Kartini adalah sosok menyejarah yang menjadi salah satu bukti peran perempuan dalam peradaban. Ia yang melepas gaun kenyamanan untuk berjuang secara anggun demi kemerdekaan kaumnya kini sentiasa dikenang. Namun, apakah hakikat sebenarnya dari emansipasi yang diperjuangkan Kartini?
Dalam penggalan suratnya kepada Prof. Anton pada 4 Oktober 1902, Kartini menuliskan
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Ya, peran pendidikan memang sebegitu pentingnya bagi kehidupan manusia tanpa memandang gender. Maka jika yang diinginkan adalah kesamaan kesempatan, sesungguhnya Islam telah menjadi pintu bagi keadilan ini. Islam telah mengangkat derajat wanita dari masa jahiliyah yang penuh penghinaan, menuju masa kemuliaan. Islam memberikan kesempatan bagi wanita untuk duduk setara dalam majelis, untuk turut berdiskusi dan memecahkan persoalan, untuk saling mengingatkan saling memberi wasiat tentang kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. Bahkan, begitu diistimewakannya seorang muslimah hingga Allah meletakkan surga di telapak kakinya ketika berpredikat sebagai ibu.
Emansipasi yang diperjuangkan Kartini adalah tuntutan yang tidak melupakan kodrat istimewa wanita. Namun, jangan salah kaprah memandang peran wanita hanya sekedar pada dapur, sumur dan kasur, atau terbatas menjadi istri dan ibu semata.
Jika menilik pada kehidupan shahabiyah, kita mengenal Khadijah, seorang pebisnis ulung, wanita terhormat yang terpandang di kaumnya. Terkenal pula Nusaybah, seorang muslimah tangguh yang berjaya di medan perang. Pun Asy-Syifa binti Abdullah, seorang dokter pada zamannya. Tiada sekat pada agama ini yang melarang muslimah untuk berperan dalam kehidupan sosial, selama kewajiban utama telah ditunaikan dengan baik.
Islam, agama yang menjadikan keadilan sebagai salah satu pokok ajarannya. Ia mampu menghadapi semua tantangan zaman dan menjawab setiap pertanyaan. Sehingga tidak perlu lagi kita mengambil paham-paham lain yang bisa menyesatkan.
Bukankah telah Allah sampaikan dengan lembut dalam sebuah surat yang berarti perempuan, yaitu An-Nisaa: 32
“Dan janganlah kalian merasa iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian di antara kalian atas sebagian yang lain. Bagi para laki-laki terdapat bagian atas apa yang mereka kerjakan, dan bagi para wanita pun terdapat bagian atas apa yang telah mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Teruntuk semua perempuan, selamat menikmati kesempatan dan keistimewaanmu. Menjadi matahari peradaban dengan ilmu dan pengetahuannya yang luas dan adabnya yang luhur. Menjadi pencerah tak hanya bagi keluarga, namun juga masyarakat.
Door Duisternis Tot Licht.
Habis Gelap, Terbitlah Terang.