Me, now
Sometimes I think of what we've been through these years. But ended with, oh it's such a shame. Or if wee take a look seriously on it, it feels hard. But if we trying to look how fool both of us, I just wanna laugh on it. Don't you? Hahaha.
One Nice Bug Per Day
Misplaced Lens Cap
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
todays bird
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Sweet Seals For You, Always

Discoholic 🪩
KIROKAZE
Keni

★
Monterey Bay Aquarium

❣ Chile in a Photography ❣
NASA

tannertan36

PR's Tumblrdome
Stranger Things
official daine visual archive
art blog(derogatory)
Xuebing Du

JVL
seen from Switzerland

seen from Netherlands
seen from South Africa

seen from Canada
seen from South Africa
seen from United States
seen from South Africa
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
Me, now
Sometimes I think of what we've been through these years. But ended with, oh it's such a shame. Or if wee take a look seriously on it, it feels hard. But if we trying to look how fool both of us, I just wanna laugh on it. Don't you? Hahaha.
Nggak mesti ada yang tau
Lisanku dengan jelas megucap, “Selamat tinggal. Tapi hatiku dengan lirih bergumam, "Sampai jumpa”.
(via kujagabulanbersinaruntukmu)
Jangan terlalu menghawatirkanku. Aku baik-baik saja ... :)
Jikalau memang itu jalan-Nya, maka semoga diberikan kekuatan untuk menghadapinya. Jadi, untuk apa dirisaukan dari sekarang jika selalu ada yang Maha Kuat. Ya Rabb, kuatkanlah hati, jiwa dan raga ini.
Pikiran yang penasaran
Anak itik menanti pangeran ~
Ngerasa useless aja. Di saat takdir manusia sebagai mahluk yang harus beribadah, saya tidak. Seharusnya di usia yang sudah tua ini mampu menggali ilmu lebih dalam dan merencanakan hal-hal detail. Memiliki pemikiran atau ide ide yang segar. Bukan cuma ngitung aja *ngitung jg belom bener sih.. hmm.. Perencanaan hr ini, minggu ini, bulan ini, tahun ini hingga ke depannya. Ya... Masih didominasi dunia kayaknya. Astaghfirullooh... Pikiran blm fokus, iya iya aja sana sini, bercabang. Jangan tanya pemahaman yang masih dangkal ini. Jadi, apa yg bisa aku sampaikan di "hari esok" ... ?
Kadang, ngerasa heartless aja sebenernya :(
Nggak kok, nggak knp knp. Mungkin cuma ngerasa useless aja kadang :) Jadi semacem nggak bisa bermanfaat aja diri ini ... :(
Sometimes, I think of you
Hahaha, no! Just kidding :))
Al-quran dihina, pelakunya Anda bela. Bagaimana mungkin Anda bisa berkata, “Kami beriman kepada Al-quran” di hadapan Dzat yang menurunkannya?
kata salah satu Ustadz
Kenapa saya posting ini, karena sudah gemas banget baca media sana-sini yang sudah dikuasai kaum kuffar. Seakan-akan hanya menyudutkan demonstran yang katanya ricuh. Diniatkan aksi 4 November itu tidak ada kekerasan di dalamnya sekalipun, muslimin muslimat yang ikut aksi kemarin Insya Allah tahu bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Kegemasan saya ditambah lagi dengan celotehan dari orang-orang yang “ngakunya” Islam tapi ikut menyudutkan aksi 4 November kemarin.
Kasus ini menunjukkan, mana muslim sejati dan muslim munafik yang selama ini tidak terlalu jelas dibedakan. Sayangnya yang dihina cuma Al-Ma'idah ayat 51 saja. Sebenarnya kalau sedikit saja dilanjutkan ayatnya, maka akan menemukan di ayat 52 Allah berfirman,
“Maka kalian akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana, ” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.“
Jadi esensi ayat 51 itu ada di ayat yang ke 52, akan munculnya orang-orang mengaku muslim, tapi lebih mencintai kaum lain dari pada Al-qurannya sendiri. Sesungguhnya ayat ini telah turun 14 abad yang lalu bukan baru kemarin sore.
Maaf jika ada yang tersinggung, sungguh ini cara saya mencintai kitab dan pencipta saya. Terlalu frontal? Iya karena toh di dalam sebuah forum pembicaraan ada yang seenaknya juga berbicara frontal.
Siapa bilang cinta berhenti? Persahabatan pun dengan cinta :)
Bekerja
Artikel ini ditulis oleh Ustadz Salim A Fillah dalam akun instagram @salimafillah
Justru sebab rizqi kita telah dijaminkan, maka makna kerja kita adalah pengabdian seutuhnya kepada Allah. Justru sebab kita tahu bahwa bekerjanya kita maupun karunia yang dilimpahkan melaluinya keduanya sama-sama anugerah Allah, maka bekerja sudah seharusnya ditunaikan dalam gembira. Justru sebab kita tahu bahwa kerja kita bukanlah penentu dari apa yang kita nikmati, maka bekerja sudah seharusnya merupakan bentuk luapan syukur kita pada Dzat Yang Maha Bijaksana. Bekerja adalah ibadah. Di antara makna itu, kesyukuran adalah hikmah yang besar.
“Bekerjalah kalian hai keluarga Dawud, sebagai kesyukuran. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur.” (Q.S. Saba’: 13)
Adalah Dawud, Raja Bani Israil dengan kekuasaan besar, wilayah luas, & mu’jizat agung, rela berpayah menempa besi dijadikan zirah baja. Dengan membuat baju perang inilah, dengan tubuh berpeluh dan tangan cekatan, Dawud menafkahi diri dan keluarganya. Dari hasilnya ia makan, berpakaian, dan mencukupi penghidupan. Keseluruhan amal beliau, dari munajat di separuh malam, puasa yang berselang-seling, hingga tangannya yang sibuk menempa; semua dia tunaikan dalam rangka mensyukuri Allah Yang Maha Pemurah. Amat sedikit hamba yang pandai bersyukur. Amat sedikit hamba yang seperti Dawud; raja yang tetap bekerja karena tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebentuk kesyukuran terindah. Bekerja adalah ibadah. Dan di antara makna itu, bekerja berarti menyempurnakan pengharapan pada Allah. Sebab, tak bekerja sering menjadikan seorang penganggur berharap-harap pada makhluk. Mereka yang berharap hanya kepada Allah, bersandar padaNya, serta mengandalkan Dia, mewujudkan asanya dengan cara bekerja. Bekerja adalah ibadah. Dan diantara makna itu, bekerja adalah menata niat untuk menjadi jalan rizqi bagi diri & sebanyak mungkin orang lain. Sebab kita tahu bahwa setiap makhluk dijamin rizqinya, & bahwa jalan rizqi tak selalu melalui rencana-rencana diri, bahkan banyak kejutannya. Maka, melalui bekerja itu kita ingin berjuang untuk menjadi saluran Allah kala melimpahkan anugerah bagi siapa pun yang dikehendakiNya. Sebab, dengan menjadi jalan rizqi bagi diri dan sesama, ada pahala yang amat berharga.
Bekerja itu ibadah. Maka diantara maknanya adalah bahwa dalam payahnya ada rasa nikmat, dalam lelahnya ada rasa lezat. Sesuatu yang diperoleh dengan perjuangan, selalu punya nilai lebih bagi jiwa, jika dibandingkan dengan apa-apa yang datang sebagai pemberian tanpa usaha.
@salimafillah
__________
Alhamdulillah, akhirnya menemukan artikel ini di tengah padatnya pekerjaan, meeting yang satu minggu bisa berkali-kali, pekerjaan tambahan yang deadlinenya berdekatan dan semua kepenatan menuju akhir pekan. Terimakasih, Ustadz Salim ;)
Coba baca ini deh @sntykn @menyapamentari
Ask seputar introvert yg abang tau dong, juga tips atau motivasinya mungkin
justneverexist
emm … kurang tahu persis si sebenarnya apa yang orang kotakkan dalam introvert, extrovert, ambivert. Sebab pada kenyataannya, menurut saya, ada yang menggunakan itu sebagai pembelaan atas dirinya sendiri.
soalnya gini ketika kita disuruh buat maju ke depan khalayak kita menolak, kita bilang ndak nyaman. lalu kita menyebut diri kita introvert, tapi pada kenyataannya itu sebab kita malu, kita takut keliru ini, takut keliru itu.
terus misal lagi, kita tidak nyaman untuk bergaul dengan orang baru karena sebenarnya kita minder, kita malu, kita kurang berani memulai karena wawasan kita terbatas lalu kita menamai diri kita introvert. dan kita merasa marah ketika kita disebut pemalu.
ketika kita menamai diri kita introvert, menurut saya, perlu kiranya kita benar-benar menggali lebih dalam pada diri sendiri. Kita beneran introvert, atau penamaan itu kita gunakan untuk menutupi rasa minder, keterbatasan berkomuniksi, rasa takut, sempitnya wawasan. Karena menurut saya, seorang introvert tidak ingin melakukan sesuatu karena sebenarnya ia memang benar-benar tidak ingin melakukannya, bukan karena ada sisipan rasa minder, takut keliru, sempitnya wasasan dan kurangnya keberanian.
setelah kita benar-benar menggali lebih dalam pada diri sendiri, kalau kita menemukan sebenarnya kita tidak benar-benar introvert, tapi kita ada rasa pemalu, minder, kurangnya wawasan. kalau kita merasa itu sebagai masalah, ya kita perlu sedikit demi sedikit belajar untuk memperbaikinya, bukan malah bersembunyi di balik pembenaran kotak yang kita amini itu.
jika pada kenyataannya kita benar-benar introvert, terus saja menjadi introvert yang tak berhenti berkarya, tak henti membagi kebaikkan dengan cara seorang introvert yang diamini masing-masing itu.
menurut saya, ndak ada masalah kalau kenyataannya kita benar-benar introvert, karena itu bukan masalah, kecuali kita menggunakan itu sebagai pembelaan atas kekurangan yang terus berupaya kita sangkal.
jadi pemalu pun ndak masalah, minder pun ndak masalah, penakut juga ndak masalah, kalau itu tidak menghalangi kita menuju keingin baik yang hendak kita lakukan. Tapi ketika itu menjadi hambatan, perlulah sekiranya kita merendahkan ego untuk belajar menerima dan berupaya memperbaikinya.
Bicara (Tentang) Cinta
“Eh kak, lihat deh, aku dapet ask dari Tumblr. Tapi tentang cinta cinta gitu. Oalaaaah, aku tuh ya suka bingung jawabnya gimana.” ujar saya pada seorang teman yang duduk saling memunggungi dengan saya di ruang kerja. Sambil bekerja, kami memang seringkali tiba-tiba bercerita tentang apa saja, dari yang berat semacam strategi menghandle sesuatu di kantor sampai yang ringan semacam cerita-cerita saya yang penting-tapi-tidak-penting. Kemudian dia menjawab, “Hahaha, iya aku tau, cinta cinta geli gitu kan emang kayaknya engga kamu banget. Eh ataaaau, apa sekarang kamu jadi nulis tentang cinta sampai ada yang nanya gitu? Perasaan engga, deh!”
Iya, entah sejak kapan mulanya, saya mulai mengurangi dan menahan diri untuk menulis tentang cinta yang hubungannya dengan lawan jenis. Mungkin, tepatnya sejak saya belajar untuk tidak menghadirkan siapapun di hati saya sebelum diikat oleh akad. Dulu, saya juga pernah menulis tema-tema cinta dan rindu yang tertuju pada lawan jenis, sampai akhirnya saya menyadari semua itu tidak jelas muaranya.
Ini tentu bukan berarti saya benar-benar tidak pernah memikirkan tentang cinta dan sejenisnya. Tema-tema seperti itu sejujurnya masih menjadi ujian tersendiri bagi saya, yang membuat saya mengerti bagaimana susahnya menjaga interaksi, terlebih menjaga hati. Di usia saya yang masih awal 20an ini, ternyata memang tidak mudah untuk memastikan hati saya tetap stabil menghadapi urusan-urusan seperti ini. Tanpa perlu menceritakannya lewat media sosial, saya hanya bercerita pada Ibu dan sahabat saya, mereka jugalah yang selalu menguatkan saya untuk tetap sadar bahwa semua yang mencoba mengetuk pintu hati harus disikapi dengan wajar, sebab semua adalah teman dan tidak ada yang spesial sebelum halal.
Bagi saya, mengisi hati dengan perasaan dan harapan yang belum pantas itu sangat sangat sangat melelahkan karena hal itu membuat fokus kita bisa menjadi sangat teralihkan. Jika sudah begitu, wajar saja jika pada akhirnya kita tidak lagi memiliki banyak waktu untuk sesuatu yang lain yang lebih bermanfaat untuk kebaikan.
Dalam satu tulisannya, kak @kurniawangunadi pernah mengatakan, katanya menunggu adalah seni melakukan hal-hal besar dalam masa-masa penantian. Saya lebih dari sepakat! Daripada terjebak dalam perasaan dan mengisi hari-hari dengan lebih banyak galau dan baper, tentu lebih baik jika kita mengisinya dengan melakukan hal-hal besar yang akan baik untuk diri kita dan juga orang lain. Soal perasaan, sudahlah, ayo kita belajar untuk menyederhanakannya.
Ustadz Salim juga pernah mengatakan, katanya soal jodoh itu memang sudah diatur oleh Allah, sudah tertuliskan siapa yang akan berdiri di samping kita nanti di pelaminan, tapi akan dengan cara apa kita menjemputnya: apakah dengan tetap menjaga diri dan hati hingga Allah mengulurkannya dengan lembut ataukah dengan ‘mencuri start’ hingga Allah memberikannya dengan melemparkannya? Jodohnya mungkin sama, orangnya ya yang itu juga, tapi keberkahan tergantung pada bagaimana cara kita menjemputnya. Hmm, sejujurnya nasehatin ini pertama-tama tertuju untuk diri saya sendiri.
Cinta bukan satu-satunya urusan paling penting yang lantas membuat kita harus menghabiskan banyak waktu dan fokus untuk mengurusinya. Semua ada waktunya. Semoga Allah memudahkan kita untuk terus belajar mengendalikan hati dan diri sebelum nanti kita diperbolehkan-Nya untuk merayakan cinta dalam pernikahan.
Terimakasih novie, sangat mewakili apa yang ingin diceritakan👌
Tanpa ada maksud untuk mengkerdilkan mana cinta, khususnya untuk saya yang saat ini masih harus banyak banget yang dipelajari, maka..cinta bukan berarti tidak boleh dirasakan. Tapi kadang, atau seringnya, manusia lemah seperti saya ini masih belum bisa meredam gejolaknya. Jadi, yaudah aja.. jangan buru-buru.
Banyak temen yang menyangka saya menutup diri, nggak ngasih kesempatan sama siapapun, bahkan sama yang beritikad baik sekalipun. Hello guys, nggak kok. Biasa aja, aku hanya wanita lemah yang so soon ngebatu. Hahaha.
Tetep semangat ya temen-temen.. hidup bukan tentang cinta aja kok. Masih banyak hal yang belum di-explore sama kita. Meskipun sudah banyak teman atau kerabat yang menikah, bukan berarti kita harus begitu juga saat ini. Setiap dari kita punya waktu dan pasangannya masing-masing. Saya mulai percaya itu..
Sering kita jumpai yang sudah lama pacaran, akhirnya nggak diizinkan untuk nikah. Atau yang sempet suka-sukaan, tapi keburu dilamar orang lain. Dulu aneh memang, tapi setelah usia seperti ini, hal itu menjadi biasa. Bahkan, banyak yang galu hingga putus asa gara-gara ditinggal nikah. Sedih pasti. Tapi sudah lah.. itu bukan akhir segalanya 😊 Salah satu tips ampuh untuk menghalau rasa sedih saat ditinggal menikah sama mantan atau orang yang sempet di-keceng sekalipun .. ingat, ia adalah hak untuk Muslimah lainnya. Jadi, kalau gitu.. jangan sedih, turut bergembiralah. Syukuri, dirinya telah menemukan kepingan yang belum lengkap dalam hidupnya. So, Cheer Up! 😁😀😊
Siapapun, akan lebih mengerti saat sedang melaluinya
random mind saat mencoba berempati, mencoba merasakan apa yang dirasakannya dulu. hingga terbersit, "kenapa dulu bilang kayak gitu segala??? Hey diri, makanya jangan asal bicara. penyesalan itu datang belakangan."
Even if you feel lost in a massive ocean, you’re not alone.