Belajar Berjarak
Bohong jika selama hampir 12 tahun ini apa yang aku lakukan padamu itu murni hanya ingin membantu. Sebagian kecil dari hal itu aku lakukan agar dirimu tertarik kepadaku.
Tapi, sebagian besar lainnya karena aku memang suka membantu. Terkesan klise sih memang. Namun saat ada orang kesusahan dan berhasil aku bantu, Aku merasa senang saja. Aku suka rasanya dihargai sebagai manusia. Aku juga senang sebagai tempat curhat banyak teman-temanku. Karena aku merasa yang dipercaya untuk menyimpan berbagai rahasia mereka. Walaupun pada akhirnya, akumulasi tersebut membuatku jadi kurang sehat akhir-akhir ini, tapi aku tetep senang. Senang jadi manusia yang bisa membantu.
Mungkin, kamu dikirim ke dunia bukan sebagai pendamping, tapi sebagai penguji. Karnamu aku bisa bangkit mengerjakan jurnal di S1, saat aku sudah sangat putus asa dengan segalanya. Hanya dengan kata-katamu, tugas akhirku selesai dalam waktu 3 minggu saja.
Akan tetapi, juga karenamu aku ada berada di titik terendahku. Sakit hati paling pedih selama 31 tahun aku hidup di dunia. Aku merasa setelah kita bertemu, kita semakin berjarak. menjauh perlahan. Tema yang selama ini kita sepaham, mulai jarang sekali kamu timpali. Dirimu seperti membuat pagar tinggi yang berbicara "kita sudah tidak sama, Kal". Hal yang masih kamu bukakan pintu samping hanyalah satu, "kucing". Cuman pintu samping itu yang aku coba akses selama ini. Pintu utama selalu kamu tutup rapat dengan gembok besar.
Namun karena sakit hati itu juga aku bisa memperbaiki ibadahku, doa-doaku, mencoba lebih dekat dengan Tuhanku. Di tengah kekalutan itu aku jadi menemukan oase kedamaian di sepertiga malam.
Jadi bagaimana pun juga aku berterimakasih, Allah udah mengirim dirimu supaya aku bisa lebih dewasa. Supaya bisa lebih bijak menjalani hidup. Supaya mempelajari apa makna tersirat di balik semua kejadian.
Semoga kita masih tetap berteman, gausah jaim lagi. Toh semuanya sudah kebuka kan setelah hampir 12 tahun lamanya.















