“Tenang, tidak kan dibebankan perkara melebihi kemampuan kita. Mana mungkin Tuhan berbohong.”
—
he wasn't even looking at me and he found me

No title available

titsay
dirt enthusiast
occasionally subtle
Lint Roller? I Barely Know Her
Keni
KIROKAZE
hello vonnie
tumblr dot com
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

shark vs the universe
TVSTRANGERTHINGS
almost home

Love Begins
sheepfilms
No title available

Kiana Khansmith
Xuebing Du
$LAYYYTER

seen from Sweden

seen from Canada

seen from Ukraine

seen from Türkiye
seen from Costa Rica
seen from Germany

seen from Spain
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Trinidad & Tobago

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Indonesia
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil
@yusmuthia
“Tenang, tidak kan dibebankan perkara melebihi kemampuan kita. Mana mungkin Tuhan berbohong.”
—
Karena membahagiakan semua orang adalah mustahil. Maka logikanya, kita punya hak untuk memilih orang yang akan kita bahagiakan.
(via palawija)
Lelah
Saya pernah berada di fase dimana saya nggak tahu lagi bagaimana menjelaskan apa yang saya rasakan. Rasanya begitu kosong, badan dan pikiran terasa lelah. Padahal, secara fisik saya tidak begitu banyak aktivitias.
Hal itu terjadi selepas saya berkali-kali berbenturan pada hal yang sama, seolah hidup saya berputar-putar di tempat yang sama tanpa beranjak sama sekali. Masalah yang sama, saya hadapi dengan berbagai macam cara, tak kunjung selesai. Itu, salah satunya.
Tapi lebih dari itu, saya benar-benar tidak bisa merasakan bagaimana caranya bahagia, tentram, semuanya terasa semu. Mungkin, saya bisa merasakan senang saat bertemu teman, tapi lepas pulang ke rumah, semuanya kembali seperti sedia kala. Bahkan, rasanya lebih lelah dari sebelumnya.
Pernah di momen itu, saya kembali ke kota rantau saya, Bandung, selama lebih dari 10 hari dengan harapan saya bisa menemukan kembali kebahagiaan itu. Saya mengunjungi semua tempat yang dulu memberikan energi yang begitu besar, kampus, masjid salman, reading lights yang sekarang sudah tidak ada lagi, kineruku, dan semua tempat yang pernah memberikan sebagian kisahnya.
Rasanya tetap sama saja, kosong, bahkan semakin lelah. Pada saat itu, saya gagal mengidentifikasi sebenarnya masalah apa yang saya hadapi sehingga mungkin saya keliru dalam memutuskan solusi untuk diri saya sendiri.
Dan kondisi itu, berada di saat pekerjaan berjalan dengan baik, tidak pernah kekurangan uang bahkan sangat mencukupi, dan semua hal yang nampak baik-baik saja bahkan layak untuk disyukuri.
Tapi, kekosongan itu tak kunjung menemukan isinya. Saya sering menghabiskan waktu dengan mengendarai mobil tanpa tujuan, berharap badan ini menjadi lelah sehingga saya segera tertidur setibanya di rumah tanpa berpikir ke sana kemari. Nyatanya, sama. Saya sulit tidur, pikiran ini tak mau berhenti memikirkan hal-hal yang sudah terjadi, menerka-nerka apa yang sedang terjadi dan akan terjadi.
Saya tahu persis kapan semua itu selesai. Saat saya bisa berada di fase ikhlas, menerima diri, dan bersedia untuk memaafkan. Sayangnya tidak ada rumus pasti untuk bagaimana seseorang bisa memiliki kemampuan untuk bisa ikhlas, menerima diri sendiri,dan memaafkan diri sendiri. Semua itu, butuh waktu lebih dari 9 tahun, waktu yang bukan sebentar.
Terima kasih, kepada diriku sendiri, yang dulu bersedia bertahan dan sedikit lebih bersabar. Kalau saja, waktu itu saya menyerah karena sudah begitu lelah. Mungkin, saya tidak akan pernah bisa sampai di tahap ini.
Tahap dimana, bersyukur atas diri sendiri, memaafkan diri, dan menerima serta menghargai diri sudah menjadi sesuatu yang amat mudah untuk kulakukan. Sesuatu yang amat berharga sebagai bekal untukku menjalani sisa hidup ini dengan berarti.
©kurniawangunadi | 3 September 2019
Ramadhan Hari Ketiga
Suatu hari, perjalanan kita akan berhenti. Dipaksa berhenti bahkan. Dan yang menghentikan itu adalah kematian.
Dan kala kita berhenti itu, kita menyadari sudah sejauh mana perjalanan kita. Apakah sudah sampai tujuan, masih jauh, atau justru semakin jauh karena selama ini perjalanan kita justru berlawanan arah. Dan banyak di antara manusia nanti yang akan menyesal dan mengharapkan dihidupkan kembali guna membuat amal saleh. Sia-sia.
Perjalanan kita ini bergerak, semakin mendekati garis kematian. Tapi, kita merasa seolah-olah akan hidup selamanya di dunia ini. Perasaan yang kemudian membuat kita lalai.
Memang, nasihat terbaik adalah kematian :)
©kurniawangunadi
seseorang yang menyayangimu
kalau seseorang yang kamu sayangi melakukan sesuatu yang tidak menyenangkanmu atau tidak melakukan sesuatu yang menyenangkanmu, tidak berarti seseorang itu tidak menyayangimu. mungkin, caranya menyayangimu memang begitu.
kalau seseorang yang kamu sayangi tidak bisa menikmati karya-karyamu, tidak berarti seseorang itu tidak menyayangimu. mungkin, karyamu memang bukan seleranya, tetapi dia tetap menyayangimu apa adanya.
kalau seseorang yang kamu sayangi mendahulukan membalas pesan tentang urusan-urusannya yang lain, alih-alih membalas pesanmu, tidak berarti seseorang itu tidak menyayangimu. seseorang itu percaya bahwa kamu pasti mengerti. dan kamu tetap yang utama.
kalau seseorang yang kamu sayangi menyampaikan hal-hal tentangmu yang membuatnya tak nyaman, tidak berarti seseorang itu tidak menyayangimu. seseorang itu sedang merawat kamu dan dirinya.
kalau seseorang yang kamu sayangi seakan memintamu untuk menjadi ini itu, berbuat ini itu, tidak berarti seseorang itu tidak menyayangimu apa adanya. seseorang itu, mungkin ingin bertumbuh bersamamu.
ada banyak sekali cara menyayangi. ada banyak sekali pula cara menerima rasa sayang itu. merasalah disayang, sebab bagaimana kita menerima sebuah perasaan seringkali menjadi bagaimana perasaan itu sejatinya diberikan.
Jalan rezeki itu aneh dan unik, ia datang dari jalan yang kadang tidak kamu duga. Mengusahakan A, tapi rezeki datang justru dari C atau bahkan Z. Seakan ada pesan bahwa rezeki itu tidak salah rumah, meskipun harus ada usaha-usaha untuk menjemputnya.
Istirahatlah sejenak, duduklah sebentar. Pernahkah kamu menyadari bahwa rezeki itu selalu mengalir ? Sadar ataupun tidak kamu sadar. Bahkan saat lalaimu pun Allah tetap memberimu rezeki, lalu bagaimana mungkin Allah tidak memberimu rezeki jika ternyata apa yang kamu usahakan hari ini adalah bagian dari rangkaian untuk beribadah padaNya.
Kadang rezeki itu tidak terlihat karena terhalang oleh ekspetasi-ekspetasi tinggimu, atau imingan-imingan yang sedang kamu harapkan padahal kamu belum membutuhkannya.
Seekor ayam yang pergi dalam perut kosong dan pulang dengan perut terisi kenyang, tanpa membawa apapun untuk ia simpan sebagai makanan esok hari, karena ia sadar bahwa jika ada yang menghidupkannya, pastilah Ia pula yang akan memberinya makan, meski dengan usaha harus mencari dan berjalan jauh.
Beruntunglah bagi mereka yang bisa bahagia dengan rezeki apa yang mereka punya, menandakan hatinya luas untuk menerima, dan hatinya tertutup untuk iri membayangkan rezeki orang lain.
Kini, berhentilah sejenak. Cobalah untuk mensyukuri dan berbahagia dengan rezekimu. Karena dari bahagia itu akan berbuah rezeki yang lain. Rezeki yang sangat mahal adalah kamu terlahir dengan islam, dan tinggal bagaimana kamu bahagia dengannya dengan menjalani setiap harimu sebagai seorang muslim. Muslim yang selalu bahagia dengan rezekinya masing-masing.
Menyederhanakan bahagia.
@jndmmsyhd
punggung
aku kira, hampir setiap orang di dunia ini memiliki si punggung-nya sendiri-sendiri. itulah, seseorang yang kalau kata Dewi Lestari, hanya bisa dinikmati punggungnya saja. seseorang yang seakan selalu membelakangi kita sampai-sampai kita tidak betul-betul tahu bilamana matanya hitam atau cokelat, pula apakah geliginya rapi atau gingsul.
aku juga dulu punya seseorang seperti itu. seketika aku sadar telah jatuh cinta kepadanya karena hal-hal yang sangat tidak masuk akal! seperti caranya berdiri dan satu dua cuitannya di media sosial. juga karena cerita-cerita yang kudapat dari temannya temannya. satu, dua, tiga. ya, aku ada di lingkaran ketiga.
lalu, aku jadi melakukan hal-hal yang gila. aku menungguinya di tempat yang pernah ia datangi, berharap bisa tak sengaja bertemu. aku bolak-balik mengecek media sosialnya, lalu menerka-nerka makna jejak-jejak yang ia tinggalkan. yang ini, berharap salah satunya ada yang tentangku.
kemudian, segala hal kecil seakan terhubung dengannya. buku, lagu, film, sajak, cuaca, tempat, makanan, minuman, kendaraan–pada dasarnya semua hal yang aku lihat sehari-hari mengingatkan aku kepadanya. malahan, aku jadi mendengarkan lagu yang dia suka. aku bahkan mengikuti pertandingan olahraga yang adalah hobinya. berharap itu bisa membuatku memahaminya lebih baik.
lalu sebuah keberanian datang. entah dari mana aku merasa percaya diri bahwa aku cukup untuknya. cukup baik, cukup pintar, cukup cantik. aku menyapa agar keberadaanku disadari. aku berupaya agar menjadi semenarik mungkin meskipun tak mau ketahuan. pada suatu titik, aku merasa menang hanya karena dia membalas sapaanku.
aku terlalu dogol untuk sadar bahwa banyak sekali yang tidak dia bagi denganku: cita-citanya, mimpi-mimpinya, harapannya, rencana hidupnya, masa depannya, cerita tentang keluarganya. aku terlalu bangga, mengira mengenalnya begitu sangat padahal tidak.
lalu tiba-tiba dia menghilang, selamanya menjadi punggung yang bahkan tak lagi bisa aku lihat dari belakang. kusangka, dia menghilang karena tau aku begitu jatuh cinta dan telah gila. eh, tunggu. ternyata, dia bukan menghindariku. dia memang tak menganggapku ada.
hari ini, masa-masa tentang si punggung telah berlalu. aku bersyukur bahwa aku telah jujur kepada diriku sendiri, bahwa aku telah berani menampakkan diri, juga karena aku menerima pilihannya untuk pergi.
aku bersyukur dia pergi. meski saat itu tiba-tiba ada lubang sebesar kota hujan di hatiku, kini ruang ini telah menjadi tempat yang nyaman. kini, seseorang lain bisa tinggal di sini, merawatku tanpa perlu tapi-tapi.
menerima perasaan
saya ingat saat-saat saya berusia 20-25. quarter life crisis kata orang. saat itu, saya merasakan perubahan yang begitu hebat. entah pada diri sendiri, entah pada lingkungan saya, teman-teman saya, bahkan keluarga saya. tiba-tiba, saya harus menjadi dewasa.
saat itu, saya kerap berusaha menghindar dari setiap perasaan tak nyaman yang muncul. saya harus tetap tampil baik, tetap biasa-biasa saja. saya tidak boleh menampakkan bahwa di dalam hati, saya dilanda kebingungan, keraguan, juga kekhawatiran. saya harus tetap baik-baik saja.
yang ternyata… membuat saya semakin rapuh dan rengkah. saya jadi mudah kecewa, mudah sedih, mudah marah kepada diri sendiri. saya mudah menghakimi, mudah membenci.
bertahun-tahun kemudian, tentu saja kerapuhan itu masih ada. bentuknya saja yang berganti. tetapi, bertahun-tahun kemudian, saya baru memahami, mengapa itu semua bisa terjadi.
rupanya, saya kurang bisa menerima emosi. menerima perasaan. saya pikir, ada peran keluarga dan lingkungan saya di sini–mungkin kita semua begitu. saat kecil, kalau kita menangis, mereka akan bilang kepada kita untuk berhenti menangis. kalau kita marah, mereka akan bilang kepada kita untuk menjadi anak baik.
kita terbiasa lari dari perasaan kita, tak berlatih untuk menerimanya. padahal, saat lari, sejatinya kita sedang membiarkan benih-benih perasaan tak nyaman menjadi pohon kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan yang lebih besar.
sekarang, saya memahami. sebaik-baiknya cara untuk menghilangkan perasaan-perasaan tak enak itu adalah dengan menerimanya terlebih dahulu, mengakuinya dahulu. “iya, saya sedang sedih.” “iya, saya sedang patah hati.” kalau sudah kenal, sudah menerima, kita tahu harus bisa apa.
kalau kamu punya adik, jangan pernah menganggap remeh masalah yang dihadapinya. dengarkanlah. setiap masalah pasti berat bagi yang mengalami.
kalau kamu punya teman, jangan pernah menyuruhnya untuk bersabar dan bersyukur. mereka tahu itu yang harusnya mereka lakukan. dengarkanlah. mereka butuh seseorang yang mendengarkan, bukan menjawab.
kalau kamu punya anak, jangan pernah larang mereka untuk menangis. alih-alih, latihlah mereka untuk bisa mengatasi kesedihannya. bukan lari dari kesedihannya.
kita bisa sama-sama menjadikan rumah kita, lingkungan kita, juga internet, tempat di mana semua orang bisa menerima diri sendiri. niscaya, kita lebih bisa menerima satu sama lain. :)
“….jangan khawatir, kamu akan menemukan waktumu sendiri, sebab dalam banyak hal kita memang tidak perlu melihat orang lain, cukup syukuri waktu yang sedang kita jalani sekarang, bagaimanapun keadaanya sembari berjuang”
— Kurniawan Gunadi
menjaga lisan
seberapa sering kita berdoa agar Allah menjaga hati kita? seberapa sering kita berdoa agar Allah melindungi kita, membuat kita tak mudah tersakiti, kuat, dan teguh menjalani hidup? lalu, seberapa sering kita berdoa agar Allah menjaga lisan kita?
padahal, dari lisan itu sering sekali datang dosa. padahal, dari lisan itu sering sekali datang bencana. padahal, dari lisan itu sering sekali datang petaka.
semoga Allah menjaga lisan kita. semoga Allah membantu, menolong kita dalam menjaga lisan kita.
semoga Allah menjaga lisan kita dari menyakiti perasaan orang lain. semoga Allah menjaga lisan kita dari mengadu domba saudara-saudara kita.
semoga Allah menjaga lisan kita dari memperbincangkan orang lain. semoga Allah menjaga kita dari menuduh orang lain.
semoga Allah menjaga lisan kita untuk menutupi aib saudara-saudara kita. semoga Allah menjaga lisan kita untuk menutupi aib diri kita sendiri.
semoga Allah menjaga lisan kita untuk selalu mengatakan yang baik, yang membuat diri sendiri dan orang lain ikut bersyukur.
lalu, semoga Allah menjaga kita dari panasnya api neraka bagi mereka yang tak mampu menjaga lisannya.
===
selamat bertemu kembali di halaman ini, para teman imaji. :)
Kindness is so underrated! I feel like we emphasize the importance of being smart, working hard, or being strong… but in my experience, kindness can have the most impact. I won’t forget the times that people were exceptionally kind to me. 💕
Instagram | Patreon | Webtoon
Engkau serupa senja, dan aku adalah hujan di bulan Januari. Pada sang waktu kita berdua bertanya, kenapa jumpa tak kunjung datang pada kita • • • • • #senja #coretankata #tulisanthia #thiakepadathia #iphoneography #iphonephotography #meitupic #vsco #vscocam (at Jabung Sawit Boyolali)
Allah itu baik, maha baik. Kamunya yang jahat. Dikasih ini, maunya itu. Dikasih itu, maunya ini. Dikasih tau ini baik, malah ngeyel. Dikasih tau itu ga baik, malah ngelawan.
— Taufik Aulia
Serius ini udah di blokir? :(
INNER CHILD KU = MASALAH TERBESARKU?
By: Amalia Sinta
“Mbak Sin, aku udah baca teori parenting ini itu. Tapi kenapa aku masih gampang meledak-ledak ke anak ya? Padahal sebelum nikah, aku orang yang sabar. Sekarang anak bertingkah dikit, langsung aku bentak-bentak” 😭
♧♧♧
“Aku nyesel banget abis cubit paha anak sampe dia nangis kejer, mbak. Aku marah karena dia buang-buang makanan yang udah capek-capek ku masakin. Dia bilang gak suka menunya. Tapi aku terlanjur kesel jadi aku paksa dia makan. Aduuh, aku kok jadi kaya mamaku ya mbak, yang dulu suka maksa dan cubitin aku biar mau makan.. 😣
♧♧♧
Hampir tiap malem aku ciumin anakku yang lagi tidur, mbak. Itu caraku minta maaf ke dia. Meski aku tau, itu gak bisa menghapus kesalahanku yang gak bisa nahan amarah dan suka hukum dia dikurung di kamar. Aku cuma pengen dia dengerin aku sebagai orang tuanya mba. Sebetulnya aku gak mau begitu. Karena aku tau rasanya gak enak banget, kaya yang dulu sering aku rasain saat dihukum ayahku.. 😢
♧♧♧
Mengapa rasanya kita susah sekali untuk tidak marah ya? Padahal hanya untuk hal kecil.. Seolah kata sabar hanya menjadi nasihat tanpa makna..
Mengapa rasanya sulit sekali mengontrol emosi? Walau hanya untuk hal sepele.. Seolah jawaban atas doa agar tak emosional tak kunjung datang
Bunda, Mungkin masalahnya bukan pada diri anak balita kita, yang memang sedang masanya bertingkah macam-macam.
Mungkin masalahnya ada dalam diri kita sendiri..
Mungkin inner child dalam diri kitalah yang bermasalah..
INNER CHILD adalah sosok anak kecil yang ada dalam diri kita saat ini.
Inner child menyimpan memori dan emosi tertentu atas sebuah kejadian di masa kecil.
Inner child bisa positif yaitu sosok anak kecil yang menyimpan memori dan emosi tentang kebahagiaan, misal rasa senang gembira saat piknik dan tertawa lepas di saat itu.
Inner child bisa pula negatif, yaitu sosok anak kecil yang menyimpan memori dan emosi negatif, yang sering disebut inner child yang bermasalah.
Sosok inner child yang bermasalah ini bisa berupa anak di beberapa rentang usia, tergantung usia kita saat mengalami kejadiannya.
Misal bisa berupa usia 3 tahun yang merasa kesepian karena tak mendapat cukup waktu, perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Orangtuanya sibuk mencari harta, hingga lupa di rumah mereka punya harta paling berharga yang bernama anak.
Bisa berupa anak usia 4 tahun yang memendam kesedihan dan kekecewaan pada orangtua yang terasa tidak adil. Dia tak pernah paham, kenapa menjadi kakak harus selalu mengalah. Dia tidak mengerti, kenapa benar ataupun salah, dia harus dihukum dalam kamar mandi yang terkunci karena berantem dengan adiknya 😭
Bisa berupa anak usia 5 tahun yang trauma atas bentakan dan pukulan dari ayahnya ataupun dibully teman sekolahnya. Si anak tak bisa mengerti, mengapa orangtuanya langsung berteriak marah saat melihat jam dinding sudah menunjuk ke angka tertentu. Dia harus segera memenuhi jadwalnya untuk mandi atau tidur, jika tidak, dia akan kena pukul Orangtuanya tak mau peduli, bahwa dia hanya butuh waktu sedikit lagi menyelesaikan susunan lego yang sedang dirangkainya dengan susah payah. Ia tak pernah diberi kesempatan untuk berpendapat.
Dari kumpulan aneka peristiwa selama hidupnya ketika kecil, akan tercipta beberapa inner child yang bermasalah dalam diri seseorang.
Ketika sekarang kita mengalami peristiwa yang sama, meski posisi kita sudah berubah jadi ibu, memori akan membangunkan lagi inner child yang lama tertidur. Dia akan marah, sebagai wujud ekspresi emosinya yang dulu tertahan. Maka kita menjadi ibu yang pemarah. Yang sebenarnya kita marah pada orangtua kita dulu, namun melampiaskannya ke anak kita sekarang. Anak akan jadi korban emosi orangtuanya, persis seperti kita dulu 😣
Lalu bagaimana cara memutuskan mata rantai luka dan trauma masa kecil ini?
Berikut cara self healing yang bisa dilakukan sendiri untuk menyembuhkan inner child yang bermasalah :
1. PENERIMAAN
Cara pertama untuk berdamai dengan inner child adalah dengan menerimanya. Menerima bahwa iya, kita di masa lalu pernah jadi ‘korban’, jadi anak yang dikasari, yang disakiti secara verbal ataupun fisik.
Memang rasanya sungguh tidak enak. Rasa sedih, kecewa, marah, takut, kesepian, semua terasa menyesakkan dada. Tapi cobalah mengenali rasa itu lagi, terima bahwa kita memang pernah merasakannya.
Menyangkalnya berarti sama dengan menyangkal keberadaan si inner child dalam diri kita.
Bagaimana mungkin kita akan berusaha menyembuhkannya, bila kita tidak mau menerima keberadaannya?
Selama ini mungkin kita tidak menyadari kehadiran inner child dalam diri kita. Sering dianggap tidak ada, ataupun merasa sudah sembuh sendiri karena kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu dan terlupakan.
Tapi sebenarnya, rasa sesak itu masih ada. Hanya saja mengendap dalam hati terdalam. Dan sebenarnya luka tersebut masih terbuka. Maka saat ada kejadian yang sama terulang, luka itu naik ke permukaan. Rasanya sungguh pedih perih saat tertetesi emosi yang sama.
Dan bila saat itu tiba, ketika kejadian yang sama terulang, ketika anak kita melakukan suatu kesalahan yang sama dengan kita dulu, maka rasanya emosi dalam diri langsung ingin meledak.
2. KOMUNIKASIKAN KE DALAM
Bila terjadi hal demikian, segeralah jauhi anak. Jangan bereaksi apapun padanya. Karena hanya penyesalan yang akan didapat.
Masuk ke kamar, tutup pintu, pejamkan mata dan bicara ke dalam diri kita sendiri, lewat hati.
Ingat-ingat, apakah ada memory yang sama, kejadian yang sama seperti ini, saat kita kecil dulu?
Bayangkan inner child kita, panggil dia dan bicaralah dengannya.
"Wahai diriku yang kecil, datanglah. Hadirlah, aku ingin menemuimu”
Hati akan menuntun kita untuk menampilkan inner child sesuai masalahnya.
Jika masalahnya adalah kesepian, inner child kita bisa berupa sosok anak yang sedang duduk memeluk lutut di pojokan yang gelap.
Jika masalahnya adalah kekerasan dan kurungan, inner child kita bisa berupa sosok anak yang tengah terisak menangis ketakutan dalam kamar mandi yang terkunci.
Jika masalahnya adalah kemarahan, inner child kita bisa berupa sosok anak kecil yang sedang memukuli tembok hingga tanggannya luka dan berdarah.
Datangi perlahan, nyalakan lampunya. Belai lembut rambutnya. Katakan kau ingin menolongnya, menemaninya. Supaya dia gak sendirian. Katakan kau ingin mengobrol dengannya. Supaya dia gak kesepian.
Awalnya mungkin dia akan diam saja. Tapi teruslah tersenyum padanya. Raih kepercayaannya. Bila dia mulai mau membuka mulut, sapalah perlahan.
Kau : hai, apa yang lagi kamu rasakan?
Inner child : dadaku sesak, jantungku berdebar, aku pusing.
Kau : owh itu berarti kamu lagi marah. Marah sama siapa, kenapa?
Inner child : sama mama. Aku habis dimarahi mama. Aku pasti dimarahin kalo minta main sama mama. Mama gak mau nemenin aku main. Jadi aku selalu sendirian.
Kau : oowh gitu. Mama kemana?
Inner child : Mama kadang kerja, kadang di rumah. Tapi kalau di rumahpun aku gak ditemenin. Selalu disuruh main sendiri. Mama di rumah masak terus, nyapu terus, nyuci terus..
Kau : aduh, rasanya gak enak banget ya dimarahin dan selalu sendiri. Tapi sekarang ada aku yang nemenin kamu. Udah gak kesepian lagi kan.
Inner child : iya, aku senang ada yang menemani..
♧♧♧
Dengan berbicara pada inner child yang bermasalah, kita memberikan kesempatan padanya untuk bercerita. Dengan menanggapinya, kita membantu dia melepaskan emosi negatif yang selama ini mengurungnya.
Setelah dia merasa lega, kita pun akan merasakan sebuah kelegaan. Satu kerikil dalam hati telah mampu disingkirkan.
Terry Pratchett, seorang penulis novel fantasi terlaris pernah mengatakan :
“Hello inner child, I’m the inner babysitter!”
Rasanya tepat sekali kalau diri sendiri yang paling pas untuk menjadi pengasuh bagi inner child kita. Karena diri sendiri yang pernah merasakan emosi-emosi si inner child. Maka jadilah pengasuh yang memberikan perhatian, kasih sayang dan pelukan yang dulu tak pernah kita dapat dari orangtua..
3. MEMAAFKAN
Cara berikutnya adalah memaafkan perilaku kedua orangtua kita dulu yang kasar atau berlaku tidak baik saat kita kecil. Selain orang tua, maafkan pula nenek kakek om tante dan saudara kandung yang tinggal serumah. Karena mereka sangat mungkin berkontribusi menorehkan luka di batin kita.
Memaafkan mereka sebetulnya bukan hanya demi kebaikan mereka. Tapi lebih kepada demi kebaikan diri kita sendiri.
Amarah, apalagi dendam yang kita simpan dalam hati, bagaikan bara api yang hanya akan membakar diri sendiri.
Maafkanlah kesalahan mereka. Mereka berlaku demikian bukan karena tidak sayang. Tapi karena ketidaktauan mereka tentang ilmu parenting, karena punya terlalu banyak anak tanpa bisa berbagi waktu dan perhatian yang adil, ataupun karena tekanan ekonomi.
Beruntunglah kita yang kini hidup di jaman serba internet, dimana berbagai ilmu mudah diakses. Termasuk cara mengasuh anak. Lain halnya dengan orangtua kita. Dan besar kemungkinan, cara didik orangtua kita adalah warisan dari kakek nenek kita.
Maka ucapkanlah pada diri sendiri berulang-ulang: “Ayah ibu, aku sudah memaafkanmu. Aku percaya kalian sungguh mencintaiku. Akan slalu ku ingat betapa besar jasa kalian merawat dan membesarkanku. Kesalahanmu dalam mengasuhku hanya karena ketidaktauanmu, bukan karena tidak sayang. Aku telah memaafkanmu”
Masa lalu tak pernah bisa kita ubah. Tapi kita selalu bisa merubah sikap dalam menghadapinya. Maafkan ketidaksempurnaan masa lalu. Toh kita sudah diberi makan, diberi tempat tinggal dan disekolahkan oleh orangtua. Tanpa mereka, kita tak akan tumbuh besar seperti saat ini.
4. MELEPASKAN
Setelah memaafkan, rasakanlah beban berat itu akan menguap. Hati lebih ringan, pikiran lebih tenang. Lalu lepaskan sisanya. Lepaskan kenangan masa lalu yang menyakitkan itu. Supaya tak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang akan membuat kita berulang melakukan kesalahan yang sama. Fokuslah ke masa sekarang dan masa depan.
♧♧♧
Lakukan rangkaian self healing ini secara rutin. Ulangi untuk memanggil inner child Anda. Lakukan di saat tenang, tidak ada orang. Bisa di malam hari saat semua tertidur.
Bayangkan sosok anak kecil dalam diri anda. Bicaralah dengannya, tanyakan perasaannya. Ingat kembali memori yang menyesakkan hati. Urai satu persatu masalah yang belum terselesaikan. Ungkapkan satu persatu emosi yang masih tertahankan.
Lakukan berulang hingga seluruh bayangan inner child yang tidak bahagia itu menghilang. Digantikan dengan inner child yang tersenyum, ceria, bersemangat dan bahagia.
Martha Beck, seorang penulis lulusan Harvard University pernah mengatakan :
“Caring for your inner child has a powerful and surprisingly quick result : Do It and the child heals”
“Dengan merawat inner childmu, akan memberikan hasil yang luar biasa dan mengejutkan dalam waktu relatif singkat. Lakukan itu dan si anak akan sembuh.”
Maka rangkullah inner child kita, sembuhkan, dan kita akan melihat hasil yang menakjubkan. Diri ini akan lebih bisa memaklumi tingkah anak, akan tidak mudah marah dan hati terasa lebih damai.
Namun bila Anda tak bisa menghadirkan inner child dan punya masa kecil yang sangat kelam, saya sangat menyarankan agar Anda berkonsultasi dengan psikolog, agar dibantu memanggil inner child yang bermasalah dan diharapkan dapat menyelesaikannya dengan baik, agar tidak mengganggu kehidupan Anda saat ini yang telah menjadi seorang ibu. Agar Anda tidak mewariskan kesalahan yang sama dalam mengasuh anak, yang akan terus menurun ke cucu Anda kelak.
♧♧♧
Sudah cukuplah anak kita merasakan juga sakitnya cubitan. Jangan ulangi lagi pukulan. Jangan biarkan dia merasa sendirian, tak didengar pendapatnya, diabaikan dan hidup dalam ketakutan atas bentakan dan makian.
Ayo putuskan mata rantai inner child ini.
Terima. Komunikasi ke dalam. Maafkan. Lepaskan.
Maka masa lalu yang buruk itu akan menjadi pil pahit yang bisa menjadikan kita pribadi yang lebih kuat.
Menjadi ibu yang tahu cara merawat anak dengan baik, tidak melakukan kesalahan yang sama.
Yang lembut namun bisa tegas saat diperlukan, tanpa harus melukai perasaan maupun fisik anak.
Dan….
Selamat berjuang memutuskan mata rantai inner child ini bunda.. Percayalah, menjadi ibu itu jauh lebih menyenangkan Saat kita tak lagi dibayangi masa kecil yang menyedihkan..
Sabtu
Adakah yang lebih indah dari tiga warna Kelimutu, wajahmu.
Adakah yang lebih tinggi dari Rinjani dan puncak Mahameru, merindumu.
Bagaimana Baiknya
Suatu hari, disaat langit sedang kelabu-kelabunya, hatiku pun demikian. Adik bimbinganku mengirimkan sebuah pesan pendek melalui whatsapp. Aku sedang berbaring di tempat tidur, memandangi jendela, memerhatikan pohon yang bergerak-gerak ditiup angin, menantu hujan.
“Kak, mau nanya dong. Apa aja sih yang harus diperjuangkan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan yang disukainya. Biar mendapatkan sinyal positif, biar bisa meyakinkannya (dan keluarganya), biar bisa mencuri hatinya. Laki-laki itu harus bagaimana?” tanyanya.
Aku membacanya, malas. Menimang-nimang kembali handphoneku, lalu melemparkannya ke tumpukan baju. Aku memilih untuk menidurkan diri,
Lepas tengah malam. Aku masih berkutat dengan buku, dengan pikiranku, dengan kegelisahanku. Aku memungut kembali handphone yang sedari tadi aku buka. Memandang kembali pertanyaan dari adik kelasku yang tak kunjung ku balas.
“Dengan beribadah dengan baik, bekerja dengan tekun, fokus, berbuat baik pada banyak orang, rutin mengkaji ilmu, ikut kegiatan yang bermanfaat, membantu orang lain, dan terakhir, berbakti kepada kedua orang tua.” jawabku.
Aku tahu, aku sedang menasihati diriku sendiri.
©kurniawangunadi