“Sekarang udah Kamis aja, ya. Kerasa cepet ya, tapi kayaknya gitu-gitu aja.” Kata suami.
Kita manusa-manusia yang terjebak rutinitas. Senin-Jumat suami ke kantor. Sabtu-Minggu kita berkeliaran dalam kota. Aku, pagi jadi nyonya rumah tangga, siang jadi kakak les, malam jadi pemimpi, nulis sambil nemenin suami lembur (nggak ngerti emang suami hobi banget kerja :D). Hidupnya memang masih normal-normal aja. Nggak ngerasain tuh euforia ribuan santri Ciamis yang jalan kaki ke ibukota. Padahal mereka lewat rumah saya.
Ada beberapa kawan yang tanya, memangnya saya dimana? Saya di Kalimantan, provinsi terbesar di Indonesia. Yang dulu pernah mau jadi ibukota Indonesia tapi nggak jadi. Yang lebih luas hutannya daripada pemukimannya. Yang jadi tempat syuting film Anaconda berburu Blood Orchid. Ya, itu.
Ceritanya pak suami kerja di perbendaharaan negara yang tugasnya pindah-pindah kayak tentara. Pindahnya sekitar 3-5 tahun sekali. Kalau jabatannya lebih tinggi bisa 2 tahun sekali, tergantung mood yang bikin SK-nya. Haha, becanda ding. Ampun, jangan dilaporin hate speech kepada pejabat pembuat SK.
Suami saya sudah tinggal di Kalimantan selama 3,5 tahun. Makanya kami gambling banget, mau beli perabotan ini itu repot juga kalau tiba-tiba pindah, barangnya cuma kepakai beberapa minggu terus dijual. Mau bikin perusahaan juga nanti setengah-setengah. Perusahaan seblak gitu misalnya. Haha. Akhir Oktober kemarin saja ada dua atasannya yang dipindahkan ke Mamuju, Sulawesi Barat, dan Sorong, Papua Barat. Dan anak-anak mereka udah berkali-kali pindah sekolah karena ikut Bapaknya.
Rasanya beda ketika saya tinggal disini sebagai Pengajar Muda dan sebagai istri orang. Dulu lebih bergairah, karena dalam kata lain saya hidup disini lagi kerja. Sekarang, saya harus mengerjakan hidup saya. Nggak ada rapat, nggak ada laporan, tapi berpikir bagaimana agar kualitasnya tetap sama. Sampai sekarang yang saya temukan, rumusnya adalah jaga interaksi. Kalau Pak Anies bilang, inspirasi itu datang dari interaksi, bukan meditasi.
Selama setahun kemarin saya menikmati hidup sebagai Pengajar Muda. Malah jadi jarang (mendekati nggak pernah) untuk menulis di blog. Bukan hanya karena masalah persinyalan dan kelistrikan, atau karena laptop yang membangkai karena genset yang nggak stabil. Tapi karena (saat itu) berbicara dengan orang lebih menyenangkan daripada berbicara dengan blog. Kadang suka merasa berhutang karena belum sempat menceritakan kisah-kisah di desa untuk membantu kampanye IM, tapi kadang juga pengen kisah-kisah itu disimpan sendiri aja. Saya kurang inspirable memang.
Karena suami tahu banget kekuatan saya di nulis, dia mengusahakan banyak hal aga saya bisa tetap menulis. Dan, setelah dua bulan pernikahan (pas banget hari ini 2 bulan, yeay!), saya menulis lagi di tumblr. Bukan linked dari Instagram.