Grasmere, UK (by Pete Quinn)
noise dept.
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

❣ Chile in a Photography ❣
The Stonewall Inn
sheepfilms
todays bird
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
he wasn't even looking at me and he found me
Keni

shark vs the universe
Cosmic Funnies

if i look back, i am lost
Lint Roller? I Barely Know Her
RMH
Mike Driver

bliss lane

Game Changer & Make Some Noise
Sweet Seals For You, Always

roma★

No title available
seen from Brazil

seen from Italy
seen from Indonesia
seen from Thailand
seen from Singapore

seen from Argentina
seen from Uruguay

seen from Malaysia
seen from Ireland
seen from Singapore
seen from Australia
seen from United States

seen from Vietnam
seen from Brazil
seen from Nicaragua
seen from Indonesia
seen from Morocco
seen from Brazil
seen from United States
seen from Mexico
@ainalvi
Grasmere, UK (by Pete Quinn)
Cerpen : Sabar yang Sebentar
Aku pernah belajar banyak hal dari pertemuan kita yang panjang, perjuangan kita yang juga panjang, tapi berakhir di persimpangan jalan. Kemudian kita meniti jalan yang berbeda. Jalan yang terlanjur kita pilih, meski baru selangkah. Sama sekali tidak ada pilihan untuk memutar balik. Sebab, kita tidak akan mampu menanggung risikonya.
Kesabaran yang seharusnya tidak berbatas, menjadi berbatas karena keadaan. Bukan karena kita yang tidak bisa menjaganya. Melainkan, kita yang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Antara memilih keinginan kita atau keinginan mereka. Akhirnya kita menyadari, kalau sabar itu tidak hanya bicara tentang apa yang kita perjuangkan, tapi juga tentang apa yang harus kita korbankan.
Kini kita harus bersabar pada pengorbanan kita. Sebab, kita sama-sama percaya bahwa ke depan, pilihan-pilihan ini akan berakhir baik. Sebagaimana kita percaya bahwa dengan siapapun kita memilih teman diperjalanan, sepanjang ia adalah orang baik. Maka, jangan ada kekhawatiran.
Yogyakarta, Juli 2018 | ©kurniawangunadic
Venice (by Renzo Stanley)
Rome, Italy (by Domique Lacaze)
“One of the best feelings is finding someone who really gets you. A person who lets you be vulnerable and honest. The kind of person who encourages you to push past your flaws because they accept you as you are. Someone who never tells you that you’re too much of this and too little of that. Because to them you’re just enough of everything they love.”
—
Sylvester McNutt
*sighs*
“Focus on what you can do rather than what you can’t. Small steps turn into miles.”
— Unknown
Perasaanmu
Urusanmu terhadap perasaanmu, adalah urusanmu sendiri. Meski pernah ada yang datang, kemudian pergi. Ada yang memberi harapan, kemudian hilang bagai ditelan bumi. Semuanya menjadi urusanmu.
Sebanyak apapun kita membuat alasan, juga pembenaran. Dan seingin apapun kita menimpakan apa yang terjadi sebagai kesalahan orang lain. Justru, saat-saat seperti itulah yang membuat kita tidak bisa beranjak kemana-mana.
Hal yang paling sulit selain bersyukur adalah berlapang dada. Menerima kenyataan bahwa memang itu semua adalah kesalahan kita sendiri yang tidak mampu mengendalikan diri. Ketidakmampuan kita dalam mengendalikan perasaan, emosi, pikiran, dan membiarkannya terbang bebas memikirkan apapun. Kita terperangkap dalam asumsi yang kita buat sendiri.
Biarkanlah perasaan itu hilang seiring perjalanan. Seiring waktu saat kita berusaha menerima bahwa kitalah yang salah dan kita bersedia untuk memaafkan diri kita sendiri.
Memaafkan diri kita di masa sebelumnya yang lalai, yang lengah, yang tidak bisa mengendalikan perasaan, yang membiarkan orang lain masuk dan pergi begitu saja, yang membiarkan perasaan berbunga-bunga dengan asumsi bahwa ini akan berakhir indah selamanya. Padahal, kita tahu, kita tidak bisa mendahului takdir.
Upaya kita adalah menerima dan memaafkan, diri sendiri.
Yogyakarta, 2 November 2017 | ©kurniawangunadi
merantaulah
Oleh: anonim dan tigaruang Merantaulah. Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing di negeri orang. Merantaulah. Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapet mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.
Keep reading
Estaing, France (By Daniel Orts)
Geppeto
Madrid, Spain
Kehidupan Muslim di Jerman
Jerman merupakan salah satu negara termaju di Eropa, dari segi industri, ilmu pengetahuan, ekonomi, pendidikan, dll. Namun, dengan kemajuan tersebut terdapat sekitar 25 persen atau lebih dari 20 juta orang Jerman tidak menganut agama tertentu. Hal ini sebagian adalah warisan dari bekas pemerintahan Jerman Timur yang mengekang praktik keagamaan. Muslim Jerman adalah kelompok kecil namun bertumbuh. Berjumlah sekitar 4 juta warga Muslim atau 5 persen dari populasi Jerman. Angka ini menempatkan Jerman, di bawah Perancis sebagai negara ke-2 di Eropa dengan populasi Muslim terbanya. Di Perancis terdapat sekitar 4,7 juta warga Muslim.
Jerman terbagi menjadi 16 negara bagian, salah satunya adalah Nord Rhein Westfallen dengan ibu kota bagian Düsseldorf. Negara bagian ini memiliki penduduk Muslim terbanyak di Jerman, yaitu sekitar 1.343.000 warga. Turki merupakan negara asal Muslim Jerman terbanyak, sekitar 1,5 juta, sementara yang lainnya berasal dari Asia Tenggara, Afrika, dan juga kawasan Timur Tengah. Lalu dengan tempat ibadah Muslim atau masjid di Jerman terdapat cukup banyak. Menurut statistik, di Jerman terdapat 206 masjid dan sekitar 2600 rumah ibadah Muslim.
Dari paparan fakta di atas, setelah menjalani sendiri bagaimana kehidupan di Jerman, saya merasa aman dan nyaman, terlebih sebagai Muslim. Tinggal di kota Hamburg, yang merupakan negara bagian terbesar kedua setelah Berlin, membuat saya begitu beruntung. Menetap di rumah warga asli Jerman, yang tidak menganut agama tertentu, tidak membuat mereka intolerir terhadap seorang Muslim yang tinggal bersamanya. Mengerjakan solat 5 waktu, puasa Ramadhan, bahkan mereka memberitahu ketika mereka tidak membeli daging halal, karena mereka mengetahui bahwa seorang Muslim hanya memakan daging halal. Di tempat publik pun, orang Jerman sangat ramah. Misalnya ketika belanja di swalayan, di tempat bermain, atau sekedar berpapasan di kereta. Mereka yang tersenyum ramah, juga seringnya menyapa, dan tak jarang membuat obrolan ringan.
Namun tak sedikit juga saya mengalami perlakuan negatif dari mereka karena jilbab yang saya kenakan. Saat liburan bersama Hostfam, kami pergi berenang ke kolam renang indoor di daerah Ostsee. Ketika itu saya memakai pakaian renang tertutup beserta jilbabnya, atau yang dikenal dengan burkini. Saat saya memasuki arena kolam renang, banyak mata yang melihat ke arah saya dan tak sedikit yang mengernyitkan dahi. Mereka yang terus menerus menatap saya kemana pun saya melangkah, membuat saya sedikit nervous dan malu. Namun saya mencoba membangun pikiran positif, dan mensugestikan diri. Saya menyadari bahwa saya seorang Muslim, sebagai kaum minoritas yang tinggal di Jerman, harus memiliki hati yang lapang untuk menerima perlakuan mereka yang berstigma negatif tentang Islam yang banyak terpengaruh dari media. Selama mereka tidak mengolok-olok atau menjelekkan Muslim secara langsung, atau berbuat diskriminasi terhadap saya ketika itu, saya tidak menggubris atas tatapan mereka. Yang terpenting saya tetap bertingkah laku baik, terlebih dengan kebersamaan saya bersama Hostfam dan anak-anak asuh ketika itu. Harap saya semoga dapat terbangun stigma positif, bahwa Islam yang sebenarnya jauh berbeda dari apa yang tertanam di pikiran mereka.
Warga Muslim Indonesia di kota Hamburg sendiri terbilang cukup banyak dibandingkan di kota tetangga, seperti Hannover, Bremen, Kiel, Lübeck, dsb. Terdapat banyak kegiatan keislaman disini, seperti pengajian bulanan di Konsulat, pengajian TPA setiap pekannya, juga terdapat pengajian khusus pemuda pemudi yang membahas tentang isu-isu keislaman yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Menyadari bahwa belajar, serta memperdalam agama Islam itu sangat penting, terlebih ketika tinggal di lingkungan minoritas, dimana sulitnya perolehan akses pengetahuan agama di sekitar, khususnya anak-anak, membuat kami merasa hal ini merupakan prioritas utama. Dengan perkembangan jaman, tekhnologi yang akan memengaruhi pergaulan dan gaya hidup, menjadikan alasan utama untuk terus dan memperkuat keislaman di negara maju ini. Kita harus memilih untuk menjadi baik, atau buruk sekalian. Tidak ada pilihan di tengah-tangah atau menjadi abu-abu. Karena sejatinya, jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu (Imam Syafi’i)
Trend Akhwat Mendaki Gunung
Melakukan kegiatan di alam bebas merupakan hal yang sangat menyenangkan. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir kegiatan seperti mendaki gunung (hiking), eksplorasi pantai, berselancar (surfing), susur gua (caving), menyelam (diving) mengalami peningkatan yang sangat pesat. Dipicu oleh maraknya penggunaan media sosial dengan membagikan foto, video atau tulisan tentang keindahan alam terbuka, menjadikan kegiatan ini bertambah popular bahkan menjadi tren saat ini. Bermula dari penayangan film “5 CM” tentang berkegiatan di gunung, animo kegiatan di alam terbuka ikut meningkat. Bahkan beberapa gunung di Indonesia menggunakan sistem kuota untuk menentukan jumlah pendaki, dikarenakan jumlah kunjungan yang melebihi dari daya tampung kawasan dan dinilai dapat merusak lingkungan.
Kegiatan di alam terbuka identik dengan aktivitas laki-laki, namun dengan meningkatnya ketertarikan akan aktivitas ini, perempuan pun mulai banyak yang turut serta. Tak ketinggalan seorang “akhwat”, yaitu perempuan muslim yang identik dengan rok dan jilbab panjang. Dengan pakaian tertutup itu tidak membuat para akhwat gentar dalam mengarungi petualangan di alam bebas. Berdasarkan pengalaman, beraktivitas di alam terbuka seperti mendaki gunung dengan memakai jilbab dan pakaian tertutup tidak membuat terbatasnya ruang gerak, dan langkah. Banyak manfaat yang didapat dari kegiatan ini, diantaranya akan meningkatkan kesehatan. Hal ini disebabkan udara alam yang bersih akan memaksimalkan kerja jantung dan pembuluh darah untuk menghirup oksigen. Selain itu kegiatan di alam bebas juga dapat menyehatkan otak, sekaligus dapat mengenal lingkungan alam bebas sekitar kita. Juga tak kalah pentingnya, yaitu dapat bertafakur atau mensyukuri atas alam luas dan indah yang telah Allah ciptakan. Dengan begitu dapat menambah keimanan kita.
Dengan semakin bertambahnya ketertarikan “akhwat” dalam kegiatan di alam terbuka, maka munculah beragam agen perjalanan syariah. Salah satu contohnya adalah Aimnesia (Adventure Indonesia Muslim), dan Ahad Trek Mate. Agen ini menyajikan konsep kegiatan di alam terbuka dengan prinsip Islami. Pada Aimnesia sebagai contoh, menggunakan penginapan syariah, yaitu menyediakan kamar yang bersih, menyajikan makanan halal, juga bagi pengunjung yang telah menikah harus melampirkan bukti kartu menikah. Seandainya terdapat pasangan yang belum menikah datang ke penginapan tersebut, mereka tidak diijinkan untuk menyewa kamar. Sangat berbeda dengan hotel konvensional yang mengijinkan siapapun boleh menyewa, tidak mengenal apakah pengunjung tersebut pasangan yang halal ataupun tidak, muslim ataupun nonmuslim. Hal ini menarik dan penting bagi para muslimah yang ingin berkegiatan di alam terbuka tanpa meninggalkan pakem-pakem syariah.
Banyak teman-teman “akhwat” saya yang awalnya mencoba-coba, lalu pada akhirnya ketagihan mengikuti kegiatan di alam terbuka, seperti mendaki gunung. Biasanya, mereka pergi secara mandiri tanpa melalui agen perjalanan dengan beranggotakan minimal 3-5 orang, atau ada juga yang melalui agen perjalanan. Disana mereka dapat menambah teman, sekaligus pengalaman bersama orang-orang baru. Dengan begitu mereka dapat mengetahui bagaimana karakter temannya, dan dapat belajar berempati dengan saling memahami keadaan satu sama lain selama pendakian. Hal tersebut merupakan hal dasar yang cukup penting, jika mengingat kegiatan mendaki gunung merupakan kegiatan ekstrem, terlebih bagi perempuan. Namun hemat saya, walaupun ekstrem, kegiatan mendaki gunung ini akan terus digemari bahkan terus meningkat. Dengan meningkatnya kegemaran, semoga berbanding lurus dengan kepedulian kita terhadap lingkungan. Tidak hanya sekedar penikmat alam, namun pecinta alam.
Tinggal di Luar Negeri sebagai Au Pair
Seperti kata pepatah “banyak jalan menuju Roma”, terdapat banyak jalan untuk dapat tinggal di luar negeri. Telah banyak kita temui pemuda-pemudi Indonesia yang tinggal di luar negeri sebagai pelajar, contohnya melalui jalur beasiswa. Namun tak sedikit pula mereka yang tinggal di luar negeri melalui program Au Pair. Istilah ini masih asing bagi kebanyakan orang. Apa sih Au Pair itu?
“An Au Pair is a domestic assistant from foreign country working for, and living as a part of a host family. Typically, au pair take on a share of the family’s responsibility for a childcare as well as a some housework, and receive a monetary allowance for personal use” (sumber: Wikipedia)
Dari penjelasan Au Pair menurut Wikipedia di atas, Au Pair adalah asisten rumah tangga yang berasal dari negara lain yang bekerja untuk host family (keluarga asuh) serta menjadi bagian dari keluarga tersebut. Biasanya Au Pair bertanggung jawab untuk mengurus anak, serta mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga dan mereka mendapat uang saku untuk keperluan pribadi.
Namun, Au Pair jauh berbeda dengan TKI atau perawat anak. Mereka menerima fasilitas untuk tinggal di rumah hostfam, termasuk makanan, kamar sendiri, belajar bahasa, dan kesempatan untuk traveling. Maka timbal balik atas segala fasilitas yang diterima yaitu Au Pair mengasuh anak-anak hostfam ketika hostfam bekerja.
Sejarah Au Pair diawali pada awal tahun 1970. Saat itu ekonomi negara barat sedang berkembang sangat pesat. Banyak anak-anak muda barat yang membutuhkan penghasilan sendiri dan ingin meningkatkan pendidikan dengan belajar bahasa asing, serta mereka ingin merasakan hidup di negara-negara yang mereka minati, namun mereka tidak memiliki banyak uang. Oleh karena stigma yang terlanjur melekat pada kata pelayan yang identik dengan kelas rendah, maka munculah istilah Au Pair yang berasal dari bahasa Perancis yang artinya sederajat. Dengan istilah ini menandakan bahwa hubungan antara hostfam dengan Au Pair adalah sederajat, yaitu sebagai partner kerja. Mereka harus diperlakukan sebagai bagian dari anggota keluarga dan tidak diwajibkan memakai seragam yang mana hal tersebut merupakan kewajiban bagi seorang pelayan pada saat itu.
Saat ini, Au Pair identik dengan profesi perempuan, walaupun terdapat juga laki-laki yang bekerja sebagai Au Pair. Wilayah tujuan Au Pair meliputi negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia, dimana masing-masing negara memiliki persyaratan yang berbeda. Waktu bekerja Au Pair rata-rata adalah 30 jam/minggu, dan berhak mendapatkan minimal 1 hari libur tiap pekannya. Aupair juga biasanya diikutsertakan dalam aktivitas keluarga seperti liburan.
Banyak keuntungan melalui program Au Pair ini, diantaranya adalah bagi Au Pair asal Indonesia, mereka dapat merasakan hidup di negara dengan empat musim, dapat mengikuti kursus bahasa serta dapat langsung mempraktekannya pada percakapan sehari-hari dengan keluarga hostfam, dapat saling bertukar budaya atau perayaan, dapat melakukan travelling dengan hostfam atau pribadi, juga tak kalah pentingnya, melalui Au Pair dapat berkesempatan untuk melanjutkan studi di luar negeri.
Menarik bukan? :)
Ostsee, Deutschland
tentang asuhan
Aupair Maedchen merupakan sebuah pekerjaan mengasuh anak. namun, berbeda dengan istilah “Nanny”. Karena AM mendapatkan hal lebih dari lainnya, yaitu kita dianggap sebagai anggota keluarga, juga diberikan fasilitas belajar bahasa di lembaga kursus
yak, saya saat ini sedang menimba pengalaman sebagai Aupair Maedchen, di negara Jerman, tepatnya di kota Hamburg. sudah hampir setahun saya disini. dengan beragam lika-liku hidup di negeri orang, tinggal satu atap dengan orang dan kultur yang berbeda. saya lebih sering berinteraksi dengan anak-anak, dan memang itu pekerjaan saya. dengan begitu saya sedikit mengetahui perbedaan karakter anak-anak di Indonesia yang biasa saya kenal, dengan anak-anak di Jerman. perbedaan karakter anak terpengaruh dari pola pengasuhan orang tua. terlebih dari pengasuhan yang bedasarkan ajaran agama. saya bersyukur dilahirkan dari orangtua yang mengasuh berdasarkan ajaran Islam, yaitu diajarkan bagaimana sopan santun terhadap orang yang lebih tua, cara hidup bersih dan menjaga kebersihan (karena kebersihan sebagian dari iman), cara bertetangga dengan baik, cara memperlakukan teman, cara berpakaian yang baik dan banyak lagi. dibandingkan dengan orang Jerman yang notabennya (kebanyakan) tidak beragama, jelas pasti berbeda.
anak-anak Jerman yang cenderung lebih individualis. sebagai contoh, seorang anak tidak akan menganggap seseorang sebagai temannya, jikalau mereka tidak sering bermain, atau berinteraksi, meskipun mereka berada dalam satu kelas. sangat unik. sebaliknya, Islam mengajarkan untuk menjalin silaturahim terhadap siapa saja, sekalipun ia buka teman dekat kita. dalam kondisi ini tercipta bahwa semakin anak tidak dapat bersosialisasi dengan baik, semakin anak itu keluar dari zona pertemanan.
semakin lama saya berinteraksi dengan anak-anak disini, makin saya ingin belajar tentang pola perkembangan atau pendidikan anak. tidak hanya untuk anak sendiri nantinya, namun impian yang lebih besar, yaitu kontribusi untuk pendidikan di Indonesia. moga Allah mampukan.. :)
#bahagiaitusederhana ketika melihat anak-anak muda berkumpul tp bukan sibuk dengan gadget nya masing-masing, melainkan bermain karung yg berisi pasir ditumpuk tinggi, lalu mereka memainkan beragam atraksi lompatan di atas tumpukan karung itu, dan mereka pun bahagia. #bahagiaitusederhana bukan? :) #traveling #tanger #maroko #muslimtravelers #afrika #trip #alhamdulillah (hier: Tangier, Morocco)
Mesquita de Granada . masyaaAllah.. Allahuakbar! bersimpuh di masjid peradaban, bersalam sapa dengan saudara muslim, dan duduk mendengarkan ceramah yg ternyata khutbah jumat. tak jauh dr masjid ini ada tempat yg mana bisa melihat istana Alhambra dr kejauhan, dan masyaaAllah Kau yang Maha Pencipta, tiada Tuhan selain Kau, dan mohon ampunilah atas segala kesalahan ya Rabb.. #islam #peradaban #andalusia #granada #spanyol #rihlah #traveling #muslimah #backpacker