Menjelang malam kami bertujuh berkumpul di ruang makan. Makanan sudah di antar oleh kakak-kakak yang baik hati itu. Di satu meja biru persegi kami duduk makan bersama. Tidak hanya perut yang dipuaskan, mata kami pun dimanjakan dengan pesona langit matahari terbenam. Kami menyaksikannya dari balik jendela besar yang sedikit terbuka sehingga kami turut merasakan angin sore membelai dengan lembutnya...
Hampir terlupa, siang tadi seorang Ibu muda meneleponku. Katanya ingin menanyakan sesuatu yang terjadi dua hari lalu. Dengan tenang aku mendengar dan menanggapinya. Sebenarnya aku tak terlalu mencemaskan diriku. Cemasku lebih terhadap seorang kakak yang diminta menetap sendirian di lantai bawah. Hari ini dia sempat meminta maaf padaku lewat sebuah pesan elektronik. Jujur aku tak menyalahkannya sedikit pun. Ia tidak salah dan tidak ada yang salah. Setiap kejadian terjadi atas izin Sang Maha-Kuasa dan rencana-Nya tak pernah mendatangkan keburukan. Siap atau tidak, ingat saja bahwa hati dan pikiran masih harus ditempah...
Aku tengah berlindung teman
Jangan dulu berkunjung teman
Sembari memanjatkan doa yang mendukung
Agar tetap kita terhubung
Dengan waktu kita bertarung
Sambil menari bersenandung
Nyeri, aku terbangun dengan perut yang terasa nyeri. Sebenarnya tadi malam aku pun sedikit merasakannya. Bukan karena lapar ataupun kembung, sepertinya kali ini ia datang lebih awal lagi...
Sejak bangun pagi tadi perutku terasa nyeri. Sungguh aku tidak nyaman dengan tubuhku. Dengan menenteng handuk dan keranjang sabun, perlahan kuberjalan menuju kamar mandi. Jauh lebih nyaman sekarang, tapi perutku masih terasa nyeri. “Mungkin sedikit sarapan bisa meringankannya”, pikirku...
Sarapan sudah kuhabiskan, tapi nyeri perutku belum mereda. Baiklah aku mengerti alasannya, aku harus menikmati rasa nyeri ini. Tak lupa kuperingati diriku untuk tetap menjaga suasana hati. Hasrat untuk bersedih hati dan berlelah pikiran akan sangat besar di situasi saat ini. Jika aku tidak menjaganya, maka banyak kesempatan baik akan hilang hari ini.
Ada berita baru yang cukup membuatku sedikit gelisah. Katanya kami akan menetap di lorong baru ini setidaknya dua minggu. Itu artinya selama dua minggu kakiku tidak akan menginjaki rumput-rumput lapangan hijau yang luas itu. Padahal aku selalu melakukannya setiap hari dan itu selalu menenangkan hati dan pikiranku. Huh, aku harus bertahan...
Telepon genggamku berdering dengan merdunya. Tidak hanya sekali, tapi tiga kali. Aku mengenal dering itu. Ada tiga pesan masuk dari seseorang. Pesannya berbunyi ucapan selamat dan semangat. Hatiku terharu bahagia membacanya. Aku sangat mengapresiasi niat baiknya. Sungguh itu sangat berarti teman, terima kasih :)
Kedatangannya dari balik pintu kaca besar itu menarik perhatian kami yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Kini semua mata terarah padanya. Raut wajah bersahabatnya ia tunjukkan dengan tulus. Tak hanya sekadar menyapa dan menanyakan kabar, ia pun menawarkan diri meracik segelas jamu sehat. Sembari melakukannya, ia tak berhenti mengajak berbincang. Sesekali ia lontarkan gurauan-gurauan ringan yang kental dengan logat sundanya. Melihat dirinya, aku jadi teringat pada Bapak. Dulu sewaktu bersama, ia senang sekali menyiapkan sarapan untukku. Ia sosok yang penuh perhatian. Tak jarang ia menanyakan hal-hal kecil seperti sudah makan atau belum. Sungguh ia benar-benar bisa kuandalkan. Mulai dari membantu mengerjakan tugas sekolah, memperbaiki perabot yang rusak, menemaniku berbelanja dan banyak hal lain. Kekagumanku bertambah karena ia mengenal baik lika-liku jalan di kota tanpa bantuan GPS. Kini aku merindukan masa-masa bersamanya. Salah satu cara yang kerap kulakukan untuk mengobati rinduku adalah dengan mendoakannya dalam setiap sembahyang malamku...
Tidurku terasa nyenyak sekali malam ini. Aku langsung bergegas mandi dari bangunku sebelum udara dingin pagi menyelimuti diriku...
Pagi berganti, ini hari pertamaku mengikuti kelas di tempat ini. Semua buku dan alat tulis tidak ada bersamaku. Aku meninggalkannya di kamar lama sebab pikirku aku akan kembali dalam waktu dua hari. Tak mau bersusah hati, aku mencarinya ke kamar lain di sekitar sini. Sesuai dugaanku aku bisa menemukannya dengan mudah. Yeayyy!
Kelas kedua hari ini cukup menguras energiku. Aku kesulitan memahami materi yang diberikan. Tak mau menyerah, aku memacu diriku untuk tetap berusaha mencari di sumber lain. Baiklah ternyata lelahnya pikiranku turut menguras energi tubuhku. Perlahan kubaringkan tubuhku pada kasur empuk beralas biru cerah itu. Ahh, rasanya sangat nyaman dan lega. Meskipun aku suka memacu diriku untuk tidak menyerah, aku tetap mempersilahkan diriku untuk merasakan nyamannya istirahat. Pikirku tidaklah baik jika tubuhku sampai tersiksa sakit, aku harus tetap menyayanginya...
Penggalan Cerpen “LORONG BARU”