BAGAIMANA CARA MEMAKNAI “IQRA”
Apa yang Anda pikirkan saat membaca kata “IQRA”?
Ya, secara otomatis kebanyakan orang langsung mengasosiasikan “iqra” kedalam terjemahannya yaitu “bacalah!” (kalimat perintah untuk membaca). Selain itu, tentu hal ini kembali mengingatkan kita, khususnya bagi umat beragama Islam untuk kembali mengulas memori bersejarah dimana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril AS yang bertempat di Gua Hira.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS:Al-‘Alaq | Ayat: 1-5).
Seberapa istimewanya kata “iqra”?
Ternyata ketika dibedah, Al-Qur’an terdiri lebih dari 77.000 kata dan dari sejumlah kata tersebut, Allah pilih kalimat “Iqra” menjadi kalimat pertama yang diturunkan yang merupakan kalimat seruan atau perintah. Padahal di dalam Al-Qur’an terdapat banyak sekali kalimat perintah, salah satunya adalah {أَقِمِ الصَّلاَةَ} [هود: 114] yang memiliki arti “tegakkanlah sholat” dimana sholat yang merupakan rukun islam ke-2 setelah syahadat ini adalah tiangnya agama dan menjadi fondasi bagi agama Islam.
Selain itu, “Iqra” memiliki arti “bacalah”, padahal pada saat itu Nabi Muhammad SAW berada dalam kondisi tidak bisa membaca. Tentu “iqra” menjadi sangat istimewa sehingga kata ini menjadi wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW.
Setelah mencoba untuk merenungkannya, kata Iqra pun kemudian menjadi sangat istimewa bagi saya dan terasa sangat personal karena cara saya memaknainya. Saya memaknai iqra sebagai baca dalam konteks yang lebih luas.
Membaca dalam konteks yang lebih luas? Bagaimana?! Ya, menurut pemahaman saya baca adalah suatu kegiatan untuk melihat sesuatu dan memproses apa yang dilihat tersebut menjadi suatu pemahaman atau pemaknaan. Sehingga apa yang dilihat dalam kegiatan baca disini tidak selalu merujuk kepada sesuatu yang tertulis, berupa tulisan dan bersifat tersurat. Tetapi bisa juga sesuatu yang luas dan bisa bersifat tersirat. Baca disini kemudian saya maknai juga berarti membaca situasi, membaca kondisi, membaca pertanda, dan banyak hal tidak tertulis lainnya yang bisa dibaca.
Banyak hal yang kita tidak tahu dan salah satu cara untuk menjadi tahu adalah dengan membaca. Membaca merupakan suatu media atau cara untuk belajar dan proses belajar tidak melulu dari yang tertulis.
Proses memaknai “iqra” ini menjadi sangat bermanfaat bagi saya pribadi untuk dapat membaca sesuatu yang bukan hanya tidak tertulis, tetapi membaca hal yang tersirat dan jauh lebih rumit, tentunya dalam menjalani proses pembelajaran kehidupan. Membaca makna jawaban “terserah” atau “gapapa” dari kaum hawa, misalnya.
Jadi, bagaimana cara kalian memaknai “iqra”?