah berpakaian seperti masyarakat kebanyakan (minus alas kaki). Belakangan juga katanya mereka yang sebelumnya menggunakan sistem barter, sekarang sudah mengenal sistem jual beli. Kadang mereka turun gunung untuk menjual hasil bumi dari gunung untuk mendapatkan uang. Uang yang didapatkan juga sebagian digunakan untuk membeli peralatan elektronik seperti genset dan tv.
Fun fact nya adalah, mereka suka menamai diri mereka sendiri atau anak mereka dengan apapun yang mereka lihat di TV dan mereka anggap menarik. Misalnya lihat Luna Maya, dinamailah ia Luna Maya. Besok dia dengar berita di TV ada Ciliwung dan dianggap menarik, ganti pula lah nama dia dengan Ciliwung. Hal ini jadi salah satu penyebab sulitnya pendataan "orang gunung" ini.
Setelah keliling RS, kami diajak untuk ikut melayat ke Rumah salah satu perawat yang ibunya baru saja meninggal dunia. Luar biasa kekeluargaan disini. Jarak berapapun rela ditempuh untuk menyampaikan bela sungkawa.
Di tengah jalan menuju rumah kakak perawat kami mampir ke salah satu pinggir pantai untuk makan siang terlebih dahulu. Kebetulan sudah disiapkan masak banyak khusus perjalanan melayat ini. Menu makanannnya bubur manado + ikan garam (ikan asin) + tahu + dabu-dabu (sambal).
Foto : pantai tempat kami singgah makan siang
Foto : bubur manado menu makan siang
Setelah perjalanan melayat, kami baru sampai di daerah kami sekitar maghrib dan langsung diundang lagi ke rumah salah satu kakak perawat untuk makan-makan syukuran keluarga kakak perawat tersebut sekaligus acara lepas sambut. Alhamdulillah berkah anak kontrakan
*semua info mengenai "anak gunung" merupakan kompilasi cerita warga lokal
Hari ke-2
29 Juli 2018
Tidak ada agenda khusus yang akan dilakukan hari ini, sampai ada Whatsapp yang mengabari kalau setiap Hari minggu ada pasar murah di dekat rumah kami, dan tutup sekitar jam 9. Kami yang tadinya berniat lazy day hari itu akhirnya keluar rumah untuk membeli beberapa perlengkapan yang kurang di rumah. Harga beberapa peralatan terbilang mahal tapi sepertinya wajar mengingat jarak dan jalan yang ditempuh untuk mendapatkan barang dagangan tersebut dari kota, entahlah.
Sore harinya kami kembali keluar rumah untuk melihat sekitar sekaligus belajar melancarkan skill mengendarai motor kami yang masih tergolong : takut takut saat bonceng, oleng setelah jungglengan, belok tanpa lampu sign dan tanpa liat spion. Semoga lama lama lancar sendiri, amin
Foto : Pemandangan dari dermaga di dekat rumah