"Jika hidup adalah untuk memaknai yang hilang; maka hargailah setiap pertemuan, karena sejatinya mengingat kembali tanpa bisa bertemu lagi itu adalah sakit yang tidak bisa dijelaskan."
-
Ferliana Harman
macklin celebrini has autism

if i look back, i am lost
noise dept.

Love Begins

#extradirty

No title available
KIROKAZE

Discoholic 🪩

gracie abrams
we're not kids anymore.

No title available

tannertan36
taylor price
sheepfilms
🪼
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Show & Tell

★
The Bowery Presents
RMH

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Brazil

seen from United States

seen from Poland
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Singapore
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from China
seen from Colombia

seen from Türkiye
@agahara
"Jika hidup adalah untuk memaknai yang hilang; maka hargailah setiap pertemuan, karena sejatinya mengingat kembali tanpa bisa bertemu lagi itu adalah sakit yang tidak bisa dijelaskan."
-
Ferliana Harman
Jika sudah waktunya, hujan pun akan turun. Jika sudah masanya, bunga pun akan mekar dan wangi.
Begitulah takdir Tuhan, doa-doa kita di masa lampau akhirnya dikabulkan begitu sudah waktunya.
Bukankah ada banyak hal yang diberikan sebelum kita siap menerimanya, hingga akhirnya berantakan dan hanya menjadi pelajaran.
Sengaja dikabulkan dengan cepat hanya untuk pelajaran. Sabar, jangan terburu-buru menagih doa, ya.
@jndmmsyhd
Dulu aku kerap mempertanyakan bagaimana doa bisa bekerja jika takdir sudah termaktub? Sampai akhirnya aku paham bagaimana konsep dari takdir itu sendiri dan bagaimana kekuatan sebuah doa dapat mengubahnya. Maka, berdoalah.
Aku teringat dengan sebuah tulisan yang pernah kubaca "tangan yang menengadah ke langit tidak akan kembali dalam keadaan hampa". Artinya, semua yang telah dipanjatkan pasti selalu punya jawaban. Maka, berdoalah.
Berdoalah dan meminta kepada-Nya untuk segala hal apapun yang nampaknya mustahil. Sebab Dia dapat mengubah sebuah kemustahilan menjadi keniscayaan. Maka, berdoalah.
Rephrased.
Source: https://www.instagram.com/p/CvSXnmVB_Kj/?igshid=MzRlODBiNWFlZA==
JIKA ENGKAU INGIN MENGETAHUI SESEORANG..
Guru kami Syaikh Prof. DR. Sa'ad al-Khotslan hafidzahullah berkata:
• Jika kamu ingin mengetahui kualitas agama seseorang, maka lihatlah muamalah orang tersebut dengan orang lain dalam masalah harta.
• Jika kamu ingin mengetahui kualitas akal seseorang, maka lihatlah bagaimana cara dia berbicara dengan orang yang tidak sependapat dengannya dan apa yang dia lakukan saat marah.
• Jika kamu ingin mengetahui kualitas akhlak seseorang, maka lihatlah bagaimana cara dia memperlakukan para karyawan, bawahan, pembantu, dan fakir miskin.
“Di hadapanku ada dua pilihan. Menetap atau menyerah. Keduanya sama-sama menyakitkan. Tetapi salah satunya bisa jadi pilihan yang benar.”
— Which way to go? // Andira Wu
A message from the Future. In the future when we look back on today, how would we describe the pandemic? What version of history would we tell?
This is the theme of the Filipino multinational chain Jollibee’s first global brand campaign developed by BBH Singapore, which reinterprets the brand’s tagline of “Joy of Family” in the context of the current pandemic.
When the pandemic broke out, everyone was unprepared and had to face an uncomfortable reality – that life as we knew it changed overnight. It was painful, scary and upended lives around the world. Yet it is in our darkest hours when we see what’s most dear to us - our families. From physically spending every waking hour together in lockdown to long video calls across continents, our family was what got us through. This was the year of the pandemic, but it was also the year of the family.
The 3-minute-long campaign film titled “A Message from the Future”, shot in New York and directed by award-winning director Law Chen, tells a perspective-changing story about the times we are currently living in, which will leave you feeling grateful for what’s getting us through it all: family.
In a departure from Jollibee’s usual campaigns, the current film adopts a sombre and realistic tone as it goes in the future to record a nostalgic and emotional story of a migrant Filipino family based in the US. Set in 2060, the film shows a grandfather recounting his memory of the pandemic to his grandchildren. The story starts off on a bleak note but gives way to hope and joyful family moments that could have only happened because the family spent more time together, a transition highlighted through the film's progression from black & white shots to coloured ones.
Commenting on the campaign, Francis Flores, JFC’s Philippines Country Marketing head and Jollibee PH Marketing head, said: “Jollibee as a brand has been all about the joy of family, and while in our current times it may be difficult to focus solely on that aspect, we realize just the same that there’s a silver lining in all this. Coming from a powerful truth that we are spending time with our families more than ever, it has never happened before and may never happen again – we wanted this campaign to acknowledge the grim reality of the current pandemic but still give a positive message of hope. It’s all about appreciating these moments with them and finding the ultimate joy with family. Our families have been a comforting factor for most of us in these tough times and we wanted everyone to be grateful for that.”
Keep the educating yourself and stand with the Palestinians 🇵🇸❤️
Apakah Kamu Harus Sekolah Lagi?
Tulisan ini mungkin relevan untuk kamu yang:
Masih menjalani sebuah pendidikan–entah di sekolah atau di kampus, tapi sebenernya ngga bener-bener tau bagaimana pendidikan yang kamu jalani akan membantu mencapai apa yang kamu inginkan dalam hidup
Baru lulus sebuah jenjang pendidikan, tapi ngga tau apakah sebaiknya lanjut sekolah, kerja, memulai bisnis, atau ngapain
Udah selesai dengan pendidikan formal, mulai settle dengan kehidupan yang “sesungguhnya”, tapi ngerasa hampa–ngerasa “no one” karena ngga punya keahlian spesifik
* * *
Jadi, dalam perjalanan saya menggarap proyek Esensify, saya banyak baca buku dan banyak terinspirasi (tentu saja, sebab Esensify kerjaannya emang bikin intisari buku).
Salah satu buku yang lagi saya buatkan intisarinya adalah buku “Ultralearning” (bisa dibeli di Amazon)
Singkatnya, buku ini ngajarin prinsip, strategi, dan taktik yang bisa kita gunakan kalau kita mau belajar sebuah keterampilan atau ilmu dengan efektif, efisien, cepat.
Si penulis cerita, dia lulus semua ujian program sarjana computer science MIT dalam kurang dari setahun (yang wajarnya dicapai dalam empat tahun), tanpa pernah menjadi mahasiswa MIT. Dia belajar sendiri.
Ada juga beberapa cerita ultralearner lain, misalnya cerita tentang orang yang bikin game Stardew Valley sendirian. Dia sendiri belajar ngoding, pixel art, komposisi musik, sampai pemasaran game-nya. Kalau anak Steam pasti tau game ini.
Pendidikan Formal Outdated
Saya sadar bahwa gagasan “pendidikan formal udah outdated” bukanlah sesuatu yang baru.
Waktu kuliah dulu, ada diskusi bahwa pendidikan tinggi tidak berkontribusi signifikan menurunkan angka pengangguran meski angka orang yang mengenyam pendidikan tinggi naik.
Sebagian orang juga udah memulai homeschooling sejak beberapa tahun yang lalu. Namun, karena saya cukup konservatif kali ya, saya ngga pernah anggap itu alternatif yang serius untuk pendidikan.
Tapi, kali ini, kombinasi dari pengalaman saya selama berkarir dan insight dari buku ini membuat saya akhirnya mau bangun dan serius memikirkannya, paling engga untuk saya dan keluarga saya.
Untuk memberikan konteks yang lebih jelas, begini.
Di industri saya, tech startup, kita semakin ngga peduli dengan latar belakang pendidikan formal kandidat (kebetulan saya udah 6 tahun berurusan dengan hiring orang, jadi saya yakin dengan observasi ini). Banyak software engineer yang di atas kertas “cuma” lulusan SMK, tapi bisa mengimbangi bahkan outperform yang lulusan S1 ilmu komputer–misalnya. Ini riil. Makanya coding bootcamp semakin menjamur.
Kalau kita berorientasi pada hasil, kuliah S1 yang bisa makan waktu 3,5 sampai 6 tahun dan berbiaya puluhan-ratusan juta bisa dicapai dengan bootcamp 3-12 bulan dengan biaya belasan juta hingga “gratis” (bayar setelah lulus dan dapat pekerjaan).
Ini ngga cuma terjadi dalam konteks software engineer, tapi juga bidang spesifik lainnya, seperti data science, design, research, product management, dan bisnis.
Apa Masalah Pendidikan Formal?
Kata buku ini, masalahnya adalah pada “transfer of learning”, yaitu kemampuan mengaplikasikan informasi, strategi, keterampilan yang kita pelajari dalam konteks yang berbeda.
Seringkali pelajaran dalam pendidikan formal tidak berhasil membawa konteks-konteks dalam kehidupan nyata yang kompleks, kaya, dinamis.
Ada penelitian dari Howard Gardner dalam bukunya Unschooled Mind, yang kesimpulannya adalah para mahasiswa yang menerima nilai bagus pada pelajaran fisika seringkali tidak mampu menjawab pertanyaan mendasar yang dimodifikasi dari apa yang telah diajarkan.
Atau contoh lain yang saya yakin banyak yang ngalamin, di kelas Bahasa Inggris kita diajarin grammar dan vocabulary. Pas ujian nilainya oke. Udah pede tuh, berasa jago. Tapi, saat ketemu asing beneran dan harus berbahasa Inggris, bisa nggak kita berkomunikasi sama dia?
Apa Sarannya?
Ada beberapa strategi yang direkomendasikan sama buku ini, salah satunya adalah direct learning, di mana kita langsung terjun ke situasi di mana keterampilan itu akan digunakan.
Contoh yang paling mudah adalah belajar bahasa. Daripada sibuk bolak-balik baca buku tentang gramatika, mending kamu bikin komunitas di mana semuanya wajib ngomong pakai bahasa tersebut. Atau, lebih baik lagi, langsung berkomunikasi dengan native speaker-nya.
Contoh lain, kalau mau belajar ngoding website, daripada belajar HTML dan CSS secara terpisah dan masing-masing berdiri sendiri (terpisah dari konteks kebutuhan kita), mending kamu bikin proyek website di mana kamu terpaksa harus menggunakan HTML dan CSS sesuai dengan situasi di mana kamu membutuhkannya.
Ada juga strategi metalearning, di mana kita melakukan pemetaan bagaimana suatu keterampilan terstruktur dan gimana cara terbaik mempelajarinya. Singkatnya, mempelajari gimana caranya untuk mempelajari sesuatu.
Contoh yang saya sendiri praktekkin setiap saya mau menaikkan “level” diri saya sendiri di pekerjaan, saya pelajari job description level yang lebih tinggi dari saya dari berbagai perusahaan besar di Indonesia dan dunia. Saya sintesiskan, lalu saya petakan gimana caranya saya bisa deliver job description itu dan langsung saya praktekkin dalam pekerjaan saya (simpelnya). And it works!
Mungkin, hari ini, belum semua bidang ilmu/keterampilan bisa diperlakukan seperti ini, misalnya bidang dengan resiko tinggi seperti kedokteran atau penerbangan. Tapi kalau kamu ngga di bidang yang beresiko tinggi seperti itu, berbahagialah karena internet menyajikan kesempatan untuk belajar apapun.
Jadi, Apakah Kamu Harus Sekolah Lagi?
Sebagaimana jawaban untuk banyak urusan hidup: tergantung.
Kamu mau mencapai apa dengan sekolah lagi?
Bagaimana sekolah lagi mengantarkan kamu semakin dekat dengan apa yang penting bagi hidup kamu?
(Dan anyway, apa yang sungguh-sungguh penting bagi hidup kamu? Sebaiknya udah bisa jawab ini dengan mantap)
Tentu saja, bisa jadi sekolah lagi relevan untuk kamu dan mengantarkan kamu ke tujuan kamu–apapun itu.
Yang ditawarkan oleh buku ini adalah semacam argumen bahwa kalau yang kamu cari adalah penguasaan atas suatu keterampilan atau ilmu, ada rute lain yang lebih efektif dan efisien daripada pendidikan formal.
Pengen bikin bisnis? Kita bisa belajar dengan cara bikin bisnis alih-alih ambil MBA. Pengen jadi programmer? Kita bisa belajar dengan mulai bikin software alih-alih mikirin untuk kuliah ilmu komputer.
Tentu, belajarnya dengan prinsip, strategi, dan taktik yang tepat, seperti yang ditawarkan oleh buku ini.
* * *
Ps: intisari versi lengkapnya akan tampil di Esensify setelah segala infrakstruktur dan kontennya memadai.
Rasanya, semua kita pernah berangkulan dengan jenuh. Bertarung dengan keramaian—yang menguras energi tanpa toleransi. Di tengah manusia lalu-lalang, kita justru membisu; diam membatu. Menerawang menembus isi kepala: mengapa begini; mengapa begitu? Kadang, kita bahkan melampaui para filsuf dalam mengamati kebisingan. Berupaya menyelamatkan diri dari arus zaman yang berkelindan. Tapi justru di titik ini, kita menemukan momen pencerahan. Di waktu serba singkat ini, kita seringkali sukses mendefinisikan arti kehidupan. Mungkin, seperti mendapatkan “Aha”-moment. Untuk kemudian jadi alibi di hari depan. (at Simpang Dago Bandung) https://www.instagram.com/p/CIqDQUTly7F/?igshid=ap5eg2qmvjth
Kiat Bermuhasabah dari Imam Al-Ghazali
Tulisan ini saya dapatkan dari kajian Ustadz Sya’roni As-Samfury. Beliau adalah salah satu pemateri dalam kajian intensif ramadhan yang saya ikuti melalui online whatsapp class. Semoga bermanfaat.
Dalam kitab Bidâyatul Hidâyah, Imam al-Ghazali menyebut ujub sebagai penyakit kronis (ad-dâul ‘idlâl). Kepada diri sendiri, pengidap penyakit ini merasa mulia dan dan besar diri, sementara kepada orang lain ada kecenderungan untuk meremehkan dan merendahkan. Biasanya buah dari sikap ini adalah obral keakuan: gemar mengatakan aku begini, aku begitu. Seperti yang Iblis katakan ketika menolak perintah Allah untuk hormat kepada Nabi Adam (QS. al-A'raf:12).
Dalam banyak kesempatan, pengidap penyakit ujub juga suka meninggikan diri sendiri, serta ingin selalu menonjol dan terdepan. Saat bercakap-cakap atau berdialog umumnya orang seperti ini tak mau kalah dan dibantah. Imam al-Ghazali menerangkan takabbur dan ujub dengan definisi yang mirip. Kata beliau, orang yang takabur (mutakabbir) gusar ketika menerima nasihat tapi kasar saat memberi nasihat. Siapa saja yang menganggap dirinya lebih baik dari hamba Allah yang lain, itulah mutakabbir.
Lantas bagaimana agar bisa keluar dari jeratan ini? Imam al-Ghazali memberikan tips dengan mengembalikannya pada manajemen pikiran:
بل ينبغي لك أن تعلم أن الخير من هو خير عند الله في دار الآخرة، وذلك غيب، وهو موقوف على الخاتمة؛ فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض، بل ينبغي ألا تنظر إلى أحد إلا وترى أنه خير منك، وأن الفضل له على نفسك
“Ketahuilah bahwa kebaikan adalah kebaikan menurut Allah di akhirat kelak. Itu perkara ghaib (tidak diketahui) dan karenanya menunggu peristiwa kematian. Keyakinan bahwa dirimu lebih baik dari selainmu adalah kebodohan belaka. Sepatutnya kau tidak memandang orang lain kecuali dengan pandangan bahwa ia lebih baik ketimbang dirimu dan memiliki keutamaan di atas dirimu.”
Ujub dan takabur adalah tentang dua entitas antara diri sendiri dan orang lain. Yang ditekankan adalah bagaimana yang pertama menata pikiran agar terhindar dari perasaan lebih istimewa dari yang kedua.
Secara praktis, kiat-kiat muhasabah (introspeksi) yang ditawarkan Imam al-Ghazali adalah sebagai berikut:
1. Bila yang disebut orang lain itu anak kecil maka sadarlah bahwa ia belum pernah bermaksiat kepada Allah, sementara dirimu yang lebih tua sebaliknya. Tak diragukan lagi, anak kecil itu lebih baik dari dirimu.
2. Bila orang lain itu lebih tua, beranggapanlah bahwa ia beribadah kepada Allah lebih dulu ketimbang dirimu, sehingga tentu orang tersebut lebih baik dari dirimu.
3. Bila orang lain itu berilmu, beranggapanlah bahwa ia telah menerima anugerah yang tidak engkau peroleh, menjangkau apa yang belum kau capai, mengetahui apa yang tidak engkau ketahui. Jika sudah begini, bagiamana mungkin kau sepadan dengan dirinya, apalagi lebih unggul?
4. Bila orang lain itu bodoh, beranggapanlah bahwa kalaupun bermaksiat orang bodoh berbuat atas dasar kebodohannya, sementara dirimu berbuat maksiat justru dengan bekal ilmu. Ini yang menjadi alasan atau dasar (hujjah) pada pengadilan di akhirat kelak.
5. Bila orang lain itu kafir, beranggapanlah bahwa kondisi akhir hayat seseorang tidak ada yang tahu. Bisa jadi orang kafir itu di kemudian hari masuk Islam lalu meninggal dunia dengan amalan terbaik (husnul khâtimah). Jika demikian, ia keluar dari dosa-dosa masa lalu sebagaimana keluarnya sehelai rambut dari adonan roti, mudah sekali. Sementara dirimu? Bisa jadi Allah sesatkan dirimu di ujung kehidupan, berubah haluan menjadi kafir, lalu menutup usiamu dengan amal terburuk (sûul khâtimah). Dengan demikian, muslim dan kafir sekarang masih sangat mungkin berbalik nasib di kemudian hari. Dirimu yang kini muslim mungkin di kemudian hari masuk kelompok orang yang jauh dari Allah dan dia yang sekarang kafir mungkin di kemudian hari masuk golongan orang yang dekat dengan Allah.
Imam al-Ghazali mengintruksikan, sepatutnya seseorang menghabiskan energinya untuk introspeksi (muhâsabah) kepada diri sendiri ketimbang sibuk menghakimi kualitas diri orang lain. Sebab, hakim sejati hanyalah Allah dan keputusan final yang hakiki hanya ada di akhirat, bukan di dunia ini. Wallâhu a‘lam.
Semoga kita semua terhindar dari perasaan seperti ini. Wallahu a’lam bisshowwab…
semakin lama hidup di bumi, semakin aku mengerti; bahwa rumah, tidak melulu berbentuk bangunan
karena kadang perasaan, atau waktu, atau justru kehadiran seseorang
juga dapat disebut rumah
Fitrah Based Education: Sedikit tentang Kritik Pendidikan di Indonesia
Ada satu buku luar biasa menarik yang lumayan mengubah sudut pandang saya terkait pendidikan anak, terutama pada segi pendidikan formal. Sebagaimana judulnya, Ayah Edy Punya Cerita, buku ini ditulis oleh Ayah Edy, seorang praktisi pendidikan anak yang berbasiskan Multiple Intelligence dan Holistic Learning System, yang juga merupakan penggagas Program Keluarga Indonesian Strong From Home.
Dalam buku tersebut dijelaskan hasil penelitian akan tiga kategori besar sistem otak yang berhubungan dengan belajar. Pertama, organ berpikir kreatif. Kedua, organ berpikir logika dan yang ketiga, organ berpikir memori. Proses belajar manusia secara fitrah berjalan berurutan dari sistem pertama, kedua lalu ketiga.
Lalu bagaimana dengan sistem pendidikan formal di Indonesia? Apakah sudah selaras dengan fitrah cara belajar manusia? Sayangnya, harus diakui bahwa tidak, setidaknya bagi kebanyakan sekolah yang ada.
Selama ini, metode belajar yang digunakan langsung pada penggunaan organ berpikir memori semata. Coba saja kita ingat kembali bagaimana proses sekolah kita dahulu, apakah dalam proses belajar dan mengajar kita lebih banyak dirangsang untuk kreatif memecahkan masalah secara logis, ataukah lebih banyak diminta untuk menghafal materi-materi? Apakah dalam ujian kita lebih banyak diminta berpikir kreatif ataukah harus menjawab sesuai dengan yang telah diajakarkan oleh guru? Karena proses belajar yang tidak mengindahkan dua proses sebelumnya, maka tak heran jika sebagian besar hasil hafalan di sekolah dulu menghilang tanpa bekas di benak mayoritas orang.
Padahal, jika proses belajar benar-benar mengikuti fitrah, maka dengan sendirinya otak berpikir memori akan aktif dan menjadi kuat kinerjanya. Contohnya, kita bisa merangsang otak berpikir anak dengan mengajukan pertanyaan seperti “mengapa langit berwarna biru?” yang kemudian anak akan terdorong mencari jawabannya secara logis. Setelah melalui proses tersebut, fungsi otak berpikir memori akan aktif dengan sendirinya.
Selain dari metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan fitrah cara kerja otak berpikir manusia, ada satu poin penting pada sekolah konvensional yang saya akui sangat berpengaruh pada psikologis anak. Apakah itu?
Sistem Rangking.
Di satu sisi, sistem rangking dapat menjadi rangsangan bagi anak untuk mengejar prestasi di bidang akademik. Namun di sisi lain, bagi anak yang memang potensi unggulnya tidak pada kemampuan menghafal, maka ia bisa tumbuh dengan mempercayai bahwa ia adalah orang bodoh who doesnt deserve good things in life.
Sad, right.
Padahal, penelitian terdahulu telah menemukan bahwa setiap anak dilahirkan dengan kemampuan otak yang sama, hanya saja dengan letak keunggulan yang berbeda (terdapat 8 jenis kecerdasan manusia; linguistik, logika matematika, visual spasial, musikal, gerak tubuh, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis)
Sekarang bayangkan seorang anak yang memiliki potensi emas seorang pemusik handal yang harus menerima doktrin selama 12 tahun dalam hidupnya bahwa ia hanya seorang yang bodoh dan tidak pernah cukup baik diantara orang lain hanya karena ia tidak bisa unggul di sekolahnya.
So mean.
Dua poin tersebut telah membuat saya berpikir keras perihal ke sekolah mana kelak anak-anak saya akan saya sekolahkan (selain rencana untuk mondok saat SMP). Yang pasti, sampai mereka lulus SD, mereka harus berada dalam pengasuhan yang intens dari orang tuanya, yaitu saya dan abinya. Hal ini selaras dengan pola asuh berdasarkan tingkatan umur yang Rasulullah teladankan.
Pertama, sejak lahir hingga usia 7 tahun adalah masa bermain. Mengutip kajian parenting dari Dr. Elly Risman, pada anak usia dini, yang berkembang adalah pusat perasaan, maka ia harus jadi anak yang bahagia, bukan jadi anak yg pintar. Belum saatnya! Dan teman bermain terbaik anak pada saat ini adalah orang tuanya, untuk memunculkan bonding.
Kedua, usia 7 hingga 14 tahun adalah masa penanaman disiplin. Pada masa ini, anak juga mulai diajarkan adab.
Ketiga, usia 14 hingga seterusnya adalah masa kemitraan, yaitu menjadikan anak sebagai sahabat.
Sejauh ini, saya sepakat untuk tidak mendidik anak dengan cara melompati tahapan-tahapan sesuai fitrahnya. Tentu Allah telah menciptakan manusia dengan rancangan yang sebaik-baiknya. Selain itu, penting pula untuk mengembangkan mereka sesuai dengan potensinya masing-masing. Sehingga, saya rasa tidak banyak manfaatnya mencita-citakan anak saya kelak harus menjadi ini dan itu (kecuali terkait peran apa yang harus mereka ambil dan kemana arah hidup mereka harus berkiblat). Sebab terlebih dulu, saya harus menganalisis dimana letak potensi mereka baru berani mencita-citakan. Jangan sampai, ekspektasi saya di masa muda bagi mereka, justru melekat di kepala saya dan membuat saya memaksa mereka menjadi apa yang bukan mereka inginkan.
Sebuah tulisan kecil di sela-sela lelah mengerjakan skripsi. Sebab tak seperti skripsi yang bisa berulang kali revisi, proses mendidik tidak bisa diulang dua kali. Maka meski tak ada manusia yang sempurna, sebaiknyalah berusaha meminimalisir kesalahan. Dan anakku, semoga umurku panjang untuk bertemu denganmu dan mencintaimu dengan sebaik-baiknya.
#RevolusiPendidikan
Superman itu bukan manusia biasa, makanya bisa nolong umat manusia. Batman itu manusia biasa tp dia kaya raya, makanya bisa buat perubahan yg nyata. Nah kamu itu manusia biasa, uang seadanya, muka sekenanya. Maka usahanya yg harus ekstra biar berguna bagi nusa bangsa.
Ashimadzorif
“Hingga kini, aku masih mengingat moment indah masa kecil yang lucu itu, tuhan maha besar memberiku ruang ingatan yang begitu luar biasa agar aku selalu ingat bahwa; untuk berdiri saat ini adalah perjuanganku menuju kedewasaan hati.”
bagaimana mungkin aku harus menghancurkan ingatan itu hanya untuk seseorang yang pernah melukai ku ? ~sungguh lucu.
© Ego Sang Rubah
Suami Bagimu Belum Tentu Ayah Bagi Anak-Anakmu
The world has change, and from year to year, children become fatherless - Anonymous
Seorang ahli psikologi berkata bahwa dunia berubah. Semakin banyak anak-anak yang yatim sekalipun ia memiliki seorang ayah. Ayah yang kehadirannya kian lama tak dirasakan lagi. Peran ayah kini kian lama kian bergeser. Hanya menjadi pencari nafkah tanpa memedulikan bagaimana tumbuh kembang anaknya karena sudah percaya pada ibunda. Maka ketika hasil pendidikan ibu yang didadaptkan tidak sesuai ekspektasi, akhirnya ayah cenderung menyalahkan istri, “Kamu nggak becus mendidik anak!”.
Al Ummu, Madrosatul Ula, Ibu adalah madrasah pertama
Begitulah dalih yang barangkali sering dijadikan landasan mengapa seorang ayah sangat sibuk menafkahi. Namun teruntuk para ayah dan calon ayah (seperti saya :p) sadarlah. Ibu memang madrasah pertama bagi anak-anaknya. Namun ayah adalah kepala sekolahnya. Wahai para calon ayah, engkaulah kepala sekolah yang kelak akan menentukan visi bagaimana sekolah pertama anakmu kelak. Bisa kita bayangkan bagaimana seorang guru tanpa kepala sekolah. Ia bisa mendidik, namun tak punya arah yang jelas bagaimana peserta didik itu nantinya. Analogi itu pun sama dengan pendidikan anak.
Dan kau Ayah, adalah kepala sekolah bagi anak-anakmu
Peran ayah pun telah dicontohkan dalam Al-Quran. Ada Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, dan Imron. Merekalah contoh ayah-ayah yang luar biasa dalam mendidik anaknya. Seorang peneliti asal timur tengah, Sarah binti Halil, dalam tesis nya di Universitas Ummul-Quro, Makkah menuliskan bahwa dalam Al-Quran tertulis dialog ayah dengan anaknya sebanyak 14 kali, sedangkan dialog ibu dan anaknya hanya 2 kali. Tentu itu bukan merupakan sebuah kebetulan, sebab Quran adalah firmanNya. Hitunglah, 14 dibanding 2. Maka sudah jelas, peran sentral ayah dalam dunia anak tak terbantahkan.
Hanya visi saja tentu tidak cukup. Seorang ayah sekaligus menjadi evaluator bagi anak-anaknya. Layaknya seorang pemimpin yang memiliki visi, ia pastilah yang paling tahu ke mana visi itu dibawa, dan di mana letak kesalahannya. Pun demikian dengan ayah, ia akan tahu ketika anak yang didiknya melenceng dari visinya. Tentu di sini tidak sekedar menjadi evaluator layaknya di perusahaan, namun tentu anak punya cara tersendiri agar evaluasimu mendidik, bukan membebani mereka.
Sebab itulah wahai calon ayah dan mungkin ada ayah yang sudah membaca, karena kau lah sang penentu visi. Kau adalah kepala sekolah, bukan penjaga sekolah. Kepala sekolah adalah sang pembawa visi sekaligus evaluator. Penjaga sekolah adalah dia yang datang ketika lampu rusak, dapur bocor, kran mampet. Kau juga bukan donatur sekolah yang datang ketika sekolah membutuhkan uang. Kau adalah kepala sekolah, kunci dari pendidikan anak-anakmu.
Sebab ayah yang sukses, bukanlah sosok yang hebat dalam karirnya, sosok yang banyak prestasinya, atau sosok yang kaya raya. Ayah yang sukses adalah ketika anak lelakinya kelak berkata, “Aku ingin seperti ayah” atau anak perempuannya berkata, “Aku ingin memiliki suami seperti ayah”
- George Hilbert