Seorang Guru dengan Payungnya
Pagi itu langit sedikit suram, awan mendung sedari malam hari juga angin yang berhembus cukup kencang membuat wilayah Perumnas Karawaci terasa seperti di Bandung, sejuk. Sejak dini hari air terus saja turun dari langit sana, walau tidak lebat, tapi awan hujan itu betah betul berdiam diatas Karawaci, membasahi Jalan Proklamasi Raya, terus belok kanan ke Jalan Beringin Raya, terus sampai Jalan Cemara dan melebar hingga Perumnas III. Bahkan kawanku dari Bonang sudah memakai mantel sambil berkendara motor GL Max nya menembus hujan, demi berangkat sekolah.
Aku, dari rumah naik angkutan kota R.02, turun di Jalan Cirarab, lalu jalan sedikit, belok kanan lalu belok kiri menuju Jalan Ciujung. Hujan masih saja terus turun konstan tapi awet, "kalau cuma gerimis gini, pake topi aja" kataku dalam hati sambil jalan "pakai payung? Huh, lemah" pikirku.
Setelah jalan kaki beberapa menit hingga melewati Kantor Pos Karawaci, belok kiri, itulah sekolah kami tercinta, SMA Negeri 5 Tangerang.
Aku lambaikan sedikit tanganku ke arah Om Juned yang sudah standby digerbang sekolah dengan seragam sekuriti lengkap, mengamankan setiap siswa atau guru yang hendak memasuki gerbang sekolah, karena Jalan Ciujung merupakan komplek sekolah yang cukup padat lalu lalang kendaraan.
Menangkap isyarat lambaian tangan hormatku, Om Jun sapaan akrab Om Juned, juga membalas dengan gerakan serupa. Kemudian aku melengos memasuki gerbang sekolah, dan tak terasa baru aku sadari hujan semakin lebat. Aku berlari kecil, semua siswa yang juga jalan kaki, ikut berlari, diantar ayahnya naik motor, cium tangan, langsung berlari, turun dari becak, cium tangan, eh, langsung berlari. Semua berlari agar seragam sekolah tidak basah.
Kami berlari dari gerbang depan, melewati parkiran kendaraan, hingga gerbang utama koridor sekolah. Disanalah kawan, aku dibuat terpukau, seorang pria berdiri didepan gerbang koridor sekolah memakai seragam cokelat khas Pegawai Negeri dengan name tag dan lencana yang tersemat didadanya berdiri tegap memakai payung dibawah lebatnya hujan, menunggui kami murid-muridnya, menyambut kedatangan kami ke sekolah.
Dia adalah Kepala Sekolah kami, Kepala SMA Negeri 5 Tangerang. Kami cium tangannya sebelum memasuki koridor kelas. Sambil berjalan di koridor, ku tengok lagi sosoknya, masih berdiri tegap menyambut murid-murid yang lain.
Hujan semakin lebat, langit semakin suram dan gelap, tapi kau tahu kawan, saat itulah aku benar-benar merasa mencintai Sekolah ini, dan berjanji tidak akan bolos sekolah lagi, kecuali dalam keadaan darurat.
#seri.sman5

















