Semua Katamu, dan Terlelapku
“Perjalanan yang tidak seberapa dengan jalan yang membentang,” katamu.
Kamu kemudian mulai bercerita, dengan kaidah bahasa sesukamu. Mula-mula, kamu mengisahkan tentang takdir yang mempertemukan kita. Betapa baiknya takdir itu, katamu. Kamu bahkan sempat ingin mengucapkan terima kasih kepadanya, tetapi si takdir sudah menerima terlalu banyak terima kasih hari itu. Takdir, menurutmu, adalah partikel kecil yang perlahan-lahan menyusup ke dalam diri setiap kita yang mengharapkan kemasyhurannya.
“Ingat tidak, pertama kali aku memanggil namamu?” tanyamu.
Aku hanya tersenyum—sebuah jawaban yang lebih dari cukup untuk membuatmu kembali bercerita.
Kala itu, katamu, adalah kali pertama kamu memberanikan diri menyapa seorang laki-laki lebih dulu. Kamu mengingat wajahku bukan dari konser tempat kita akhirnya berkenalan, melainkan dari sebuah konser setahun sebelumnya—saat aku tak sengaja menginjak kakimu di tengah kerumunan. Sempat ragu dan takut salah orang, keberanianmu akhirnya menang. Lewat seorang teman yang mengenal kita berdua, kamu mencari tahu namaku lalu memberanikan diri menyapaku.
Ketika aku berpikir sebaiknya kita tidur saja, kamu menggelengkan kepala. Katamu, tidak ada yang bisa menghentikan semangat bicaramu, bahkan seorang aku sekalipun. Aku kembali menarik kedua ujung bibirku ke atas, di tengah pandangan yang sudah lima watt rasanya.
“Jujur ya, aku mulai mencintaimu ketika menyadari kita punya ketertarikan yang sama. Walaupun begitu, kita selalu tidak sependapat tentang siapa yang lebih baik antara Suar atau Satria sebagai vokalis Pure Saturday,” ucapmu.
Bagimu, beberapa hal yang tidak selaras justru membuat kita semakin dekat. Rasanya seperti tidak ada lagi sekat untuk berpendapat, dan itu membuat hubungan kita terasa semakin kuat.
Namun, belum sempat kamu melanjutkan ceritamu, kamu justru mendapati aku yang sudah lebih dulu terlelap dengan dengkuran yang tak tahu malu.
Jadi, hari itu adalah perjalanan yang mencakup banyak “katamu”—sebuah perjalanan Cikijing–Bandung yang dipenuhi oleh tuturanmu. Meski begitu, aku senang merayakan tiap-tiap katamu yang penuh tentang aku. Kala itu.
— Agung B. Silvayana︱Jun 14th, 2022











