Buku yang di beli pada september 2022.
Tahun dimana segala hal dalam hidup menemui titik balik (krisisnya), ternyata sedang diajarkan oleh kehidupan untuk merombak ulang definisi berharga dan bermanfaat.
Kini, beberapa perspektif telah berubah karena begulat dengan rasa kegagalan berulang kali. Kini, sekecil apapun peran di muka bumi selama itu perbuatan dan hal baik, harapannya semoga Allah senantiasa meridhai.
Di usia ini, meski menyikapi kegagalan masih saja uring-uringan sembari masih terus belajar meluaskan ruang kelapangan hati untuk tetap berbaik sangka dan menunggu dengan yakin bahwa setiap badai yang datang pasti akan berlalu dan memiliki jalan keluar dengan ikhtiar dan pertolongan Allah.
Teruntuk teman-teman yang mungkin saat ini hidupnya terasa suntuk, bingung memaknai soal dewasa dan merasa dilanda kegagalan berkali-kali hingga hidup yang awalnya cerah menjadi terasa muram dan ingin menyerah. Maka buku ini insyaAllah cocok untuk kamu baca✨
Bacaan ringan, yang insyaAllah memberi manfaat kebaikan. 💐🫶🏻
Bila kita berpikir semua ini adalah kesalahan orang lain, tumpukan salju di atas payung pun akan terasa berat. Sebaliknya bila kita berpikir bahwa ini adalah takdir kita, besi yang dipikul pun akan terasa ringan.
Kita menjadi dewasa manakala mampu memikul beban hidup kita dengan berat yang paling tepat. Dengan kata lain, ketika kita merasa terlalu tua untuk berpura-pura tidak tahu dan menyibukkan diri dengan hal lain, tetapi terlalu muda untuk menertawakan dan berusaha melewatinya seraya berkata bahwa beginilah hidup.
"Aku belum bisa bangkit. Aku hanya bertahan sampai cobaan itu berlalu. Aku tidak sekuat itu hingga bangkit dari masalah. Satu hal yang bisa ku katakan adalah bahwa aku tidak terpuruk! Aku hanya bisa bersabar. Dan akhirnya semua berlalu, baik penderitaan maumpun kesenangan."
Kalimat "cintai takdirmu" bukan mengajak untuk pasrah dan menyerahbsama sekali, melainkan berisi pengharapan agar seseorang mengerti bahwa setelah ia menerima sepenuhnya takdir itu sebagai bagian dari hidupnya, barulah akan muncul kekuatan untuk bertahan.
Takdir itu seperti roda yang berputar. Rasa cinta terhadap takdir diri sendiri adalah energi yang bisa mengubah kesulitan menjadi semangat hidup. Bagaimanapun, hidup kita sangat berharga dan kitalah satu-satunya orang yang akan menjalani hidup itu. (P63-79)
kegagalan akan menjadi indah di kemudian hari. Semakin dalam sebuah krisis, semakin terasa titik baliknya. (P106)
Manusia selalu berkata bahwa impian mereka musnah dengan adanya kegagalan. Namun, impian tidak pernah pergi. Diri kitalah yang selalu melarikan diri. Bukan kegagalan yang menjadi masalah, melainkan apa yang bisa dipelajari dari kegagalan itu. Sebuah kegagalan memang membawa rasa sakit, tetapi dari rasa sakit itu kita bisa berkembang. Lalu, perkembangan diri itu membawa kita lebih dekat kepada mimpi kita. Kita bisa pergi kemana saja selama masih ada tekad. Oleh karena itu, jangan takut jatuh, takutlah kehilangan keberanian untuk bangkit kembali. (P111)
Hidup bukanlah persoalan menang-kalah antara kesuksesan dan kegagalan, melainkan catatan usaha terus menerus untuk selalu menjaga diri sendiri dalam situasi apapun. (P118)
Hidup kadang memerlukan kelonggaran, bahwa tidak masalah sedikit bermurah hati pada diri sendiri. (P158)
Orang-orang yang seharusnya kita perlakukan paling baik adalah orang-orang yang paling kita cintai, orang-orang yang paling lama menghabiskan waktunya dengan kita, orang yang memiliki hubungan tidak akan putus dengan kita. Bagaimana dengan pasangan suami istri? Kita begitu mudah mengumbar perasaan ketika masih sama-sama lajang. Lalu suatu ketika, kita tidak lagi berpikir untuk "menjaga perasaan". Padahal, pikiran untuk menjaga perasaan itulah yang menciptakan percakapan sehari-hari. (P241)
Lawan kata dari bicara bukanlah mendengar, melainkan menunggu sampai lawan bicara selesai, menatap orang yang sedang berbicara, dan menganggukkan kepala sebagai pertanda setuju. Prinsip ini seringkali tidak diperhatikan, terutama antara keluarga dan pasangan suami istri. (P242)
Kenapa kita justru bersikap paling kasar kepada orang-orang yang menghabiskan waktunya paling lama dengan kita dalam hidup? Hal itu disebabkan oleh fantasi bahwa kita paling dekat dan nyaman dengan keluarga. Ketentraman itulah yang justru memperburuk hubungan. Hanya karena merasa paling dekat, bukan berarti kita bisa bertingkah sesuka hati. Ungkapan-ungkapan sederhana diperlukan untuk sedikit menghargai keluarga kita. Semakin kita yakin bahwa kita dekat dan semakin lama kita menghabiskan waktu bersama, semakin kita harus memperhatikan perasaan orang tersebut. (P242-243)
Selamat mencintai takdirmu🍻
Sore yang teduh, 1 Februari 2024 15.28 wita