Secangkir Semoga
Kita pasti pernah ngalamin hal konyol. Yang semestinya kita hindari, malah melingkari kehidupan kita. Dalam hidup apapun yang kita rencanakan boleh jadi itu akan menetap menjadi rencana. Bagaimanapun manusia tidak punya hak atas rencana menjadi nyata begitu saja. Sebagai mana rasa. Sesuatu yang bahkan mustahil menjadi rencana pun harus turut meramaikan isi cerita. Mungkin kita juga bingung bagaimana bisa semua ini berjalan secepat rasa itu tumbuh subur dengan sendirinya. Semuanya berkembang secara alami, secara sadar. Namun tetap saja kita masuh saja sulit menerima.
-----------------------------------
Kali ini aku punya cerita.
Kalian boleh dengerin boleh ninggalin, atau boleh komen kalau punya cerita yang sama.
Sebenernya cerita ini cukup privatif sih. Tapi terlalu berat jika aku simpan sendirian. Tapi tenang, nggak lupa aku sisipin beberapa fiktif sebagai pemanis. Agar yang bersangkutan nggak curiga, dan yang nggak tau nggak bakal cari tau. Intinya jangan percaya deh keseluruhan cerita. Jika ada kesamaan alur atau ciri2 tokoh itu cuma bonus.
Kita nggak pernah tau, kejadian apa yang bakal kita hadapi. Detik itu, menit itu, hari itu, waktu itu. Mengalir begitu saja. Mulanya kami sangat dekat, dalam hal jarak. Setiap hari bahkan sering ketemu dalam satu ruang. Dan itu terjadi selama tiga tahun. Pernah suatu ketika aku ingat, malam-malam, sebelum paginya aku harus presentasi buat mata kuliah esoknya. Aku bener-bener kebingungan dengan materi bagianku. Sudah berhari-hari kugeluti tapi tak kunjung dapat jalan keluarnya. Aku bertanya kepada teman-temanku yang kemarin dapat materi yang sama. Nyatanya beberapa nggak terlalu paham juga, apalagi buat ngejelasin ke aku. Aku hampir nyerah waktu itu, pasrahlah. Mungkin nanti cuma dapet nilai minus sama diketawain temen sekelas. Ahhh, ya mau gimana lagi. Pas mata kuliah yang nggak aku suka sih. Emm suka sih, suka kalau bisa. Kalau pas nggak bisa sama aja mengganggunya.
Tiba-tiba temen sekelompokku bilang pas kita lagi belajar. Eh, mil. Aku barusan dapet nama-nama kelompok yg tadi abis presentasi. Ini aku juga lagi nanya, kamu nanya sekalian aja kebetulan temannya juga paham sama materimu. Ahhh.. Bener-bener lega. Buru-buru aku dia, aku bilang mau minta tolong ajari materi ini. Dan dia bilang oke. Berjam-jam dia jelasin dengan suara yang enak didengar. Jelas banget. Waktu itu, aku masih biasa saja. Aku memahami setiap kata yang dia bilang dengan sangat antusias. Dia sabar banget. Nungguin sampai aku bener-bener paham. Sampai waktu bilang, udah malam nih. Dan kita masih sibuk telponan belum beranjak menyudahi. Akupun memutuskan untuk sudah aja, bersyukur udah beberapa materi aku pahami. Berkat dia. Berkat Tuhan kirim dia di detik-detik paling akhir aku memasrahkan diri. Yaudah, bilang terimaksasih dengan balasan sama-sama. Katanya nggak usah sungkan kalau lain waktu kesulitan. Dan akupun mengiyakan. Normal kan.
Setelah itu, aku nggak pernah lagi ngobrol macam-macam. Di kampus pun kita hanya saling sapa sekedarnya. Ya emang gitu. Kita nggak dekat. Hanya jarak yang mendekatkan. Dan aku biasa saja. Nggak ada yang istimewa. Dia juga pernah chat aku perihal mata kuliah yang berbeda, yang mungkin dia ngira aku paham dan bisa diajak sharing bareng. Yaa nggak masalah, justru aku seneng kalau aku bisa bantu. Waktu itu, emang nggak ada apapun aku nggak rasa apapun. Dan bener-bener biasa saja. Ya emang diantara kita nggak ada yang perlu dibilang ada apa-apa. Sampai suatu kesempatan, mataku benar-benar dibuat terbuka. Hatiku digedor-gedor tanpa ampun. Berusaha mendobrak. Berusaha menyusup masuk seenaknya. Aku benar-benar kelabakan sendiri. Bingung, kenapa tiba-tiba seperti ini setelah sekian lama aku baik-baik saja.
Ya. Hari itu. Aku ingat betul. Dan bakal ingat dalam waktu lama. Kita terlibat perjalanan panjang. Aku ngrasa nanti perjalanan kita bakal terasa membosankan. Menikmati bisu ditengah malam. Menikmati dingin menghancurkan pertahanan. Dan kita diam saja. Tak ada sepatah suara. Namun ternyata, perkiraanku hanya bertahan di awal. Aku memang nggak banyak bicara orangnya. Mungkin akan memulai sekedarnya. Pertanyaan-pertanyaan ringan dan nggak penting untuk dijawab. Misal tanya tentang jarak, berapa kali, dan melewati medan apa saja. Aku memang baru tentang itu. Tentang tracking yang menantang, medan yang terjal dan curam, udara yang dingin mencekam. Dan itu pertama kalinya, aku lalui sama dia. Orang asing. Orang lama yang nggak aku prioritaskan keberadaannya. Dan kini duduk berdua bersamaku, dan aku mulai nggak nyaman.
Dia adalah manusia paling formal yang aku temui. Manusia visioner kata orang-orang. Dan manusia dingin tapi nggak berasal dari kutub utara. Aku nggak ngebayangin gimana perjalananku nanti sama dia. Aku takut ngrepotin kalau-kalau aku yg menyerah ngntum dan dia sibuk ngebangunin. Sebab nggak ada sama sekali perbincangan menarik.
Dan akhirnya..
Dia membuka pintunya. Dia mulai bercerita. Di belakang, aku kaget. Akhirnya dia terbuka. Memulai semua cerita yang ingin dia sampaikan. Lurus, runtut, panjang. Dan kini aku adalah pendengar setia. Yang siap menunggu beberapa part lagi yang jarus aku dengar. Sampai pada ia menceritakan tentang dirinya.
Aku ingin menolak sebenarnya. Aku merasa nggak berhak. Aku merasa dia bercerita kepada orang yang kurang tepat. Kita baru bersalaman memulai perjalanan beberapa menit yang lalu. Itu artinya adalah baru. Dan dia membuka cerita privat kepada orang baru. Aku nggak percaya, benar-benar nggak habis pikir waktu itu.
Dia bercerita mengapa hidup melemparnya sampai pada titik ini. Tentang keluarga, keterpaksaan, dan semua ketidaksukaan dia dengan masa lalu meskipun berusaha di terima. Tidak ada cara lain selain mengubur impiannya demi keluarga, dia sangat menyayangi keluarganya. Sangat. Dan itu mutlak. Dan aku paham itu.
Aku kira kita akan jadi sepasang yang menunduk diam. Diselimuti bisu sampai terbit fajar. Nyatanya, kitalah yang paling riuh diantara pasangan dan menunduk sibuk dengan pikirannya sendiri. Kitalah yang paling siap menyambut kelam dengan sapuan dingin yang siap menyakiti. Nampaknya aku mulai menyukainya. Menyukai perjalanan ini. Tidak tau bagaimana dia waktu itu.
Aku tidak peduli. Aku terlanjur nyaman dibuat keadaan. Tidak ada yang berhak mengusik. Aku egois waktu itu.
Tak hanya berhenti disitu. Perjalanan kita didepan masih panjang. Tanjakan turunan. Hutan belantara dan seluruh bintang gemintang menyambut kita. Malam itu sangat cerah.
Dia mulai membuka lagi. Pengalaman. Tentang suatu hal yang dia impikan, tentang perjalanan yang telah ia tempuh, dan tentang hal baru yang pertama kali dia lakukan. Aku sangat antusias sekali-kali kutimpali. Sekali-kali kuberi kalimat motivasi. Kadang suaranya terdengar, ia tengah menertawakan dirinya sendiri. Aku merasa ada sepotong dari dirinya yang rapuh, namun sepotong yang lain masih berusaha menguatkan. Tidak ada yang salah. Dia orang yang kuat memang. Hebat, kuakui. Dia nggak pernah bilang nyerah meskipun hidup berusaha mengapitnya pelan-pelan.
Selepas perjalanan itu. Anehnya aku merasa kehilangan. Entah tentang berlalunya pemandangan. Atau perihal bermulanya keakraban. Mungkin dua-duanya. Kesempatan memang nggak pernah mau mengulang. Pun memaksa, peristiwa yang sama mustahil kejadian. Aku benar-benar dibuatnya kecanduan. Kecanduan dengan perjalanan semenyenangkan itu. Andai bisa terulang aku sangat bersyukur sama Tuhan dan mencabut kata2ku barusan perihal kemustahilan hehehe.
Sebelumnya kita emang sering main bareng. Namun jarang kontakan. Setelah itu, semua terasa tipis. Kita jadi sering komunikasi. Nggak tau lagi apapun yang dirasa, aku nggak mau sembarangan menerkan. Karena bagaimanapun definisi nyaman nggak hanya seputar suka, cinta pun sayang. Ia lebih daripada itu, lebih luas daripada itu.
Agar lebih terjaga. Aku nggak ingin diantara kita saling menerka, sehingga menimbulkan kecurigaan2 kecil yang membuat renggang. Sudah cukup waktu sebegitu lamanya dihabiskan untuk saling menunggu kesempatan. Datang sekali, di akhir cerita.
Bagaimanapun dia teman yang baik. Aku nggak ingin mengecewakannya. Nggak ingin membuatnya berpikir macam-macam. Toh kalau ada yang tidak sesuai, itu memang salahku yang kelewatan. Aku yang kurang bisa menjaga diri. Dia nggak salah apa-apa.
Sampai detik ini aku suka berdoa sama Tuhan. Biar dia selalu baik-baik saja. Biar dia mampu berdamai dengan kekesalan di masa lalunya. Pun biar dia suatu saat nanti tetap bahagia. Kalian pasti berpikir aku berdoa agar bisa seiringan dengannya, merajut yang lebih dari sekedar cerita, menggenggam untuk saling menguatkan di masa-masa sulitnya. Enggak. Aku benar-benar nggak seeogois itu dengan rasa.
Aku cukup berterimakasih. Karenanya mataku terbuka. Karenanya sosok yang selama ini kuanggap hanya pernak pernik semestar ternyata beneran nyata.
Poin pentingnya, kita nggak ada apa-apa juga nggak apa-apa. Asal selalu jaga komunikasi dan saling menyemangati sebagai kawab yang baik sudah poin yg ternilai harganya.
Maaf yaa.. Kalian pasti bosen ndengerin cerita yang belum tau endingnya kayak gimana.
Ya. Aku takut kalau aku yang nentuin endingnya nanti jadi nggak seru lagi.
Yaudah yaa sekian dulu cerita dari aku. Nggak ada kesimpulannya sih. Sebab semua peristiwa sayang klo hanya diambil intinya. Semuanya penting. Dan bergarga untuk diingat.
Meskipun kadang menurut kita buruk, tapi percaya deh nggak seburuk itu kok.
😁
TA, 20 April 2020












