Having some good sandwiches today with Ayumi!💙
Munch Deli Adelaide - The freshest, locally sourced ingredients. Your go-to for the tastiest sando's and toasties in town.
Today's Document
No title available
Jules of Nature
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
occasionally subtle
No title available
Cosimo Galluzzi
Keni
Three Goblin Art

pixel skylines
Not today Justin
I'd rather be in outer space 🛸

No title available
he wasn't even looking at me and he found me
sheepfilms
will byers stan first human second

if i look back, i am lost
styofa doing anything

#extradirty

Love Begins
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Singapore

seen from France
seen from Iceland

seen from United States

seen from Brunei
seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from India
seen from Singapore

seen from India

seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from China
seen from Iceland
@zahralyr
Having some good sandwiches today with Ayumi!💙
Munch Deli Adelaide - The freshest, locally sourced ingredients. Your go-to for the tastiest sando's and toasties in town.
Pembahasan soal "ibu" itu, selalu tidak pernah sederhana, karena ada rasa yang terbawa. Untuk sahabatku, dan juga untukmu yang hari ini mengabdi dan melayani ibunya, semoga Allah berkahi langkah kaki dan hidupmu, ya.
Jika ada mimpi yang harus kamu pendam atau tunda karena khidmah kepada ibu, gapapa, biar Allah yang menggantinya nanti dengan yang lebih baik, lebih mulia dan lebih barokah.
Dariku yang sedang rindu dengan umi, insyaallah pertengahan Desember ini sowan ke rumah umi, semoga Allah mudahkan dan lancarkan.
@jndmmsyhd
Drama bgt malam ini, sedih sekaligus seneng bgt, beberapa bulan terakhir belum bisa balik rumah, terus barusan lihat Abi nyiapin kamar buat anak cowok yang udah seperempat abad ini buat istirahat, sederhana tapi... dah ya Allah nggak minta aneh-aneh kali ini, cukup dipanjangkan umur Abi dan Umi aja cukup, insyaallah :')
Sudah sebesar atau sedewasa apapun kita sebagai anak, di mata orang tua, anak adalah anak. Bahasa cinta orang tua kepada anak rumusnya selalu sama, yaitu dengan memberi. Apapun itu. Selalu ingin memberi, betapapun bahkan keadaan mereka sedang tidak memungkinkan untuk berbagi.
Memberi adalah wibawa bagi mereka di hadapan anak-anaknya. Itulah kenapa terkadang mereka rela berbuat apapun hanya demi menghadirkan rasa cukup bagi anak mereka.
Semoga Allah memberi kita hidayah untuk jangan sampai melukai mereka, dan memberikan kita kesempatan, entah kapan nanti membuat mereka bahagia.
Selamat mengawali tahun, semuanya. Segala yang baik-baik, semoga yang patah tumbuh dan yang hilang berganti. Pun, semoga tetap tangguh kalaupun yang tidak baik nantinya tetap harus dilewati✨
Tentang Pulang
Jelang kepindahanku, ada banyak narasi tentang pulang yang terlintas di kepala. Australia bukan kepindahan pertamaku, tapi jaraknya cukup jauh sehingga membuatku berpikir banyak tentang pulang. Setiap kali memikirkan pulang juga, aku teringat tulisan Mbak Windy Ariestanty dalam bukunya, Life Traveler:
'Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, whenever you feel peacefullness, you might call it home'
Aku ingat, buku itu pertama kali kubaca sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, aku masih terlalu muda untuk memahami—setidaknya menurutku— dan aku berpikir bahwa 'pulang' adalah sesederhana naik angkutan umum dan harus transit dua kali untuk sampai ke rumah.
Sekarang, sudah tiga belas tahun berlalu dan aku melewati banyak waktu dengan menunda pulang; menunda pulang karena beramanah di suatu tempat, karena hanyut dalam kesibukanku sendiri, karena peliknya proses mengerjakan skripsi, atau yang paling parah, menunda pulang karena aku tidak lagi merasa pulang.
Kadangkala, aneh rasanya berada di rumah lagi, aneh rasanya merasakan udara yang sepanas itu lagi. Aneh rasanya tidur di tempat tidurku sendiri, menatap langit-langit yang sama lagi. Semuanya benar-benar terasa asing. Semuanya—kecuali Mama, Babah, dan adik-adikku yang menyebalkan itu.
Lalu, pulang bagiku banyak berubah.
Pertama, pulang berarti bertemu mereka yang kuanggap 'rumah'.
Pulang tidak lagi sesederhana bangunan yang harus kucapai dengan naik angkutan umum dan berjalan kaki dua kilometer dari sekolah. Merasa pulang adalah Mama yang kukirimi pesan setiap hari, adalah Babah yang paling bisa memahami tentang pundakku yang terasa berat sekali. Adalah adik-adikku yang selalu menjadi pendengar yang baik untuk pembicaraan kami yang jarang selesai. Adalah teman-teman yang selalu membersamai. Adalah nenek yang sering menanyakan kabar saat ia terbangun pukul tiga pagi. Adalah pukul tiga pagi, saat dimana aku bisa benar-benar merasa pulang dan didengar tanpa dihakimi manusia manapun. Tentang pukul tiga pagi, Ia adalah pengecualian dari 'mereka-mereka' yang tertulis di paragraf ini.
Kedua, pulang adalah diri sendiri.
Selama jauh dari rumah, aku bertemu banyak sekali manusia-manusia baik hati yang Tuhan kirim untuk silih berganti menawarkan pertolongan. Selama itu juga, aku cukup merasakan kepindahan berkala yang berakhir pada perasaan cukup untuk memaknai manusia lain sebagai pulang. Perasaan cukup yang membuat aku mulai belajar menjadikan diri sendiri sebagai pulang.
Ketiga, sebagaimana dituliskan Mbak W, aku mulai memahami bahwa pulang adalah merasa damai.
Labuan Bajo membantuku memahami bahwa pulang ternyata punya banyak wujud, salah satunya menjelma menjadi satu kota pantai yang cantik, berjarak 1300 kilometer dari Surabaya. Ada rasa damai yang sulit dijelaskan ketika pertama kali aku sampai di sini. Tetapi satu yang paling penting: tiga hari ku di sini cukup untuk menjelaskan bahwa, bagaimanapun juga, akan selalu ada tempat yang membuat siapapun merasa pulang. Lain waktu, akan kuceritakan juga tentang cantiknya tempat ini.
Pada akhirnya, pulang ternyata bukan hanya berwujud manusia lain, atau bahkan diriku sendiri. Pulang menjelma dalam banyak wujud.
Dan, sejauh perasaan damai itu hadir, ada pulang yang dekat di sana.
Shout out to Zulfan for the recommendation! A captivating read and candid narrative about highs and lows of Knight in building Nike. Totally worth to read!✨
Trilogi Arti Nyeri: Waktu
Photo by Lily Banse
Tulisan ini adalah tulisan tentang sepersekian hikmah yang saya dapat ketika mendalami nyeri dan bagaimana ia mengikat kita semua dalam hidup bersama. Saya kemas menjadi trilogi; gagasan ini terbagi menjadi tiga abstrak besar.
Abstrak yang pertama, perihal waktu.
Mas, Mbak, kalau dipikir, dari lahir hingga akhir hidup, nyeri banyak ikut andilnya, ya.
Ibu kita, tanpa adanya rasa nyeri, mustahil untuk mendapat dorongan yang cukup ketika melahirkan kita. Pun jika tidak cukup, nyeri tetap dibutuhkan untuk membantu keputusan lahir secara caesar apa tidak. Kita lahir karena rasa nyeri mereka.
Begitupun anda, Mbak, kelak jika anda dititipkan Allah untuk mengandung dan melahirkan, sadari kalau nyeri itu niscaya, untuk mengantar kehidupan yang baru.
Photo by Patricia Prudente
Sekian bulan, akhirnya kita yang baru hidup itu belajar banyak hal. Salah satunya belajar jatuh ketika berjalan. Sadar dengan nyeri yang ada ketika berjalan dan terjatuh, kita semakin berhati-hati ketika berjalan. Lalu tidak lama kita dapat berlari. Terjatuh, nyeri, lalu bangkit dan semakin berhati-hati.
Begitupun ketika belajar bersepeda dan terjatuh ke dalam parit; belajar masak dan terkena cipratan minyak; belajar untuk ujian dan harus rela nyeri kepala berkali-kali.
Photo by Gradikaa Aggi
Lalu memasuki quarter life crisis. Banting tulang untuk lulus dari universitas. Tertatih-tatih dalam mencari jati diri. Sering overthink dengan ketidakpastian. Irama tidur pun terasa tidak beraturan. Ada nyeri di situ, mengena ke fisik dan mentalnya, membuat kita terbentur dan terbentuk untuk menjalani kehidupan.
Pun akhirnya menginginkan keseriusan dalam hal cinta, ada nyeri yang bermain dan harus dibayar. Ada ketakutan ketika pasangan merasakan nyeri, berkorban demi kenyamanannya. Ada pula nyeri dalam dada ketika mengetahui hal-hal yang tak berkenan di hati. Dan segudang pengalaman lain karena cinta memang mustahil tanpa nyeri.
Fase berkeluarga; ada luka yang niscaya. Dia hadir dalam bentuk keresahan perencanaan keuangan. Hadir pula dalam ketakutan masa depan anaknya yang akan lahir. Hadir pula ketika sang anak, pasangan, atau orang tua yang tidak memenuhi ekspektasi. Ia hadir pula dalam juangnya ibu dan bapak bekerja untuk keluarga, yang nyerinya mereka tahan agar sang anak dapat hidup tanpa terbebani. Dan nyeri-nyeri lain yang dapat membuat keluarga bertumbuh bersama.
Hingga akhirnya tiba di penghujung usia; nyeri hadir dalam bentuk yang berbeda-beda. Fisiknya nyeri akibat penyakit kronis, gula darah tinggi membuat luka susah sembuh atau mungkin darah tinggi yang membuat stroke. Hadir pula nyeri berupa sepi ketika ditinggal pasangan wafat lebih dini.
Lalu di akhir, ada nyeri ketika meninggalkan dunia. Nyeri yang sama, yang dirasakan manusia termulia. Bahkan sahabatnya, malaikat yang mulia, tidak kuat untuk melihat prosesnya.
“Nyeri itu niscaya, ya. Tapi jika tidak nyeri, tidak manusia,”
Nyeri itu diciptaNya ada dari kita lahir hingga wafat, untuk mengajari banyak hal. Banyak sekali. Berhati-hati dalam melangkah, berpikir dalam mengambil keputusan, bersabar dalam mencinta, hingga bersyukur dalam berkasih sayang.
Sebagian dari kita bahkan sudah terlebih dahulu dicukupkan merasakan nyerinya hidup, entah pada usia muda ataupun senja. Mereka sudah dapat melihat arti di balik nyeri itu sendiri, lebih dulu daripada kita.
Selagi ingat, yuk kita doakan mereka agar tenang bersama Yang Maha Tenang.
Photo by Utsman Media
Susah terkadang untuk melihat pelajaran yang ada, terutama ketika nyeri itu masih hadir di dalamnya. Tapi jika bersabar, insyaaAllah hikmah itu akan semakin tampak, bukan?
Saya yakin, dalam penantian yang baik, dibersamai dengan syukur dan sabarnya, pasti ada yang indah pada ujungnya. Nyeri itu tidak lama, kok. Ada saatnya untuk istirahat, pada sela-selanya, dan yang pasti di istirahat terakhir kelak bersamaNya.
Bersabar dulu, ya. Hidup ini tidak lama, kok. Yuk jalani sebaik mungkin, sekuat mungkin, sebermanfaat mungkin.
Hidup ini memang penuh nyeri, ya. Tapi, nyeri tidak selamanya hidup, kan?
7 Mei 2020, dalam heningnya shubuh.
menangis
Aku sudah lama tidak menangis.
***
Kemarin, sambil menyetir, aku berusaha mengingat-ingat mengapa aku tak kunjung menangis dalam tahun-tahun belakangan ini.
Dua hal yang aku ingat membuat aku menangis dalam tiga tahun terakhir adalah:
Ketika aku terbangun pada pagi hari dan mendapati diriku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku menangis karena menahan sakit sekaligus ketakutan membayangkan akan lumpuh seumur hidup.
Lanjutkan membaca
Terima kasih untuk garda terdepan kami dalam menghadapi Covid-19.
Guratan indah karya @sillyjellieart 🙏