semua katamu, semaumu.
Perjalanan yang tidak seberapa dengan jalan yang membentang, katamu. Kamu kemudian berkata-kata, dengan kaidah bahasa semaumu. Pertama-tama, kamu bercerita tentang takdir yang mempertemukan kita. Betapa baiknya si takdir itu, katamu. Bahkan kamu sempat ingin memberikannya terimakasih, tapi katanya ia sudah menerima banyak terimakasih hari itu. Takdir, katamu ia adalah partikel kecil yang perlahan-lahan menyelusup setiap kita yang mengharapkan kemasyhurannya.
Ingat tidak, pertama kali aku memanggil namamu, katamu. Aku hanya tersenyum, itu lebih dari cukup untuk kembali mendengarkanmu. Kala itu, pertama kalinya aku seyakin itu untuk lebih dulu memperkenalkan diri, katamu. Kamu tahu aku dari konser semalam, jadi aku pun tahu kamu gadis yang nonton konser malam-malam. Sebenarnya aku begitu malu, takut itu bukan kamu, katamu. Kamu sangat bersyukur karena ternyata memang aku, orang yang semalam menginjak kakimu di konser itu. Aku tahu namamu, karena ternyata kamu dan aku memiliki teman yang sama, katamu.
Ketika aku pikir sebaiknya kita tidur saja, kamu menggelengkan kepala. Katamu tak ada yang bisa menghentikan semangat literasimu, bahkan seorang aku sekalipun. Aku kembali menarik kedua sisi bibirku ke atas. Jujur ya, aku mulai mencintaimu ketika pada akhirnya kita punya ketertarikan yang sama, meski begitu kita selalu tak sependapat tentang siapa yang lebih baik antara Suar atau Satria sebagai vokalis Pure Saturday, katamu. Tapi ya, aku pikir beberapa hal yang tak selaras justru membuat kita semakin dekat, rasanya seperti tak lagi ada sekat untuk berpendapat, membuat hubungan kita semakin kuat.
Belum sempat kamu lanjutkan ceritamu, kamu justru kedapatan aku yang sudah lebih dulu terlelap dengan dengkuran yang tak tahu malu. Jadi, hari itu adalah perjalanan yang mencakup banyak katamu, perjalanan Cikijing-Bandung yang dipenuhi katamu. Meski begitu, aku nikmati tuturan katamu itu.
—abs.











