Sempat ingin pergi dan menyudahi, tapi kata hati coba sekali lagi

seen from United States

seen from Canada
seen from Germany
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from Poland
seen from Belarus
seen from United States
seen from Jamaica
seen from Georgia

seen from Maldives
seen from United States
seen from United States
Sempat ingin pergi dan menyudahi, tapi kata hati coba sekali lagi
mungkin ada yang tidak mudah diakhiri meski keinginan menyudahi begitu besar. ya, mungkin kata sudah bukan punya arti yang sama dengan selesai. mungkin.
memelena
Obrolan Warung Kopi - Episode 7
Alhamdulillah, ternyata orangnya masih hidup. Perlu kuakui aku cukup khawatir dengan keadaannya, terlebih karena obrolan kami terakhir yang ditutup dengan bahasan yang cukup gloomy. Dirinya tanpa kabar pun tidak pernah selama ini.
Obrolan kali ini kami habiskan untuk bertukar kabar dan membahas banyak hal tak beraturan. Tanpa agenda, tanpa janji sebelumnya, dia menelponku begitu saja.
"Kalau lagi gak bisa ditelpon, tutup aja gapapa, Bid," menjadi kalimat pertamanya saat telpon darinya kuangkat.
Lebih dari 3 jam (melampaui waktu obrolanku dengan Si Beruntung selama 2.5 jam) kami habiskan untuk membahas 2 topik besar. Kami seperti sahabat lama yang reunian setelah 5 tahun berpisah. 2 topik besar yang menjadi bahasan malam itu adalah tentang orang di masa lalu dan orang di masa depan. 2 topik besar di luar bahasan receh lainnya seperti kue pancong, get contact, hingga suara misterius yang tiba-tiba muncul di tengah obrolan kami.
Dia masih dengan masalahnya bersama orang di masa lalu.
Menurutku, dia hanya perlu sabar sedikit. Ya, betulan sabar sedikit karena memang tinggal sedikit lagi. Sabar untuk menyudahi semuanya, sabar menerima dampak yang mungkin terjadi setelah melakukannya, dan sabar untuk kembali mengambil kontrol penuh atas hidupnya.
"Dengan lo ngomong gitu, gue jadi inget meme, Bid. Orang yang menggali tanah dan sudah dekat sekali dengan emas (harta karun yang dicari), eh, dia malah berhenti, menyerah, dan berbalik. Gue merasa seperti orang itu,"
Dari obrolan ini aku juga mendapatkan kesimpulan bahwa dia yang di warung kopi ini punya tendensi memelihara hubungan yang toxic. Entah itu untuk urusan asmara atau pertemanan. Mungkin, toxic sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk melawan penyakit, tapi harus dalam dosis yang cukup. Kalau terlalu banyak, toxic = racun = obat itu malah jadi sumber penyakit lain bagi tubuh.
Dia yang di warung kopi ini pernah bilang padaku bahwa aku berharga, terlalu berharga untuk sekadar menyalahkan diri sendiri. Akupun ingin bilang hal yang sama bahwa dia berharga, terlalu berharga untuk sekadar meladeni hubungan toxic dia selama ini.
Saat aku tanya, "Coba deh Sob, renungkan lagi, tanya ke diri sendiri, kira-kira Allah suka gak ya dengan aku yang begini?"
"Kalau misalnya hasil renungan itu menunjukkan bahwa gapapa kok, Allah suka sama diriku yang seperti ini (yang bahkan makan aja setelah 2 hari karena gak cukup punya energi), ya lanjutkan," ucapku menambahkan.
"Engga sih, Bid. Allah gak suka gue yang kayak gini,"
Hening sebentar. "Itu udh tau," kataku dalam hati. Entah, bagaimana dengan dia.
"Udah coba minta doa khusus ke ibu?" Aku menimbang-nimbang terlebih dulu sebelum pertanyaan ini aku lontarkan karena sedikit banyak aku bisa menebak bahwa dia berusaha sebisa mungkin tidak melibatkan orang tua. Berbeda 180 derajat denganku yang pasti tidak betah kalau terlalu lama memendam masalah tanpa diskusi dengan ibuk. Lebih baik cerita ke ibuk dibanding orang lain yang aku bahkan gak kenal dan hampir pasti tidak bisa dipercaya.
"Kalau minta doa sih udh, tapi kalau spesifik soal ini belum,"
"Coba aja bilang, Sob. Gak harus cerita detailnya, cuma telpon aja bilang minta didoain khusus biar bisa keluar dari masalah baru dalam hidup ini,"
"Oke nanti gue coba,"
Obrolan pun mengalir seperti biasa. Senang bisa dengar kabarnya kalau dia sudah mulai bisa makan lagi, kadang tertawa, bahkan memberikan respon positif terhadap cerita-ceritaku tentang orang di masa depan.
Dia bahkan bertekad untuk menyudahi hubungan dengan orang di masa lalu ini sesegera mungkin dengan cara menghilang begitu saja sambil menitipkan sebuah pesan pada orang yang mereka berdua saling kenal. Sebuah cara yang menjadi opsi paling mudah dan menyehatkan. Demi kewarasan diri, menurutku tidak ada salahnya mencoba jalan ini. Aku sudah ada di titik bodo amat dengan perasaan dan respon orang di masa lalu-nya dia yang di warung kopi.
Pun kalau memang cara ini menyakitkan bagi orang di masa lalu, sebenarnya cara dia kembali -di saat dia yang di warung kopi belum sembuh- juga sudah cukup menyakitkan. Datang tanpa permisi, apalagi mempertimbangkan matang-matang apa yang akan terjadi.
Bukan dengan niat membalas dengan cara yang sama, tapi sebagai upaya terbaik untuk memaafkan.
Bismillah, semoga dimudahkan ya, Sob. Bahkan mungkin, jika dengan kesembuhanmu ini aku tidak lagi kamu butuhkan, aku sudah siap pergi.
Cerita tentang orang di masa depan lanjut di episode berikutnya ya, insha Allah.